Pocong Opa-Opa Korea

GUE BISA TERBANG

Pak Hadi mengangguk pelan. "Ayo, Nak, ikuti saya." Dengan langkah santainya, dia berjalan melewati kerumunan hantu-hantu yang masih sibuk foto-foto bareng Bima. Bima terpaksa mengikuti, meskipun otaknya penuh dengan kebingungan dan frustrasi.

 
Saat mereka berjalan, dunia arwah semakin terasa absurd. Beberapa pocong yang sedang berjoget seperti manusia, hantu-hantu yang berlarian sambil nge-dance, bahkan ada setan yang mencoba melompat dari satu gedung ke gedung lain, meskipun kakinya nggak pernah menyentuh tanah. 
 
Bima terhuyung-huyung dan setiap kali dia melangkah, kain kafannya melilit dengan lebih kencang.
 
Pak Hadi membawa Bima menuju sebuah tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian hantu-hantu yang sibuk memotret dirinya. 
 
Di sana, di bawah pohon besar yang penuh dengan kabut tebal, berdirilah sosok yang sangat berbeda dari hantu-hantu lainnya. Ia seorang wanita, dengan rambut panjang yang terurai, tapi yang membuat Bima terkejut adalah wajahnya yang dewasa dan serius.
 
 Tak ada senyum atau gaya-gayaan seperti hantu lainnya.
 
"Ini Kuntilanak Merah," kata Pak Hadi dengan nada datar, tapi penuh penghormatan. "Jangan pernah remehkan dia, Nak. Dia lebih dari sekadar hantu biasa."
 
Kuntilanak Merah memandang Bima dengan mata tajam yang penuh misteri. "Bima, ya?" suaranya serius, bahkan sedikit mengintimidasi. "Aku tahu kenapa kamu di sini. Ini bukan tempatmu."
 
Bima langsung terdiam. “Hah, nahkan bener! Emang bukan tempat gue nih! Saya juga nggak mau jadi pocong, Mbak ...."
 
Kuntilanak Merah menghela napas, seolah sudah terbiasa mendengarkan keluhan arwah-arwah bodoh. "Dengar, Bima. Jika kamu di sini, itu artinya ada yang salah dengan dunia manusia. Kamu nggak seharusnya mati begitu saja dan kalau kamu ingin kembali, kamu harus memperbaiki sesuatu."
 
Bima menatapnya bingung. "Tapi saya nggak tahu apa yang harus diperbaiki! Saya cuma nggak mau mati!"
 
Kuntilanak Merah melangkah mendekat, dengan aura yang seakan membuat udara di sekitar mereka jadi dingin. "Kamu harus belajar dulu. Kalau mau kembali, kamu harus bisa menakuti, harus bisa mengendalikan dirimu, harus tahu kapan harus melompat!"
 
“Lompat? Apa maksudnya lompat?" tanya Bima dengan heran.
 
Kuntilanak Merah menatapnya dengan tatapan tajam, lalu mendengus, "Ya, lompat, Bima! Kalau kamu jadi pocong, kamu harus bisa lompat tinggi, biar bisa nyampe ke tempat yang lebih tinggi, biar nggak cuma jadi pocong yang diem di kuburan!"
 
Bima makin bingung. "Lah, kalau gue lompat, nanti gue jadi pocong melayang kan, kayak hantu-hantu itu yang terbang-terbang?"
 
Kuntilanak Merah hanya mengangguk sambil menghela napas. "Ya, itu dia. Tapi pertama, kamu harus belajar menakuti. Kalau kamu nggak bisa menakuti orang, gimana bisa ngelawan kekuatan yang bawa kamu ke sini?”
 
Pak Hadi mengangguk, seakan memberi persetujuan. "Bima, siap-siap. Kuntilanak Merah ini nggak pernah ngajarin sembarangan."
 
“Menakuti? Lho, Pak, gue kan bukan tukang sulap, gue cuma pengen hidup lagi! Gue nggak tahu gimana caranya jadi seram!” Bima protes, setengah panik.
 
Kuntilanak Merah mendekatkan wajahnya ke wajah Bima, seolah memberi pelajaran pertama. “Kamu harus belajar menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia. Kalau mau menakuti, kamu harus menguasai ketakutan itu sendiri. Menjadi seram bukan soal tampang, tapi soal energi yang kamu pancarkan."
 
Bima mencoba menelan kata-kata itu, meskipun masih bingung. "Oke ... oke, terus gimana caranya?"
 
Kuntilanak Merah memandang Bima sejenak sebelum berkata, “Kamu harus merasakannya. Kumpulkan seluruh rasa takutmu, pikirkan tentang hal-hal yang paling kamu takuti dan pancarkan itu pada orang-orang. Nggak perlu pelan-pelan, langsung aja. Kalau lo nggak bisa bikin mereka takut, lo nggak bakal bisa keluar dari sini.”
 
Bima menatapnya ragu. “Pikirkan hal yang paling saya takutkan, ya? Hm ....” Bima mulai menutup mata, mencoba fokus pada rasa takutnya. Tapi yang ada di kepalanya justru wajah Hanum yang sedang memegang bunga mawar.
 
“Ah, gue takut kehilangan Hanum. Gue takut nggak bisa ngomong sama dia lagi ...,” gumamnya.
 
Kuntilanak Merah mengangkat alis, agak heran. "Itu bukan takut, itu cuma penyesalan, Bima. Kamu harus gali lebih dalam. Takut itu soal hal yang bisa merusak dirimu, hal yang nggak bisa kamu kendalikan."
 
Bima termenung. “Berarti gue harus takut sama ... sesuatu yang lebih besar dari itu, ya?”
 
Kuntilanak Merah mengangguk. "Iya, baru lo bisa jadi seram. Sekarang, latihan lompat!"
 
Bima menatapnya bingung. “Lompat apaan sih? Gue nggak ngerti lagi!”
 
Tanpa peringatan, Kuntilanak Merah mendorong Bima ke depan, tepat di atas sebuah jurang kabut yang dalam. "Lompat, Bima! Lo nggak bakal jatuh. Ini cara buat lo belajar."
 
Dengan terpaksa, Bima melangkah mundur, lalu berlari dan melompat.
 
 Dan anehnya, tubuh pocongnya yang berat dan kaku itu seolah melayang, melompati jurang kabut yang gelap. 
 
Hantu-hantu yang melihat kejadian itu langsung bersorak. "Pocong Korea, keren banget! Lo bisa terbang!"
 
Bima terkejut. "Gue ... gue bisa terbang?!"
 
Kuntilanak Merah tersenyum tipis. "Lihat, Bima? Kalo kamu belajar menguasai diri, kamu bisa jadi lebih dari sekadar pocong yang terjebak. Kamu bisa jadi lebih bebas."
 
Bima tertegun, merasa ada secercah harapan di tengah-tengah kekacauan ini. “Jadi ... kalau gue belajar jadi seram dan lompat, gue bisa keluar dari sini? Bisa hidup lagi?”
 
Kuntilanak Merah menatapnya tajam. “Hidup lagi? Gentayangan tolol! Bukan hidup lagi!"
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!