PUISI UNTUK EMBUN
YANG TERSEMBUNYI 1
Kalau dilihat sekilas, Jeno tetap Jeno yang sama. Rambut agak acak-acakan. Sepatu sering kotor kena debu lapangan. Tas kadang cuma disampirkan satu tali. Cara jalan santai, sedikit ogah-ogahan, seolah hidup ini tidak pernah terlalu serius. Itulah yang orang lihat.
Dan itulah yang selama ini melekat di kepala banyak orang: Jeno si anak urakan, tukang bercanda, nggak bisa diem, hidupnya kayak angin lalu.
Tapi sejak Embun mulai benar-benar memperhatikannya—bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang ia sayangi—ada hal-hal kecil yang mulai muncul ke permukaan. Hal-hal yang tidak pernah terlihat dari jauh. Hal-hal yang tidak pernah dipamerkan.
Pagi itu, Embun datang ke sekolah sedikit lebih pagi dari biasanya. Ia ingin menyelesaikan laporan OSIS sebelum kelas dimulai. Lorong sekolah masih sepi, hanya beberapa siswa piket yang menyapu halaman. Embun membuka pintu ruang OSIS. Dan berhenti.
Jeno sudah duduk di sana. Ia sedang menyapu lantai. Bukan asal-asalan. Gerakannya rapi. Sapuannya teratur, mengumpulkan debu ke satu titik sebelum mengambil pengki.
Embun berdiri di ambang pintu beberapa detik, menatapnya tanpa suara. Jeno yang biasanya malas-malasan itu… sedang bersih-bersih.
“Jeno?” panggil Embun akhirnya.
Jeno menoleh kaget. “Eh! Lo udah dateng?”
“Sejak kapan lo piket?” tanya Embun sambil masuk.
“Dari tadi. Pak Harun minta bantuan. Katanya ruang OSIS kotor banget.”
Embun menahan senyum.
“Sendirian?”
“Iya. Anak-anak lain belum dateng.”
Embun meletakkan tas. “Kenapa nggak nunggu aja?”
“Kalau ditunda, nanti makin males.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa sok bijak. Tapi justru itu yang bikin Embun sedikit tertegun. Ia tidak menyangka Jeno punya prinsip sederhana seperti itu.
Embun mengambil lap kain. “Gue bantu.”
“Eh, nggak usah.”
“Biar cepet.”
Mereka membersihkan ruangan bersama. Tidak banyak bicara. Hanya suara kain menggesek meja, suara sapu, dan cahaya pagi yang masuk lewat jendela. Sesekali pandangan mereka bertemu dan saling senyum kecil. Embun merasa… nyaman. Bukan deg-degan berlebihan. Tapi hangat.
***
Jam pelajaran pertama berjalan biasa. Namun kejutan kecil tidak berhenti di situ. Saat jam istirahat, Embun membuka tasnya dan mengerutkan kening.
“Kenapa?” tanya Rara.
“Bekal gue ketinggalan.”
“Yaelah, beli aja di kantin.”
Embun mengangguk, tapi wajahnya sedikit kecewa. Ia sebenarnya sudah niat makan bekal hari ini karena sedang hemat.
Di depan kantin, Embun melihat Jeno berdiri sambil memegang dua bungkus nasi uduk.
Jeno melambai kecil. “Mbun.”
Embun mendekat. “Lo beli banyak amat.”
“Yang satu buat lo.”
Embun terdiam. “Kok lo tau gue nggak bawa bekal?”
Jeno mengangkat bahu. “Feeling.”
Padahal pagi tadi ia melihat Embun buru-buru dan lupa membawa tas kecil bekalnya.
“Ini pedes nggak?” tanya Jeno.
“Sedang.”
“Bagus. Lo kan nggak kuat pedes.”
Embun tersenyum tanpa sadar. Hal kecil. Tapi terasa diperhatikan. Rara melirik Embun dengan ekspresi menggoda. “Wih.”
Embun memukul pelan lengan Rara. “Berisik.”
Siangnya, hujan turun mendadak. Hujan khas musim pancaroba: tiba-tiba, deras, tanpa aba-aba. Sebagian siswa berhamburan mencari tempat berteduh.
Embun sedang berada di perpustakaan ketika hujan turun. Saat ia keluar, halaman sudah penuh genangan. Ia berdiri ragu di bawah kanopi. Tiba-tiba payung hitam terbuka di atas kepalanya.
“Lagi,” kata Jeno sambil tersenyum.
“Lo bawa payung terus sekarang?”
“Iya. Sejak kejadian kemarin.”
Embun tertawa kecil. Mereka berjalan perlahan menembus hujan.
“Jen,” kata Embun tiba-tiba.
“Hm?”
“Lo kenapa sebenernya selalu siap?”
Jeno berpikir sejenak. “Gue nggak suka bikin orang repot gara-gara gue.”
Embun menoleh.
“Bokap gue dulu suka ngomel soal itu. Katanya cowok itu tanggung jawab bukan cuma ke diri sendiri, tapi ke orang sekitar.”
Embun tidak menyangka Jeno menyimpan kalimat seperti itu. Ia kira Jeno jarang serius. Ternyata tidak.
Kejutan lain datang sore harinya. Embun duduk di kelas menunggu rapat kecil OSIS. Ia membuka buku agenda dan menemukan selembar kertas kecil terselip di dalamnya. Tulisan Jeno. Lo jangan lupa makan malam ya. Jangan kebanyakan mikir juga.
Embun tersenyum sendiri. Bukan kata-kata puitis. Bukan gombalan. Tapi terasa tulus. Rasanya seperti punya seseorang yang diam-diam menjaga dari kejauhan.
***
Hari demi hari, Embun mulai melihat pola. Jeno selalu datang tepat waktu kalau janji. Jeno tidak pernah memotong pembicaraan saat Embun sedang cerita. Jeno hafal kebiasaan kecil Embun: minum teh tanpa gula berlebihan, tidak suka keramaian terlalu lama, lebih nyaman duduk di pinggir. Jeno mengalah kalau mereka berbeda pendapat. Bukan karena takut. Tapi karena mau mendengar.
Dan itu… jauh dari kesan urakan yang selama ini melekat.
Suatu sore, Embun berkata pelan, “Jen, lo nggak kayak yang orang-orang kira.”
Jeno tertawa. “Emang gue dikira apa?”
“Bad boy. Nggak peduli apa-apa.”
“Lo sendiri kira gitu juga?”
Embun menggeleng. “Sekarang nggak.”
Jeno tersenyum kecil. “Mungkin gue cuma nggak pinter pamer.”
Embun menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta pada detail-detail kecil yang nyata.
Embun mulai menyadari bahwa mengenal seseorang yang sebelumnya hanya ia lihat dari permukaan adalah seperti membuka lapisan-lapisan tipis yang tidak pernah ia sangka ada. Jeno yang selama ini ia kenal sebagai anak santai, sedikit urakan, suka bercanda dan sering tampak hidup tanpa rencana, perlahan memperlihatkan sisi lain yang jauh lebih tenang, tertata, dan penuh tanggung jawab, bukan lewat pengakuan atau cerita heroik, melainkan lewat kejadian-kejadian kecil yang nyaris luput kalau tidak diperhatikan dengan hati yang terbuka.
Salah satu pagi, ketika Embun datang agak kesiangan, ia mendapati Jeno sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Rambut Jeno masih sedikit basah, mungkin habis kehujanan atau baru cuci muka, dan raut wajahnya tampak sedikit lelah, tapi matanya langsung berbinar begitu melihat Embun mendekat. Tanpa banyak basa-basi, Jeno menyerahkan sebotol air mineral dingin yang entah sejak kapan sudah ia siapkan, sambil bilang dengan nada ringan bahwa Embun pasti kehausan karena kelihatan ngos-ngosan, padahal Embun sendiri tidak merasa ia tampak sepayah itu. Hal kecil itu membuat Embun tersenyum sendiri, karena ia sadar Jeno memperhatikan detail yang bahkan tidak ia sadari tentang dirinya sendiri, dan di balik gestur sederhana itu ada kepedulian yang tidak dibuat-buat.
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas sambil mengobrol tentang tugas yang belum selesai, tentang guru matematika yang terkenal killer, tentang rencana lomba antar sekolah yang mulai ramai dibicarakan, namun di sela-sela percakapan ringan itu, Embun merasakan kenyamanan yang berbeda, semacam rasa aman yang tumbuh perlahan karena ia tahu Jeno benar-benar hadir, bukan sekadar menemani secara fisik, tetapi juga mendengarkan dan merespons dengan penuh perhatian. Ia ingat bagaimana dulu ia sering menganggap Jeno agak cuek dan asal jalan, tapi sekarang ia melihat bahwa Jeno justru tipe yang menyimpan kepeduliannya dalam tindakan, bukan kata-kata besar yang terdengar indah tapi kosong.
***