Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Alumni Sini sama Aku
Eliza menutup laci kasir lebih cepat dari biasanya. Ia melirik jam dinding—belum terlalu sore, tapi sudah gelisah oleh rencana yang menunggu.
“Pak,” katanya sopan pada kepala toko. “Saya izin pulang agak cepat hari ini.”
Belum sempat dijawab, seseorang berdiri dari sudut ruang kantor kecil itu. Kemeja rapi, jam tangan berkilat. Indra—sedang berkunjung.
“Mau ke mana?” tanyanya ringan, tapi matanya menilai.
“Ke panti, Pak,” jawab Eliza jujur.
“Panti?” Indra mengangkat alis. “Sama siapa? Ngapain?”
Eliza tersenyum tipis. “Saya alumni panti "Sini Sama Aku", Pak. Kalau ada kegiatan, biasanya saya diminta bantu-bantu.”
“Oh. Jauh?”
“Lumayan.”
“Sendirian?”
“Tidak.” Eliza ragu sesaat, lalu berkata, “Dengan anak saya.”
Indra terdiam sebentar. “Kalau begitu, saya antar saja,” katanya kemudian. “Sekalian lewat.”
Eliza hendak menolak, tapi Indra sudah meraih kunci mobil. “Nggak apa-apa,” ujarnya. “Anggap saja numpang jalan.”
Eliza mengangguk. “Terima kasih, Pak.” Dia izin pulang ke kos, bawa Starla lalu bertemu di depan jalan besar, dekat penitipan motor.
Sebelum pulang, Eliza menelpon Bu Gendhis. Suara kipas terdengar di seberang.
“Bu, tolong siapin Starla ya. Aku pulang 30 menit lagi, mau ke panti.”
“Siap,” jawab Bu Gendhis cekatan. “Tak dandanin cucuku.”
Beberapa menit kemudian, foto masuk. Starla berdiri rapi, rambut disisir, dikepang sederhana, baju bersih—tidak mencolok, tidak pula lusuh. Pas.
Bu Gendhis memberi caption di bawah foto Starla. ["Cucuku sudah siap. Starla pake baju begini, kayak anak orang kaya ya, Mbak El."]
Eliza menatap layar lama. Dadanya menghangat. “Benar. Kamu pantas jadi anak orang kaya, Starla,” lirihnya. “Auramu lain.”
Ia pulang, menjemput Starla, berterima kasih pada Bu Gendhis lalu mengendarai motor lagi sampai ujung jalan. Motor dititipkan. Indra sudah menunggu di mobil tak jauh dari sana.
Starla duduk di belakang, sabuk pengaman terpasang rapi. Matanya menatap jendela, menyimpan rasa ingin tahu yang tenang.
“Pusing nggak, Nak?” tanya Eliza.
Starla menggeleng.
Halo, Starla,” sapanya ramah. “Kita pernah ketemu, kan?”
Eliza menoleh cepat. “Hah?” Ia memandang Indra, bingung. “Kapan, Pak?”
Indra terdiam sepersekian detik. Senyumnya menegang. “Hmm,” katanya ringan, menutupi pertemuannya dengan Starla. "Maksud saya—mungkin mirip dengan anak yang pernah saya temui.”
Eliza mengangguk pelan, meski ada ganjal kecil di dadanya. "Oh."
Mobil melaju.
Di depan gerbang panti, Indra memarkirkan mobil. Bangunan itu tak berubah—tembok lama, halaman luas, suara tawa anak-anak bercampur langkah kaki relawan.
Indra turun lebih dulu. Ia menoleh ke Starla, tersenyum. Starla memegang ujung baju Eliza, setengah bersembunyi.
“Terima kasih, Pak,” kata Eliza, memutus jeda.
“Sama-sama,” balas Indra. “Saya tunggu di sini.”
"Eh, bakalan lama, silakan pulang saja," kata Eliza sambil menangkup tangan di depan dada.
Indra tak membalas, tangannya menyilakan Eliza dan Starla masuk. Eliza pun membungkuk pamit, menggandeng tangan Starla.
Di dalam panti, suasana ramai tapi hangat. Eliza membantu menata kursi, membagikan minum, menyapa wajah-wajah lama. Starla duduk di sampingnya, memperhatikan.
Seorang pengurus mendekat. “Siapa namanya?” tanyanya ramah, pada Starla.
"Starla." Starla menjawab malu-malu. Tangannya memainkan jempol.
"Anakmu, El?" tanya suster Nafa, asisten kepala panti.
“Iya,” jawab Eliza singkat.
Pengurus itu tersenyum. “Cantik sekali.”
Eliza mengusap kepala Starla.
Acara pun berlangsung. Starla duduk di tengah. Tampak bingung dan malu-malu membaur sebab ini kegiatan pertamanya setelah pulih dari kecelakaan lalu.
Malam turun perlahan. Kegiatan hampir selesai. Waktunya pembagian bingkisan. Starla terlihat senang sekali, dia sudah bisa tersenyum dan tertawa dengan anak lainnya.
Eliza berdiri di halaman, menghela napas lega. Dari kejauhan, dia seperti melihat seseorang yang familiar, tapi wajahnya tak jelas. Baru turun dari mobil. Terhalang pohon.
Dia lalu kembali ke belakang, menyiapkan suguhan untuk donatur. Kata kepala panti, mereka akan datang ke sini setelah acara selesai.
Anak-anak mulai bubar, Starla berlari mencari Eliza di belakang. Membawa dua bingkisan besar, dia kesulitan. "Ibuuu," serunya.
Eliza terkekeh, dia meraih bingkisan itu dari tangan mungil Starla lalu pamit pulang. Eliza menggenggam tangan Starla.
“Pulang yuk,” katanya.
Starla mengangguk. Tangannya mengucek mata, lalu menguap. Eliza mengusap kepalanya lembut.
"Ngantuk, ya? Bentar ibu pesen ojol dulu," ucap Eliza sambil berdiri di sisi jalan. Starla menyender di kakinya.
Indra ternyata masih menunggu. Dia gegas turun saat melihat Eliza di seberang jalan.
"El! Elizaaa!"
Eliza menoleh, ke sumber suara. Indra berlari kecil, menyebrang jalan.
"Sudah beres?" tanyanya saat sudah di hadapan Eliza.
"Loh, belum balik, Pak?"
"Aku nggak ada acara. Mau ngapain pula di rumah bengong, jadi nunggu aja. Lagian takut kalian susah dapat kendaraan pas pulang," jelas Indra panjang.
Eliza menunduk, segan, menyusahkan atasannya. "Oh, maaf atuh saya ngerepotin," ucapnya.
"Ibuuu!" rengek Strala, tangannya digigiti nyamuk membuat Indra gegas menyilakan keduanya ke mobil.
"Ayo, kasian Strala udah ngantuk ya, Nak?"
"Ehmmm." Suara Strala mulai serak.
Eliza tak punya pilihan lain. Indra membawa bingkisan Starla dan Eliza menggendongnya.
Tiba-tiba.
"Kamu?"
Eliza menoleh. Terkejut oleh suara dari samping kirinya. "Loh, Anda?"
"Kamu ngapain di sini?" ujarnya, menunjuk panti sembari melirik sosok pria di sampingnya.
Eliza tak menjawab. Tangan kiri indra memutari punggung Eliza, mengajak jalan menyebrang.
"Permisi." Eliza menunduk ke arah wanita yang masih berdiri di sisi kirinya. Lalu setengah berlari menuju mobil Indra.
Dahi sang wanita itu mengerut. "Oh, itu calonnya kah? Tampak akrab, dia mau menikah biar bisa adopsi anak itu?" gumamnya.
Wanita itu masih berdiri di tempatnya semula. Lampu depan panti memantulkan bayangan tubuhnya di aspal yang mulai lembap. Ia menatap ke arah mobil yang semakin menjauh, matanya menyipit.
Tak lama suara berat pria memanggil, membuatnya gegas masuk.
Dalam benaknya langsung terpikir. "Kalau dia menikah, brati posisiku aman, anak itu nggak bakal bisa diadopsi." Wajahnya tanpa sadar tersenyum.
"Senyam-senyum sendiri. Jaga sikapmu, Mama sedang bicara," tegur seorang pria yang duduk di sebelahnya.
"Iya, Sayang, iya." Sambil bersandar manja di lengan si pria.
"Ish!" Dia berdiri, pindah duduk di sebelah ibunya.
.
.
(Clue clue banyak sejak bab 10)