Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Mulai terbuka

“Bukan siapa-siapa.”

Hasnawati mengucapkannya dengan suara tenang, datar, seolah pertanyaan Saba barusan hanyalah angin lewat.

Saba menatap ibunya beberapa detik. Ia mengenal nada itu. Intonasi yang dipakai Hasnawati setiap kali menghindari sesuatu.

Belum sempat ia membuka mulut lagi, suara langkah terdengar dari ujung lorong.

“Ma!”

Julia datang dengan wajah ceria. Tangannya menenteng kantong kertas cokelat dari kantin.

“Ini roti kesukaan Mama,” katanya, buru-buru mendekat. “Mama pasti lapar.”

Ketegangan yang menggantung antara Saba dan ibunya, langsung buyar.

Saba melengos. Ia berbalik masuk ke kamar tanpa menunggu istrinya. Ada rasa malas melihat Julia. Saba menganggapnya hanya pengganggu.

Di dalam kamar, Julia langsung sibuk. Ia membuka kantong, menyusun roti di meja kecil, menuangkan air minum, menarik kursi lebih dekat ke ranjang.

“Mama mau yang ini atau yang cokelat?” tanyanya manis, suaranya melembut.

Hasnawati hanya menunjuk singkat. “Itu.”

Julia tersenyum lega, seperti baru menjadi menantu idaman. Ia menyuapi Hasnawati, sesekali melirik Saba yang duduk di sofa sambil menunduk menatap ponsel.

Namun perhatian Saba tidak pada mereka. Saba membaca pesan Albana yang baru saja masuk. Alisnya langsung berkerut.

["Bos. Info dari Pak Sarip. Beberapa bulan lalu, ibu dan istri Anda menabrak seorang anak kecil di dekat jalan raya, waktu bubaran sekolah."]

["Anaknya dirawat. Biaya ditanggung ibu Anda."]

Jari Saba berhenti lalu menggeser layar.

["Pak Sarip juga bilang… sejak kejadian itu, ibu Anda sering bolak-balik ke panti Sini Sama Aku."]

Deg.

Panti itu.

Saba menegakkan badan. Dadanya terasa menegang. Panti yang sama dengan Wulan.

Ia mengetik cepat. "Siapa nama anaknya?"

"Kata Pak Sarip, namanya Starla, Bos."

Deg.

Saba mengangkat kepala perlahan. Pandangannya jatuh ke arah ranjang. Hasnawati sedang makan. Gerakannya pelan, wajahnya tenang, seolah tak ada apa-apa. Julia masih di sampingnya, sesekali bertanya, atau membetulkan bantal.

Starla.

Nama yang sama. Dan perempuan bernama Eliza.

Saba menunduk lagi. Jarum jam di kepalanya seperti berputar cepat.

Ia mengetik. "Selidiki Starla dan Eliza lebih jauh. Dari rumah sakit ini dulu saja, Ban."

["Baik, Bos."]

Saba lalu membuka kontak lain. Orang suruhannya.

“Aku mau minta info,” gumamnya mengetik pesan. “Soal Starla dan Eliza. Ada hubungannya dengan panti Sini Sama Aku. Sekolahnya di mana, usianya berapa, tinggal di mana, dan semua data yang bisa kamu dapat. Segera.”

["Siap, Bos.”]

Saba meletakkan ponselnya di sofa. Ia menyandarkan kepala ke sandaran, menengadah, memejamkan mata.

Wulan.

Eliza.

Starla.

Dan Mama.

Apa Mama tahu hubungan mereka lebih dulu darinya? Atau justru Mama juga sedang merangkai keterkaitan yang sama? Kenapa Mama tertarik pada Starla dan Eliza? Siapa sebenarnya mereka? Semua pertanyaan itu berputar di kepalanya.

“Saba.”

Suara itu memanggil pelan. Saba membuka mata.

“Saba, Nak.”

Hasnawati menatapnya lembut dari ranjang. Ia bangkit berdiri, melangkah mendekat. “Iya, Ma?”

Hasnawati menatap wajah anaknya lama. “Mikirin apa?” tanya Hasnawati lembut.

Saba menoleh. Ia tersenyum tipis, sengaja dipasang agar ibunya tenang. “Nggak apa-apa, Ma. Aman.”

Hasnawati mengangguk kecil, lalu menarik napas panjang. “Mama mau pulang.”

“Nanti tunggu dokter ya, Ma,” kata Saba sambil bangkit mendekat ke ranjang dan mengecup pipi ibunya singkat.

Hasnawati mengusap lengan Saba sebelum tangannya turun. “Duduk sini sebentar.”

Saba menurut. Ia duduk di sisi ranjang. Hasnawati menatapnya lama.

“Mama kenapa?” tanya Saba akhirnya. Alisnya berkerut. Akhir-akhir ini ibunya sering menatapnya seperti itu, seakan menyimpan sesuatu.

“Nggak apa,” jawab Hasnawati lirih. “Kangen aja sama Saba.”

Dada Saba menghangat. “Tidur lagi ya, Ma. Aku di sini.”

Hasnawati mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Saba, erat, seolah takut kehilangan. Beberapa menit kemudian, napasnya melambat. Ia terlelap. Saba menunggu sampai genggaman itu mengendur sedikit.

Julia mendekat. Langkahnya pelan, wajahnya dibuat lembut. “Saba—”

“Jangan deket-deket,” dengus Saba kasar tanpa menoleh.

Julia memaksa, menggelayut manja di lengan Saba. “Kenapa sih?”

“Kamu bau.”

Julia mendengus. “Heh, aku wangi, ya.”

Saba bangkit. Ia melirik ranjang, ibunya masih tidur. Tanpa menunggu, ia melangkah keluar kamar. Julia mengejarnya. 

Di luar, Pak Sarip duduk di kursi lorong.

“Pak Sarip,” kata Saba singkat. “Tolong temani Mama sebentar.”

Sarip mengangguk cepat dan masuk ke kamar.

“Saba,” panggil Julia lagi.

“Pergi,” ulang Saba dingin. “Kamu bau.”

“Bau apa sih? Aku wangi—”

“Bau piaraanmu itu,” potong Saba tajam. “Kau pikir aku masih sudi melihatmu?”

Julia berhenti. Mendecih pelan. Tapi tetap mengikuti Saba.

Saat sampai di depan lift, Saba berbalik. Jarinya terangkat, menunjuk wajah Julia.

“Jaga jarakmu,” katanya rendah. “Kalau masih mau pakai namaku, Julia.”

“Apa sih, Saba!” Julia mendengus kesal.

“Aku tahu semuanya,” tegas Saba.

Pintu lift menutup. Saba bersandar di dinding. Rahangnya mengeras. Napasnya berat. Lift turun perlahan.

Ting. Pintu terbuka.

Saba tidak langsung melangkah. Kepalanya menunduk, lalu terhenti. Seseorang berdiri di depannya.

“Eh—”

Saba mendongak. Senyum tipis tersungging di bibirnya, sopan. Ia melangkah sedikit ke samping.

“Silakan,” katanya. “Hati-hati… Nona Eliza.”

Deg.

Eliza terdiam, terkejut ketika namanya disebut pria tadi.

Dia tahu namaku?

Alisnya berkerut samar. Ia yakin belum pernah memperkenalkan diri, bahkan sekadar menyebut nama pun tidak. Orang itu menyapanya begitu saja, seolah mereka sudah saling kenal. Aneh.

Eliza menoleh pelan, menatap punggung pria itu yang kian menjauh. Siapa dia? pikirnya. 

Dia menarik napas dalam, menenangkan diri. Sudahlah, batinnya, mungkin cuma kebetulan.

Saba sudah melangkah keluar. Ponselnya terangkat ke telinga. “Halo,” katanya datar.

Lift menutup kembali di belakang Eliza. 

"Halo, Bos?"

"Ya. Gimana, Ban?" 

“Bos,” suara Albana terdengar di seberang. “Saya dapat update.”

Saba melangkah ke parkiran, langkahnya panjang dan tenang. “Apa?”

“Pak Sarip baru saja tanda tangan pelunasan biaya rumah sakit Starla.”

Langkah Saba terhenti. “Kapan?” tanyanya singkat.

“Barusan, Bos.”

Rahang Saba mengeras. Ingatannya langsung melompat ke kejadian tadi. 

Pak Sarip yang berdiri sedikit menjauh, membungkuk di belakang kursi roda Hasnawati, memegang dompet cokelat ibunya. Menunduk seolah takut ketahuan oleh Saba.

“Ada lagi?” tanya Saba.

“Untuk sementara itu saja, Bos.”

Saba memutus panggilan. Ia masuk ke mobil, menutup pintu pelan, lalu duduk dan menyalakan mesin. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya berkelindan.

Hari pertama ia melihat Eliza di loket, kebingungan soal status anak. Doa lirih di Mushala rumah sakit saat tengah malam. Tatapan Hasnawati saat menunjuk sosok perempuan yang berdiri di lorong, ketika mereka melewatinya menuju ke kamar perawatan. Dan barusan, pelunasan biaya Starla.

Semua tersusun rapi, untuk disebut kebetulan.

“Ma,” gumamnya pelan di dalam mobil. “Mereka siapanya kita?”

Tangannya mencengkeram setir erat sampai buku jarinya memutih. Dada Saba terasa sesak. 

Dan tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Saba menoleh ke layar.

Deg.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!