Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Tagihan RS
Saba tidak langsung menjawab.
Map di tangannya mencetak jelas nama Starla. Ia menutup map itu perlahan. Ada gak yang harus dipastikan lebih lanjut.
“Nanti, Ma,” katanya dengan suara rendah.
Hasnawati menatapnya tajam. “Saba.” sambil menarik napas panjang.
“Mama istirahat dulu. Aku pastikan semuanya.”
Saba ingin tahu, kenapa ibunya ngotot banget dengan gadis ini. Ada apa?
Akhirnya Saba meminta Albana untuk menyelidiki apakah ibunya ada kaitan dengan Eliza. Mulai tanya dari orang rumah saja, atau Julia. Tulis Saba untuk si Aspri.
Ponsel Albana berbunyi. Dia membaca pesan atasannya lalu pamit keluar kamar.
*
Pagi itu Starla sudah lebih sadar. Matanya terbuka, meski masih terlihat sayu. Begitu Eliza masuk ke kamar, Starla tersenyum.
“Ibu…” suaranya kecil, parau.
Eliza langsung menghampiri. Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Starla yang bebas dari infus. Jari mungilnya masih terasa hangat.
“Kenapa, Nak?” Eliza tersenyum, meski matanya lelah.
Starla mengerutkan dahi. Tangannya yang terpasang infus diangkat sedikit, lalu ditunjuk dengan jari yang gemetar. “Mau pulang. Sakit,” katanya lirih.
Dada Eliza mengencang. Ia mengusap rambut Starla pelan, menahan getar di tangannya sendiri. “Sabar ya,” katanya lembut. “Bentar lagi kita pulang.”
Starla menatapnya lama. “Kapan?”
“Sehari lagi,” jawab Eliza setelah menarik napas. “Dokternya bilang, sehari lagi.”
Starla diam sebentar, dan berkata pelan, “Starla mau sekolah.”
Eliza tersenyum. “Iya,” katanya singkat. “Sabar ya. Besok pulang.”
Starla mengangguk pelan, kelopak matanya turun, dia mulai mengantuk lagi.
Eliza mengambil baki makanan Starla. “Ayo makan dikit,” bujuknya. “Biar cepat sembuh."
Starla menggeleng kecil, tapi Eliza memaksa lembut. Ia menyuapkan satu-dua sendok, menunggu, lalu menyodorkan air minum. Starla menelan dengan susah payah, tapi menurut.
“Tidur lagi ya,” kata Eliza sambil membetulkan selimut.
Starla menurut. Tak lama, napasnya kembali teratur. Eliza tetap duduk di kursi beberapa menit, memastikan anak itu benar-benar terlelap sebelum berdiri perlahan.
Hari ini Eliza tidak masuk kerja. Ia sudah bicara dengan kepala toko lewat telepon pagi tadi. Liburnya memang belum diambil sejak pekan lalu. Jadi dia punya 2 hari libur.
“Ambil saja,” kata kepala toko di seberang. “Urus anak dulu. Semoga cepat sembuh.”
Siang ini, saat Starla tidur dan Bu Gendhis pulang sebentar, Eliza menyempatkan diri menelepon lagi, di luar kamar.
“Pak,” katanya ragu. “Saya mau tanya… di toko ada fasilitas pinjaman karyawan nggak?”
Di seberang sana, kepala toko terdiam sebentar. “Nggak ada, El,” jawabnya jujur. “Maaf.”
“Gak apa-apa, Pak,” jawab Eliza cepat. “Makasih.”
Telepon ditutup. Eliza menggenggam ponselnya. Duduknya merosot, kepalanya langsung pusing membayangkan tagihan rumah sakit.
Sorenya, Bu Gendhis kembali ke RS. Dia melihat Eliza murung lalu duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam sesuatu dari dalam dompetnya.
“Mbak El,” katanya pelan. “Cincinku tak jual wae. Buat biaya Starla."
Eliza langsung menoleh. “Jangan, Bu.”
“Tapi—”
“Jangan,” ulang Eliza lebih tegas, meski suaranya bergetar. Ia menutup tangan Bu Gendhis, mendorong cincin itu kembali. “Aku nggak bisa balikin cepat. Harga emas lagi tinggi. Aku takut… nggak sanggup nebusnya lagi.”
Bu Gendhis terdiam. Tangannya perlahan turun ke pangkuan.
Eliza memejam, terbayang wajah kecil itu, tak tahu apa-apa tentang biaya dan kecemasannya.
Eliza menarik napas panjang. 'Asal Starla sembuh,' batinnya.
Di lantai lain rumah sakit yang sama, Eliza sedang berdiri di depan loket administrasi.
Lampu ruang rawat masih sama terangnya, bau antiseptik masih menempel di hidung, dan kursi besi yang Eliza duduki tetap dingin meski tubuhnya sudah lama menempel di sana.
Ia terbangun karena lehernya kaku. Begitu menggerakkan kepala, rasa nyeri menjalar sampai ke pundak. Kakinya kesemutan. Telapak tangannya dingin, ponsel masih tergenggam sejak entah kapan.
Starla terbaring di ranjang. Tubuh kecil itu tampak lebih tenang dari malam sebelumnya. Infus masih terpasang, dadanya naik turun pelan. Wajahnya pucat.
Bu Gendhis tertidur setengah duduk di kursi dekat ranjang, kepalanya bersandar ke dinding, mulutnya sedikit terbuka.
Eliza berdiri pelan, mendekat ke ranjang, merapikan selimut Starla sedikit. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Starla.
“Alhamdulillah,” bisiknya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang perawat masuk bersama dokter jaga.
“Selamat malam” sapa dokter itu.
“Malam, Dok,” jawab Eliza cepat.
Dokter menengok monitor, mencatat sesuatu di papan kecil. “Kejangnya tidak muncul lagi sejak subuh. Tapi kami masih perlu observasi."
Eliza mengangguk. Ia berdiri tegak, meski dadanya mulai berdebar.
“Kami juga perlu melengkapi data pasien,” lanjut dokter itu, suaranya datar, seperti membaca prosedur yang sudah dihafal. “Ibu wali, ya?"
“Iya,” jawab Eliza.
“Boleh kami minta dokumen pendukung? Akta lahir, kartu keluarga, atau surat keterangan wali.”
Ia membuka mulut tapi menutupnya lagi. Lidahnya terasa kelu, Eliza diam sebentar memaksa napasnya teratur dulu.
“Saya walinya,” ulangnya, lebih tegas. “Dokumennya… sebagian ada. Sebagian masih proses.”
Dokter menatapnya singkat, lalu mengangguk.
“Baik,” katanya sambil menulis sesuatu. “Nanti bagian administrasi akan membantu.”
Perawat ikut mencatat. “Soal biaya, Bu… kalau belum ada jaminan, kami akan informasikan rinciannya.”
Eliza mengangguk lagi. Kepalanya terasa seperti mengambang.
Mereka keluar. Pintu tertutup kembali. Eliza berdiri di tempat beberapa detik, lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, tubuhnya kehilangan penyangga.
Ia menyandar ke dinding. Telapak tangannya menekan tembok dingin. Napasnya berat, seolah paru-parunya lupa cara bernapas.
Aku ibu sambungnya di dunia ini.
Ia memejamkan mata. Berapa totalnya?
***
Keesokan paginya.
Rumah sakit terasa lebih riuh dari malam sebelumnya. Cahaya matahari menembus jendela besar lorong, memantul di lantai yang dingin dan mengilap.
Starla masih terlelap ketika suster datang membawa kertas kecil.
“Mbak Eliza,” katanya ramah. “Obatnya ditebus dulu ya. Ini resep tambahannya.”
Eliza menerima kertas itu, membaca sekilas, lalu mengangguk pelan. “Iya, Sus.”
Ia keluar kamar, berjalan ke apotek rumah sakit. Langkahnya pelan, kepalanya sibuk menduga soal jumlah tagihan sejak semalam.
Di depan loket, Eliza menyerahkan resep.
“Totalnya segini ya, Mbak,” kata petugas sambil menyebut angka.
Eliza terdiam. Angka itu besar sekali.N“Maaf…” suaranya lirih. “Bisa… bisa dimasukkan ke tagihan rawat inap saja, Mbak?”
Petugas menatap layar komputer. Mengetik sebentar. “Bisa, Mbak. Nanti gabung sama total administrasi.”
Eliza mengangguk cepat. Ada rasa lega sesaat meski dadanya kian berdebar.
“Kalau boleh tahu,” tanyanya ragu sebelum pergi, “total tagihannya… kira-kira sudah berapa?”
Petugas kembali menatap layar. Kali ini lebih lama. Lalu menyebutkan angka lain. Jauh lebih besar.
Eliza terpaku. Kepalanya langsung berdenyut. Suara-suara di sekitarnya mendadak menjauh. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya kering.
Tabungan Starla, sisa penjualan cincin itu, tidak cukup.
Eliza melangkah menjauh dari loket dengan langkah goyah. Ia berhenti di dekat dinding, menempelkan punggungnya sebentar, menutup mata. Napasnya berat. Dadanya naik turun tidak teratur.
"Bagaimana ini, Ya Allah?"
Di tengah kalutnya pikiran, sebuah suara memanggilnya.
“El?”
.
.