Pocong Opa-Opa Korea

GUE UDAH MATI BANG

Bima dan Yuli memulai perjalanan mereka di jalan yang tampaknya cukup sunyi. Di depan mereka ada restoran mewah, dengan parkiran yang dijaga oleh sosok jangkung yang memakai setelan rapi dan kacamata hitam. Tapi yang aneh, dia melayang sekitar 10 cm di atas tanah.

 
“Eh, itu hantu valet parking, ya?” bisik Bima, sambil berusaha menyembunyikan kepanikan di balik loncatan pocongnya.
 
“Wah, keren! Kalau dia bisa valet, mungkin dia bisa bantu kita cari jalan ke kota kamu!” Yuli langsung melayang mendekat sebelum Bima bisa protes.
 
“Pak, valet! Bisa antar kita ke tempat tujuan nggak?” seru Yuli dengan antusias.
 
Hantu itu menatap mereka dengan dingin, lalu berkata, “Kami hanya menerima kendaraan kelas premium. Anda membawa motor pocong?”
 
“Motor apa?! Gue lompat-lompat gini bawa tubuh doang!” protes Bima, tapi Yuli malah menjawab, “Tenang, Cong Opa, gue ada ide!”
 
Dalam hitungan detik, Yuli mengeluarkan papan kayu entah dari mana, mengikatnya ke bawah kaki Bima dan berkata, “Nah, sekarang lo ada skateboard pocong!”
 
“Yuli, lo kenapa makin lama makin ngawur?! Itu bukan kendaraan!”
 
Tapi si hantu valet malah bertepuk tangan. “Skateboard pocong. Kreatif. Baiklah, Anda layak menerima jasa saya. Silakan ikuti saya.”
 
Hantu valet itu melayang pelan menuju sebuah portal bercahaya di dekat restoran. Tapi saat mereka hampir masuk, portal itu tiba-tiba berubah menjadi ... akuarium raksasa penuh ikan mas berwajah manusia.
 
“IKAN APA LAGI INI?!” jerit Bima, melompat mundur.
 
Ikan-ikan itu serempak berkata, “TIKET ANDA TIDAK VALID. SILAKAN KEMBALI KE DIMENSI ASAL.”
 
Setelah gagal dengan hantu valet, Yuli menyeret Bima ke sebuah kafe kecil dengan tanda neon berbunyi: “KAFE DIMENSI – HANTU KEREN NGUMPUL SINI.”
 
Di dalam, suasana seperti kafe hipster pada umumnya, lengkap dengan hantu-hantu duduk sambil menyeruput kopi (yang tentu saja melayang di udara). Salah satu barista, hantu dengan rambut mohawk bercahaya ungu, menyambut mereka.
 
“Selamat datang! Mau pesan apa?”
 
Yuli langsung menunjuk menu. “Aku mau Kopi Gaib Latte. Cong Opa, lo mau apa?”
 
“Aku mau keluar dari sini!” desis Bima, tapi Yuli tidak peduli.
 
Sambil menunggu pesanan, mereka duduk di dekat hantu lain yang terlihat sedang mengetik di laptop transparan. Hantu itu menoleh ke Bima dan berkata, “Kamu pocong, ya? Menarik. Saya baru saja menulis novel tentang pocong yang jadi penyanyi jazz.”
 
Bima melotot. “Apa sih dunia ini makin aneh aja!”
 
Tidak lama kemudian, barista datang membawa pesanan mereka. Tapi saat Bima menyeruput kopinya, dia langsung menyembur. “APA INI?! INI RASANYA KAYAK CAMPURAN SABUN DAN KAIN KAFAN!”
 
Barista itu tersinggung. “Itu adalah spesial kami, Kopi Latte Jiwa Tersesat. Anda tidak punya selera, rupanya.”
 
“Gue nggak ngerti kenapa lo ngajak gue ke tempat kayak gini, Yuli!” Bima sudah berdiri untuk pergi, tapi sebelum mereka sempat keluar, Yuli malah melihat sudut kafe yang penuh dengan mesin arcade.
 
“CONG OPA! Lihat itu! Ada game Dance Dance Revolution versi pocong!”
 
“APA PULA LAGI INI?!”
 
Tapi Yuli sudah menyeret Bima untuk bermain. Game itu meminta mereka melompat sesuai irama lagu, tapi karena kaki Bima terikat kain kafan, dia hanya bisa melompat-lompat tak karuan, membuat mesin arcade itu berkedip-kedip error dan akhirnya meledak.
 
“CONG OPA! KITA VIRAL!” Yuli malah tertawa sambil kabur.
 
 
****
 
Malam itu mereka sampai di sebuah hutan gelap. Di tengahnya, ada tenda dengan lampu lentera kuning menyala redup. Di dalam tenda, seorang jin besar dengan kulit hijau sedang duduk bersila, mengelus janggutnya sambil memandangi bola kristal.
 
“Yuli, please jangan bikin masalah lagi,” pinta Bima sambil melirik waspada.
 
Tapi tentu saja, Yuli tidak mendengarkan. “Permisi, Pak Jin! Kami lagi nyasar nih, mau tanya jalan!”
 
Jin itu membuka matanya perlahan. “Kalian mengganggu meditasi saya. Tapi baiklah, saya akan membantu. Dengan syarat .…”
 
“Syarat apa?” tanya Bima waspada.
 
Jin itu tersenyum lebar, menatap mereka dengan tatapan menyeramkan. “Kalian harus memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kalian!”
 
Bima langsung berteriak, “GUE UDAH MATI, BANG! NGGAK ADA YANG BERHARGA LAGI!”
 
Tapi Yuli malah mendekati bola kristal si jin, menyentuhnya dengan santai, lalu berkata, “Bang, bola kristal lo kok kayak bola lampu murah, sih? Ini beli di pasar malam ya?”
 
Jin itu marah besar. “KURANG AJAR! BOLA KRISTAL INI WARISAN NENEK SAYA!”
 
Sementara si jin marah-marah, Yuli dengan cepat mengganti bola kristal itu dengan lightstick BTS miliknya tanpa si jin sadar.
 
“Cong Opa, ayo kabur!” bisik Yuli.
 
Mereka kabur dengan kecepatan penuh, meninggalkan jin itu yang baru menyadari bahwa bola kristalnya kini memainkan lagu Butter.
 
 
Setelah hari ini penuh kekacauan, Bima akhirnya duduk terkulai di pinggir jalan. “Yuli, lo tau nggak? Gue capek. Fisik gue, mental gue, kain kafan gue … semuanya capek.”
 
Tapi Yuli malah tertawa kecil. “Santai, Cong Opa. Petualangan ini baru dimulai! Kita pasti bisa nemuin kota kamu. Tapi, tunggu ... tunggu, aku punya ide gimana kalau kita bikin channel YouTube? ‘Cong Opa & Kuntilanak Hits mencari Hanum.' pasti booming!”
 
 
Setelah mendengar perkataan Yuli, Bima hanya bisa menatap langit dengan pasrah. Menghela napasnya panjang.
 
"BODOK AMAT!"
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!