Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan
4. Ini Medan Perang?
Udara dingin yang menusuk paru-paru membuat Arya terbatuk hebat, memuntahkan sisa rasa pahit yang tertinggal di tenggorokannya. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma sihir yang tajam dan menyengat menyapu indra penciumannya, menciptakan sensasi mual yang tak tertahankan. Ia tidak lagi merasakan lantai semen yang keras, melainkan permukaan batu kasar yang lembap dan berlumut.
Di mana ini?
Arya menggelengkan kepalanya, berharap dia berada di dalam kamar mandi. Seperti mimpi, pandangannya samar.
Pandangannya masih kabur, dipenuhi dengan bintik-bintik hitam yang menari-nari di depan mata. Perlahan, bayangan di sekelilingnya mulai membentuk siluet sebuah aula batu yang luas namun remang-remang. Cahaya hanya berasal dari beberapa obor yang menempel di dinding, memberikan rona jingga yang tidak stabil dan menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster yang sedang mengintai.
Matanya berusaha menajam, terlihat satu sosok manusia berada di depannya.
“Siapa kamu? Apakah kamu seorang petugas yang datang untuk cek kesehatanku? Sepertinya, aku harus menghentikan pertandingan ini. Aku sedang … Tunggu! Ada apa dengan pakaianmu?” Arya kebingungan setelah cukup jelas sosok di depannya.
Seorang pria tua berdiri tepat di hadapannya, dengan jubah lusuh yang tampak sudah melewati ribuan musim dingin. Namanya Henson, dan matanya yang cekung menyimpan beban yang begitu berat hingga membuat Arya merasa sesak hanya dengan menatapnya. Ada keputusasaan yang murni di sana, sebuah jenis kesedihan yang tidak lagi meminta bantuan, melainkan hanya pasrah pada takdir.
“Kau adalah jawaban kami,” bisik Henson, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh suara tetesan air dari langit-langit aula. Kata-kata itu terdengar seperti kutukan bagi Arya, bukan sebuah harapan. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia hanyalah seorang petarung yang baru saja kehilangan segalanya, namun lidahnya terasa kelu dan berat.
Arya mencoba menggerakkan lengannya untuk bertumpu pada lantai, namun denyut hebat di pelipisnya membuat dunia seolah berputar secara vertikal. Setiap detak jantungnya terasa seperti hantaman palu godam di dalam tengkoraknya. Ia meringis, memejamkan mata erat-erat sambil berusaha mengatur napas yang pendek dan tidak beraturan.
“Jangan bergerak dulu. Tubuhmu belum terbiasa dengan tekanan atmosfer di tempat ini,” ucap Henson lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas namun tetap menyimpan getaran kecemasan. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantu, seolah-olah membiarkan Arya merasakan penderitaannya sendiri adalah bagian dari proses adaptasi yang diperlukan.
Di luar tembok batu yang tebal itu, suara-suara mengerikan mulai merayap masuk melalui celah-celah sempit. Denting logam yang beradu dengan logam, teriakan kesakitan yang memilukan, dan raungan makhluk yang tidak terdengar seperti manusia, semuanya menyatu menjadi simfoni kematian yang mencekam. Dunia ini tidak sedang berperang; dunia ini sedang sekarat.
Arya mencoba memfokuskan pendengarannya, mencoba mencari tahu di mana ia berada sebenarnya. Ia teringat akan ring tinju, tentang kilau lampu sorot dan sorak-sorai penonton yang memuja kecepatannya. Namun, semua kejayaan itu kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh, tidak relevan dengan realitas berdarah yang sedang ia hadapi saat ini.
Tiba-tiba, pintu kayu besar di ujung aula berderit terbuka dengan kasar. Seorang prajurit muda masuk dengan napas tersengal, zirah peraknya penuh dengan noda darah yang masih segar. Wajahnya pucat pasi, dan matanya menunjukkan ketakutan yang amat sangat, seolah-olah ia baru saja melihat iblis keluar dari neraka.
“Mereka menembus garis pertahanan luar!” teriak prajurit itu, suaranya pecah karena panik. Ia tidak menunggu jawaban dari Henson, melainkan langsung berbalik dan berlari kembali ke kegelapan koridor, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan tadi.
Henson tidak tampak terkejut, namun rahangnya mengeras, menunjukkan ketegangan yang berusaha ia sembunyikan. Ia menatap Arya dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah campuran antara rasa bersalah dan tuntutan yang tak terucapkan. Arya bisa merasakan bahwa kehadirannya di sini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah jebakan takdir.
Kenapa Henson menatapnya penuh harap?
“Apa yang kamu inginkan dari tatapanmu itu, Henson? Ini hanya mimpi, aku tidak tahu tempat ini. Aku adalah seorang petinju yang sedang dikhinati dalam pertandingan. Seharusnya aku tidak di sini! Ini bukan tempatku!”
“Kamu adalah pahlawan yang dikirim dewa di tempat kehancuran ini, Arya. Kami akan mati jika kamu tidak menolong kami.”
“Aku tidak bisa melakukan ini, Henson. Aku bukan pahlawan dalam ceritamu,” geram Arya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lebih rendah dan lebih kasar dari biasanya. Ia mencoba bangkit kembali, kali ini dengan gigi yang terkatup rapat, menantang rasa sakit yang mencoba meruntuhkan pertahanan mentalnya.
“Kau tidak punya pilihan, Arya. Kecepatanmu... itu adalah satu-satunya hal yang bisa menembus kegelapan mereka,” balas Henson. Pria tua itu melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh Arya yang masih lemah. Di mata Henson, Arya bukan lagi seorang manusia, melainkan sebuah senjata yang harus segera diasah.
Arya merasakan amarah yang dingin mulai menjalar di dadanya, menggantikan rasa mual yang tadi mendominasi. Ia benci bagaimana orang-orang ini menatapnya, seolah-olah ia adalah alat yang bisa digunakan untuk memperbaiki dunia yang sudah hancur ini. Namun, di balik amarah itu, ada rasa takut yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.
Ini adalah medan perang bukan dalam arti perang dalam sebuah film. Setelah melihat banyak prajurit terluka dan penuh darah. Arya baru menyadari, dirinya bukan lagi bermimpi. Dia benar – benar sudah berpindah dimensi dan berada di tempat perang yang bisa membunuhnya kapan saja.
Ia memaksakan dirinya untuk berdiri, meski kakinya gemetar hebat seperti daun yang tertiup angin kencang. Setiap inci ototnya memprotes, namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Ia harus tahu apa yang sedang terjadi, apa yang telah dibawa oleh kegelapan ini ke tanah yang ia pijak sekarang.
Henson kemudian melangkah menuju sebuah jendela tinggi yang terletak di bagian atas dinding aula, memberikan isyarat agar Arya mengikutinya. Dengan sisa tenaga yang ada, Arya menyeret langkahnya, mencoba mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menjadi-jadi seiring dengan semakin dekatnya ia ke sumber suara kekacauan tersebut.
Di depannya, terlihat perang dan kematian yang penuh dengan teriakan menyayat.
Ini medang perang!