Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Pencarian Wulan

Kepala panti menepuk tangan pelan, memberi isyarat agar anak-anak kembali tenang. Suara riuh perlahan mereda, digantikan tatapan-tatapan kecil yang masih penuh sisa tawa.

“Nyonya muda,” panggil kepala panti lembut. “Mau bantu bacain dongeng buat adik-adik sebentar?”

Wanita itu menoleh. Alisnya terangkat, seperti tak menyangka namanya dipanggil. “Saya?”

“Iya.” Kepala panti tersenyum tipis.

“Anggap saja latihan.” Suara mertuanya terdengar.

“Latihan apa, Bu?” celetuk salah satu anak, ke Kepala panti.

“Latihan jadi ibu,” jawab sang mertua ringan.

Beberapa anak langsung terkikik, ada yang bertepuk tangan kecil. Nyonya muda itu terdiam sesaat, lalu mengangguk. Ia melangkah ke rak buku, mengambil satu buku bergambar dengan sampul warna-warni. Duduk bersila di depan mereka.

Suaranya lembut saat membaca, teratur, seolah sudah terbiasa. Tapi matanya sesekali melirik suaminya—seakan dongeng itu justru membuatnya tampak bodoh.

Saat cerita hampir usai, sang mertua berdiri di sampingnya. “Nanti sebelum pulang,” katanya pada anak-anak, “doakan beliau ya. Biar cepat diberi momongan.”

“Aamiin,” jawab mereka serempak. Suara kecil, jujur, tanpa beban.

Nyonya muda itu tersenyum, tapi bibirnya kaku.

Tak lama kemudian, mereka bersiap pulang. Lampu panti menyala temaram, memantulkan bayangan di lantai yang mulai lembap oleh embun malam.

“Ayo,” ujar si pria, singkat pada kedua wanita di belakangnya. “Sudah malam.”

Mereka melangkah pergi.

*

Di dalam mobil Indra, suasana berubah sunyi.

Starla mulai gelisah. Tubuh kecilnya bergerak resah, jari-jarinya mencengkeram baju Eliza. Tanpa membuka mata, ia mendekap lebih erat.

“Ibu…” bisiknya. “Ibu… ibu… ibu…”

Eliza segera memeluknya. Tangannya mengusap punggung Starla perlahan, berulang, seperti ritme yang menenangkan.

“Iya, Nak,” bisiknya balik. “Ibu di sini.”

Starla mengulang kata itu lagi, suaranya makin lirih, sampai akhirnya napasnya teratur. Kepalanya terkulai, bersandar di dada Eliza, tertidur pulas, masih memeluk.

Indra melirik lewat kaca spion. Wajahnya penasaran lalu berkata, “Dia takut ditinggalin, ya?” tanyanya pelan.

Eliza menggeleng. “Bukan.”

Indra menunggu. Mesin mobil berdengung pelan, lampu jalan berkelebat satu-satu.

“Dia pernah dipanggil anak haram,” kata Eliza akhirnya, suaranya pelan, , terdengar berat. “Anak dajal. Sama teman-temannya.”

Indra menarik napas pendek.

“Kenapa nggak pindah tempat?” tanyanya. “Atau sekolah?”

Eliza tersenyum tipis. “Di mana pun akan sama.” Ia menunduk, mengecup pucuk kepala Starla, lama.

“Yang bisa aku lakukan cuma satu,” lanjutnya. “Bikin dia percaya sama dirinya sendiri.”

Jarinya merapikan rambut Starla yang jatuh ke dahi. “Makanya aku mati-matian ngurus akta lahirnya. Supaya kalau ada yang nanya, dia bisa jawab—Starla anak Ibu Eliza. Starla punya aktenya.”

Mobil melaju lebih pelan, seolah ikut menjaga keheningan.

“Kamu baik banget, El,” ucap Indra lirih.

Eliza tersenyum kecil. “Baik itu sifat dasar manusia, Pak. Tuhan ngasih itu, kan?”

Indra menoleh sekilas.

“Tapi Tuhan juga ngasih pilihan,” lanjut Eliza. “Mau jadi baik… atau enggak.”

Pandangan Eliza lurus ke depan. Suaranya tenang, tapi mengandung keyakinan. “Manusia dikasih akal dan rasa bukan tanpa tujuan. Jadi kalau cuma sekadar baik, kurasa semua orang bisa.”

Indra mengangguk pelan. “Dan kamu memilih itu?”

“Yang menilai baik atau enggak, kan orang lain,” jawab Eliza. “Tapi setidaknya… aku punya empati.”

Indra manggut-manggut, seperti mencerna sesuatu yang lama ia abaikan.

Di pangkuan Eliza, Starla tidur dengan wajah damai—masih mendekap, seolah memastikan satu hal sederhana, ibu tidak akan pergi.

***

Mobil berhenti di halaman rumah besar itu. Lampu taman menyala otomatis, memantulkan bayangan mereka di lantai marmer yang dingin.

Julia masuk lebih dulu. Sepatunya dilepas asal, langkahnya cepat, seperti menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal.

Begitu pintu kamar tertutup, ia berbalik menghadap Saba. Wajahnya menegang. “Kamu tahu nggak,” katanya, suaranya bergetar, “tadi Mama kayak ngejek aku.”

Saba melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. “Ngejek apanya?”

“Soal bacain dongeng. Soal latihan jadi ibu.” Julia menghela napas kasar. “Itu menyakitiku."

Saba menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Nggak ada salahnya, kan? Kamu sendiri yang mau jadi ibu. Wajar Mama nyuruh begitu.”

Julia mendengus. “Ya nggak gitu juga kali. Naluri itu muncul pas ada anaknya. Bukan disuruh-suruh.”

Saba duduk di tepi ranjang. “Anggap aja mereka juga anakmu,” katanya datar. “Biar terbiasa.”

Kalimat itu seperti api kecil yang disiram bensin. Julia makin naik darah. Dia berkacak pinggang di depan Saba. “Kamu dan Mama sama saja,” Julia membentak. “Nggak pernah peduli perasaanku.”

Saba menghela napas, kali ini lebih panjang. “Kalau begitu, carilah yang ngerti perasaanmu,” katanya tanpa emosi. “Kalau mau.”

Julia menatapnya tajam. Dadanya naik turun. Lalu sebuah bantal melayang, menghantam dada Saba.

“Brengsek!” teriaknya.

Saba tak bereaksi. Ia hanya berdiri, merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar kamar. Pintu ditutup tanpa suara keras—justru itu yang membuat Julia semakin kesal.

Saba masuk ke ruang kerjanya. Lampu meja dinyalakan. Ruangan itu sunyi, penuh rak buku dan berkas-berkas lama yang tak pernah benar-benar dia sentuh sepenuhnya.

Baru juga duduk, ponselnya bergetar. Ia mengangkat. “Ya.”

“Ada titik terang, Tuan,” suara di seberang terdengar hati-hati. “Soal Wulan.”

Saba menegakkan badan. Mendengarkan seksama.

“Dia dipecat begitu ketahuan menjalin hubungan dengan Anda. Setelah itu, datanya menghilang. Ada perintah seseorang yang berperan di situ.”

Rahang Saba mengeras, dia tahu itu ulah siapa. “Lalu?” 

“Setelah itu, kami lacak ke tempat kos lamanya. Dari sana, diketahui Wulan sempat bekerja di rumah makan tak jauh dari situ.”

“Pemiliknya masih ada?”

“Masih ada. Dia membenarkan Wulan kerja di sana. Tapi kemudian pindah kontrakan karena kandungannya makin besar.”

Jari Saba mengetuk meja. “Jadi, dia melahirkan di mana?”

“Pemilik warung kehilangan jejaknya, Tuan. Gaji terakhir Wulan pun belum sempat diambil.”

Saba menutup mata sesaat. “Kemana dia pergi… Ada klinik bersalin di sekitar sana?”

“Kami sudah menyisir radius lima kilometer. Belum ditemukan. Akan kami perluas.”

“Lakukan hati-hati,” ujar Saba pelan. “Jangan sampai ketahuan.”

“Baik, Tuan.” Telepon terputus.

Saba bersandar di kursinya. Pandangannya kosong, menembus dinding. Seharusnya ini mudah. Terlalu mudah untuk seseorang sepertinya. Tapi setiap kali orang-orangnya turun, selalu ada saja yang menghalangi—jejak yang diputus, petunjuk yang ditutup rapat.

Ia mengusap wajahnya perlahan. “Maafkan aku,” gumamnya, entah ditujukan pada siapa. “Mencari mereka lagi… bukan tak patuh. Tapi bagian dari hidupku, satu-satunya yang kupunya berdasarkan hatiku sendiri.” 

Ia menatap meja, ke arah laci yang tak pernah dibuka. Di sana, tersimpan fotonya, gadis itu, Wulan.

“Aku cuma penasaran,” bisiknya. “Apakah kalian masih hidup? Jika tidak, aku mau tahu dimana kamu dimakamkan," lirihnya menyadarkan punggung ke kursi.

Hening.

“Maaf, Wulan,” lanjutnya lirih. “Aku baru melakukan banyak hal, mulai berani mencari lagi … setelah beliau tiada.”

Lampu meja tetap menyala. Tapi malam ini, bagi Saba, akan terasa semakin panjang. Petunjuk demi petunjuk, berhasil dia susun lagi.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!