Pocong Opa-Opa Korea

Hidupku Hancur

Hujan turun tanpa ampun, menenggelamkan suara apa pun selain gemuruh langit dan deras air yang menghantam tanah. Di halte kecil itu, Hanum terduduk, memeluk tubuhnya sendiri. Dingin merambat hingga ke tulang. Ia tak tahu apa yang lebih membekukan: air hujan yang meresap ke pakaiannya atau rasa sakit yang sejak tadi menggerogoti hatinya.
 
Tangisnya teredam di balik suara hujan, tetapi hatinya terasa berteriak keras. “Ya Allah … apa aku masih punya alasan untuk hidup?” gumamnya, meski tak ada seorang pun di sana untuk mendengar.
 
Lalu ia menoleh ke samping. 
 
Dan di sanalah dia.
 
Sosok yang tidak mungkin ada. Sosok yang sudah lama hilang, lenyap dari dunia ini.
 
“Bi-Bimaaaa?” Hanum memanggil, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya, berharap hujan yang menghalangi pandangannya hanyalah ilusi, berharap rasa rindunya yang menyesakkan dada ini hanya bermain dengan pikirannya.
 
Namun tidak.
 
Bima ada di sana, duduk diam dengan wajah yang masih sama seperti yang terakhir kali diingatnya. Wajah teduh itu dengan senyum tipis yang mampu membuat segala masalah terasa ringan. Wajah yang selalu memberinya rasa aman, dulu.
 
“Hanum …," suara Bima pelan, hampir seperti bisikan, tetapi jelas tertangkap di telinga Hanum.
 
Hanum terdiam. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena rasa tidak percaya yang perlahan-lahan berubah menjadi gelombang emosi tak terkendali.
 
“Kamu … ini kamu, kan?” tanyanya dengan suara gemetar.
 
Bima menatapnya, tatapan yang penuh rasa sayang dan sedih. “Iya, ini aku.”
 
Hanum tercekat. Air matanya yang sempat berhenti kini kembali mengalir, bercampur dengan air hujan di wajahnya. “Tapi … kamu nggak mungkin ada di sini. Kamu sudah .…”
 
“Sudah pergi?” Bima menyelesaikan kalimat itu dengan lembut. Ia tersenyum tipis. “Iya, aku memang sudah pergi. Tapi aku nggak pernah benar-benar ninggalin kamu, Hanum.”
 
Hanum terisak, menutup mulutnya dengan tangan. “Bima … kalau ini mimpi, aku nggak mau bangun. Aku terlalu lelah. Aku cuma ingin ada kamu. Aku cuma ingin kita balik ke dulu, waktu semuanya masih baik-baik saja.”
 
Bima menatapnya lama, matanya penuh rasa yang sulit dijelaskan. “Aku juga ingin itu, Hanum. Tapi hidup nggak bisa diputar balik. Yang bisa kita lakukan cuma maju.”
 
Hanum tertawa kecil, pahit. “Maju? Bagaimana caranya maju kalau aku terus ditinggal sama semua yang aku sayang? Kamu … Lucas … keluargaku … bahkan diriku sendiri.”
 
“Hanum .…” Bima memanggilnya pelan, suaranya menenangkan seperti yang selalu ia ingat. “Kamu nggak pernah sendirian. Aku selalu ada di sini, meski kamu nggak bisa melihatku.”
 
Hanum menggeleng. “Kalau kamu selalu ada, kenapa kamu nggak muncul lebih cepat? Kenapa kamu biarkan aku hidup dalam penderitaan sendirian?”
 
Bima menunduk, menatap tangannya yang ia kepalkan di pangkuan. “Karena aku nggak bisa, Hanum. Dunia kita udah beda. Aku nggak punya kuasa untuk hadir di hadapanmu. Tapi hari ini … mungkin karena kamu terlalu terluka atau mungkin karena aku yang terlalu rindu, entahlah. Tapi kita bisa bertemu.”
 
Hanum mencoba menyentuhnya, tapi tangannya hanya menembus udara kosong. Ia memekik kecil, menatap tangannya sendiri dengan tatapan penuh frustrasi. “Kenapa aku nggak bisa nyentuh kamu, Bima? Kamu nyata, kamu ada di sini!”
 
Bima tersenyum kecil, meski ada kesedihan di balik senyum itu. “Aku cuma bayangan, Hanum. Aku nggak punya tubuh lagi.”
 
Tangis Hanum kembali pecah. “Kamu tahu aku butuh kamu, Bima. Aku butuh kamu lebih dari apa pun. Kamu tahu itu!”
 
Bima ingin sekali memeluknya, ingin menyeka air matanya, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menatap Hanum dengan penuh penyesalan. “Aku tahu, Hanum. Dan aku juga butuh kamu. Tapi aku nggak bisa kembali.”
 
Hanum menggigit bibir, mencoba menahan isak tangisnya. “Kalau aku nggak memilih Lucas dulu … kalau aku tetap bertahan sama kamu … mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Kamu nggak akan .…”
 
Ia berhenti, suaranya tercekat. Ia tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu.
 
“Hanum,” Bima memotong dengan lembut. “Kematian itu nggak ada hubungannya sama kamu. Itu pilihan yang aku buat sendiri. Kamu nggak perlu menyalahkan diri sendiri.”
 
“Tapi aku penyebabnya!” Hanum berteriak, suaranya serak karena menangis. “Aku meninggalkan kamu, aku menghancurkan hati kamu dan aku nggak ada untuk kamu di saat terakhir kamu .…”
 
Bima menggeleng cepat. “Jangan, Hanum. Jangan pikir begitu. Aku nggak mau kamu hidup dalam penyesalan. Kamu pantas dapat lebih dari itu.”
 
“Tapi aku nggak punya apa-apa lagi, Bima,” Hanum berkata dengan suara lirih. “Aku nggak tahu harus gimana. Aku cuma pengen semuanya berakhir.”
 
Mata Bima melembut. Ia merasakan sakit yang sama, tetapi ia tahu ia tidak boleh membiarkan Hanum menyerah. “Hanum, kamu masih punya banyak hal yang bisa kamu perjuangkan. Aku tahu itu sulit. Aku tahu kamu merasa sendirian. Tapi aku percaya, kamu lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan.”
 
Hening melingkupi mereka. Hujan mulai mereda, tetapi suasana hati Hanum tetap kelam.
 
“Bima,” Hanum berkata setelah beberapa saat. “Kalau aku boleh minta satu hal … aku cuma pengen waktu lebih lama sama kamu. Meskipun cuma sebentar. Aku cuma pengen dengar suara kamu lagi, pengen lihat kamu lagi. Karena aku tahu, setelah ini, aku nggak akan pernah bisa.”
 
Bima terdiam, matanya berkaca-kaca meski ia tahu ia tak bisa menangis lagi. “Aku juga pengen itu, Hanum. Aku pengen lebih dari apa pun. Tapi kita nggak punya banyak waktu.”
 
Hanum menatapnya, mencoba menyimpan setiap detail wajahnya dalam ingatannya. “Kalau gitu … sebelum kamu pergi, aku cuma mau kamu tahu satu hal.”
 
“Apa?” Bima bertanya lembut.
 
Hanum menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang terasa hancur. “Aku mencintai kamu, Bima. Selalu. Bahkan setelah semua yang terjadi, aku nggak pernah berhenti cinta sama kamu.”
 
Bima tersenyum kecil, meski matanya penuh kesedihan. “Aku tahu, Hanum. Aku juga mencintai kamu. Selalu.”
 
Hujan benar-benar berhenti sekarang, meninggalkan udara dingin yang menusuk. Hanum merasa dunia menjadi lebih sunyi, seolah alam semesta ikut berduka atas pertemuan singkat ini.
 
“Waktu kita hampir habis,” kata Bima pelan.
 
Hanum terisak, menggenggam tangannya sendiri seolah ingin menggantikan sentuhan yang tak bisa ia dapatkan dari Bima. “Kalau kamu pergi, aku nggak tahu apa aku bisa terus hidup, Bima.”
 
“Kamu bisa, Hanum,” jawab Bima dengan yakin. “Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Aku selalu percaya sama kamu.”
 
Hanum menunduk, air matanya jatuh tanpa henti. “Aku nggak mau kamu pergi lagi …”
 
Bima mendekatkan wajahnya ke arah Hanum, meskipun ia tahu ia tak bisa menyentuhnya. “Aku nggak pernah benar-benar pergi, Hanum. Aku akan selalu ada di sampingmu, di hati kamu. Setiap kali kamu rindu, ingatlah itu.”
 
Hanum mengangguk pelan, meski hatinya terasa remuk. “Aku akan mencoba, Bima. Tapi aku nggak janji.”
 
“Itu sudah cukup, Hanum,” kata Bima sambil tersenyum. “Cukup tahu kalau kamu akan mencoba.”
 
Dan dengan itu, tubuh Bima perlahan memudar, seperti kabut yang ditiup angin.
 
Hanum mencoba memanggilnya, tetapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Yang tersisa hanyalah rasa hampa yang begitu besar, seperti lubang di dalam dadanya.
 
Tetapi di tengah rasa kehilangan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang Bima tinggalkan untuknya. Harapan.
 
Hanum menatap langit yang mulai cerah. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tapi ia juga tahu, ia tidak benar-benar sendirian.
 
“Terima kasih, Bima,” bisiknya, sebelum ia berdiri dan melangkah pergi, mencoba mengumpulkan kepingan hidupnya yang hancur.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!