Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan
3. Apakah ini Akhir Petualanganku?
Lantai kamar mandi yang membeku terasa seperti lidah es yang menjilat kulit Arya saat tubuhnya merosot jatuh. Ia berlutut dengan napas yang tersengal, mencoba mencari tumpuan pada dinding keramik yang licin dan dingin. Setiap inci ototnya bergetar hebat, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena kehancuran yang baru saja merobek jiwanya.
Rasa mual itu datang lagi, lebih tajam dari sebelumnya, menghantam ulu hati dengan kekuatan yang melumpuhkan. Ia membungkuk, memuntahkan cairan bening yang bercampur dengan rasa pahit yang tak tertahankan. Namun, ada sesuatu yang salah; yang keluar dari tenggorokannya bukan sekadar isi lambung, melainkan gumpalan kegelapan yang pekat dan kental.
Kegelapan itu seolah memiliki nyawanya sendiri, merayap di antara sela-sela jarinya yang gemetar sebelum akhirnya lenyap ditelan lantai. Arya terengah, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Ia mencoba menghirup oksigen, tetapi paru-parunya terasa seperti diisi oleh debu kering yang menyesakkan.
Pandangannya mulai berputar, menciptakan ilusi optik yang mengerikan di dalam ruangan sempit itu. Garis-garis putih pada keramik lantai seolah mencair, meliuk-liuk seperti ular yang mencoba melilit kakinya. Cahaya lampu neon di atas kepalanya berkedip tidak stabil, mengirimkan denyut rasa sakit langsung ke pusat otaknya.
Ia mencoba memejamkan mata, berharap kegilaan ini segera berakhir, namun kegelapan di balik kelopak matanya justru terasa lebih nyata. Dunia di sekitarnya seakan kehilangan bentuk dan substansi, menyisakan kekosongan yang menakutkan. Ia merasa seperti sedang tenggelam di tengah lautan tinta yang tak berujung.
Rasa sakit yang tadinya tajam dan menusuk-nusuk, perlahan berubah menjadi tekanan gravitasi yang luar biasa berat. Seolah-olah seluruh beban dunia kini bertumpu tepat di atas pundaknya yang ringkih. Ia tidak bisa lagi sekadar berlutut; ia merasa sedang ditarik paksa ke bawah oleh kekuatan yang tak kasat mata.
"Hentikan... kumohon, hentikan," bisiknya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing, serak dan penuh dengan keputusasaan yang mendalam. Tidak ada jawaban, hanya suara tetesan air dari keran yang bocor yang terdengar seperti dentuman palu di telinganya.
Ruang kamar mandi itu mulai terasa menyempit, dinding-dindingnya seolah bergerak maju untuk menghimpitnya. Arya mencoba merangkak mundur, namun lantai di bawahnya tidak lagi terasa padat. Ia merasa seolah-olah sedang melayang di atas lubang tak berdasar yang baru saja terbuka di tengah ruangan.
Sensasi jatuh itu dimulai, sebuah tarikan hebat yang merenggut kesadarannya dari realitas yang ia kenal. Ia merasa tubuhnya ditarik melewati sebuah lorong sempit yang penuh dengan tekanan udara yang ekstrem. Kecepatan yang biasanya menjadi kekuatannya kini justru menjadi musuh yang menghancurkan seluruh koordinasi tubuhnya.
Segala memori tentang kejayaan di atas ring, sorak-sorai penonton, dan kilau medali emas, semuanya tersedot masuk ke dalam pusaran kehampaan ini. Pengkhianatan yang ia terima terasa seperti luka fisik yang terus menganga, mengeluarkan darah hitam yang menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya.
Ia mencoba menggapai sesuatu, apa pun itu, untuk menahan dirinya agar tidak terus terperosok. Jemarinya mencakar lantai yang kini terasa seperti kabut dingin yang tidak bisa digenggam. Tidak ada pegangan, tidak ada kepastian, hanya ada tarikan konstan yang menariknya menjauh dari dunia manusia.
Tidak! Aku belum mau mati! Aku tidak mau mati! Tidak mungkin ini adalah sebuah takdir di mana nyawanya akan direnggut. Dia masih terlalu muda! Dia tidak terima!
Arya berusaha keras memegangi apapun yang bisa jadi pegangan. Sayangnya, tidak ada yang bisa menjadi penghalang agar dirinya tidak disedot ke dalam jurang mengerikan!
Dalam kegelapan yang absolut itu, Arya merasakan kesunyian yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melemah. Setiap denyutan terasa seperti langkah kaki menuju kematian. Ia merasa dirinya sedang terlepas dari jalinan takdir yang selama ini ia perjuangkan dengan darah dan keringat.
Kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri adalah ketakutan terbesar yang pernah ia rasakan. Sebagai seorang juara, ia terbiasa menguasai setiap gerakan, setiap napas, dan setiap detik dalam pertarungan. Kini, ia hanyalah seonggok daging yang pasrah pada arus takdir yang gelap dan tidak terduga.
Dunia yang baru saja mengkhianatinya, dunia yang ia bangun dengan kerja keras dan integritas, kini terasa seperti mimpi buruk yang memuakkan. Ia merasa seolah-olah seluruh eksistensinya hanyalah sebuah lelucon pahit yang sedang ditertawakan oleh semesta yang kejam dan tak peduli.
Tarikan itu semakin kuat, semakin cepat, hingga ia tidak lagi bisa membedakan antara rasa sakit dan ketiadaan. Ia merasa sedang melintasi batas antara hidup dan mati, sebuah ambang pintu yang tidak pernah ia duga akan ia lalui. Kesadarannya mulai memudar, meninggalkan sisa-sisa ego yang hancur.
Apakah ini akhirnya? Apakah ini yang disebut dengan kematian?
Sesaat sebelum kegelapan total menelan seluruh indranya, ia merasakan sebuah hentakan hebat yang melempar jiwanya ke arah yang tidak diketahui. Ia tidak lagi merasa jatuh, melainkan merasa sedang meluncur melewati ruang hampa yang dingin dan tak bertepi. Segala sesuatu tentang dirinya terasa hancur berkeping-keping.
Perlahan, sensasi dingin yang menusuk mulai berganti dengan aroma yang asing dan menyesakkan. Ia merasa tubuhnya mulai menyentuh sesuatu yang padat, namun bukan keramik yang keras, melainkan permukaan yang kasar dan lembap. Napasnya kembali memburu, mencoba mencari pegangan di tengah ketidakpastian yang mencekam.
Sepertinya … aku sudah dipindahkan dengan magis! Arya melongo, apakah hal seperti itu mungkin?