Pagi yang cerah berubah menjadi suram di mata Hanum. Rumah tangganya yang dulu ia bangun dengan impian bahagia kini terasa seperti penjara emosional. Setelah pertengkaran semalam dengan Lucas, Hanum menghabiskan paginya hanya duduk termenung di ruang tamu.
Matanya sembab karena menangis semalaman. Lucas pergi entah ke mana tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Hanum dalam penuh tanda tanya tentang pocong ... pocong yang terus menerus ia sebut hingga mengumpulkan warga di depan rumahnya.
Namun, apa yang Hanum tidak tahu, ada seorang mantan manusia yang setia mengawasinya 24 jam penuh.
Di sudut ruang tamu ....
Di pojokan, Bima melayang-layang, memperhatikan setiap gerak-gerik Hanum dengan penuh perhatian. Ia sudah seperti CCTV berjalan. Jika Hanum ke dapur, Bima mengikutinya. Jika Hanum masuk kamar, Bima langsung melayang ke sana lebih dulu untuk memastikan tidak ada “makhluk dunia hidup” yang mengganggu wanita itu lagi.
“Cong Opa, lo serius mau jadi satpam pribadi Hanum?” Yuli muncul tiba-tiba dari balik jendela sambil mengunyah pisang goreng yang ia curi dari dapur tetangga.
“Sst, jangan berisik!” Bima memberi isyarat untuk diam. “Hanum lagi sedih, Yul. Gue nggak mau dia tahu gue ada di sini, tapi gue juga nggak bisa ninggalin dia.”
Yuli memutar bola matanya. “Lo tuh berlebihan banget. Gue sampe kasihan sama Lucas. Bayangin, manusia dikejar-kejar pocong kayak lo, pasti trauma seumur hidup.”
Bima hanya menggeleng. “ Bodok amat! Lagian Lucas nggak pantes m buat Hanum.”
Yuli mendengus. “Iya, iya. Lo kan emang superhero yang gagal mati dengan tenang. Tapi dengerin gue, Cong Opa. Kalau lo terus-terusan begini, lo bakal ketemu masalah yang lebih besar.”
“Masalah apa?” Bima menatap Yuli penasaran.
“Masalah dengan petugas akhirat. Mereka pasti udah tau lo ngeyel nggak balik ke alam sana.”
Bima terdiam. Ia tahu apa yang dikatakan Yuli benar. Tapi hatinya terlalu keras untuk meninggalkan Hanum. Baginya, satu-satunya hal yang lebih menyeramkan dari pada petugas akhirat adalah membiarkan Hanum sendirian menghadapi kesedihannya.
Hanum akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia terisak keras, memeluk sebuah bantal sambil memandangi foto pernikahannya yang tergantung di dinding.
“Ya Allah, kenapa semua ini terjadi? Apa aku salah memilih Lucas?” suaranya bergetar, penuh rasa penyesalan. “Bima ... kalau kamu masih hidup, aku tahu aku tidak akan sejatuh ini.”
Bima yang mendengar tangisan itu hanya bisa mematung. Jika saja ia masih hidup, ia pasti akan memeluk Hanum saat itu juga. Tetapi ... kini, sebagai pocong, ia hanya bisa berdiri di sana, menjadi saksi bisu penderitaan wanita yang ia cintai.
“Cong Opa, lo tuh bisa apa sih?” Yuli menyenggol bahunya. “Lo nggak bisa peluk dia. Lo nggak bisa ngusap air matanya. Yang lo lakuin cuma nambah beban hati lo sendiri.”
“Diam, Yul,” suara Bima terdengar lirih. Matanya tak lepas dari Hanum.
Hanum terus berbicara pada dirinya sendiri. Ia memandang ke luar jendela, seperti mencari sesuatu yang hilang. “Bima ... kalau kamu denger, aku cuma mau bilang aku kangen. Maaf ... maaf aku nggak pernah bilang aku juga mencintaimu dulu.”
Kata-kata itu menghantam Bima seperti petir. Dadanya terasa berat. Yuli yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng sambil berkata dalam hati, “Cong Opa, lo beneran bucin tingkat dewa.”
Hanum menangis terus menerus hingga malam hari, sampai tertidur karena lelahnya menangis.
Ketika Hanum sudah terlelap, Bima memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota. Baginya, malam itu adalah momen untuk merenung sekaligus menenangkan pikirannya yang kacau. Tapi siapa sangka, malam itu menjadi malam yang aneh bagi arwah yang belum menemukan jati dirinya.
Di sebuah gang sempit, Bima bertemu dengan hantu-hantu yang tidak pernah ia bayangkan selama menjadi pocong.
“Hai, kamu yang suka ngelamun,” suara seorang perempuan terdengar dari atas sebuah tiang listrik. Ketika Bima menengok, ia melihat sosok wanita berambut panjang yang menggantung terbalik seperti kelelawar.
“Hii ...." Sontak Bima melompat sebab terkejut akan wajah hantu yang selalu asing baginya. "Siapa lo?” tanya Bima dengan nada waspada.
“Aku Shanti, si hantu gagal menikah,” jawab wanita itu dengan suara melengking. “Aku sering liat kamu keluyuran di sekitar rumah manusia itu. Lagi patah hati, ya?”
Bima mendengus. “Bukan urusan lo.”
Shanti melayang turun dengan gerakan anggun, lalu menepuk bahu Bima. “Denger ya, aku ini udah puluhan tahun jadi hantu. Kalau lo terus-terusan galau kayak gini, lo nggak akan pernah bisa move on.”
Dari balik tembok, muncul sosok lain. Kali ini, seorang pria berbadan besar dengan kepala botak dan muka rata tanpa hidung. “Shanti, jangan ganggu dia. Pocong ini kelihatannya serius galau.”
“Dan lo siapa?” tanya Bima dengan nada bingung.
“Namaku Cecep, hantu yang mati karena overdosis permen jahe.”
Bima hampir tertawa, tapi ia menahan diri. “Kenapa lo bisa mati gara-gara permen jahe?”
Cecep hanya mengangkat bahu. “Ya, hidupku memang aneh. Dan sekarang aku jadi hantu yang suka menghibur arwah-arwah galau kayak lo.”
Bima mulai merasa tidak nyaman. “Gue nggak butuh dihibur. Gue cuma mau sendiri.”
Shanti dan Cecep saling pandang. Lalu, tiba-tiba, mereka tertawa bersamaan. “Percaya deh, kalau lo terus begini, lo bakal jadi pocong paling menyedihkan di kota ini.”
Kemudian mereka berdua serempak menertawakan Bima.
Tiba-tiba, Yuli muncul dari arah yang tidak jelas. “Cong Opa, lo ngapain ngobrol sama hantu-hantu nggak jelas kayak mereka?”
“Mereka yang mulai duluan,” jawab Bima dengan nada kesal.
“Eh, kamu siapa?” tanya Shanti sambil melirik Yuli.
“Aku? Yuli, si hantu cantik idaman banyak arwah!” jawab Yuli dengan nada centil.
Shanti memutar bola matanya. “Ih, pede banget!”
“Udah, lo semua pergi aja sana!” kata Yuli sambil mengusir mereka dengan gerakan tangan seperti menepuk lalat.
Bima hanya bisa menghela napas panjang. Dalam hatinya, ia sadar bahwa menjadi pocong ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan. Dunia arwah memiliki dinamikanya sendiri dan malam itu ia baru menyadari bahwa ia bukan satu-satunya arwah yang merasa terjebak antara dunia manusia dan alam baka.
Setelah pertemuan aneh itu, Bima kembali ke rumah Hanum. Ia melayang masuk lewat jendela dan melihat Hanum yang tertidur lelap di sofa ruang tamu. Wajahnya masih sembab, tapi terlihat sedikit lebih tenang dibandingkan pagi tadi.
Bima mendekat, ingin sekali menyentuh wajah Hanum. Tapi ia tahu itu mustahil. Tangannya hanya bisa menembus udara kosong.
“Hanum, kalau aja gue masih hidup, gue pasti bakal ngelakuin apa pun buat bikin lo bahagia,” bisik Bima pelan.
Yuli yang berdiri di belakangnya hanya bisa menghela napas. “Cong Opa, lo ini beneran hopeless romantic. Gue sampe bingung harus bilang apa.”
“Lo nggak perlu bilang apa-apa, Yul,” jawab Bima sambil memandang Hanum dengan tatapan penuh kasih.
"Dengan lo ngebantuin gue ngejagain Hanum, itu udah lebih dari cukup."