PUISI UNTUK EMBUN

Si Pembuat Puisi

Setiap pagi pula Jeno melongok ke arah majalah dinding. Berharap akan memergoki si penulis misterius. Tetap saja dia tidak berhasil.

Lalu, di suatu siang selepas bel sekolah yang berbunyi, ketika sedang menunggu Hervin yang mau main basket, Jeno duduk di pinggir lapangan basket yang dekat ruang OSIS. Tak lama, Embun keluar dari ruang OSIS dan duduk di sebelah Jeno.

Saat itu, mereka tidak sekelas. Tapi siapa yang tidak kenal keduanya. Meski tidak cukup akrab untuk sekedar mengobrol, mereka juga tidak berusaha menghindar satu sama lain.

“Belum pulang?” Embun memulai obrolan.

“Nungguin Hervin. Dia mau main.” Jeno menunjuk ke arah Hervin dengan dagunya.

“Oh.” Embun membalas singkat.

“Lo sendiri kenapa belum pulang?” Jeno melirik Embun sekilas.

“Habis bahas untuk bulan bahasa.”

“Ada acara apa?”

“Pengennya datengin Taufik Ismail. Tapi kayaknya enggak mungkin.” Embun menjawab lirih.

“Kenapa?”

“Waktunya udah mepet banget. Tinggal sebulan lagi. Nggak bakalan bisa.”

“Terus ganti acara?”

“Iya. Tapi masih belum tau. Gue masih pengen datengin Taufik Ismail. Tahun depan kayaknya bisa. Semoga aja gue masih jadi pengurus OSIS.”

“Lo suka puisi?” Jeno awalnya hanya basa basi melontarkan pertanyaan itu.

“Suka banget. Gue malah sering nulis puisi.”

Jawaban Embun membuat Jeno seketika diam. Pikirannya melayang kepada puisi-puisi yang dia baca di majalah dinding. Lalu tanpa sadar Jeno menatap lekat ke mata Embun. Mencari jawaban atas semua rasa penasaran yang dia alami beberapa minggu ini.

“Lo kenapa liat gue gitu? Ada yang salah sama gue?” Embun balik melawan tatapan mata Jeno dengan berani.

“Enggak.” Seketika Jeno tersadar dan memutuskan adu pandang mereka. Mulai hari ini, Jeno tahu siapa yang harus dia buru sepulang sekolah.

Kesempatan itu akhirnya tiba lima hari kemudian. Sekolah sudah mulai sepi. Jam di pergelangan tangan Jeno sudah menunjukan hampir pukul lima sore. Seperti biasa, Jeno memutar langkahnya agar bisa melewati majalah dinding. Matanya langsung menangkap sosok Embun yang sedang membuka kunci majalah dinding.

Majalah dinding di sekolah mereka memang dilapisi bingkai kaca dan dikunci gembok. Tidak sembarang orang bisa menempelkan sesuatu di dalam majalah dinding itu. Otak Jeno segera menangkap benang merah kenapa Embun bisa bebas menempelkan puisinya. Embun itu wakil sekretaris OSIS. Entah gimana caranya, dia pasti punya akses untuk bisa mendapatkan kunci majalah dinding.

Tanpa melihat apa yang Embun kerjakan, Jeno yakin seyakin-yakinnya kalau Embun sedang menempelkan puisi baru. Setelah Embun pergi, Jeno segera menghampiri majalah dinding dan mencari-cari puisi yang tadi pagi masih dibacanya. Benar saja, puisi tadi pagi sudah lenyap dan kini tertempel puisi baru.

Berawal dari kata. Merambat jadi suka. Itulah yang Jeno rasakan. Jeno sudah jatuh cinta pada puisi-puisi Embun. Terpesona pada setiap diksi yang Embun pilih. Embun menuliskan cinta tanpa harus menjadi seorang pemuja. Begitu pula saat sedang merasakan rindu, Embun lebih memilih syahdu dibandingkan pilu. Dalam kehilangan, Embun malah menjadikannya kenangan.

***

Jeno mulai memperhatikan Embun. Gadis manis berkulit sawo matang itu bahkan tidak sadar kalau belakangan ini dia lumayan sering melakukan interaksi dengan Jeno. Sayangnya, interaksi di antara mereka bukan obrolan romantis penuh kelembutan. Melainkan kobaran api yang selalu memantik keributan.

Jeno tidak bisa mengungkapkan perhatiannya dengan halus. Embun juga sama, cuek dan keras kepalanya seperti Jeno. Alih-alih menunjukan perhatiannya sebagai seorang lelaki, Jeno lebih terlihat si usil yang selalu menabuh genderang perang jika berdekatan dengan Embun. Seperti malam itu, ketika sekolah mereka akan mengadakan festival band, Embun sudah meminta beberapa panitia laki-laki untuk menginap di sekolah dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Sebagai ketua pelaksana, Embun merasa dia harus bertanggung jawab sepenuhnya. Maka dia memutuskan untuk ikut menginap di sekolah. Jeno yang saat itu ikut menginap bersama teman-teman pencinta alamnya kaget melihat Embun masih ada di sekolah.

“Lo ngapain di sini? Pulang sana.” Ucapan Jeno lebih terdengar sebagai kalimat mengusir. Padahal sebenarnya Jeno hanya khawatir kalau Embun menginap di sekolah karena Embun perempuan sendiri.

“Gue ketuanya di sini. Lo enggak usah ikut campur.” Embun tidak terima dengan perkataan Jeno dan membalasnya sengit.

“Sial. Lo itu cewek. Pulang sana. Gak usah di sini.” Suara Jeno mulai meninggi.

“Emang kenapa kalo gue cewek? Masalah buat lo?” Embun malah sudah melengking membangunkan emosi Jeno.

Keduanya terlibat adu mulut sampai membuat beberapa orang teman mereka berkumpul menonton keributan itu. Tidak ada yang tahu kenapa Embun dan Jeno bisa ribut. Ini juga kali pertama Jeno ribut dengan seorang perempuan. Biasanya Jeno memilih pergi daripada mengurusi perempuan yang dia anggap mengganggu.

“Sudah. Kalian berdua diam.” Adji melerai keduanya. Lalu menarik Embun ke ruang OSIS. Sedangkan Jeno dibawa oleh Chandra menjauh dari sana.

“Lo kenapa ribut sama si Jeno?” Adji bertanya pelan. Dia tahu Embun sedang panas.

Lalu mengalirlah cerita dari mulut Embun yang merasa Jeno sudah meremehkannya. Embun tidak terima dengan perlakuan Jeno dan menganggap Jeno terlalu ikut campur.

Adji mengangguk. Sebagai lelaki, dia bisa memahami kekhawatiran Jeno. Namun, sebagai orang yang lumayan kenal Embun karena sama-sama menjadi pengurus OSIS, Adji juga bisa mengerti alasan Embun kenapa masih ada di sekolah.

“Mendingan lo pulang deh.” Saran Adji.

“Lo ngusir gue juga?” Embun membelalakan matanya.

“Kagak. Ya ampun Mbun, lo jangan ngegas terus dong. Maksud gue, lo kan ketua pelaksana, harus jaga stamina. Jangan ikut-ikutan begadang di sini. Besok lo harus kasih sambutan juga. Enggak lucu kalo lo besok malah ngantuk.” Adji menjelaskan panjang lebar.

“Terus di sini gimana?”

“Kan ada gue. Lo gak percaya sama gue?”

Adji berusaha meyakinkan Embun kalau semuanya akan baik-baik saja. Sifat perfeksionis Embun ini kadang malah merepotkan bagi orang-orang di sekitarnya. Entah sudah berapa banyak yang mengeluhkan tentang hal ini.

“Gue anter lo pulang.” Adji menarik tangan Embun.

“Gue bisa sendiri. Lagian gue bawa motor.” Embun berusaha menolak.

“Ini udah jam sebelas malem Mbun. Udah sih lo nurut aja sama gue. Sini gue bawa motor elo. Besok gue suruh yang lain jemput elo ke rumah.” Adji berkata tegas tanpa menyisakan ruang untuk dibantah.

Embun diam. Rasanya sudah malas mendebat Adji. Energinya sudah habis karena seharian ini bolak balik memastikan kesiapan panitia festival band. Belum lagi tadi dia ‘dipaksa’ ribut dengan Jeno. Benar kata Adji, saat ini dia hanya perlu istirahat menyiapkan energi untuk besok.

Kalau ada hal yang paling ingin Embun lakukan saat ini, tentu saja pergi menjauh dan menyendiri. Tanpa ada gangguan dari siapa pun.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!