PUISI UNTUK EMBUN

Awas, Nanti Jatuh Cinta

“Loh kok gitu Qi? Jadi gimana dong?” Embun kaget saat Rizqi bilang dia nggak bisa ke rumah Yeni sesuai rencana mereka tadi pagi.

“Iya, gue harus pulang buru-buru. Tapi si Jeno udah bilang dia bisa nganterin elo ke rumah Yeni.”

“Kenapa jadi gue sama Jeno? Lo sama aja ngajak ribut ke gue ini mah.”

“Yah gimana dong. Gue udah terlanjur ngabarin Yeni kalau gue sama elo mau ke sana. Terus tadi pas gue mau ke sini, gue ketemu Jeno di kelas, dia nanya gue jadi apa nggak pergi sama elo ...”

“Terus elo bilang ke dia kalau elo nggak jadi pergi sama gue dan dia siap gantiin elo? Basi banget sih.” Potong Embun.

“Ya nggak apa-apa sih Mbun. Jeno kan temen sekelas kita juga. Anggap aja elo sama Jeno perwakilan dari kelas kita nengokin Yeni. Oke, Mbun. Udah ya gue harus pulang. Ati-ati di jalan ya Mbun. Inget, ke rumah Yeni ya, bukan ke Artomoro.”

“Kampreeetttt ....” Embun melemparkan batu ke arah Rizqi yang sudah berlari menjauh bersama tawanya.

***

Embun diam saja saat Jeno menggiringnya ke parkiran. Otaknya mencatat kalau dia harus bikin perhitungan ke Rizqi. Saat di depan ruang OSIS tadi, Embun sudah menolak mentah-mentah ajakan Jeno sambil mengeluarkan semua sumpah serapah yang ditujukan untuk Rizqi. Ketua kelas yang isengnya nggak ketulungan. Wajar saja kalau dia bisa terpilih sebagai ketua kelas 2.3. Walaupun penampilannya rapi dan mencerminkan anak baik-baik, siapa sangka dia juga termasuk salah satu biang kerok di kelas. Bahkan Rizqi dan Chandra sampai dikeluarkan dari ekstrakurikuler Paskibraka karena mereka sangat tidak disiplin.

Namun, Rizqi dan Chandra dengan tegas dan tanpa tahu malu malah bilang kalau mereka tidak disiplin itu gara-gara teman-teman sekelasnya yang selalu saja mengganggu kalau mereka mau latihan. Embun tak habis pikir, bagaimana bisa teman-temannya disebut mengganggu, sedangkan Rizqi dan Chandra selalu iya-iya aja kalau diajakin mangkir dari kegiatan Paskibra di sekolah mereka.

Bukan cuma disiplin yang minimalis bahkan nyaris nggak ada, Rizqi dan Chanda juga seakan kompak melanggar standar kerapihan anak-anak Paskibraka. Bagaimana tidak? Jika anak-anak anggota Paskibra yang lain selalu tampil dengan seragam rapi dan kelimis, Rizqi dan Chandra malah seenaknya berpenampilan urakan. Baju dikeluarkan, rambut sedikit gondrong, kelengkapan harian macam ikat pinggang hampir nggak pernah dipakai.

Andai Embun yang jadi ketua paskibra, pasti akan melakukan hal yang sama. Mengeluarkan duet rusuh itu dari keanggotaan.

“Motor gue gimana?” Embun kaget ketika Jeno membawanya ke mobil yang diparkir di bagian luar pagar sekolah. Saking khusyuknya memikirkan Rizqi dan Chandra, Embun sampai tidak memperhatikan ke mana Jeno menyeretnya. Ya, tangan Jeno tetap menggenggam tangan Embun dan berjalan setengah menyeret gadis itu.

“Ntar dianterin sama Rio.”

“Terus Rio pulangnya gimana?”

“Elo lupa ya, rumah Rio sama rumah elo tuh deketan. Dia gelinding dari rumah elo juga bisa sampe ke rumahnya.”

“Lah, gue pulang gimana?”

“Ya ampun ni cewek, lo nggak puas bener ya kalau nggak ngajak gue berantem? Masalah elo pulang itu urusan gue. Ntar gue anterin elo.”

“Lo yakin?”

“Udah nggak usah cerewet. Keselamatan elo aman sama gue, cuma kehormatan elo nggak bisa gue jamin.”

“Elo mau ngapa-ngapain gue ya?” Mata Embun melotot sempurna memandang Jeno horor.

“Emang lo mau gue apa-apain ya? Gue sih dengan senang hati bakalan mengabulkan keinginan elo.”

“Dih najis gue. Ogah banget.”

“Makanya nggak usah ribut. Udah cepeten masuk ke mobil. Bentar lagi Rio ke sini. Lo kasih kunci motor lo ke dia.”

Embun memilih diam tidak menjawab lagi ucapan Jeno. Bisa-bisanya melewati siang yang menurutnya ajaib. Berdua dengan Jeno aja udah musibah, apalagi sekarang mereka harus semobil menuju rumah Yeni. Jelas ini merupakan malapetaka besar. Tak lama, Rio datang setengah berlari mendekat ke arah mereka.

“Mana kunci motor lo?” Tanya Rio kepada Embun.

“Nih. Jaga motor gue. Awas kalo sampe lecet.”

“Tenang aja, bensin motor lo aman kan?”

“Full. Eh, lo ngapain nanya bensin? Jangan bilang lo mau keluyuran dulu. Pokoknya lo harus langsung pulang anterin motor gue.” Embun menatap Rio curiga.

“Gue nggak janji. Hahahahaha ...” Rio terbahak sambil berlari meninggalkan Jeno dan Embun.

“Sialan tu orang.” Embun mulai misuh-misuh.

“Lo bisa mati muda kalau marah-marah terus. Udah cepet masuk.” Jeno memberikan perintah.

“Ini gara-gara elo. Coba kalau gue berangkat sama Rizqi, kan gue nggak harus nitipin motor ke Rio.”

Jeno tak menggubris omelan Embun. Lelaki itu kini fokus melajukan mobilnya meninggalkan sekolah. Lagu Dan dari Sheila On 7 terdengar mengalun dari tape yang ada di mobil Jeno.

Embun tidak tahu kalau Jeno sedang merasakan kegugupan yang luar biasa. Tangannya sudah mulai berkeringat dingin. Seumur-umur, baru kali ini dia membawa perempuan di dalam mobilnya. Tentu saja pengecualian untuk mama dan adiknya. Sumpah demi apapun, Jeno merasa jantungnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Nyalinya tiba-tiba saja ciut.

Perlahan dia mengikuti alunan suara Duta Sheila On 7. Hanya untuk mengalihkan rasa groginya. Jeno sendiri nggak paham kenapa tiap kali berdekatan dengan Embun, dia tidak bisa tenang sama sekali. Dia juga nggak bisa bersikap manis seperti teman-temannya yang sedang melakukan pendekatan.

Mungkin benar apa yang dibilang oleh Joy, dia terlalu gengsi untuk menunjukkan perhatiannya ke Embun. Dibandingkan berkata dengan nada lembut, Jeno malah lebih sering membuat Embun marah dan salah paham. Seperti saat ini, sejak tadi Embun tidak sekalipun tersenyum kepadanya. Padahal, Jeno hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan pujaan hatinya itu.

“Suara elo bagus juga.” Komentar Embun.

“Hah?” Jeno terlonjak karena kaget.

“Kenapa sih kaget sampe segitunya? Gue cuma bilang suara elo bagus juga.”

“Ohhhh ...” Gumam Jeno singkat.

Sumpah demi apapun, detak jantung Jeno sudah bertalu melebihi batas normalnya. Embun memujinya? Sungguh, itu di luar perkiraan Jeno.

“Nggak usah geer. Gue muji suara elo doang. Jangan mikir macem-macem.”

“Gue nggak mikir macem-macem. Emang lo mau gue mikir apa? Pikiran gue tentang elo yang semacem aja belum kelar.”

“Elo mikir apa tentang gue?” Kejar Embun.

“Mikir gimana caranya elo bisa terima gue jadi pacar elo.”

“Nggak usah mimpi.”

“Siapa yang mimpi? Gue lagi bangun dari mimpi kok. Malah lagi berjuang mewujudkan mimpi gue.”

“Omongan lo garing tau nggak?”

“Terus menurut lo yang nggak garing itu gimana?” Pancing Jeno.

“Bisa nggak sih elo berhenti bahas masalah ini. Gue nggak ada perasaan apa-apa ke elo. Kita kayak biasanya aja deh. Mending gak usah saling nyapa. Kan dulu juga gitu dan nggak ada masalah.”

Jeno bungkam. Bukan berarti setuju dengan ucapan Embun. Tapi karena mereka sudah sampai di rumah Yeni. Embun juga akhirnya mengatupkan bibir. Tak lagi bicara ke Jeno. Setelah memarkirkan mobil di depan halaman rumah Yeni, mereka berdua pun turun dari mobil.

“Kenapa nggak parkir di sana aja?” Embun menunjuk halaman dalam rumah Yeni yang lumayan luas.

“Males ah. Ribet parkirnya. Harus buka-buka gerbang segala.”

“Dasar aneh.” Timpal Embun sambil memperhatikan muka Jeno.

“Jangan liatin gue begitu. Nanti lo jatuh cinta sama gue.”

Padahal, sebenarnya Jeno gugup ditatap secara intens oleh Embun. Tapi, mau ditaruh di mana mukanya kalau sampai Embun tahu kegugupannya?

“Allahuakbar, dosa apa gue sesiangan ini bisa-bisanya ketiban sial harus deket-deket sama elo. Amit-amit deh kalau gue harus jatuh cinta sama elo.”

“Jangan kepedean bilang gitu. Kalau besok lusa elo tiba-tiba jatuh cinta sama gue bisa repot. Namanya jatuh itu nggak ada yang enak, kecuali jatuh cinta sih.”

Embun mempercepat langkahnya menuju pintu depan rumah Yeni. Dia sudah kehabisan kata meladeni ocehan Jeno.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!