Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Pedekate
Pagi di depan TK itu selalu ramai oleh suara riuh kendaraan bercampur para orang tua yang mengantar.
Anak-anak datang dengan tas warna-warni, sepatu kecil berlampu, dan bekal yang dibungkus rapi. Beberapa ibu berdiri berkelompok, mengobrol ringan sambil sesekali menoleh ke anak masing-masing.
Eliza menggenggam tangan Starla. Hari ini, langkah anak itu terasa lebih percaya diri. Tas barunya menempel di punggung, ritsleting tertutup rapi. Rambutnya dikepang sederhana, anting kecil berbentuk bunga berkilau samar saat terkena matahari pagi.
“Ibu,” bisik Starla pelan, “tasnya nggak kendur kan?"
Eliza tersenyum. “Enggak, Sayang. Pas.”
Starla terkikik kecil. Di depan kelas, seorang anak perempuan menoleh, menunjuk tas Starla.
“Lucu ya tasmu,” katanya polos.
Starla berhenti. Menatap Eliza sekilas, seperti meminta izin.
“Ini baru,” jawabnya pelan, tapi ada senyum yang tumbuh di wajahnya.
Eliza melihat itu—senyum yang tidak ada ragu. Dadanya menghangat.
Seorang guru menghampiri. Seragamnya rapi, senyumnya ramah. “Selamat pagi, Starla,” sapanya. “Tas barunya bagus.”
Starla mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu Guru.”
Eliza menunduk sedikit. “Pagi, Bu.”
“Bu Eliza, ya?” Guru itu tersenyum. “Saya Bu Ratna.”
“Terima kasih sudah memperhatikan Starla, Bu.”
Bu Ratna menepuk bahu Starla ringan. “Anaknya cepat menyesuaikan diri.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Eliza, seperti angin sejuk setelah hari-hari yang melelahkan.
Saat anak-anak mulai masuk kelas, Eliza masih berdiri sebentar di halaman. Ia memperhatikan Starla duduk rapi di bangkunya, mengeluarkan tempat pensil baru. Krayon berbentuk sayuran itu mengundang decak kecil dari teman di sebelahnya.
“Wortel!” seru seseorang. Starla tertawa.
Eliza menarik napas panjang. Ia menoleh ke Bu Ratna yang masih berdiri di dekat pintu kelas.
“Bu,” kata Eliza ragu-ragu, “saya mau tanya sedikit.”
“Tentu.”
“Kalau… misalnya wali murid mau nitip jualan kecil-kecilan di kantin, boleh nggak ya?”
Bu Ratna berpikir sebentar. “Sebenarnya boleh, Bu. Tapi harus izin ke kepala sekolah dulu. Biasanya diminta data sederhana.”
“Data?” Eliza menegakkan punggungnya.
“Iya. Fotokopi KTP, KK. Biar jelas.”
Kata KK membuat nyali Eliza ciut sesaat. Ia tersenyum, berusaha tetap tenang. “Oh. Baik, Bu. Terima kasih.”
“Besok saja temui Bu Kepala Sekolah,” lanjut Bu Ratna ramah. “Beliau orangnya baik.”
Eliza mengangguk. “Iya.”
Saat ia melangkah pergi, dua ibu yang berdiri tak jauh darinya saling melirik. Bukan tatapan tajam, lebih seperti ingin tahu.
“Itu ibunya Starla ya?” bisik yang satu.
“Iya. Anaknya lucu,” jawab yang lain. “Kayaknya nggak ikut les ini itu ya.”
“Hmm. Ibunya kerja apa ya?”
Eliza mendengar potongan itu tanpa menoleh. Ia sudah terlalu sering mendengar nada seperti itu. Nada orang-orang yang terbiasa menilai dari apa yang terlihat.
Ia berjalan menjauh, motor dinyalakan. Suara mesin menenggelamkan sisa-sisa percakapan di belakangnya.
Di perjalanan, Eliza berpikir. Tentang krayon berbentuk sayuran. Tentang kantin sekolah. Tentang fotokopi berkas yang harus ia siapkan. Semua terasa mungkin—selama ia terus bergerak.
Menjelang duhur, Starla pulang dengan wajah cerah. “Ibu,” katanya antusias, “Bu Guru bilang gambarku rapi.”
Eliza tertawa kecil. “Karena Starla rajin.”
Starla mengangguk mantap. “Aku mau pakai krayon wortel lagi besok.”
Kata Bu Gendhis, setelah isya, Starla tertidur, tasnya diletakkan rapi di sisi kasur. Eliza baru pulang jam 10... dia duduk di lantai, menatap map cokelat yang belum ia simpan.
Harapan memiliki akte itu terasa hangat. Tapi di balik rasa aman itu, Eliza mulai memahami satu hal. Semakin Starla terlihat normal, semakin banyak mata yang akan memperhatikan.
Dan tidak semua mata hanya ingin melihat. Sebagian bakal mencari tahu lebih banyak, apalagi soal asal usulnya.
Ia mematikan lampu. Dalam gelap, suara napas Starla terdengar teratur. Eliza berbaring di sampingnya, satu tangan melingkar di tubuh kecil itu.
"Ibu di sini," bisiknya, "selama ibu masih mampu berdiri, akan terus berjuang buat kita."
***
Panggilan itu masuk tepat saat Eliza menutup laptop.
Tulisan Leave Meeting masih terpantul di layar ketika ponselnya bergetar di meja. Nama Indra muncul, membuat Eliza berhenti sejenak sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
“Ada di rumah kan?” suara Indra terdengar hati-hati. Seperti seseorang yang tahu dirinya menelepon di sela waktu orang lain.
“Iya. Baru kelar zoom,” jawab Eliza. “Ada apa, Pak?”
“Libur hari ini, kan?”
Eliza melirik kalender kecil yang ditempel di dinding kos. Hari itu memang kosong—tidak ada jadwal kelas tambahan. “Iya,” katanya pelan.
“Starla lagi main?”
Eliza terdiam sesaat. “Iya. Lagi main di luar.”
“Hm.” Indra terdengar menarik napas kecil. “Aku lagi dekat situ.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat Eliza mengernyit.
“Dekat?” ulangnya.
“Iya. Lewat aja sebenarnya.” Ada jeda. “Kalau nggak keberatan… aku mau ngajak Starla makan es krim.”
Eliza hendak bertanya lebih jauh, tapi suara tawa anak-anak terdengar dari luar kamar kos. Ia melangkah ke pintu. Dari kejauhan, ia melihat Starla duduk di teras rumah Bu Gendhis, bermain karet bersama dua anak lain.
Sebelum Eliza sempat menjawab, Indra muncul, dan menoleh ke arah rumah Bu Gendhis.
Bu Gendhis yang sedang menyapu langsung menegakkan badan.
“Eh!” suaranya meninggi. “Cari siapa, Pak?”
Indra refleks mengangkat kedua tangannya sedikit. “Bu, maaf. Saya—”
Belum selesai kalimatnya, Starla menoleh. Matanya membulat. “Om!” Dia mengenal pria di luar pagar.
Bu Gendhis berhenti menyapu. Ia menatap Starla, lalu menatap Indra lagi. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Oh,” katanya akhirnya. “Kayaknya pernah liat. Pernah ke sini ya!" sambung Bu Gendhis.
Indra mengangguk. Melambai pada Starla. Dia sempat dituduh penculik oleh ibu gempal ini.
"Baturmu toh, Mbak El?” ucapnya lagi menoleh ke arah Eliza.
Eliza baru tiba di halaman. Napasnya tertahan. “Iya, Bu,” jawabnya pelan.
Bu Gendhis terkekeh kecil. “Kirain penculik. Wong muncul tiba-tiba, liatin anak-anak.”
Indra tertawa canggung.
Bu Gendhis menancapkan sapunya ke lantai. “Waktu itu ngapain ke sini, Pak?”
Indra melirik Eliza sebentar. “Nostalgia, Bu.”
“Nostalgia apaan?”
“Dulu ngekos di sekitar sini. Dua gang dari gang ini.”
Eliza menoleh cepat ke Indra. Kalimatnya yang soal ketemu lagi pas di mobil kemarin mendadak terngiang jelas di kepalanya. Dia tahu lingkungan ini. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Bu Gendhis menyipitkan mata, seperti sedang mengorek ingatan. “Kos siapa?”
“Bu Mahmud.”
“Oh!” Bu Gendhis spontan tertawa. “Yang pelit itu?”
Indra ikut tertawa, lepas. “Iya. Yang anaknya cantik, tapi orangnya… ya gitu deh.”
“Ha! Bener!” Bu Gendhis mengangguk puas. “Aku dulu sering ribut sama dia gara-gara selokan mampet.”
Percakapan itu mengalir ringan. Eliza berdiri di samping, mengamati—cara Indra menimpali, tertawanya yang tidak dibuat-buat, caranya menyebut nama orang lama tanpa ragu. Perlahan, ketegangan di bahu Eliza mengendur.
Indra lalu menoleh ke Starla. Berjongkok sedikit agar sejajar. “Starla, mau temani Om beli es krim?”
Starla menoleh ke Eliza. Ragu.
“Om nggak ngerti rasa apa yang enak,” lanjut Indra. “Dulu Om lama nggak boleh makan es krim.”
“Kenapa?” tanya Starla polos.
“Dingin,” jawab Indra. “Gigi Om sakit.”
Starla berpikir sejenak. “Sekarang sakit lagi?”
“Enggak,” Indra tersenyum. “Makanya Om mau coba lagi. Tapi Om lupa rasanya.”
Starla menatap Eliza lagi. Matanya berbinar, tapi ia menunggu.
Eliza membuka mulut, hendak menolak dengan halus. Tapi Bu Gendhis lebih dulu menyenggol lengannya.
“Ah, nggak apa-apa, Mbak. Temani aja. Sekalian kamu juga keluar rumah.”
Eliza menggeleng kecil. “Akuu—”
“Sudah, sudah.” Bu Gendhis tersenyum penuh arti. “Jarang-jarang ada yang mau ngajak anakmu senang-senang tanpa ribet.”
Starla menarik ujung baju Eliza. “Ibu…”
Satu kata itu saja sudah cukup. Eliza menghela napas. Mengangguk kecil.
“Sebentar,” katanya. “Ibu ambil tas.”
Starla bersorak pelan.
Saat Eliza masuk ke kamar, Bu Gendhis mendekat, suaranya direndahkan. “Siapa tahu jodohmu, Mbak.”
Eliza berhenti melangkah. “Hah?”
“Biar Starla punya ayah,” lanjut Bu Gendhis ringan, seolah itu hal biasa diucapkan.
Deg.
Eliza tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam tas lebih erat. Di luar, suara tawa Starla terdengar jelas. Eliza merasa, apakah Indra sedang mendekat?
.
.