Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Bayi di teras Kos - 1
“Aah, sial. Basah semua!” sungut Eliza ketika memarkirkan sepeda motor Beat karbu di teras kamar kosnya.
Air menetes deras dari ujung rambutnya, membasahi lantai semen yang sudah retak-retak. Ia melepas jaket jeansnya, mengibaskan sisa hujan yang menempel, lalu menggigil sejenak sebelum masuk ke kamar.
Hujan malam itu menggempur atap seng kosan tua, menimbulkan suara riuh ketukan yang tak beraturan. Desah angin masuk lewat celah jendela kayu, membuat suasana kamar Eliza yang sempit semakin menusuk dingin.
Klik.
Lampu neon kecil di langit-langit menyala redup, kelap-kelip seakan nyaris padam. Cahaya pucatnya menyoroti tumpukan buku kuliah yang berserakan di meja kecil dekat kasur tipis.
Eliza menyalakan teko listrik, merobek bungkus mi instan, dan menuangkan bumbu seadanya. Aroma gurihnya segera memenuhi kamar, meski tak cukup menutupi lelah yang melekat di tubuhnya.
Tak lama, ia duduk bersila di lantai, mangkuk mi mengepul di depannya. Seragam kasir merah-biru masih melekat, ujungnya basah dan lengket di kulit karena kehujanan selepas shift malam di Indoapril.
“Hidup mahasiswa pejuang ya begini…” gumamnya pelan, sambil menusuk mi dengan garpu. Ada getir yang biasa, tapi juga ada secuil hangat: rasa syukur masih bisa makan meski sederhana.
Eliza tahu betul rasanya tak punya siapa-siapa. Tumbuh di panti asuhan, lalu kini berjuang sendirian. Gajinya pas-pasan, setengah habis untuk bayar kos dan kuliah Universitas Terbuka tiap akhir pekan. Sering kali, ia hanya bertahan dengan mi instan dan air putih. Tapi ia terbiasa. Ia punya hati keras kepala sekaligus lembut: keras untuk bertahan, lembut untuk peduli.
Suara hujan tiba-tiba terdengar lain—lirih, samar, tapi jelas. Tangisan.
Eliza tertegun, garpunya menggantung di udara. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia menajamkan telinga, memastikan ia tak salah dengar. Tapi suara itu kian nyata: tangisan bayi, menyusup di antara derasnya hujan.
Deg.
Dengan langkah cepat ia menuju pintu. Tangan gemetar saat memutar gagang, lalu membukanya perlahan.
Angin dingin menyerbu masuk bersama bau tanah basah. Lampu lorong kos yang remang menyorot samar sebuah kardus di depan pintu. Kardus itu basah sebagian sisinya, dan dari dalamnya… tangisan itu berasal.
“Nggak mungkin…” Eliza berbisik tercekat, lalu berjongkok. Jemarinya gemetar saat membuka lipatan kardus.
Di sana, seorang bayi mungil terbaring. Wajahnya merah, tubuhnya hanya dibalut kain tipis yang sudah lembap. Tangisannya pecah, nyaring, seolah dunia terlalu dingin untuk menyambutnya.
Mata Eliza membesar, panas menjalari dadanya. “Ya Tuhan…”
Dengan hati-hati ia meraih bayi itu, membawanya masuk, lalu buru-buru menutup pintu agar angin tak makin menusuk. Selimut tipis itu nyaris tak memberi kehangatan. Eliza menimang pelan, berusaha menenangkan tangisan yang pecah-pecah.
Di dasar kardus, ada secarik kertas basah. Tinta samar hampir luntur, hanya menyisakan tulisan singkat:
“Tolong rawat dia.”
Eliza membeku.
Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Siapa yang tega meninggalkan bayi sekecil ini? Bagaimana bisa seseorang menyerahkan nyawa mungil begitu saja? Dan… kenapa harus di depan kosnya?
Tangisan bayi di pelukannya semakin keras, membuat dadanya sesak.
Logikanya menyerbu cepat: dirinya sendiri saja hidup serba kekurangan. Kos sempit, uang bulanan pas-pasan, kuliah belum selesai, kerja masih kontrak. El, kamu bahkan sering makan mi instan… mau kasih makan apa bayi ini? bisiknya getir, air mata mulai mengambang.
Namun, tatapannya jatuh pada wajah mungil itu. Bayi yang tak tahu apa-apa, hanya lahir dan ditinggalkan. Hatinya teriris.
Ia menggigit bibir. Pergulatan batin menyesak. Logika berteriak jangan ambil tanggung jawab sebesar ini. Tapi nuraninya… tak tega melepaskan.
Hujan masih deras di luar, seakan dunia menutup mata.
Eliza menarik napas panjang, lalu berbisik lirih, “Aku… nggak tahu gimana caranya. Tapi aku nggak akan ninggalin kamu.”
Tangis bayi perlahan mereda, seolah memahami janji sederhana itu.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuat Eliza tersentak.
“Siapa?” tanyanya gemetar, tubuhnya masih dingin dan basah.
“Kulo, ibu,” sahut suara di luar, logat Jawa kental.
Eliza buru-buru meletakkan bayi di kasur, lalu membuka pintu. Bu Gendhis, ibu kos, berdiri dengan daster batiknya, wajah penuh rasa ingin tahu.
“Mbak El, tadi ada suara bayi kek e… krungu ora?” tanyanya sambil celingukan.
Eliza terdiam, lalu menunjuk kasur.
Mata Bu Gendhis membola. Ia tergopoh masuk, menghampiri. “Duh, Gusti… ini cuma dikardusi?” katanya sendu.
Eliza mengangguk. “Ya kalau diselipi uang dan dibawa pake mercy, bukan ke sini tapi ke agency, jadi model,” selorohnya, mencoba menutupi kegugupan.
Bu Gendhis menoleh tajam, tapi sudut bibirnya terangkat. “Ngawur. Ini gimana? Sek lapor RT, biar dibawa ke polisi.”
Tangisan bayi kembali pecah, seolah tak setuju dengan perkataan itu. Eliza langsung duduk di samping, menyelimuti bayi dengan kain seadanya.
“Lihat deh mukanya, Bu,” bisiknya lirih.
Bu Gendhis mendekat, menatap bayi itu lekat-lekat. “Mesakke kamu… anaknya siapa, cantik begini.”
“Bu.”
“Hem?”
“Masih bisa nyusuin, kan?”
Plaaak! Lengan Eliza dipukul pelan. “Ngece! Rondo pitulastaun ya basi, wes kisut iki,” ocehnya, membuat Eliza tertawa renyah meski tegang.
Keduanya saling pandang, lalu kembali menatap bayi itu.
“Dirawat sama kita aja, gimana, Mbak El?” tanya Bu Gendhis.
“Pake susu siapa? Sumber mata asiku belum lolos uji BPOM,” kekeh Eliza.
Bu Gendhis menghela napas, lalu mencoba menggendong bayi. Pandangannya sendu, teringat anak-cucunya yang jarang pulang. “Halo… ini Eyang Gen—”
“Dut.” Eliza buru-buru bangkit, ganti baju, lalu menutup pintu. Mi instannya kini sudah kaku, mirip tali kapal.
Bu Gendhis merengut, lalu kekeh sendiri. “Eyang Gendhis … agak kisut, coklat tapi manis persis gula.” Ia mengajak ngobrol si bayi, seolah mengisi kekosongan sunyi.
“Besok ke bidan sekalian lapor RT, ya. Ibu bakal minta izin sama anak-anak buat rawat,” katanya masih menimang lembut.
Eliza hanya diam, pikirannya berkecamuk. Banyak hal bakal berubah dalam hidupnya.
“Dia lapar,” ucap Bu Gendhis.
“Pake kuah mi aja nggak apa-apa kali ya semalam ini, hujan.”
“Ngawur. Beli susu sana.”
Eliza malas bergerak, uangnya pas-pasan, tapi akhirnya teringat sesuatu. Ia keluar sebentar, lalu kembali membawa botol susu dan bubuk putih dalam plastik.
“Cepet amat … nyolong?” cibir Bu Gendhis.
“Enak aja, ngemis dong.” Eliza nyengir. “Minta sama kamar ujung, kan punya bayi juga, baru ceprot.”
Bu Gendhis membuatkan susu, lalu menyuapkan pelan ke mulut bayi. Bayi itu mulai tenang, dan tertidur pulas dalam gendongannya.
“Kangen ya, Bu?” tanya Eliza lirih.
“He em. Banget…” suara Bu Gendhis serak, nyaris bergetar.
Mereka terdiam, hanya memandangi wajah mungil itu. Tak berdosa, seolah malaikat kecil yang diturunkan ke kamar kos sederhana ini.
“Namanya siapa, ya?” keduanya bersuara hampir bersamaan.
Eliza terdiam, menatap bayi itu lekat-lekat. Entah kenapa, meski takut dan bingung, ada perasaan aneh bersemayam di dadanya. Ia tahu, sejak malam itu, hidupnya tak lagi sama.