PUISI UNTUK EMBUN
AKHIRNYA KITA 2
Suatu sore, Embun menemukan catatan kecil lagi di bukunya: Kalau hari lo berat, pinjem pundak gue aja. Embun memejamkan mata. Dadanya menghangat. Namun bersamaan dengan itu, rasa takut juga ikut membesar.
Puncaknya terjadi saat sebuah rumor kecil berubah menjadi gosip besar. Seseorang menyebarkan cerita bahwa Embun sengaja mendekati Jeno demi popularitas OSIS. Cerita itu sampai ke telinga Embun lewat bisikan tak sengaja di toilet.
“Makanya sok jual mahal.”
“Padahal strategi.”
Embun membeku.
Tangannya gemetar saat mencuci tangan. Ia pulang hari itu dengan kepala penuh.
Malamnya, ia membuka buku catatan biru dari Jeno. Ia menulis panjang tentang rasa marah, sedih, takut, dan rindu yang bercampur. Ia menutup buku itu sambil menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa menolak perasaan tidak membuat hidupnya lebih aman. Justru membuatnya semakin lelah.
Keesokan sore, Jeno menunggu Embun seperti biasa. Namun hari itu, Embun berjalan mendekat dengan langkah berbeda. Lebih mantap.
“Jeno,” katanya pelan.
Jeno menoleh. “Kenapa?”
“Lo masih mau nunggu gue?”
Jeno tersenyum kecil. “Masih.”
Embun menatapnya lama. Ada jeda yang panjang. Lalu Embun berkata, “Gue capek takut terus.”
Jeno terdiam.
“Gue nggak janji bakal jadi pacar yang sempurna,” lanjut Embun. “Gue ribet. Gue banyak mikir. Gue kadang nyebelin.”
Jeno tertawa kecil. “Gue juga.”
Embun menghela napas.
“Kalau lo masih mau nerima itu semua…”
Jeno menahan napas.
“…gue mau nyoba.”
Wajah Jeno berubah seketika.
“Serius?”
Embun mengangguk.
Jeno tertawa kecil tak percaya. Matanya berbinar.
“Mbun… makasih.”
Mereka berdiri agak kikuk. Tidak ada pegangan tangan dramatis. Tidak ada pelukan berlebihan. Hanya dua orang remaja yang sama-sama gugup, tapi bahagia.
“Berarti… sekarang kita…?” tanya Jeno ragu.
Embun tersenyum malu. “Iya.”
Jeno tersenyum lebar.
Langit sore itu cerah, seolah memberi restu diam-diam. Sore itu tidak langsung berubah jadi adegan film romantis. Tidak ada pegangan tangan tiba-tiba. Tidak ada teriakan bahagia. Tidak ada lompatan girang. Yang ada justru keheningan canggung.
Embun dan Jeno berdiri berhadapan, sama-sama tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah kalimat “gue mau nyoba” itu meluncur.
“Jadi…,” Jeno menggaruk tengkuknya, kikuk. “Sekarang kita pacaran?”
Embun tertawa kecil. “Iya kali.”
“Beneran?”
“Lo denger sendiri kan tadi?”
Jeno tersenyum lebar, tapi masih seperti tidak percaya. “Gue takut mimpi.”
“Kalau mimpi, ntar bel masuk bangunin lo.”
Mereka tertawa bersama. Rasa tegang perlahan mencair. Namun ada sesuatu yang berubah. Cara mereka saling memandang kini berbeda. Lebih hangat. Lebih hati-hati.
“Lo mau pulang bareng?” tanya Jeno.
Embun mengangguk. “Mau.”
Mereka berjalan berdampingan keluar gerbang sekolah. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tapi langkah mereka seirama. Angin sore menggerakkan dedaunan. Matahari mulai turun pelan di balik atap rumah warga.
“Jen,” panggil Embun tiba-tiba.
“Hm?”
“Lo tau nggak, gue masih takut.”
Jeno menoleh. “Takut kenapa?”
“Takut nanti kita berantem. Takut nanti kita nyakitin satu sama lain.”
Jeno berpikir sejenak. “Itu mungkin aja terjadi.”
Embun menatapnya.
“Tapi gue janji, gue nggak bakal ninggalin lo cuma karena satu-dua masalah.”
Embun tersenyum kecil.
“Gue juga janji bakal ngomong kalau ada apa-apa. Bukan dipendem terus.”
“Deal.”
Mereka saling mengangguk, seperti menandatangani perjanjian tak tertulis.
Di ujung gang, mereka berhenti.
“Rumah lo belok sini, kan?” tanya Jeno.
“Iya.”
Mereka berdiri sebentar, ragu-ragu.
“Gue…,” Jeno menarik napas. “Boleh nggak?”
“Boleh apa?”
“Pegang tangan lo?”
Embun terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk pelan.
Jeno mengulurkan tangan dengan hati-hati. Jari mereka bersentuhan. Hangat. Canggung. Tapi menyenangkan. Embun merasakan detak jantungnya berlari kecil.
“Dingin nggak?” tanya Jeno gugup.
“Enggak,” jawab Embun sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama, menertawakan kegugupan sendiri. Pegangan tangan itu tidak lama. Tapi cukup untuk menanamkan sesuatu yang baru.
***
Keesokan harinya, kabar itu menyebar lebih cepat dari Embun kira. Joy yang pertama kali menghampiri Jeno.
“Woi, Jen!” teriaknya dari jauh. “Katanya lo resmi jadian?”
Jeno tersenyum malu. “Iya.”
Joy bersiul panjang. “Gila. Perjuangan lo nggak sia-sia.”
“Berisik lo.”
Di sisi lain, Rara memeluk Embun erat.
“AKHIRNYA!” teriaknya setengah berbisik. “Gue udah nunggu dari zaman dinosaurus.”
Embun tertawa. “Lebay.”
“Tapi serius, lo kelihatan beda hari ini.”
“Beda gimana?”
“Lebih… enteng.”
Embun mengangguk pelan. Ia memang merasa sedikit lebih ringan.
Nursan melihat mereka dari kejauhan. Ada perasaan aneh di dadanya, campuran antara kecewa dan lega. Namun ia memilih tersenyum kecil saat mata mereka bertemu. Embun membalas senyum itu dengan rasa terima kasih yang tidak terucap.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan warna baru.
Jeno mulai membiasakan diri menunggu Embun di depan kelas saat jam pulang. Kadang hanya untuk jalan sebentar sampai gerbang, kadang untuk beli es lilin di depan sekolah.
Mereka belum berani terlalu terbuka di depan guru atau orang tua. Pegangan tangan masih jarang. Senyum-senyum kecil jadi bahasa rahasia mereka.
Kadang mereka duduk berdua di bangku taman sekolah, mengerjakan PR sambil bercanda receh.
“Jen,” kata Embun suatu sore.
“Hm?”
“Kalau nanti kita putus, lo jangan jadi musuh gue ya.”
Jeno menoleh cepat. “Eh, jangan ngomong gitu dong.”
Embun tertawa. “Kan cuma kemungkinan.”
“Gue maunya nggak ada kemungkinan itu.”
Embun tersenyum.
Ia tahu hidup tidak pernah sesederhana itu. Tapi ia juga tahu, untuk saat ini, ia ingin menikmati apa yang ada.
Suatu malam, Embun menulis lagi di buku biru pemberian Jeno: Hari ini aku nggak lagi takut sama perasaanku sendiri. Ternyata membiarkan hati berjalan pelan itu nggak semenakutkan yang kupikirkan.
Ia menutup buku itu dengan senyum kecil. Di luar, hujan kembali turun pelan, mengingatkannya pada awal semua ini. Tentang payung kecil. Tentang langkah berdampingan. Tentang keberanian yang tumbuh perlahan. Tentang cinta yang tidak meledak-ledak, tapi hangat dan nyata. Dan tentang satu keputusan kecil yang mengubah cara ia melihat dunia.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Embun kalau dia akan berpacaran dengan Jeno. Embun bisa mengenali perasaannya. Dia tahu, hatinya memang terpaut pada Jeno. Apapun cerita tentang Jeno, Embun bisa melihat ketulusan yang tak dia lihat di mata Nursan.
Malam itu, sebelum tidur, ponsel rumah berbunyi sebentar. Embun mengangkatnya dengan jantung sedikit berdebar.
“Mbun?” suara Jeno terdengar agak pelan, seolah takut membangunkan orang rumah.
“Iya.”
“Gue cuma mau bilang… makasih ya.”
“Makasih kenapa?”
“Makasih udah berani.”
Embun tersenyum di balik gagang telepon. “Lo juga.”
Mereka tidak bicara lama. Hanya beberapa kalimat ringan tentang sekolah besok, tentang hujan yang katanya masih akan turun, tentang tugas matematika yang bikin pusing. Tapi percakapan singkat itu terasa cukup untuk menutup hari.
Saat telepon ditutup, Embun menatap langit-langit kamarnya.
Ada rasa hangat yang menetap di dada, bukan ledakan bahagia yang membingungkan, tapi ketenangan yang pelan-pelan menguatkan. Ia sadar, cinta tidak selalu datang dengan kembang api dan teriakan. Kadang ia hadir seperti lampu kecil di malam hari: sederhana, tidak mencolok, tapi cukup untuk menerangi langkah.
Dan untuk pertama kalinya, Embun tidak lagi takut melangkah ke depan.
***