Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Jadi Kamu Putranya

Hah?

Eliza masih mematung beberapa detik setelah kata adopsi itu meluncur dari mulut Suster Nafa.

Suara kendaraan di jalan raya terdengar sayup, seolah menjauh. Padahal mobil masih melaju dengan kecepatan yang sama.

“A-adopsi?” ulangnya lirih, membuat Bu Gendhis yang duduk di depan menoleh. 

"Sopo Mbak El?" bisiknya, nyaris tanpa suara.

Indra melihat Eliza dari spion dalam. Dahinya mengernyit tapi dia menahan diri. Tidak bertanya, hanya mendengarkan Eliza bicara.

Napas Eliza tertahan. “Siapa, Sus?”

Di seberang, Suster Nafa terdiam sesaat. “pertanyaan mereka seperti penasaran ke kamu, El.”

Telepon masih menempel di telinga Eliza. Mobil tetap melaju. Dan ketegangan masih menyelimuti kabin.

Sejak keluar dari rumah sakit, Eliza merasa, ada sesuatu yang sedang mendekat dan mengancam kebersamaannya dengan Starla.

Eliza menelan ludah. “Yang nanyain saya… siapa, Sus?” ulangnya lagi.

Suster Nafa ragu sejenak. Tapi dia menyebut, “Pertama, Nyonya Hasnawati.”

Eliza mengangguk pelan. Nama itu memang akrab di telinganya.

“Terus?”

Suster Nafa terdiam lebih lama. "Kata suster kepala, putranya juga.”

“Putranya?” Eliza mengernyit. “Maksudnya…?”

Di seberang sana, Suster Nafa menarik napas pendek. “Nanti aja pas kamu ke panti, El. Lebih enak ngomong langsung.”

Jantung Eliza berdetak tak karuan. Kepalanya mendadak penuh oleh banyak hal. Kekuatiran, penasaran juga ketakutan.

“O-oke,” jawab Eliza, terbata. “Aku ke panti besok.”

Telepon ditutup.

"Mbak El?” suara Bu Gendhis terdengar khawatir. “Sampeyan kenapa?”

Eliza membuka mata. Baru sadar mobil sudah hampir sampai rumah. Indra melambatkan kendaraan, melirik lewat spion.

“Pucat kamu,” kata Indra. “Ada apa?”

Eliza menggeleng cepat. “Nggak… nggak apa-apa.”

Indra dan Bu Gendhis saling pandang. Sementara Starla sudah bersandar di bahu Eliza, matanya setengah terpejam.

Eliza melirik wajah kecil itu lama, mengusap kepalanya pelan lalu mengecup dahi Starla. 

Diadopsi? Oleh siapa? Dan kenapa mereka penasaran sama aku?

Eliza cemas, memeluk Starla sedikit lebih erat.

Mobil Indra berhenti di depan gang sempit. Lampu jalan menerangi deretan kos-kosan sederhana yang catnya mulai pudar. Beberapa motor terparkir berderet, suara televisi dari kamar-kamar terbuka bercampur dengan wangi detergent dari jemuran yang tergantung di depan kamar mereka.

Indra turun lebih dulu, membuka pintu baris kedua.

“Hati-hati,” katanya sambil membantu Eliza memegangi Starla.

Starla tampak lemas, wajahnya masih pucat, tapi matanya bergerak pelan mengamati sekeliling. Eliza segera meraih tas kecil berisi obat dan jaket, lalu mendekati sisi satunya.

“Pelan-pelan ya, Sayang,” ucap Eliza sambil mengelus punggung Starla saat akan menggendongnya.

Langkah mereka menuju kosan terasa lebih lambat dari biasanya. Eliza bisa merasakan tubuh Starla masih hangat di pelukannya.

Sampai di depan pagar kosan, Indra berhenti sejenak. Ia menatap Eliza, ragu, tapi akhirnya bertanya juga.

“Tadi… soal adopsi itu,” katanya pelan. “Kamu lagi ngurus itu juga, kan, El?”

Eliza menghela napas. Bahunya sedikit menegang.

“Iya,” jawabnya jujur. “Besok aku mau ke Capil lagi. Email-nya belum masuk juga.” Suaranya terdengar lesu, semua proses ini membuatnya lelah.

Bu Gendhis tampak tidak benar-benar paham. “Aku ndak ngerti ginian,” katanya polos. “Pokoknya yang penting Starla aman.”

Bu Gendhis yang sejak tadi berjalan di depan langsung mengambil alih tas di tangan Indra.

“Wis, wis. Ojo kakean mikir disik,” katanya sambil membuka pintu kamar kos. “Starla iki sing penting dirumat sik.”

Kamar kos itu sederhana. Satu ranjang kecil, lemari plastik, kipas angin di sudut ruangan, dan meja lipat yang penuh botol obat. Bu Gendhis sigap membantu Starla berbaring, lalu mulai mengganti bajunya dengan yang lebih longgar.

Eliza gegas memisahkan baju kotor, tangannya bergerak tapi pikirannya melayang di kata adopsi.

Bu Gendhis lalu ke rumahnya menyiapkan makan hangat, air minum, dan obat Starla.

Indra berdiri di depan kamar sebentar, lalu mengambil dua kantong plastik dari mobil.

“Ini buat Starla,” katanya sambil menyerahkan. “Buah-buahan. Sama biskuit khusus anak. Sama ini…” Ia mengangkat botol kecil. “Air larutan penyegar.”

Bu Gendhis yang baru keluar dari rumahnya menerima dengan mata berbinar.

“Nah, iki asli,” katanya sambil tersenyum lebar. “Soale ana badaknya.”

Eliza yang sedari tadi lesu, spontan terkekeh kecil. Tawa itu singkat, tapi cukup untuk mengendurkan dadanya yang sesak.

“Makasih, Pak,” ucap Eliza tulus.

Indra mengangguk. “Istirahat yang bener ya, El. Kalau butuh apa-apa, kabari.”

Ia melirik Starla yang sudah setengah berbaring. “Cepet sembuh, Anak manis.”

Starla mengangguk kecil.

Indra pamit. Langkahnya menjauh. Kos kembali sunyi.

Bu Gendhis menutup pintu kamar, lalu menoleh ke Eliza yang berdiri termangu.

“Wis,” katanya lembut. “Saiki kowe istirahat. Pikirane ojo dianggo sakabehe.”

Eliza mengangguk pelan.

Ia duduk di tepi kasur, menatap Starla yang mulai terlelap. Tangannya mengusap rambut halus itu pelan.

“Kalau suatu hari ada orang yang mau ambil kamu…” bisiknya lirih, lebih ke dirinya sendiri. “kamu mau pergi?”

Di balik tawa kecil barusan, kegelisahan Eliza belum pergi. Ia hanya menunggu hari esok, untuk kembali berjuang demi Starla terus berada di dekatnya.

Bu Gendhis menginap, dia tak tenang sebab Starla belum pulih benar. Agar Eliza bisa istirahat sebab besok harus kerja. Biarlah dirinya begadang, mereka sudah menjadi bagian dari hidupnya.

***

Keesokan pagi, setelah memastikan Bu Gendhis dan Starla sarapan. Eliza berangkat ke panti.

Sesampainya di sana, dia langsung mencari suster Nafa. Keduanya lalu duduk di taman halaman depan. 

“Iya,” jawab Suster Nafa hati-hati. “Makanya aku nanya… kamu lagi ada masalah apa, El?”

Eliza menelan ludah. Tangannya refleks mengencang di tali tasnya.

“Nggak ada masalah, Sus. Beneran. Aku cuma… kaget aja.”

“Yang nanya itu donatur lama panti,” lanjut Suster Nafa. “Mereka cukup detail. Nanya latar belakang kamu, Starla, terus kondisi sekarang.”

Jantung Eliza berdetak tidak nyaman. Dia menggigit bibir bawahnya sedikit.

“Dan yang datang langsung ke panti… putranya.”

Eliza membeku. Suster Nafa menatapnya lurus. Seolah bertanya, ada hubungan apa dengan mereka?

"Putranya siapa? Nyonya Hasnawati?” suara Eliza nyaris tak keluar. Tangannya gemetar.

Suster Nafa mengangguk. "Tuan muda Saba Aditya."

Deg. Saba, pria sopan itu kah?

Sorot mata Eliza berbinar cemas. “Sus…” napasnya tersendat. “Mereka bilang apa lagi?”

“Mereka nggak bilang apa-apa lagi, sih. Nanya apakah Starla terdaftar sebagai anak panti saja," jelas suster Nafa.

Eliza lalu menggambarkan sosok yang dia duga bernama Saba. Suster Nafa mengiyakan keterangan Eliza.

"Jadi namanya, Saba?" 

"El?" 

Eliza tergagap. Dia pamit, mau ke Capil bertanya soal akte sebab harus membuat KK segera untuk keperluan sekolah Starla.

***

Di tempat lain, Saba berdiri di depan jendela kamar rumah sakit.

Lampu kota satu per satu padam di kejauhan. Hasnawati masih terlelap di ranjang, monitor jantung berbunyi stabil.

Saba menoleh ke arah ibunya.

“Ma,” ucapnya pelan. “kalau Starla itu… benar-benar ada hubungannya sama kita…”

Rahangnya mengeras.

“Apa yang mama takutkan sebenarnya?”

Sunyi menjawab.

Saba menggenggam ponselnya, layar masih menampilkan satu foto terakhir—senyum Wulan. Dan bayangan senyum lain yang terlalu mirip untuk diabaikan.

Kring. Ponsel Saba berbunyi. Sebuah nama yang dia tunggu, muncul.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!