Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan

7. Mari Mulai Pertunjukannya!

CRAAAAASH!

Akhirnya, gerbang kedua sebagai bentung terakhir kerajaan Fenris hancur oleh ledakan besar. Itu pasti serangan sihir dan serangan meriam logam yang sudah diperkuat. Pasukan pemberontak memang sudah merencanakan serangan ini dengan baik.

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh istana Fenris.

Gerbang besi kedua yang menjadi harapan terakhir pertahanan kerajaan akhirnya hancur berkeping-keping. Potongan logam sebesar kereta kuda beterbangan ke segala arah, menghancurkan dinding dan menimpa para prajurit yang tidak sempat menghindar.

Asap tebal memenuhi udara.

Di balik reruntuhan gerbang itu, ribuan pasukan pemberontak bersorak kemenangan.

"Majuuuu!"

"Fenris sudah berakhir!"

"Bunuh mereka semua!"

Gelombang manusia bergerak maju seperti banjir yang tidak dapat dihentikan.

Di belakang mereka berdiri belasan penyihir berjubah hitam. Tongkat mereka masih memancarkan cahaya sihir yang menyilaukan.

Wajah Henson langsung berubah pucat.

"Itu... mustahil."

Puteri Naria menoleh.

"Ada apa?"

Henson menggertakkan giginya. "Mereka membawa penyihir Circle Enam."

Naria terdiam sesaat.

Circle Enam. Tingkat sihir yang sudah termasuk sangat tinggi di dunia ini.

Sebagian besar penyihir bahkan tidak pernah mencapai Circle Tiga sepanjang hidup mereka. Circle Enam berarti mereka adalah aset militer yang sangat berharga.

Di seluruh Fenris sendiri, jumlah penyihir Circle Enam bahkan bisa dihitung dengan jari.

Sedangkan pihak pemberontak membawa lebih dari sepuluh orang.

"Siapa yang mendukung mereka?" gumam Naria.

Tidak mungkin kelompok pemberontak biasa memiliki kekuatan sebesar itu. Namun saat ini bukan waktunya mencari jawaban. Karena pasukan musuh telah menerobos masuk. Benturan pedang dan tombak kembali menggema.

Para ksatria Fenris berusaha mati-matian menahan serangan. Namun kenyataan semakin jelas. Mereka kalah jumlah. Kalah perlengkapan. Kalah kekuatan.

Dan yang paling berbahaya... Mereka mulai kehilangan harapan.

Arya melihat semuanya dari dekat. Beberapa prajurit bahkan bertarung dengan mata kosong. Mereka mengayunkan pedang bukan untuk menang. Mereka hanya menunggu waktu sebelum terbunuh. Itulah yang terjadi ketika semangat sebuah pasukan telah runtuh.

Namun ada satu orang yang masih berdiri tegak. Puteri Naria. Wanita itu kembali menghunus pedangnya. Meski darah masih mengalir dari bahunya. Meski napasnya sudah tidak teratur. Meski tubuhnya jelas berada di batas kemampuan. Dia tetap maju ke garis depan.

"Tahan mereka!"

Tebasan cahaya perak melintas.

SLASH!

Dua pemberontak tumbang seketika. Pedangnya berputar kembali.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Beberapa serangan berhasil ditangkis. Namun jumlah musuh yang datang tidak ada habisnya. Arya memperhatikan pemandangan itu dengan diam. Dia tidak pernah melihat seseorang bertarung seperti Naria.

Bukan karena kekuatan. Melainkan karena tekad. Puteri itu tahu dirinya mungkin akan mati hari ini. Tetapi tetap maju.

Di saat yang sama, sebuah anak panah melesat dari tengah kerumunan musuh.

WUSSH!

Targetnya bukan Naria. Bukan pula ksatria lain. Melainkan Henson.

Penyihir tua itu terlalu fokus mengawasi pertempuran hingga tidak menyadari ancaman yang datang.

"Leluhur, tolonglah kami ….” gumam Henson saat menyadarinya.

Sudah terlambat. Panah itu tinggal beberapa meter lagi.

Namun sebelum siapapun bereaksi—

WHOOSH!

Sebuah bayangan melintas.

BRAK!

Perisai kayu yang tergeletak di tanah tiba-tiba terangkat. Panah itu menghantam perisai dan memantul jauh. Semua orang membelalak. Henson sendiri terkejut.

Arya berdiri di depannya sambil memegang perisai tersebut. Bahkan Arya terlihat sedikit bingung.

"Aku..." Dia menatap tangannya sendiri. Semuanya terjadi secara refleks. Matanya melihat panah itu. Tubuhnya langsung bergerak. Tanpa berpikir. Tanpa ragu. Seperti saat menghindari pukulan di dalam ring.

Arya perlahan mulai menyadari sesuatu. Latihan bertahun-tahun yang dia jalani sebagai petinju dunia tidak hilang. Refleksnya masih ada. Kecepatan reaksinya masih ada. Kemampuan membaca pergerakan lawan masih ada.

Bahkan mungkin... Lebih tajam daripada sebelumnya.

"Menarik..." gumam Arya.

Sementara itu situasi semakin memburuk. Pasukan Fenris mulai didorong mundur. Beberapa garis pertahanan runtuh satu demi satu. Lalu terdengar suara tawa kasar dari tengah pasukan pemberontak.

"Hahaha!"

Seorang pria raksasa berjalan maju. Tingginya hampir dua meter. Tubuhnya penuh otot. Di tangannya tergenggam pedang besar yang bahkan terlihat terlalu berat untuk manusia biasa. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

Para prajurit Fenris langsung pucat.

"Itu Tugol!"

"Komandan Tugol!"

"Celaka..."

Wajah Naria juga berubah serius. Tugol adalah salah satu komandan terbaik pemberontak. Pria itu terkenal karena kekuatan fisiknya yang mengerikan. Puluhan ksatria pernah mati di tangannya.

Tugol menyeringai. "Puteri kecil."

Dia mengangkat pedang besarnya.

"Hari ini kepala kalian akan menghiasi gerbang kota."

Kemudian dia menyerbu.

BOOM!

Tanah pecah saat kakinya menghentak. Kecepatannya jauh lebih cepat daripada ukuran tubuhnya. Naria segera mengangkat pedang.

CLAAANG!

Benturan pertama membuat lengannya mati rasa.

Matanya membelalak.

Kekuatan pria itu bahkan lebih besar dari sebelumnya.

Tugol terus menyerang.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Setiap benturan memaksa Naria mundur. Tubuhnya yang sudah kelelahan mulai kehilangan keseimbangan. Tangan yang memegang pedang bergetar hebat.

Lalu akhirnya—

CLAAAAANG!

Pedangnya terlepas.

Senjata itu terlempar beberapa meter.

Wajah para ksatria langsung pucat. "Yang Mulia!"

Naria terjatuh berlutut. Napasnya memburu.

Tubuhnya sudah mencapai batas.

Tugol tertawa keras.

"Berakhir sudah!"

Pedang raksasa itu terangkat tinggi.

Siap ditebaskan. Namun tepat saat serangan itu turun—

WHOOSH!

Seseorang muncul di antara mereka.

BRAK!

Tebasan Tugol menghantam tanah. Batu pecah ke segala arah. Tetapi Naria tidak terluka. Karena Arya telah menarik tubuh puteri itu menjauh beberapa saat sebelum serangan mendarat.

Naria membelalak.

"Kau..."

Arya berdiri di depannya. Matanya tertuju pada Tugol. Sementara pria raksasa itu mengernyit.

"Kau siapa?"

Arya tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Sangat aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Darahnya mengalir lebih panas. Tangannya bergetar ringan. Namun bukan karena takut.

Sebaliknya. Dia merasa bersemangat. Perasaan itu begitu familiar. Sudah ribuan kali dia merasakannya. Di ruang ganti. Di lorong arena. Di atas ring.

Detik-detik sebelum pertandingan dimulai.

Arya perlahan mengangkat kedua tangannya. Posisi bertarung yang telah menemaninya sepanjang hidup. Senyuman kecil muncul di sudut bibirnya.

"Sudah lama aku tidak merasakan ini."

Tugol tertawa.

"Kau mau melawanku?"

Arya tidak menjawab. Matanya berbinar. Semangat yang sempat mati akibat pengkhianatan Maya kini perlahan bangkit kembali.

Benar.

Dia memang kalah. Dia memang dikhianati. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Dia dilahirkan untuk bertarung.

"Aku ditakdirkan untuk bertarung."

Di belakangnya, Naria buru-buru mengambil pedangnya lalu mengulurkan satu pedang cadangan.

"Ambil ini!"

Namun Arya hanya melirik senjata itu sekilas. Kemudian dia menggeleng. Senyumnya semakin lebar.

"Tidak perlu."

Naria mengerutkan kening. Tugol tertawa terbahak-bahak.

"Kau ingin melawanku tanpa senjata?"

Arya mengepalkan kedua tangannya. Buku-buku jarinya berbunyi pelan. Tatapannya penuh keyakinan.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia Fenris, dia memperkenalkan dirinya dengan bangga.

"Aku seorang petinju."

Keheningan sesaat menyelimuti medan perang.

Lalu Arya mengambil satu langkah ke depan.

Siap memulai pertarungan pertamanya di dunia kehancuran.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!