PUISI UNTUK EMBUN

JAGA JARAK

Pagi datang dengan langit yang sedikit mendung, tapi udara masih hangat. Matahari menembus sela-sela awan tipis, menyinari halaman sekolah yang mulai ramai oleh suara sepeda dan motor tua. Belum ada bel masuk, tapi sebagian siswa sudah berkumpul di depan kelas, bercanda, saling lempar ejekan, membicarakan pertandingan bola semalam atau kaset baru yang katanya lagi laku di toko musik.

Embun datang lebih pagi dari biasanya.

Tasnya tergantung rapi di bahu. Rambutnya dikuncir setengah, wajahnya masih terlihat sedikit lelah. Malam tadi ia sulit tidur. Pikirannya dipenuhi potongan-potongan kejadian kemarin: suara Jeno yang menahan, sentuhan singkat di pergelangan tangan, wajah Joy yang penuh makna, tatapan Nursan dari kejauhan yang baru ia sadari belakangan.

Ia merasa seperti berdiri di tengah simpang jalan tanpa papan petunjuk.

Embun langsung menuju papan pengumuman OSIS. Ia membuka map, mengeluarkan kertas-kertas agenda lomba antar kelas. Tangannya bergerak otomatis menempelkan satu per satu, tapi pikirannya jauh.

“Mbun.”

Suara itu datang dari belakang.

Embun menoleh. Nursan berdiri beberapa langkah darinya, membawa dua plastik kecil berisi es lilin warna-warni.

“Pagi,” sapa Nursan santai.

“Pagi,” jawab Embun.

“Lo sarapan belum?”

“Belum sempet.”

“Nih, satu buat lo.” Nursan menyerahkan es lilin warna merah.

Embun tersenyum kecil. “Makasih.”

Mereka duduk di bangku taman dekat papan pengumuman. Daun-daun bergoyang pelan tertiup angin pagi. Suasana relatif tenang sebelum bel masuk berbunyi.

Nursan membuka obrolan ringan. Tentang lomba kelas, tentang guru olahraga yang katanya mau bikin turnamen futsal, tentang radio yang pagi ini muter lagu lama yang bikin nostalgia.

Embun menanggapi seperlunya. Ia merasa nyaman, tapi juga sedikit waspada. Ada nada berbeda dalam cara Nursan memandangnya hari ini.

“Mbun,” kata Nursan setelah beberapa menit hening.

“Hm?”

“Lo capek nggak sih jadi orang yang selalu dituntut sempurna?”

Pertanyaan itu membuat Embun berhenti mengunyah es lilin.

Capek lah,” jawabnya jujur.

“Kadang pengen santai aja, ya? Nggak mikirin omongan orang.”

Embun mengangguk. “Banget.”

Nursan tersenyum tipis. “Kalau sama gue, lo nggak perlu jaim.”

Embun menoleh. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Ada sesuatu di sana. Bukan sekadar obrolan biasa.

“Lo bisa jadi diri lo sendiri,” lanjut Nursan, nadanya lembut. “Nggak perlu mikir reputasi, nggak perlu takut salah.”

Embun tersenyum kaku. “Lo lebay.”

“Serius,” sahut Nursan. “Gue suka kalau lo lagi nggak pake topeng.”

Kalimat itu jatuh cukup dalam.

Embun merasakan dadanya menghangat sekaligus tegang. Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Lo ngomong kayak di film.”

Nursan ikut tertawa, tapi tatapannya tetap serius.

Dari kejauhan, Jeno melihat mereka.

Ia baru datang, tas masih tergantung di bahu, langkahnya melambat saat matanya menangkap pemandangan Embun dan Nursan duduk berdekatan, tertawa kecil, berbagi es lilin.

Ada rasa tidak enak yang langsung naik ke dadanya.

“Serius nih…” gumamnya.

Ia berdiri beberapa detik, ragu apakah harus mendekat atau tidak. Ada gengsi yang menahan, ada rasa takut ditolak, ada sisa luka dari percakapan kemarin.

Akhirnya ia memilih duduk di bangku lain, pura-pura ngobrol dengan teman, tapi matanya terus mencuri pandang.

***

Di sisi lain sekolah, Joy sedang asyik berkumpul dengan beberapa temannya di depan kelas.

“Eh, lo tau nggak,” bisik Joy sambil nyengir penuh arti. “Kemarin gue kepergok sesuatu.”

“Apa tuh?” tanya salah satu temannya penasaran.

“Jeno sama Embun. Pegangan tangan.”

“Serius lo?”

“Serius dong. Gue liat pake mata kepala sendiri.”

“Buset… ketua OSIS tuh.”

Joy tertawa kecil. “Makanya. Kayaknya bakal rame nih.”

Gosip itu menyebar pelan tapi pasti, seperti asap tipis yang merayap tanpa suara.

Jam pelajaran berjalan lambat bagi Embun.

Ia berusaha fokus mendengarkan guru, mencatat, menjawab pertanyaan, tapi pikirannya sering melayang. Ia merasa tatapan beberapa teman mulai berbeda. Ada bisik-bisik kecil. Ada senyum setengah mengejek.

Ia menegakkan punggung, berusaha tetap terlihat tenang.

Saat istirahat, Nursan kembali mendekat.

“Lo mau ke kantin?” tanya Nursan.

“Boleh.”

Mereka berjalan berdampingan. Di tengah keramaian kantin, Nursan membelikan Embun teh botol.

“Gue traktir.”

“Ngapain sih lo baik banget,” canda Embun.

“Karena gue mau.”

Nada itu jujur, tanpa basa-basi.

Mereka duduk di pojok kantin, agak jauh dari keramaian.

“Mbun,” kata Nursan pelan. “Gue sebenernya dari dulu pengen ngomong ini.”

Embun menatapnya.

“Gue suka sama lo.”

Kalimat itu keluar tanpa putar-putar.

Embun terdiam.

Detak jantungnya terasa di telinga.

“San…”

“Tenang. Gue nggak maksa. Gue cuma pengen lo tau.”

Embun menarik napas. “Gue lagi nggak kepikiran soal ginian.”

“Gue tau,” kata Nursan cepat. “Tapi gue mau jujur. Daripada gue nyimpen terus.”

Embun mengangguk pelan. “Gue hargain kejujuran lo.” Namun di dadanya, ada kebingungan yang mulai mengeras.

Dari kejauhan, Jeno melihat mereka duduk berhadapan, berbicara serius. Ekspresi wajah Embun tidak bisa ia baca jelas. Rasa panas di dadanya naik lagi.

***

Sore hari, setelah jam pelajaran selesai, Embun masih harus mengurus rapat kecil OSIS. Saat ia keluar ruangan, ia mendapati Jeno berdiri menunggu.

“Lo mau pulang?” tanya Jeno.

Embun ragu sejenak. “Iya.”

Mereka berjalan berdampingan dalam diam.

“Gue liat lo sama Nursan,” kata Jeno akhirnya.

“Terus?”

“Keliatan akrab.”

Embun menghela napas. “Kita temenan.”

“Cuma temenan?”

Nada Jeno terdengar menahan sesuatu.

“Lo kenapa nanya gitu?”

“Karena gue cemburu,” jawab Jeno jujur, mengejutkan Embun.

Embun berhenti melangkah.

“Lo bilang mau jaga jarak,” lanjut Jeno. “Tapi lo deket sama dia.”

Embun menatapnya lama. “Gue berhak punya temen.”

“Iya. Tapi rasanya beda.”

“Beda di kepala lo.”

Jeno menghela napas. “Mungkin.”

Namun ketegangan tidak sepenuhnya reda.

Di sudut lain sekolah, Joy kembali menyulut api gosip. “Katanya Nursan lagi deketin Embun,” kata seorang siswa.

“Iya? Tapi Jeno juga katanya nempel terus.”

“Wah, segitiga cinta nih.”

Gosip mulai berkembang liar.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam tensi aneh.

Nursan semakin berani menunjukkan perhatiannya. Ia sering menunggu Embun pulang, membawakan jajanan, menemani saat jam kosong. Rayuannya tidak vulgar, tapi konsisten dan penuh perhatian.

Jeno semakin gelisah. Ia menjadi lebih sensitif, mudah tersulut emosi, sering melamun saat pelajaran.

Embun berada di tengah, terombang-ambing.

Ia menikmati perhatian Nursan yang hangat dan stabil. Tapi hatinya masih sering tertarik ke arah Jeno, dengan segala kekacauan emosinya.

Suatu sore, ketiganya hampir bertemu di koridor belakang.

Nursan menggenggam tas Embun dengan ringan, bercanda soal lagu di radio. Jeno muncul dari arah berlawanan dan melihat adegan itu.

Tatapan mereka bertemu. Ada tantangan diam-diam.

Embun merasakan udara menegang.

“Eh, Mbun,” sapa Jeno dingin.

“Jen…”

Nursan tersenyum tipis, tidak melepas tas Embun. “Ada apa?”

“Enggak,” jawab Jeno singkat.

Namun sorot matanya berbicara banyak.

Embun menarik tasnya perlahan. “Gue pulang dulu.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan dua cowok itu dalam keheningan tegang.

Malam itu, Embun duduk di kamarnya, menatap langit-langit. Pikirannya penuh. Ia sadar, ia tidak bisa terus membiarkan situasi ini menggantung. Seseorang akan terluka. Mungkin semuanya. Dan ia belum siap memilih.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!