PUISI UNTUK EMBUN

Pacaran Yuk!

“Makasih ya Beh.” Embun menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai ucapan terima kasihnya ke Babeh yang sudah membiarkannya masuk.

“Lain kali, kamu jangan keduluan sama yang lain. Apalagi si Jeno. Mending kamu yang jalan di depan dia. Kan Babeh enak nutup pintunya. Kalau si Jeno dihukum terus kamu nggak, Babeh nggak enak lah.” Babeh memberikan omelan yang disambut cengiran tanpa dosa di wajah Embun.

“Hai Sayang, makasih ya tadi udah nyuruh gue masuk duluan.” Jeno berdiri di pintu masuk ke kelasnya.

Ternyata pelajaran pertama kali ini kosong. Pak Amir yang harusnya masuk mengajar Geografi sedang sakit dan tidak ada guru pengganti. Tau gitu, tadi ngapain juga buru-buru. Gerutu Embun dalam hati.

“Apaan sih gak jelas.” Embun mendelik ke arah Jeno yang menghalanginya untuk masuk.

“Galak banget sih Say ... Tadi aja lo baik sangat nyuruh gue masuk. Sekarang malah kumat galaknya.”

“Cieeeee, sejak kapan nih jadi sayang-sayangan?” Chandra tiba-tiba muncul di belakang Jeno. Niat Chandra ingin ke kantin, apa daya kupingnya terlanjur mendengar Jeno berkata lembut ke Embun.

“Sejak tadi dong.” Jeno menjawab dengan nada sombong.

“Dasar sarap lo.” Embun memaksa masuk hingga menyenggol bahu Jeno cukup keras.

“Wah, gue suka nih kalau si sayang kesayangan gue udah masuk mode galak model begini.” Jeno berbali dan memberikan kecupan jarak jauh kepada Embun. Chandra, Rizqi, Widi, dan beberapa teman yang melihatnya malah ngakak.

Embun menghentikan langkah lalu membalikan badan, menatap Jeno dengan tatapan membunuh. Seolah ingin menerkan dan menelan bulat-bulat lelaki di depannya itu.

“Udah Mbun jangan ladenin si Jeno. Kamu duduk gih.” Yeni yang duduk di posisi depan barisan ketiga menenangkan Embun. Bukan apa-apa, Yeni malas mendengar keributan di kelasnya yang hampir setiap jam terjadi.

Embun mendengus lalu kembali berjalan ke tempat duduknya. Di sana sudah ada Seva yang sedang sibuk menyalin tugas. Kebiasaan Seva, lupa kalau ada PR. Tapi dia selalu beruntung nggak pernah ketahuan kalau belum mengerjakan tugasnya.

“Lo udah ngerjain fisika?” Seva menatap Embun tepat di saat gadis itu menjatuhkan tasnya di atas meja.

“Udah dong.” Embun menjawab sombong.

“Tumben lo rajin. Biasanya lo sebelas dua belas sama gue.” Seva mengernyit.

“Kemaren pas rapat OSIS, si Wiwik ikut. Dia bawa buku fisikanya. Ya gue bawa balik lah ke rumah gue.”

“Gue pikir lo udah tobat mau nyaingin Eni jadi juara kelas.”

“Ogah banget. Otak gue mending mikirin acara OSIS aja daripada mikirin pelajaran.”

***

Di depan kelas, Bu Isda sedang menjelaskan tentang neraca. Pelajaran Ekonomi adalah salah satu pelajaran yang sangat tidak disukai oleh Embun. Eh, tapi sebenarnya memang tidak ada satu pun pelajaran yang Embun suka. Kalau ditanya apa yang membuatnya senang untuk datang ke sekolah, alasan utamanya adalah uang jajan. Kalau tidak sekolah, pastinya Embun gak akan dapat uang jajan. Alasan kedua tentu saja OSIS. Embun memang sangat menyukai berorganisasi. Jabatan ketua OSIS dipergunakannya dengan sebaik mungkin. Banyak program yang sudah dan akan mereka realisasikan.

“Sssstttt... Mbun.” Suara Budi yang ada di sebelah kanan Embun berbisik memanggilnya. Di kelas itu ada 4 tempat duduk. Budi duduk di baris kedua bagian belakang dari kanan. Sedangkan Embun di baris ketiga yang sejajar dengan Budi.

Embun menolehkan kepalanya dan kaget melihat Jeno yang pindah duduk di sebelah Budi. Tapi karena beberapa anak sering berpindah tempat duduk, jadi Embun tidak bertanya lagi kenapa Jeno kali ini pindah.

“Apa.” Embun menjawab dengan suara yang sama, yaitu berbisik.

“Liat HP lo.” Budi menunjuk HP Embun yang dia simpan di laci meja.

Embun tidak menjawab lagi ucapan Budi, kini tangannya sibuk membaca pesan di HP nya. Embun sampai mengernyitkan kening membacanya.

Kita pcran yuk. Embun kini kembali menoleh ke bangku Budi. Matanya melotot nyaris keluar memandang galak Jeno yang juga sedang menatapnya. Tatapan Embun dibalas dengan kedipan sebelah mata oleh Jeno. Ya, si pengirim pesan itu adalah Jeno. Tanpa basa-basi, Jeno mengajak Embun berpacaran.

Andai tidak ada guru, ingin rasanya Embun menonjok muka Jeno. Kalau perlu sampai bonyok. Kini, Embun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya sambil menaham marah sekuat tenaga. Otaknya si Jeno itu pasti ketinggalan di rumah. Pikir Embun.

Gue ga minat jd pcr lo. Akhirnya Embun membalas pesan dari Jeno. Sialnya, Jeno lupa mematikan nada dering Hpnya. Seketika Bu Isda menoleh mencari sumber suara. Jeno memegang Hpnya setengah gugup tapi matanya malah memandang ke arah Embun.

“HP siapa itu?” Bu Isda memandang seluruh wajah siswa yang langsung diam.

“Jeno Bu.” Budi menjawab jujur yang diamini teman-temannya. Kali ini sepertinya mereka sedang malas mendapat hukuman. Biasanya mereka akan saling lempar jawaban dan saling tuduh hingga berujung seisi kelas mendapat hukuman.

“Jeno, maju. Bawa HP kamu.” Bu Isda duduk di kursinya sambil menatap tajam ke arah Jeno.

Mati gue. Embun mendesis. Dilihatnya Jeno maju dengan santainya.

“Lo kenapa?” Tanya Seva mendengar desisan Embun.

Embun malah menutup mukanya dengan buku. Sementara Jeno sudah sampai di depan Bu Isda. Dia juga sudah menyerahkan Hpnya. Bu Isda mengambil HP Jeno lalu membuka pesan dari Embun.

“Oh, jadi ada yang sibuk mau pacaran di jam pelajaran saya?” Bu Isda bertanya dengan nada tinggi kepada Jeno. Murid-murid lain kasak-kusuk menebak apa yang terjadi.

“Nggak Bu. Saya cuma tanya Embun mau jadi pacar saya apa nggak.” Jeno menjawab sambil garuk-garuk kepala bagian belakang.

“Huuuuuuuuuuuu” Seisi keras serempak koor menyoraki Jeno dan Embun.

“Main cantik dooonggg.” Nursan berteriak dari belakang.

“Wihhhh ada yang mau jadian nih.” Kali ini Ama yang bersuara.

“Jangan mau, Mbun. Ngapain pacaran sama si Jeno.” Joy menimpali.

“Wah, Jeno diem-diem ternyata bikin pergerakan.”

“Couple in the year nih kalo sampe jadi.”

Riuh suara yang mengolok-olok membuat muka Embun merah padam karena malu dan marah apalagi melihat Jeno yang justru tampak santai memandangnya.

“Jeno, Embun, kalian keluar dari kelas saya.” Bu Isda membentak dan mengarahkan telunjuknya ke arah pintu pertanda menyuruh Embun dan Jeno keluar.

Embun mengayun kakinya enggan. Baru kali ini dia sangat malu. Sebagai ketua OSIS, Embun merasa dia sangat marah kepada dirinya sendiri karena meladeni pesan dari Jeno. Sementara Jeno menyambut hukuman itu dengan senang hati. Berpikir bahwa akhirnya dia bisa menarik perhatian Embun dan punya waktu berdua dengannya.

“Bu, jangan di suruh keluar. Keenakan mereka malah pacaran di luar.” Satria mengeluarkan protes setengah bercanda.

“Jangan mojok bro.” Chandra berkata ke arah Jeno dan dibalas senyuman oleh Jeno.

Setelah meminta seisi kelas tenang kembali, Bu Isda melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda. Bu Isda sebenarnya tahu, konsentrasi anak-anak sudah terpecah. Mereka yang masih memperhatikan apa yang dia jelaskan tidak sampai setengahnya.

***

            

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!