Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Siapakah Dia

Saba kembali ke kamar perawatan. Langkahnya melambat, nyaris tanpa suara. Ia meletakkan obat-obatan di meja kecil dekat ranjang, merapikan satu per satu, memastikan semuanya lengkap.

Hasnawati masih terlelap. Wajahnya tenang, napasnya teratur dengan selang oksigen masih menempel di hidung.

Saba menoleh ke Pak Sarip yang kini duduk di dekat pintu.

“Saya ke bawah sebentar,” katanya singkat.

Pak Sarip mengangguk. “Baik, Tuan muda.”

Saba keluar. Pintu menutup perlahan di belakangnya.

Ia menuju parkiran. Langit mulai meredup, warna senja menggantung menunggu malam menggesernya.

Saba masuk ke mobil, menutup pintu, lalu bersandar ke kursi. Mesin belum dinyalakan.

Tangannya menarik tuas dashboard, mengambil album foto Wulan, satu-satunya benda peninggalannya yang ia bawa sejak dari panti.

Saba belum melihat semuanya. Kini, dia membuka halaman terakhir.

Foto pertama

Wulan terbaring lemah di ranjang. Di kelilingi anak-anak panti yang masih mengenakan mukena juga sarung, mungkin diambil setelah mereka salat. Senyum Wulan tersungging tipis, sorot matanya sayu. Anak-anak itu duduk di ranjang, menempeli kepala Wulan juga sebagian duduk di lantai.

Beberapa tertawa, sebagian memandang kamera dengan wajah polos. Suasana hangat layaknya di tengah keluarga besar.

Halaman berikutnya membuat napas Saba tertahan. 

Wulan terbaring. Setengah badannya diselimuti kain batik. Kedua tangannya terlipat di dada, diikat potongan perca. Wajahnya pucat pasi. 

"Ya Allah." Suaranya tercekat.

Jari Saba menyusuri foto itu, seolah sedang membelai wajah Wulan yang sudah kehilangan cahaya hidupnya.

Mata Saba mulai buram kembali. Tangannya bergetar saat membalik halaman berikutnya.

Foto Wulan setelah dimandikan. Rambutnya menjuntai rapi. Wajahnya bersih. Seorang perempuan berdiri di samping, tangannya siap menutup kain kafan. Saba menunduk. Dadanya seperti diremas.

Air matanya menetes satu. "Sayang."

Di lembar akhir, pemakaman. Bunga tabur masih segar, warnanya kontras dengan tanah merah yang belum kering.

Nisan itu, sama seperti yang dilihatnya kemarin. Saba menengadah.

Adzan Maghrib menggema dari kejauhan.

Saba tak lagi mampu menahan. Bahunya jatuh. Air matanya luruh, diam-diam, tepat saat takbir pertama terdengar.

Dia mengusap pipinya lalu mengeluarkan ponsel, membuka galeri foto lamanya dengan Wulan.

Senyum yang sama. Lalu dia membandingkan dengan album di tangannya, senyum Wulan yang menahan getir dan pedih.

“Maaf…” suaranya pecah. Saba menyeka ingusnya lalu tanpa sengaja dia melihat...

Di kejauhan.

Eliza mendorong kursi roda Starla keluar. Anak itu tersenyum lebar saat digendong hendak masuk ke mobil.

Senyum manis Starla tanpa sadar membuat Saba ikut mengulas senyum tipis. 

Tatapannya terhenti. Napasnya tertahan. Senyum itu ... rasanya sama seperti milik seseorang.

Saba menunduk, membuka ponsel lagi. Foto terakhir Wulan.

Deg.

Dadanya berdenyut keras.

Saba menatap kembali ke arah mobil Eliza. Tapi mereka sudah pergi. Di kursi mobil. Tangannya mengepal di atas album foto. "Kenapa… senyummu terasa begitu akrab?"

Ia menutup album. Mengusap wajah kasar-kasar, lalu bersandar lagi.

Pikirannya kusut, satu pertanyaan mengambang dan hanya Hasnawati yang punya jawabannya.

***

Petang itu, mobil melaju tenang meninggalkan halaman rumah sakit. Jalanan tidak terlalu ramai, tapi suasana di dalam mobil terasa canggung.

Eliza duduk di samping Starla, pandangannya kosong menatap keluar jendela. Pikirannya berputar pada satu hal yang sama sejak tadi—siapa yang membayar seluruh tagihan Starla.

Nama yang disebut suster terus terngiang di kepalanya. Pak Sarip. Siapa beliau?

“Mbak El,” Bu Gendhis memecah keheningan. “Kok dari tadi diem aja?”

Eliza menoleh, lalu menggeleng pelan. “Aku lagi kepikiran, Bu.”

“Kepikiran apa?”

“Tadi di loket,” ucap Eliza hati-hati. “Suster bilang, yang namanya tertulis di form pelunasan itu Pak Sarip.”

Indra yang menyetir langsung melirik lewat spion. “Pak Sarip? Siapa itu?”

Eliza menghela napas kecil. “Aku juga nggak tahu. Tapi… kalau nyonya Hasnawati, mungkin masuk akal.”

Bu Gendhis mengernyit. “Sik, apa hubungannya karo nyonya Hasnawati, Mbak El?”

Eliza terdiam sesaat. Lalu menarik napas panjang. 

“Entah sih ya ... Aku seperti lihat beliau juga dirawat di rumah sakit yang sama. Cuma aku nggak tahu kamar berapa.”

Indra menyahut, dahinya mengernyit. “Nyonya Hasnawati itu siapa sih sebenarnya?”

“Orang yang dulu nabrak Starla,” jawab Eliza lirih. “Tapi beliau tanggung jawab soal biaya rumah sakit Starla waktu itu.”

“Oh…” Indra menarik napas panjang. “Orang mana?”

Eliza menggeleng. “Entah.”

Hening lagi.

Beberapa detik berlalu sebelum Eliza kembali bersuara, kali ini bertanya pada Bu Gendhis. “Bu… pria tadi itu… menurut Ibu, apa dia anaknya nyonya Hasnawati?”

Bu Gendhis menoleh. “Pria mana toh?"

"Itu yang tadi berdiri di loket sebelah," sambung Eliza. 

Bu Gendhis yang duduk di depan, menoleh ke belakang. "Oh iyo. Nopo emang e, Mbak El?”

“Soalnya tadi kelihatannya dia ngambil obat atas nama nyonya Hasnawati,” jawab Eliza. “Dan… aku ketemu dia beberapa kali.”

“Di mana aja?” Indra menanggapi ucapan Eliza.

Eliza terdiam. Tidak enak rasanya bercerita panjang-panjang di depan Indra. Tapi pikirannya terlanjur mengulang kejadian-kejadian itu.

Di loket, pria itu membantu menjelaskan pada suster soal keterangan status Starla.

Di lorong, mereka sempat saling menyapa, meski hanya, hai.

Di lift, dia berdiri sopan, mempersilakan masuk, lalu berkata pelan, hati-hati.

Eliza menelan ludah. “Beberapa kali aja. Di rumah sakit.”

Bu Gendhis mengangguk pelan, seolah paham. "Hmm, bisa jadi dulur e," jawabnya.

“Ehm ... El,” Indra menimpali sambil tetap menatap jalan. “kok bisa menilai itu anaknya?”

Eliza ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Dia kelihatan kaku, rapi, cocok kalau putra si nyonya itu … tapi sikapnya ke Starla beda. Gak kayak kebanyakan orang kaya. Dia lembut.”

Dia menoleh ke anak kecil di sampingnya. “Starla,” panggilnya lembut. “Kenapa tadi kamu senyum sama Om di loket?”

Starla diam. Dahi kecilnya berkerut, mencoba mengingat. Lalu wajahnya cerah sedikit. “Hmm… kayaknya Om-nya baik,” katanya polos. “Starla suka sama wajahnya.”

Eliza terkekeh pelan. “Kenapa emang wajahnya?”

“Cakep,” jawab Starla cepat sambil tertawa kecil, meski tubuhnya masih lemah.

Bu Gendhis ikut tertawa geli. “Heh, wes ngerti cakep samian, Nduk.”

Eliza mengusap rambut Starla. “Om-nya nggak galak, ya?”

Starla menggeleng mantap. “Nggak. Tangannya gede, tapi pegang Starla pelan-pelan.” Ia menirukan gerakan tangan di kepalanya. “Kayak gini.”

Eliza tersenyum tanpa sadar. Anak kecil tahu mana yang tulus dan mana yang tidak, batinnya.

“Starla, kalau sama Om Indra?” tanya Indra pelan. "Suka nggak?"

Starla kembali diam. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap, menimbang jawabannya untuk Indra... Lalu mengangguk. 

Ponsel Eliza bergetar di tangannya. Nama Suster Nafa muncul di layar.

"Halo."

“El…” suara di seberang terdengar hati-hati. “Kamu lagi ada masalah apa?”

Eliza mengernyit. “Hah? Nggak ada masalah apa-apa, Sus. Kenapa?”

“Bukan apa-apa,” jawab Suster Nafa pelan. “Cuma… hari ini donatur panti dua kali nanyain kamu.”

Eliza duduk tegak. “Nanyain aku?”

“Iya. Sama Starla juga,” lanjutnya. “Mereka nanya detail kamu, terus tanya… apakah Starla mau diadopsi.”

Deg. 

"A-adopsi?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!