Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Starla Vali Dwipa - 2

Hening.

Keduanya masih sibuk memikirkan nama untuk si bayi.

“Dyah Kencana. Dyah itu gadis, kencana itu mulia,” ucap Bu Gendhis semringah, seakan sudah menemukan nama paling indah di dunia.

“Kayak lagu, Bu,” sahut Eliza malas-malasan sambil rebahan, menatap langit-langit.

“Moso?” Bu Gendhis merengut. “Lagu apa, coba?”

Eliza melirik sebentar. “Hanya Dyaaaaaahh… Dyah… Dyah Dyah, hanya Dyah.”

Bu Gendhis spontan menepuk lutut Eliza dengan telapak kakinya. “Bocah gendeng! Itu ‘Dia’, bukan Dyah.”

 

Eliza tertawa renyah, membiarkan suara tawanya tenggelam di antara riuh hujan di luar. “Kencana, kedengerannya kayak merk daster, Bu.”

Kali ini Bu Gendhis ikut terkekeh. “Kencono Wungu, ya?”

Eliza mengangguk cepat, tawa mereka pecah, mengisi kamar kos sederhana itu dengan kehangatan.

Perlahan tawa mereda. Eliza menutup mata, termenung. “Rain… hujan. Cocok nggak, ya?” gumamnya lirih. Sekejap kemudian ia menggeleng. “Nggak ah, kesannya suram. Nanti anaknya nangisan.” Bibirnya melengkung tipis.

Hening kembali merayap. Hanya kipas angin berderit yang terdengar.

Mendadak Eliza bangkit duduk, matanya berbinar. “Star… Starla!” serunya, menatap bayi itu penuh semangat. “Iya, Starla aja. Bintang, biar hidupnya jadi penerang buat sekitarnya.”

 

Bintang. Cahaya kecil yang membawa harapan. Lambang cita-cita. Seperti bintang di langit, banyak dan unik—setiap satu punya kisahnya sendiri. Mengajarkan untuk menghargai setiap perbedaan.

Sebelum jadi supernova, bintang seolah menghargai waktu, mampu beradaptasi di berbagai kondisi, fleksibel dengan perubahan.

Bu Gendhis mengangguk cepat, matanya ikut berbinar. “Bagus! Nama itu bagus sekali.”

Bu Gendhis meletakkan Starla lalu berdiri, pamit sebentar. Tak lama, dia kembali dengan beberapa helai pakaian bayi yang masih rapi terlipat.

“Punya siapa?” Eliza mengerutkan dahi.

“Cucuku. Waktu bayi, ibunya kerja, jadi ibu yang ngurusin,” jawab Bu Gendhis tenang. Ia membuka selimut tipis Starla, mengganti popoknya yang basah.

Namun tiba-tiba keduanya terdiam.

 

“Apa ini?” Eliza menunjuk perut kanan Starla. Selain tali pusat yang belum lepas, ada noda kecokelatan membentuk pola.

“Tanda lahir,” jawab Bu Gendhis pelan. Ia memicingkan mata, mencoba mengenali bentuknya. "Kek bentuk apa ya," sambungnya sambil memicingkan mata.

Eliza melongo sesaat. “Kayak… Pulau Bali.”

Benar saja, lekukan tanda itu mirip peta Pulau Dewata.

“Starla dari Bali, kali,” celetuk Bu Gendhis setengah bercanda.

“Mustahil, Bu. Baru lahir, masa langsung diformalin ke Jawa? Ongkos kapal aja mahal kalau cuma mau dibuang,” sahut Eliza, dahinya sampai berkerut.

Bu Gendhis menggeleng sambil terkekeh. “Mulutmu itu, Mbak El. Starla siapa ini namanya? Biar enak lapor sama RT," tanyanya.

Eliza mengamati Starla. "Starla Vali Dwipa," lirihnya kembali tersenyum tipis.

"Artinya?"

 

“Itu nama lain Pulau Bali. Jadi… Bintang Pulau Bali.” Senyum tipis merekah di wajahnya, merasa bangga, sorot matanya berbinar penuh arti.

“Oiyayaya… biar selalu ingat tanda lahirnya, ya,” tutur Bu Gendhis ikut tersenyum, selesai mengenakan baju pada Starla. “Mulai sekarang, Starla tinggal sama ibu dan eyang, ya,” ucapnya, matanya berkaca-kaca.

“Ibu?” Eliza menoleh, mengernyit.

“Ya masa Om? Kan kamu perempuan toh?”

"Nggak ibu juga kali, ah. Noona kan bisa," sanggah Eliza cengengesan.

“Mangan e mie instan terus, nasi pake masako, kok minta dipanggil Noona… asin yang ada,” oceh Bu Gendhis, tahu betul hobi Eliza nonton drama Korea.

Eliza terkekeh, lalu merebahkan diri di samping Starla. Bu Gendhis masih menimang-nimang sebentar, lalu memberi wejangan singkat, pastikan susu siap, jaga badan Starla tetap hangat, jangan sampai kedinginan.

Satu jam kemudian. Kos lima pintu “GulaJawa” pun kembali hening. Hanya suara hujan dan napas kecil Starla yang mengisi malam itu.

***

Sejak malam hujan itu, hidup Eliza berubah. Bayi mungil yang ia temukan di kardus kini hadir di setiap harinya—menangis, tertawa, menuntut perhatian.

Hari-hari pertama terasa kacau. Eliza yang terbiasa hanya mengurus diri sendiri kini harus belajar mengganti popok, menyeduh susu, dan berjaga semalaman. Kos sempit itu jadi saksi paniknya setiap kali Starla menangis kencang.

 

Untungnya, Bu Gendhis selalu siap membantu. Wanita sepuh itu menimang Starla seolah cucu kandungnya. Anak-anaknya yang sibuk merantau jarang pulang, sehingga kehadiran Starla bagai mengisi kekosongan di hatinya.

Ia bahkan sudah minta izin pada anak-anaknya, juga melaporkan pada RT, polisi dan bidan desa. Untuk mendapatkan surat keterangan penemuan anak sebagai salah satu syarat pembuatan akte kelahiran.

Meski pak RT sudah mengajukan surat pengasuhan sementara ke dinas sosial. Namun, saran mereka jelas, serahkan bayi itu ke panti. Tapi Bu Gendhis dan Eliza sama-sama menolak.

“Biar Ibu yang jagain, Mbak El. Kerja sana, jangan khawatir,” ucap Bu Gendhis suatu sore di teras, sambil mengayun Starla dalam pelukan.

"Maaf ya, Bu."

Eliza hanya bisa menatap dengan campuran lega dan rasa bersalah. Ia tahu Bu Gendhis bahagia, tapi ia juga sadar, tanggung jawab ini seharusnya ada di pundaknya sendiri.

Kehidupannya makin sulit. Gaji kasir pas-pasan, separuh habis untuk susu dan popok. Kadang Eliza hanya makan nasi dengan garam, atau lauk sisa dari warteg.

 

Jika Starla sakit, ia terpaksa izin kerja. Atasan mulai kesal, bahkan sempat mengancam memutus kontrak. Eliza hanya bisa menunduk, menahan tangis.

Malam itu, ia benar-benar goyah.

Starla demam, tanda lahirnya memerah. Eliza menggigil panik. Hidup bersamanya… apakah justru membuat Starla menderita?

Dengan langkah berat, diam-diam ia membawa Starla ke depan panti asuhan tempat dulu ia dibesarkan. Bayi mungil itu terlelap di pelukannya, wajahnya damai sekali. Eliza menatap pintu besar panti itu, matanya berkaca-kaca.

“Mungkin… kalau di sini, kamu bisa hidup lebih layak, Nak,” bisiknya serak dan bergetar.

 

Namun begitu menunduk, melihat wajah tenang Starla, hatinya remuk. Ada perasaan yang sulit dicerna. Kehangatan, menahan langkahnya. Air mata jatuh deras, ia menangis sejadi-jadinya.

Lalu berbalik, mendekap Starla erat-erat. “Maaf. Maaf … ibu nggak sanggup ninggalin kamu.”

Sejak saat itu, Eliza berjanji, seberapa sulit pun, Starla akan tetap bersamanya.

***

Waktu melesat.

Lima tahun kemudian, Starla tumbuh jadi gadis kecil yang ceria. Rambut hitam legam, mata bulat penuh cahaya. Setiap pagi ia berlari menyambut Eliza pulang dari shift malam.

Kini Starla duduk di bangku TK. Seragam kecilnya kebesaran, tas punggungnya lusuh. Tapi ia tetap berjalan penuh percaya diri.

Hanya satu hal yang selalu membuat Eliza resah, tanda lahir itu. Bentuk Pulau Bali di perut mungil Starla, seolah menyimpan rahasia yang tak pernah terjawab.

 

Asal-usulmu dari mana, Nak? Siapa orang tuamu? Kenapa mereka meninggalkanmu di depan pintu kosku malam itu?

Pertanyaan itu terus menggantung. Tanpa jawaban.

Dan malam ini, ketika Eliza sedang melipat seragam kasirnya, suara ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok. Tok.

“Mbak El, ada yang nyariin,” suara Bu Gendhis dari luar.

Eliza membuka pintu dengan dahi berkerut.

Seorang pria berdiri di sana. Berkemeja rapi, sorot matanya tajam sekaligus penuh misteri.

 

“Selamat malam, Mbak Eliza,” katanya pelan. “Saya datang… karena ingin bicara soal Starla.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!