PUISI UNTUK EMBUN
RIUH YANG KITA SEBUT SEKOLAH 2
Embun menatap Safuan dengan empati. Ia tahu betul bagaimana rasanya menunggu harapan dan mendapati kenyataan tidak seindah bayangan. “Dia bilang apa?”
“Katanya gue baik, perhatian, tapi cuma cocok jadi temen.”
Jeno tertawa kecil tanpa niat mengejek. “Kalimat sakti sejagad raya.”
Safuan melirik tajam. “Lo mah enak, lagi dimabuk cinta.”
Embun tersenyum kecil, tapi tidak menimpali.
Di kejauhan, Seydi tampak melintas bersama dua temannya, tertawa riang, seolah dunia berjalan normal tanpa menyadari ada hati yang sedang belajar menerima kecewa. Safuan memalingkan wajah, mencoba terlihat biasa saja meski dadanya masih terasa sesak.
Bel berbunyi memecah keramaian, menandai berakhirnya waktu santai sebelum kelas dimulai kembali. Murid-murid berhamburan menuju ruang masing-masing, membawa cerita kecil mereka sendiri-sendiri, sebagian dengan tawa, sebagian dengan pikiran yang masih berat.
Hari itu berjalan cepat, seperti kebanyakan hari sekolah. Di sela-sela jam pelajaran, gosip kecil tentang Joy yang makin jago basket, tentang Embun dan Jeno yang mulai terang-terangan dekat, dan tentang Safuan yang kabarnya baru patah hati, menyebar dengan kecepatan khas remaja yang selalu haus cerita.
Saat jam istirahat kedua, lapangan kembali ramai. Joy duduk di pinggir sambil menyeka keringat, ketika Ronald dan Riana menghampirinya.
“Gila, lo makin sok jago,” kata Ronald sambil melempar handuk kecil ke arah Joy.
Joy tertawa. “Bilang aja kagum.”
“Ngimpi,” sahut Riana cepat.
Joy mengangkat alis. “Lo merhatiin juga ternyata.”
Riana memutar mata, tapi sudut bibirnya tersenyum tipis.
Di sisi lain lapangan, Safuan duduk sendirian, memperhatikan anak-anak yang tertawa dan bercanda, merasa sedikit terasing di tengah keramaian. Embun menghampirinya dan duduk di samping.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Embun.
Safuan mengangkat bahu. “Masih nyesek dikit, tapi ya udah.”
“Pelan-pelan juga reda.”
Safuan tersenyum tipis. “Mudah-mudahan.”
Di kejauhan, Jeno melambaikan tangan ke arah Embun, dan Embun membalas dengan senyum kecil, pemandangan sederhana yang diam-diam menambah rasa hangat di hari itu.
Sekolah terus berdenyut dengan segala dinamika kecilnya. Cinta yang tumbuh, cinta yang kandas, persahabatan yang riuh, dan mimpi-mimpi remaja yang belum sepenuhnya jelas arahnya. Tidak ada yang benar-benar besar terjadi hari itu, namun justru di situlah keistimewaannya: kehidupan berjalan dalam detail-detail kecil yang suatu hari akan menjadi kenangan paling hidup.
***
Safuan tidak langsung masuk kelas setelah bel kedua berbunyi. Ia berdiri di lorong dekat tangga, bersandar pada dinding yang cat catnya mulai kusam, memandangi halaman sekolah yang mulai kembali sepi. Angin tipis menggerakkan dedaunan trembesi di depan gedung, membuat bayangan bergoyang-goyang di lantai keramik. Biasanya pemandangan seperti itu terasa menenangkan, tapi pagi itu pikirannya terlalu riuh untuk menikmati hal-hal kecil semacam itu.
Penolakan Seydi masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset pita yang tersangkut dan terus memutar potongan lagu yang sama. Kalimat itu, nada suara Seydi, cara matanya sedikit menghindar saat berkata jujur, semuanya terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
“Lo baik banget, Wan. Serius. Tapi gue nggak bisa lebih dari temen.”
Kalimat sederhana, tapi efeknya panjang.
Safuan menutup mata sebentar, menarik napas panjang. Ia bukan marah pada Seydi. Ia bahkan tidak merasa dikhianati. Yang ia rasakan lebih mirip campuran antara malu, kecewa, dan perasaan bodoh karena sempat membangun skenario indah sendirian. Ia membayangkan hal-hal kecil: duduk berdua di kantin, pulang bareng naik angkot, saling tukar kaset, saling nunggu di depan kelas. Semua itu runtuh dalam satu percakapan singkat.
“Ngapain lo berdiri bengong kayak patung?” suara itu mengejutkannya.
Safuan membuka mata. Jeno berdiri di depannya dengan tas diselempangkan asal.
“Bel udah masuk, Bro.”
Safuan mengangguk pelan. “Iya. Bentaran.”
Jeno menatap wajah Safuan lebih lama dari biasanya, lalu menepuk bahunya ringan. “Santai aja. Hidup nggak tamat gara-gara ditolak.”
Safuan tersenyum kecut. “Teori doang lo mah.”
“Tapi bener.”
Mereka akhirnya masuk kelas. Safuan duduk di bangkunya dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat lapangan dan sebagian halaman depan. Ia sengaja menghindari menoleh ke arah bangku Seydi yang berada beberapa baris di depan. Bukan karena benci, tapi karena belum siap.
Namun sekolah kecil, dan menghindar sepenuhnya hampir mustahil.
Saat jam pelajaran berlangsung setengah jalan, guru meminta siswa berpasangan untuk diskusi. Seolah takdir sedang bercanda, Safuan mendapati dirinya satu kelompok dengan Seydi karena susunan bangku yang berdekatan.
Seydi menoleh, matanya sempat ragu sepersekian detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kita satu kelompok.”
Safuan menelan ludah. “Iya.”
Mereka duduk berhadapan dengan buku terbuka di meja. Ada jarak yang aneh di antara mereka, bukan jarak fisik, melainkan jarak perasaan yang tiba-tiba terasa kaku.
“Kamu mau ngerjain yang nomor berapa dulu?” tanya Seydi pelan.
“Yang pertama aja,” jawab Safuan singkat.
Beberapa menit mereka bekerja dalam diam, hanya terdengar suara halaman dibalik dan coretan pensil. Safuan berusaha fokus, tapi pikirannya berulang kali melenceng, menyadari betapa dekatnya jarak mereka, betapa akrab seharusnya suasana itu jika keadaan berbeda.
Akhirnya Seydi memecah keheningan. “Wan… soal kemarin…”
Safuan mengangkat kepala, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. “Kenapa?”
“Gue harap lo nggak salah paham. Gue nggak maksud bikin lo sakit hati.”
Safuan terdiam beberapa detik sebelum menjawab jujur. “Sedikit sih sakit. Tapi bukan salah lo.”
Seydi menghela napas lega. “Makasih udah ngerti.”
Safuan tersenyum tipis. “Gue cuma perlu waktu dikit buat beresin perasaan gue sendiri.”
Seydi mengangguk. “Kalau lo butuh temen ngobrol, gue masih ada.”
Kalimat itu terasa hangat sekaligus perih. Safuan mengangguk pelan, mencoba menerima bahwa bentuk hubungan mereka memang tidak akan berubah seperti yang ia harapkan.
Saat bel istirahat berbunyi, Safuan keluar kelas lebih cepat dari biasanya. Ia berjalan ke belakang gedung, area yang jarang dilewati siswa kecuali yang ingin menyendiri atau sekadar mencari udara segar. Ia duduk di bangku semen panjang, menatap langit yang mulai cerah.
Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat.
“Sendirian mulu,” suara Embun terdengar lembut.
Safuan menoleh. “Lo ngikutin gue?”
“Enggak. Kebetulan aja.”
Embun duduk di sampingnya. Angin sepoi-sepoi membuat rambut Embun bergerak pelan.
“Gimana rasanya ketemu dia di kelas?” tanya Embun.
Safuan menghela napas panjang. “Aneh. Canggung. Tapi ya… hidup harus jalan.”
Embun tersenyum kecil. “Lo dewasa juga ternyata.”
“Jangan gitu. Gue masih pengen drama dikit,” canda Safuan setengah hati.
Embun tertawa pelan. “Wajar kok ngerasa sedih.”
Safuan menatap langit. “Kadang gue mikir, kenapa perasaan nggak bisa diatur kayak jadwal pelajaran.”
“Kalau bisa, mungkin hidup jadi terlalu rapi,” jawab Embun.
Mereka terdiam sejenak, menikmati sunyi yang jarang ada di sekolah.
Dari kejauhan, suara tawa anak-anak dan pantulan bola basket masih terdengar samar. Dunia terus berjalan meski satu hati sedang belajar menata ulang harapan.
Safuan menghela napas lagi, kali ini lebih ringan. Ia tahu lukanya belum sembuh, tapi setidaknya ia sudah mulai menerima.
***