Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Ocehan Starla

Pagi datang seperti biasanya. Suara deru motor bersusulan, teriakan anak tetangga kos yang akan berangkat sekolah juga seruan Abang sayur, menawarkan dagangannya, mendominasi udara pemukiman padat ini.

Gang ini tak pernah sepi. Hanya di jam tertentu saja lengang. Dan tak lama mulai bising lagi akibat aktivitas tinggi para penghuni kontrakan yang berderet.

Kamar kos Eliza mungkin paling lengang, hanya bunyi sendok beradu pelan dengan gelas dan kipas angin yang berdecit lelah.

Starla duduk di lantai, memeluk boneka kelincinya. Rambutnya masih acak, tapi wajahnya cerah—cerah yang jarang Eliza lihat setelah kejadian itu.

“Ibu,” panggilnya ringan.

Eliza menoleh dari dapur kecil. “Kenapa, Nak?”

Starla tersenyum. “Kemarin aku seneng.”

Eliza berhenti sebentar. “Oh ya? Senengnya kenapa?”

Starla menunduk, jari-jarinya memainkan telinga boneka. “Soalnya… aku kayak mereka.” 

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat di dada Eliza. Ia mendekat, lalu duduk di depan Starla. “Nggak kayak mereka? Apanya?" katanya lembut. “Coba bilang ke ibu.”

Starla mendongak. “Beneran?”

Eliza mengangguk, lalu memeluknya erat. “Beneran. Apa?”

"Anak-anak di sana sendirian. Ditemani suster aja, bukan ibu, kan ya?"

Deg. 

Eliza mengusap rambutnya. "Sayang, mereka nggak sendirian. Suster itu ibu juga, merawat, sayang ke mereka juga," jelasnya pelan.

"Kalau aku sama kan ibu. Ibu beneran," ucapnya sambil memainkan telinga bonekanya.

Eliza terkekeh, "Emang ada ibu boongan?" 

Starla mengangkat bahu, lalu tertawa dan beranjak memeluk Eliza. 

Cup. "Starla sayang ibu." Dia mengusap pipi Eliza lalu gegas masuk ke kamar mandi.

Tak lama, bocah lucu itu selesai mandi, Eliza pakaikan baju, menyuapinya makan.

Starla duduk bersila di lantai kos, bingkisan di pangkuannya. Kertas kado dibuka pelan, seolah takut merobek isinya. Eliza mengamati antara senyum dan rasa yang mengganjal di dada.

“Boleh dibuka semua?” tanya Starla, matanya berbinar.

“Boleh,” jawab Eliza. “Pelan-pelan ya.”

Tas kecil muncul pertama. Warnanya lembut, ritsletingnya masih kaku. Lalu kaus kaki—satu, dua… enam pasang. Buku cerita dengan gambar besar, buku gambar tebal, krayon yang ukurannya ramah tangan kecil. Tempat bekal dan tumbler menyusul. 

Bingkisan satunya berisi makanan kering, susu, sereal, biskuit.

Starla terdiam sebentar. Lalu menengadah menunjukkan tumbler ke Eliza. “Seperti punya teman-temanku.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Eliza sesak. Dia memaksa tersenyum, otaknya menghitung cepat di kepala—peralatan sekolah Starla yang masih seadanya, tas lama yang sudah tipis, sepatu yang mulai sempit.

Eliza Bahagia bercampur rasa bersalah. “Starla…” dia berlutut, meraih tangan kecil itu. “Maafin ibu.”

Starla mengernyit. “Kenapa?”

“Belum bisa ngasih semua yang Starla butuh dan mau.”

Starla memeluk tas barunya. “Oh. Starla udah dapat ini kok,” katanya polos. “Kata ibu harus bersyukur.”

Eliza mengangguk, menahan air mata. “Benar. Bersyukur itu bikin semua terasa cukup.”

Starla berpikir sebentar. “Bersyukur itu bilang makasih saja?”

“Ya, salah satunya,” Eliza memilih kata yang paling sederhana. “Makasih ke orang yang memberi… dan makasih ke Tuhan. Kadang Tuhan ngasih lewat orang lain. Kayak ibu-ibu baik di panti itu.”

Starla mengangguk pelan, seolah paham dengan caranya sendiri.

Sambil menyuapi Starla, Eliza merenung. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.

Ibu beneran. Starla sayang ibu.

Panti, doa, bingkisan, tatapan orang-orang—semuanya tiba-tiba terasa bukan sekadar kebaikan. Ada sistem. Ada aturan. Ada kemungkinan yang bisa merenggut, bukan hanya memberi.

Eliza merasa takut pada sesuatu yang selama ini ia perjuangkan sendiri. Akte Starla belum rampung. Di masa ini, ingin rasanya dia memakai mesin waktu agar segera berusia 30 tahun sehingga bisa mengadopsi Starla.

***

Di kantor, Indra menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Laporan bulanan terbuka, tapi pikirannya melayang.

Ia teringat tangan kecil yang mencengkeram baju Eliza. Terngiang suara lirih itu—ibu… ibu…

Indra menghela napas, lalu membuka tab baru. Jemarinya ragu sesaat sebelum mengetik.

“Syarat adopsi anak di Indonesia.”

Ia membaca pelan. Usia. Status pernikahan. Penghasilan. Rekam jejak.

Ia kemudian menutup layar mendadak, seperti ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Bersandar di kursi, Indra menatap langit-langit kantor.

“Bukan urusanku,” gumamnya. Tapi benaknya membantah sendiri. Kalau bukan urusan siapa pun, kenapa wajah anak itu terus muncul?

Menjelang sore, Indra datang lagi ke toko. Ia tak langsung bicara soal kerja. Matanya justru mengikuti Eliza yang sedang menata rak.

“El, Starla suka warna apa?” tanyanya ringan.

Eliza menoleh cepat, terkejut. “Pink,” jawabnya tanpa ragu.

Indra tersenyum. Tak lama, ia menitipkan kantong kertas, ayam goreng dari restoran, dan susu kemasan kecil-kecil.

“El, ini titipan,” katanya. “Sebagai ucapan terima kasih. Starla nggak takut sama saya.”

Eliza refleks menggeleng. “Wah, Pak, jangan—”

“Sesekali, biar dia semangat sekolah,” potong Indra lembut. “supaya makin pinter.”

Alasannya terdengar mengada, tapi Eliza tahu: ada perhatian yang tulus di sana. Ia menerima. Dalam hati ia menghitung ulang—stok susu aman sampai bulan depan. Sisa uang bisa dipakai membeli baju dan mukena untuk Starla. Juga uang semesteran kampus yang menunggu.

Malam turun pelan. Starla menguap, menempel di bahu Eliza yang sedang menghadiri kelas online dosennya.

“Ibu,” bisiknya. “Tasnya buat besok ya.”

“Iya.”

Saat Starla terlelap, Eliza duduk di tepi kasur. Tangannya mengusap rambut anak itu, doa berdesir lirih.

"Terima kasih, Tuhan. Aku percaya, anak ini tidak akan Kau telantarkan. Kau izinkan ia lahir karena ia punya rezekinya sendiri. Seharusnya aku tidak perlu cemas, kan? Jika Kau anggap aku mampu… meski aku sering tertatih, berdoa tulang tulung."

Di luar, malam tenang. Eliza belajar percaya—pelan-pelan, bahwa Starla adalah amanah juga anugerah untuknya.

"Kamu hiburan ibu. Penyemangat segala jerih payah ibu selama ini ... Jadi ada tujuannya. Biar Starla bangga sama ibu."

"Ya Allah. Starla Vali Dwipa, panjangkan kebersamaan aku dan dia."

***

Di ruang kerja yang sunyi, Saba menatap layar ponselnya. Pesan baru masuk. Dia langsung menelpon orang suruhannya itu.

"Kami menemukan catatan puskesmas, Tuan. Persalinan sekitar tahun itu. Bayi perempuan. Data ayah kosong."

Napas Saba tertahan. “Perempuan,” ulangnya pelan.

Ia menutup mata, bersandar di kursi. Potongan-potongan petunjuk itu mulai membentuk sesuatu—belum utuh, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.

Kalau Wulan melahirkan… kalau anak itu hidup…

Maka selama ini, ada seseorang di luar sana yang tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya. Rasa bersalah kian merayapi Saba karena baru berani mencari setelah semuanya terlambat.

“Cari terus,” katanya akhirnya. “Pelan, tapi jangan berhenti." Telepon ditutup. 

Saba berdiri, menatap jendela. Di luar, hari-hari berjalan seperti biasa. Orang-orang hidup, tertawa, berencana.

Sementara jejak-jejak lama yang terkubur rapi, satu per satu mulai muncul ke permukaan—menyentuh hidup orang-orang yang bahkan tak saling mengenal.

Dan jalan itu sedang membawa mereka ke satu titik yang sama. Satu nama. Satu anak. Satu kebenaran yang tak akan bisa ditarik kembali.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!