Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Pertanyaan Starla

Eliza masuk shift pagi. Matahari bahkan belum benar-benar naik ketika ia dan Starla sudah bersiap di teras. 

Motor beat kesayangannya menderu pelan. Dipanaskan sebelum membelah jalanan ibu kota. 

Mereka lantas berpamitan pada Bu Gendhis yang sedang menjemur pakaiannya di teras. 

"Sun!" pintanya sambil berjongkok, menunggu Starla menyodorkan pipinya untuk dicium.

Starla menurut, memiringkan pipinya ke hadapan Bu Gendhis. 

"Sholehah, sing ageng milik putune Nek," bisik Bu Gendhis, setelah mencium bolak balik pipi Starla. Doa yang sama setiap pagi untuk Starla.

"Aamiin." Suara Eliza dan Starla saban mendengar doa itu.

Keduanya lantas pergi. Eliza mengantar Starla ke sekolah lebih dulu. Tak ada percakapan berat pagi ini, Starla hanya bernyanyi sepanjang jalan.

Eliza mencium kening kecil itu di gerbang sekolah sebelum dirinya pergi.

“Dijemput Nek Gendhis ya,” katanya sambil merapikan pita rambut Starla.

“Iya,” jawab Starla ceria. 

Eliza masih menunggunya di luar. Starla terlihat disambut Bu Ratna. Eliza menunduk sedikit lalu pergi dari sana.

*

Siangnya, Bu Gendhis sudah menunggu di depan gerbang, helm disangkutkan di spion motor.

“Ayo, bintang kecil,” serunya melambai begitu melihat bocah itu keluar kelas.

Di depan gerbang sekolah, beberapa anak sudah dijemput orang tua masing-masing. Ada ayah, ada ibu, ada kakek-nenek.

Salah satu temannya, menoleh ke Starla. Matanya menyipit penasaran. “Itu nenek kamu?” tanyanya sambil menunjuk Bu Gendhis.

“Iya,” jawab Starla cepat, wajahnya semringah. “Nek Gendhis.” Ia melambaikan tangan ke arah Bu Gendhis dengan bangga.

Anak itu menatap lagi, lalu nyeletuk tanpa beban. “Nenek, ibu punya. Tapi ayah kok nggak punya.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengejek, tapi membuat Starla berhenti melangkah sebentar. Senyumnya mengendur. Lalu ia berjalan lagi, menyusul teman-temannya.

“Kata ibu,” ucap Starla sambil melangkah kecil, “yang penting aku disayangi. Ayahnya nanti saja.”

Temannya mengernyit. “Mana bisa gitu.”

Starla menoleh. “Bisa.” Ia menunjuk dirinya sendiri, menepuk pelan dadanya. “Kan aku bisa.”

Lalu ia berlari kecil ke arah Bu Gendhis yang masih menunggu di luar gerbang.

Starla naik ke motor, memeluk pinggang Bu Gendhis erat.

Di perjalanan pulang, motor melaju lebih pelan. Angin siang menyentuh pipi Starla. Bu Gendhis melirik lewat kaca spion.

“Tadi sama temennya ngobrol apa, La?”

Starla diam sebentar. “Nanya ayah Starla ke mana,” jawabnya jujur.

“Oh, ngono toh.” Bu Gendhis manggut-manggut. “Terus Starla jawab apa?”

“Kata ibu,” ucap Starla menirukan nada Eliza, “ayahnya belum datang. Nanti saja. Yang penting Starla disayangi sama nenek dan ibu.”

Bu Gendhis tersenyum. Dadanya menghangat. “Yo bener,” katanya. “Sing penting kuwi ana nenek karo ibu. Nenek sayang banget sama Starla.”

Starla mengangguk, lalu suaranya mengecil.

“Nek…”

“Iya, Nduk."

“Memang ayah Starla ada?” Ia berhenti sejenak, “kalau ada… ayah Starla di mana?” ucapnya pelan, takut dimarahi.

Bu Gendhis terdiam. Motor tetap melaju, tapi pikirannya berputar.

“Ada,” jawabnya akhirnya. “Tapi… yo durung ketok nang endi.”

“Oh.” Starla menerima jawaban itu tanpa protes.

“Jauh ya rumahnya? Ibu nggak punya uang ke sana buat ajak Starla?”

Bu Gendhis terkekeh kecil, agak kikuk. “Heh… dudu ngono. Ayahé Starla kuwi…” Ia menggantung kalimatnya, lalu menghela napas. “Engh… wis, mengko wae takon ibumu.”

Starla tertawa geli. “Nenek nggak pintar,” katanya polos. “Nggak kayak ibu.”

Bu Gendhis tertawa lebih keras. “Yo jelas,” katanya sambil mengangguk. “Nenek ki wis tuwa.”

Motor hampir sampai di depan pagar kosan Gulajawa, saat pertanyaan Starla terdengar lagi.

“Nek,” panggil Starla, kali ini lebih lirih.

“Iya?”

“Kalau Om itu sama nggak sama ayah?”

Bu Gendhis mengerem pelan, saat memasuki halaman kosannya. “Om?” tanyanya. “Om sopo, Nduk?”

Starla diam. Motor berhenti tepat di depan rumah Bu Gendhis. Di samping kamar kos Starla.

Bocah kecil itu tidak menjawab. Hanya menatap ke Bu Gendhis, seolah kata itu berharap disebutkan oleh salah satu orang dewasa yang dia panggil, Nek.

Tak lama, ponsel Bu Gendhis bergetar di saku dasternya. Ia berhenti sejenak, membaca pesan dengan kening sedikit berkerut.

Pesan dari Eliza. ["Bu, tolong siapin Starla ya. Aku mau ajak dia ke pemakaman seseorang."]

Bu Gendhis langsung membalas, jarinya menari cepat di layar ponsel. "Iyo. Tak siapke."

Ia menoleh ke arah Starla yang akan masuk ke kamarnya.

“Nduk,” panggil Bu Gendhis lembut, “jangan mandi kesorean ya, ibu mau ajak pergi.”

Starla mendongak, lalu mengangguk tanpa bertanya. Tangannya mendorong pintu agar terbuka lebar.

***

Eliza menerima pesan dari Suster Nafa hampir bersamaan dengan suara motor yang ia nyalakan.

["Eliza, kami berangkat 30 menit lagi. Ketemu langsung di pemakaman ya."]

Eliza membalas cepat lalu gegas pulang ke kos. 

Dia mengambil tas kecil, lalu menghampiri Starla yang sudah rapi. Rambutnya disisir sederhana, bajunya bersih, dan memakai jaket.

“Yuk,” kata Eliza sambil mengulurkan tangan. “Kita pergi sebentar.”

Starla meraih tangan itu. Genggamannya hangat, tidak ada pertanyaan ke mana.

Motor melaju, meninggalkan kosan Gulajawa. Jalanan mulai sepi, matahari merendah, cahayanya lembut dan kekuningan.

Begitu mereka tiba di pelataran pemakaman, langkah Starla melambat. Tangannya mencengkeram tangan Eliza lebih erat, jari-jarinya menyelip di sela jemari sang ibu.

“Ibu…” suaranya mengecil. “Ini apa?”

Eliza berhenti, menyesuaikan langkahnya dengan Starla. “Pemakaman umum,” katanya pelan. “Kita mau doain seseorang.”

Starla menatap sekeliling. Batu nisan-nisan berjajar rapi. Pohon kamboja berdiri di sana sini. Udara berhembus, berbau tanah basah dan bunga.

“Pemakaman itu apa?” Ada nada takut di kalimat Starla.

“Tempat orang yang sudah meninggal,” jawab Eliza lembut. “Meninggal itu napasnya sudah nggak ada. Terus tubuhnya dikubur… biar bisa ketemu Tuhan dan masuk surga.”

Starla mengernyit, mencoba mencerna. “Surga itu apa?”

“Tempat orang baik setelah meninggal,” kata Eliza, tersenyum tipis. “Yang rajin ibadah, suka menolong, dan saling mendoakan.”

“Oh…” Starla diam sebentar, lalu bertanya lagi dengan suara kecil, “Berarti kita mau doain orang baik?”

Eliza tersenyum. “Iya. Orang yang sangat baik.”

Suster Nafa menyambut mereka di dekat jalan setapak. “Kami juga baru sampai,” katanya pelan, seolah takut mengganggu kesunyian tempat itu.

Mereka berjalan bersama menuju pusara seorang wanita.

Eliza duduk di dekat kepala nisan. Seorang ustadzah memimpin doa, menyebutkan nama mendiang dengan suara yang tenang dan teratur.

Starla duduk di samping Eliza. Bibir kecilnya ikut bergerak, menirukan doa yang ia dengar. Tangannya meraih rumput liar di sekitar pusara, mencabutnya satu per satu. Setelah itu, ia mengusap permukaan nisan perlahan, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh. Bibirnya mengeja nama yang terukir.

Ia menoleh ke arah Eliza. Matanya berkaca-kaca.

Eliza masih membaca doa, tapi tangannya merengkuh Starla, mengusap punggung kecil itu pelan—memberi rasa aman.

Entah apa yang memenuhi pikiran Starla. Beberapa kali anak itu menoleh ke kanan, ke arah pohon kamboja. Lalu kembali menatap Eliza, seolah ingin memastikan sesuatu.

“Doa aja, Sayang,” bisik Eliza. “Doain.”

Ia tahu, anak kecil kadang melihat hal-hal yang kurang bisa dicerna oleh logika orang dewasa.

Tiba-tiba Starla mendekap Eliza erat. “Ibu…” Suaranya bergetar. “Ibuuu…”

Eliza langsung menarik tubuh kecil itu ke pangkuannya, mendekap erat sambil mengusap kepala Starla berulang kali. Starla tertunduk, tidak melepaskan pelukan hingga doa selesai.

Menjelang maghrib, Eliza pamit pulang lebih dulu. Dia mengerti kegelisahan Starla di tempat ini.

Di depan parkiran, Starla berhenti. Ia menoleh ke belakang. Tersenyum samar, seperti sedang berpamitan.

“Lihat apa, Starla?” tanya Eliza.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!