Petualangan Arif di Desa Cahaya

22. Baju Wasiat

Setiap sore setelah pulang sekolah dan menyelesaikan mengantar telur-telur kepada para langganan, aku melatih sepak bola kelas lima dan enam untuk persiapan pertandingan sepak bola, tinggal dua-tiga minggu lagi. Pak Danu selalu menyertai latihan kami, penuh semangat menyoraki ketika gol dilesakkan, berteriak kala siswa menggiring bola dan tak terebut. Kawan, kulihat semangat dan harapannya kembali, dia telah menjelma menjadi pemuda belasan tahun yang penuh semangat.

Ada 20 siswa. Untuk memilih pemain sayap kiri dan sayap kanan, aku mengadu kecepatan mereka berlari dari satu gawang ke gawang lain, lari sprint. Tidak tanggung-tanggung, kuulangi sebanyak 25 kali, dan beberapa siswa berguguran tak bisa meneruskan karena lari itu bukan satu kali lalu istirahat, tapi terus-menerus. Seorang penggiring bola sampai depan harus prima, kuat untuk bertahan lari seperti larinya kuda.

Hanya empat orang yang bertahan, walau dalam hitungan akhirnya, ketika sampai pada putaran ke 20, mereka berlari sangat lambat. Seminggu ini, aku telah menentukan pemain-pemain sesuai kemampuan mereka. Terpilih pula pemain cadangan. Back di gawang yang mempunyai jiwa rela berkorban paling tinggi, karena mereka bertugas menjaga pertahanan sebagai jiwa dan raga mereka, bagai prajurit berani mati yang mengawal raja, membela walau raga melayang. Striker utama tetap kuberikan pada Syahid, dia tak pernah berhenti melatih tendangan bengkoknya, dia melatih tendangan Beckham, tendangan Ronaldo, Ronaldhino.

Di lain sore, aku mengumpulkan semua pemain yang telah siap bertanding. Aku belikan bola baru dari gajiku mengajar, semua murid bergembira. Tapi, hari ini aku tidak memberi aba-aba apa pun. Jadi, sore ini tidak latihan. Di sana ada Pak Danu, Pak Yusuf, Bu Siska dan Bu Ria yang bersemangat ingin menonton latihan yang begitu bersemangat, akibat hasutan Pak Danu pada mereka semua. Pak Danu terkena sindrom positif menang, hingga siapa pun yang ditemuinya akan dikatakan bahwa pertandingan di kecamatan, akan dimenangkan Sekolah Cahaya.

Satu pelajaran lagi kudapatkan, ’Jika kau memberi semangat atau motivasi pada seseorang, maka jangan berlebihan, kau akan kesusahan sendiri nantinya.’

Para guru kecewa karena hari ini, mereka tidak melihat latihan, tapi mataku dan mata Syahid bertemu. Kami saling mengangguk, saatnya menunjukkan kekuatan mimpi, seperti pernah kukatakan padamu, bahwa pahlawan ilmu pengetahuan Einstein pernah berkata, ’Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan.’ 

Aku dan Syahid berlari, menuju ruangan balai sekolah untuk rapat sekaligus balai desa,  yang kondisi ruangannya telah parah. Semalam, saat setelah latihan bela diri aku dan Syahid menyiapkan ruangan itu, mamasang kursi yang terlipat-lipat, kami rapikan tempat duduknya. Ruangan kami bersihkan dari debu yang menempel di setiap kursi, sarang laba-laba kami bersihkan.

Semua guru dan para siswa mengikuti kami tanpa kami komando. Ikut serta pula beberapa warga desa yang diundang Pak Danu untuk menyaksikan latihan agar masyarakat semakin yakin dengan kemenangan yang menjadi mimpi-mimpinya, memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah. Tentu saja, setelah sekian lamanya menjadi Kepala Sekolah, dia merasa gagal karena dalam pajangan ruangan guru, tak satu pun tampak piala bertengger di sana sebagai kebanggan sekolah.

Mereka masuk satu-persatu, dimulai oleh Pak Danu sendiri. Syahid melayani mereka, bagai penerima tamu saat resepsi pernikahan atau khitanan. Kawan, ruangan balai sekolah ini kupersiapkan karena bisa menampung lebih dari seratus orang. Kursi kayu, yang mulai reot itu, satu-persatu diduduki. Satu kekurangan, atap papan di atas lapuk dan rusak, dan gentingnya telah banyak lubang, makanya tadi malam, kami menggelar terpal untuk dibentangkan di atas kepala manusia, tinggi dari lantainya kira-kira dua meter, bisa dicopot jika acara  yang kami rencanakan ini selesai.

Beberapa warga masih terbengong di luar, melihat dari jendela, mungkin masih bingung. Di hadapan mereka semua, terlihat sebuah kotak tertutupi kain jarik yang panjang, sebuah benda seolah berada di dalamnya, di atas meja. Aku dan Syahid, memegang dua ujung kain itu berlawanan, dengan senyum, kami membuka kain tersebut.

Pada mulanya wajah mereka penasaran, tapi setelah kubuka, wajah mereka tampak kecewa. Tapi tak apa, karena ada  yang antusias melihat benda itu, yaitu anak-anak. Benda itu adalah televisi yang kupinjam dari Pak Lurah, ukurannya 20 inci. Selain televisi, di sampingnya ada VCD player kupinjam pula dari Pak Lurah.

Pak Lurah dan Indah putrinya hadir, dan duduk di depan barisan. Indah sangat anggun dengan balutan gaun berwarna hijau, hijau sangat muda, serasi benar dengan kulit wajahnya. Gaun yang sopan, sampai di leher dan menutupi pergelangan tangannya.

Anak-anak sontak berteriak, Pak Danu yang kurus seolah tampak lebih menyusut lagi tubuhnya melihat benda di depannya, apa ini? Begitu kira-kira maksudnya, bagaimana bisa menang? Jika tak latihan, malah rehat dan bersenang-senang nonton televisi.

Syahid meninggalkanku dan duduk di kursi depan, satu kosong.

”Bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, dan para pejuang sepak bola pemenangan lomba yang sebentar lagi diadakan Kecamatan. Seperti pernah saya katakan bahwa mimpi itu harus menjadi aliran dalam darah kita.”

Aku menghidupkan televisi dan VCD player, kumasukkan sebuah kaset CD, remote kupegang. Kupencet tombol play.

”Saksikanlah semangat tanpa batas! Bahwa mimpi dan harapan adalah kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun.”

Aku menyingkir dan berdiri bertumpu pada tembok, terpal yang kupasang di atas semakin membuat ruangan sedikit gelap seolah di bioskop. Para warga dan pemuda yang tadi berdiri di luar mulai masuk, dan beberapa masyarakat menyusul hingga kursi di belakang telah penuh. Semua mata, seolah terpusat pada gambar yang keluar, mereka sangat penasaran. Film apa gerangan?

Kawan, jujur saja, Syahid sebenarnya juga belum pernah melihat film yang kusetel ini. Di bagian awal, terlihat tulisan-tulisan mandarin berseliweran, terlihat bagan tubuh manusia tiga dimensi, mempraktikkan gerakan-gerakan, gerakan bela diri Cina, kungfu.

Ada wajah yang kulihat sedikit kecewa, masak menonton film kungfu?

Biarlah! Durasi waktu berjalan, dan tampaklah bola-bola beterbangan, dan tampaklah judul film tersebut, Kungfu Soccer. Dari awal, tampak seorang tengah dihina, kemudian saat pertandingan besar, tendangan penalti. Dia yakin bisa, tapi tendangannya melesat melebihi tiang gawang. Lemparan terjadi dan beberapa orang turun dan mematahkan kedua kakinya.

Para penonton histeris, para pemain sepak bola didikanku merinding. Kasihan betul pemain sepak bola itu, sudah berusaha sekuat tenaga tapi satu kesalahan telah membuatnya dicampakkan.

Lelaki itu akhirnya tua, dia bertemu dengan seorang tokoh utama yang bekerja sebagai penjual barang-barang bekas, kakinya yang kuat menendang bekas kaleng minuman, ternyata menancap pada sebuah tembok hingga retak, saat Sang Lelaki pincang menarik kaleng bekas itu, tembok itu runtuh.

Kawan, aku bukan melihat filmnya, aku sudah melihatnya. Reaksi para pemain andalanku-lah yang kulihat, para masyarakat yang antusias, Pak Danu dan Pak Yusuf mereka tampak menikmati suguhan, begitupun Bu Ria, Bu Siska melihatku tepat saat aku melihatnya, sekali lagi, dia tersenyum begitu manis. Bu Siska, lalu menunduk dan meneruskan menonton film itu.

Sungguh, jauh-jauh hari minggu kemarin, saat kuajak Syahid dengan sepeda ke pasar di Kecamatan. Tak menyesal rasanya, mengayuh sepeda sejauh 30 km, untuk membeli kaset CD ini, lunas terbayar oleh senyum mereka. Aku melihat semangat membara dari para pemain andalanku.

Mereka bersorak gembira kala Kungfu Soccer menunjukkan keahliannya, kocak, baru peluit dibunyikan, satu tendangan dan gol! Musuh belum sempat bergerak, satu tendangan lagi, gol! Hingga terakhir saat tim harus mengganti kiper ketiga kalinya, semuanya cedera, hingga diganti kiper wanita. 

Musuh melancarkan tendangan mautnya, tetapi kiper yang belum pernah bermain bola itu menjadikan bola seumpama adonan kue dan menggulungnya membentuk kanji lingkaran. Di putar kuat oleh sang kiper dan diberikan pada Stephen Chow yang kakinya telah patah, kekuatan mimpi dan harapan, membuat tendangan terakhir itu menerbangkan seluruh tim musuh, hingga gawang musuh jebol.

Kawan, saat pertunjukan usai, gegap gempita, tepuk tangan, dan lonjak-melonjak mewarnai ruangan balai sekolah itu. Ada  yang berangkulan antar warga, kulihat mimpi-mimpi itu menyatu, menjadi persepsi dan menjadi kekuatan besar. Kekuatan untuk menang. Dan itulah mimpi yang kulihat. Tuhan, jangan kecewakan mimpi-mimpi mereka.

***

Sore itu, setelah acara menonton film Kungfu Soccer, seluruh pemain baik utama maupun cadangan, menyatukan tangan, menyatukan senyum, dan berteriak kuat, ’Menang!”

Warga berangsur-angsur pulang. Mereka menggotong televisi dan VCD player untuk dikembalikan pada Pak Lurah, aku dan Syahid menggulung terpal. Syahid memangku terpal dan duduk di belakang sepeda, saat itulah ketika matahari mengingatkan berakhirnya siang, saat keadaan benar-benar sepi, seorang wanita mendekati kami, menenteng plastik hitam di tangan kanannya, dan menuntun seorang anak kecil di tangan kirinya. Wanita yang dituntunnya adalah adiknya perempuan satu-satunya, masih kelas satu SD.

Langkahnya mendekat ke arah kami, tak salah, kamilah tujuannya.

”Ini untuk Pak Arif.”

”Untukku?”

Aku heran, penasaran, ”Apa isinya, Bu Siska?”

”Kau selalu membuat kejutan di desa ini. Ini bukan aneh-aneh, ini adalah baju-baju peninggalan almarhum ayah dan juga ada dari almarhum kakekku. Kulihat, Pak Arif jarang sekali ganti baju, hanya memakai itu-itu saja, makanya lebih baik baju-baju ini untuk Pak Arif saja. Semoga bermanfaat.”

”Sebenarnya, baju-bajuku...”

”Dirampok orang. Aku sudah diceritakan Kang Mukhlis, makanya baju ini untuk Pak Arif.”

Aku malu. Kuterima baju-baju dalam plastik hitam itu. Aku pamitan, mengayuh sepeda, semanjak bersepeda itu, syahid selalu menggodaku. Katanya pipiku berwarna merah, benarkah kawan? Ah! Tapi aku bahagia menerima baju-baju itu.

Setelah shalat Isya’ aku membuka bungkusan plastik itu, beberapa setel baju dan rata-rata batik dan kemeja. Aku melihat kemeja yang berwarna hitam, kucoba, kulihat di cermin, cocok. Ketika aku lepas, secarik kertas terjatuh dari dalam saku baju itu. Aku memungutnya, membuka lipatannya, terdapat tulisan latin di sana. Tulisan yang membuat keningku berkerut, makna yang aneh.

’Tekanlah seperti Archimedes, putarlah seperti Copernicus dan Galileo terhadap sistem tata surya, nyalakan seperti Thomas Alfa Edison, sempurnakanlah dengan relativitas Einstein.’

 

Rumus aneh! Tapi menurutku, ini adalah bagian dari misteri desa Cahaya. Baju-baju ini adalah baju-baju wasiat yang mempunyai arti mendalam.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!