Pocong Opa-Opa Korea

Pocong Indosiar

Malam semakin larut, suasana di sekitar rumah Hanum sudah kembali tenang. Hanum terlihat mematikan lampu ruang tamu, sedangkan Lucas entah lari ke mana setelah diteror habis-habisan oleh aksi Bima dan Yuli. 

 
Di bawah pohon mangga, dua arwah itu masih berdiri. Yuli memeluk tangan, wajahnya datar, sedangkan Bima masih menatap rumah Hanum dengan tatapan campur aduk.
 
"Cong Opa," Yuli membuka suara sambil menendang kerikil di bawah kakinya. "Lo tuh nggak capek apa? Dari tadi bolak-balik ngelihatin rumah Hanum mulu. Udah, balik yuk. Tugas lo udah selesai."
 
Bima menggeleng keras. "Belum, Yul. Hanum masih butuh gue. Tadi lo lihat sendiri kan, Lucas itu nggak bisa dipercaya."
 
Yuli memutar bola mata dengan malas. "Yaelah, Cong Opa. Itu urusan rumah tangga mereka. Lagi pula, Hanum nggak bakal tahu kalau lo ada di sini. Ngapain lo buang-buang energi kayak gini?"
 
Bima menatap Yuli serius. "Yul, lo nggak ngerti. Gue nggak bisa ninggalin Hanum gitu aja."
 
"Klise banget, Cong Opa. Hidup lo ini kayak sinetron dini hari." Yuli mendengus. "Tapi ya terserah lo. Kalau lo emang keras kepala, minimal lo harus belajar satu hal penting."
 
"Apa?" tanya Bima, bingung.
 
"Lo harus tahu cara tidur yang bener buat arwah," jawab Yuli dengan nada sok bijak.
 
Bima mengernyit. "Tidur? Ngapain arwah tidur? Kita kan udah mati."
 
"Ya ampun, Cong Opa, otak lo nggak nyampe apa gimana sih?" Yuli mendekat, menepuk-nepuk sarung pocong Bima. "Arwah juga butuh istirahat biar nggak lemes. Lo pikir kenapa gue selalu fit buat bikin kekacauan? Karena gue rutin tidur!"
 
Bima melipat tangan di dada, masih belum percaya. "Tidur di mana? Masa di rumah orang?"
 
"Bukan di rumah orang, tolol. Di pohon pisang!" Yuli menunjuk pohon pisang yang tumbuh di pinggir jalan, tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Itu tempat tidur paling nyaman buat arwah. Gue kasih tutorialnya, deh."
 
Yuli melayang ke pohon pisang dengan langkah percaya diri. Ia berdiri tegak di samping batang pohon, merapikan daster putihnya, lalu memejamkan mata. "Nih, lo tinggal berdiri gini, kosongin pikiran, terus tidur."
 
Bima memiringkan kepala. "Berdiri? Tidur sambil berdiri? Gila aja. Gue pocong, bukan flamingo."
 
"Percaya deh sama gue. Ini metode turun-temurun dari arwah senior. Nggak ada yang ngalahin nyamannya tidur di pohon pisang."
 
Bima mencoba mengikuti. Ia melayang mendekat, berdiri di samping pohon pisang dan mencoba memejamkan mata. Tapi baru beberapa detik, dia merasa berat badannya miring ke satu sisi.
 
"Yul, kok gue kayak mau jatuh, ya?"
 
"Ya ampun, Cong Opa! Fokus dong. Jangan mikirin Hanum mulu. Itu bikin lo nggak seimbang."
 
Bima berusaha lagi, tapi kali ini malah benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang di tanah. "DUB!"
 
Yuli membuka matanya, menatap Bima yang tergeletak seperti bungkus lontong yang jatuh dari panci. "Cong Opa, lo itu nyusahin banget, ya. Tidur berdiri aja nggak bisa. Untung ganteng!"
 
"Ini nggak nyaman, Yul!" protes Bima. "Gue lebih suka tidur telentang. Lagian, gue nggak butuh tidur. Gue punya misi."
 
"Misi apaan lagi?" Yuli mulai kehilangan kesabaran.
 
"Gue mau tetap di sini. Gue nggak bisa ninggalin Hanum, apalagi setelah kejadian tadi."
 
Yuli mendekat, wajahnya serius. "Lo beneran serius mau tinggal di sini selamanya? Nggak balik ke alam kita? Mau jadi pocong ilegal di dunia manusia?"
 
Bima mengangguk mantap. "Gue serius. Hanum butuh gue. Lucas itu bahaya."
 
"Cong Opa, denger ya," kata Yuli sambil melipat tangan. "Lo itu udah mati. Hanum nggak tau lo ada dan nggak bakal peduli kalau lo ada di sini. Mending lo move on, balik ke alam kita. Banyak arwah lain yang lebih butuh perhatian lo."
 
"Tapi Hanum beda, Yul. Dia cinta pertama gue," jawab Bima dengan nada dramatis.
 
Yuli menghela napas panjang. "Ya udah. Kalau lo emang keras kepala, gue nggak bakal maksa. Tapi jangan nangis-nangis lagi kalau lo nyesel."
 
"Deal," jawab Bima pendek.
 
Dengan malas, Yuli kembali berdiri di samping pohon pisang, memejamkan mata dan langsung tertidur. Tapi kali ini, Bima tidak mencoba mengikuti. Ia malah duduk di bawah pohon mangga, memandang rumah Hanum dari kejauhan.
 
 
---
 
 
Pagi harinya, warga mulai berkumpul di depan rumah Hanum. Lucas yang tadi malam berlari sambil teriak-teriak soal pocong membuat satu kampung geger.
 
"Pak RT, saya serius! Ada pocong di rumah saya!" teriak Lucas dengan wajah pucat.
 
Pak RT mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi. "Iya, iya, Pak Lucas. Bapak tenang aja. Kami akan selidiki."
 
Di belakang kerumunan, Yuli yang sudah bangun dari tidurnya menatap Lucas dengan senyum sinis. "Cong Opa, lihat tuh. Lucas udah kayak kambing kena kutu. Lo puas sekarang?"
 
Bima tersenyum kecil. "Lumayan."
 
Yuli menggeleng-geleng. "Lo ini drama banget. Kalau lo tetep mau di sini, gue cuma bisa bilang satu hal."
 
"Apa?"
 
"Jangan ganggu gue kalau gue lagi tidur!" Yuli melayang pergi dengan gerakan malas, meninggalkan Bima yang masih setia memandangi rumah Hanum.
 
 
---
 
Hari-hari berikutnya, Bima benar-benar memutuskan untuk tinggal di dunia manusia. Ia mengawasi Hanum dari kejauhan, memastikan tidak ada siapa pun yang mengganggunya.
 
Namun, menjadi pocong di alam manusia ternyata tidak semudah yang ia kira. Selain harus menghindari petugas akhirat yang bisa saja menangkapnya kapan saja, Bima juga harus menghadapi gangguan-gangguan kecil di dunia manusia.
 
"Cong Opa, lo tau nggak? Kalau lo nggak tidur, muka lo makin kusut," kata Yuli suatu malam ketika mereka bertemu di bawah pohon mangga.
 
"Tapi, tetep ganteng kan?" goda Bima
 
"Hadegh, iya lagi ... tapi jangan nyesel kalau lo tiba-tiba kehabisan energi terus pingsan."
 
"Arwah mana bisa pingsan," jawab Bima santai.
 
Yuli hanya mengangkat bahu. "Terserah lo, deh."
 
Meskipun sering bertengkar, Yuli tetap setia menemani Bima dalam berbagai aksinya. Dari membuat Lucas ketakutan, sampai membantu Hanum menemukan barang-barang yang hilang dengan cara yang aneh.
 
Suatu malam, Hanum kehilangan anting kesayangannya. Ia mencari ke seluruh rumah, tapi tidak menemukannya.
 
"Cong Opa, ini kesempatan lo buat jadi pahlawan," kata Yuli.
 
Bima mengangguk. Ia melayang masuk ke rumah Hanum, mencari anting tersebut dengan cara menggerakkan barang-barang di sekitarnya. Hanum yang melihat buku-buku di rak tiba-tiba jatuh, langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
 
"Ada apa ini?" Hanum bergumam.
 
Tiba-tiba, anting yang ia cari terjatuh dari balik sofa.
 
"Alhamdulillah," kata Hanum sambil tersenyum. "Tapi kok rasanya aneh, ya?"
 
Dari kejauhan, Bima tersenyum puas. "Gue nggak perlu dia tahu gue di sini. Yang penting dia bahagia."
 
"Ciaaaaailahhhhh bucin amat, boy!!!" ledek Yuli.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!