Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kesempatan terakhir
Siang itu, Qale duduk di kursi belakang mobil bersama Bakar, wajahnya tegang tapi berusaha tenang.
Mobil melaju menuju lapas dengan rute memutar, seakan mereka sedang menghindari sorot mata siapapun yang mungkin mengikuti.
“Waktu kunjungan terbatas,” ucap Bakar pelan.
Qale mengangguk, jemarinya menggenggam tas kecil berisi beberapa berkas. Hatinya berdegup keras. Ia tahu apa yang dilakukannya ini berisiko, apalagi tanpa sepengetahuan Wafa. Tapi ia harus bertemu langsung dengan Danisha untuk memastikan sesuatu.
Dirinya tak tahu jika Hasan juga baru saja dari Lapas. Mobil mereka berbeda arah.
Saat akhirnya masuk ruang kunjungan, Qale menatap Danisha. Wajah pucat itu menyimpan resah. Begitu Qale duduk, keheningan menyelimuti mereka.
“Ngapain kamu ke sini?” suara Danisha serak, matanya melirik kanan-kiri.
“Apakah sudah ketemu dengan Lea.” Qale mencondongkan tubuhnya, tatapannya menusuk. “Kamu tahu dia hanya akan menyeretmu makin jauh. Jauhi dia, Danisha. Selamatkan dirimu selagi bisa,” bisiknya pelan.
Danisha menggigit bibir. Sebutir air mata menggenang di pelupuk matanya. “Lea siapa? Lagian tau apa kamu, jangan sok peduli.”
Qale tersenyum, dia menegaskan, “Aku tau yang kamu tak tahu. Kakakku gila.”
Kata “gila” membuat Danisha tercekat. Sesaat wajahnya luluh, tapi segera ia menunduk, meremas jemarinya sendiri. Hasan juga menyebut Lea gila.
Waktu kunjungan hampir habis. Sebelum Qale bangkit, dia menatapnya sekali lagi. Lalu menyerahkan potongan video soal fitnah croissantnya pada Danisha.
Danisha terdiam. Meskipun itu bukan video pengakuan, tapi cukup membuat Danisha berpikir bahwa Qale tidak mudah goyah dengan permainan seperti ini.
“Aku nggak akan berhenti ngarep kamu berubah. Tapi ingat, kalau kamu terus bareng Lea … kamu yang akan hancur duluan.”
Qale lalu memberi isyarat untuk pergi ke Bakar. Seorang sipir memperhatikannya dengan tatapan tajam. Mereka pun gegas keluar.
Menjelang petang.
Wafa pulang dengan wajah riang. Tapi tatapannya langsung menangkap Qale yang duduk di sofa, terlihat lelah.
“Habis pergi sama Bakar lagi, Sya?” suara Wafa terdengar curiga membuat Qale terkejut.
Qale tersenyum menutupi kegugupannya. “Cuma keluar sebentar.”
“Kenapa selalu pergi sama dia?” Nada Wafa setengah bercanda. Ia mendekat, meraih tangan Qale. “Aku nggak suka, Sayang. Mulai sekarang … kamu kalau pergi-pergi kudu sama aku.”
Qale ingin menjawab, tapi Wafa sudah memeluknya erat, menempelkan keningnya ke dada Qale. “Pokoknya kamu punyanya aku," ucapnya pelan.
Qalesya mengusap lembut rambut suaminya. Wafa lalu menatap wajah istrinya. "Apa harus dibikin lemas saban malam ya biar kamu di kamar seharian nunggu aku pulang," kekeh Wafa, dihadiahi cubitan oleh Qale.
Malam itu, kamar Qale kembali jadi saksi. Wafa benar-benar mengurungnya, tak memberi kesempatan keluar sampai pagi. Tubuh Qale yang masih lelah nyaris tak berdaya, tapi ia hanya bisa pasrah pada kelembutan posesif Wafa.
Keesokan harinya
Winda mengetuk pintu kamar Qale, membawakan sup ayam. Begitu pintu terbuka, ia melihat menantunya dengan wajah pucat dan langkah berat. Rambut Qale masih basah, aroma sampo samar tercium.
“Ya ampun … kamu tiap hari kayak orang baru pulang perang.” Winda meletakkan mangkuk di meja. Tatapannya penuh curiga. "Wafa keterlaluan?" tanyanya cemas melihat kondisi fisik sang menantu yang tampak kelelahan.
"Ya gitu deh, Maa," jawab Qale malu-malu.
Winda menggeleng, dia menarik Qale duduk di sofa lalu memintanya makan.
“Kamu sama Bakar sering pergi ke mana sih belakangan ini?”
Qale terdiam. Matanya bergerak gelisah.
“Ayo cerita sama Mama. Kamu pikir Mama nggak tahu kamu sembunyiin sesuatu?” desak Winda lembut.
Akhirnya Qale menarik napas panjang. Ia menatap mertuanya dengan sorot mata lembut, berharap Winda paham kegelisahannya.
"Aku memang pergi sama Bakar. Tapi tolong … jangan bilang Kak Wafa. Aku ke lapas. Aku ketemu Danisha.”
Winda terkejut. “Apa? Kamu—”
Qale buru-buru menempelkan telunjuk di bibir, meminta diam. “Aku nggak mau Kak Wafa tahu. Dia pasti panik … dan makin protektif. Biarkan aku yang urus soal fitnah itu, Ma. Tolong simpan rahasia ini.”
Winda tertegun, antara ingin melindungi menantunya atau menjaga rahasia yang bisa membahayakan. Tatapannya jatuh pada wajah Qale yang begitu serius.
Qalesya juga menyampaikan bahwa dia ingin menemui ibu Danisha. Tidak mencari keributan melainkan meminta bantuan untuk meyakinkan Danisha agar menjauhi Lea.
Winda mengerti. Dia lalu bilang ingin ikut tapi Qale berkata bahwa dirinya ingin mencoba menyelesaikan masalah ini dengan cara damai.
Setelah makan siang.
Berbekal restu Winda, langkah Qale ringan ketika sampai di rumah mewah milik ibu Danisha. Ia datang bukan untuk menantang, melainkan berbicara.
Ibu Danisha muncul dengan wajah letih. Ada lingkaran hitam di matanya, sorot yang dulu mungkin pernah bangga pada putrinya, kini tertutup kabut kekhawatiran.
“Kamu?” tanyanya heran.
“Boleh saya masuk, Bu?”
Tak ada jawaban panjang. Ibu itu bergeser, mempersilakan.
Di ruang tamu yang penuh foto-foto lama, Qale duduk. Tangannya meletakkan sebuah map berisi bukti-bukti. Ia menatap lurus wanita paruh baya di hadapannya.
“Saya datang bukan untuk mempermalukan Anda. Tapi untuk menegaskan bahwa ini … kesempatan terakhir untuk Danisha,” tutur Qale pelan.
Ibu Danisha mengernyit. “Maksudmu?”
Qalesya membuka map, memperlihatkan foto orang suruhan yang sudah ditangkap anak buah Bakar, serta kronologi singkat tentang fitnah croissant, penukaran, sampai penyebaran berita palsu.
“Semuanya sudah jelas. Kami bisa membawa ini ke media kapan saja. Kalau itu terjadi, habislah nama Danisha. Bukan hanya di sini, bahkan di mana pun ia mencoba berkarya.” Kali ini, kalimat Qale tegas.
Hening menyelimuti ruangan. Ibu Danisha memandang foto-foto itu dengan bibir bergetar. Tak pernah ia duga Qale dan timnya bergerak secepat itu.
Tak lama, Qalesya lalu berdiri, merapikan tasnya.
“Saya tidak mau melihat ibu ikut menanggung malu lebih jauh. Katakan pada Danisha: berhenti. Taubatlah. Ini peringatan terakhir," pungkasnya lembut, dengan senyum tipis.
Qale menunduk sopan, lalu melangkah pergi. Ia tahu, sekeras apa pun, ancaman dan kebaikan tidak selalu menumbuhkan perubahan. Dia mencoba cara lembut untuk menggugah hati mereka.
Harinya terasa lelah. Qalesya tertidur di kursi belakang saat driver melajukan mobilnya pelan menuju rumah.
Tanpa Qalesya tahu, Winda diam-diam menemui Danisha langsung di lapas. Ruangan dengan meja panjang dan kursi besi itu masih menguarkan aroma pengap yang khas.
Danisha datang dengan wajah dingin, namun matanya menyiratkan keterkejutan.
“Mama?” suaranya datar.
Winda menatapnya lembut, suaranya tenang dengan senyum di bibirnya.
“Aku datang untuk menyampaikan sesuatu. Nisha."
Danisha duduk berhadapan. Kedua tangannya dia letakkan di atas meja. "Apa?"
Winda menarik jemarinya, menggenggam erat.
"Ingatlah siapa dirimu dulu, Danisha. Kau pernah berdiri anggun, sehat, bahagia, berkelas. Sekarang? Kau jatuh pada intrik murahan. Foto AI, fitnah keji. Itu bukan levelmu.” Winda masih memandangi wajah ayu yang dulu sangat terawat, kini lusuh bagai baju mode lama.
Danisha terdiam, jemari tangan ingin ditariknya tapi Winda menahannya.
“Jadilah perempuan mahal, Danisha. Yang tidak butuh cara kotor untuk naik ... Wafa sudah memilih Qale. Kau tahu artinya?" tutur Winda, masih dengan nada pelan.
Danisha menggeleng. "Tidak."
"Biarkan semesta yang memilihkan pria yang tepat untukmu nanti. Jangan lagi mengganggu mereka.”
Keheningan semakin berat.
“Kau tahu apa yang terjadi kalau Qale benar-benar menyerahkan video semua kebusukanmu ini ke hukum?” lanjut Winda. “Hukumanmu bisa lebih panjang. Dan bagaimana dengan ibumu? Apa kau tega melihatnya semakin terpuruk?”
Kali ini sorot mata Danisha bergetar. Ia diam, tak mampu membalas. Di balik ketegaran pura-pura, jelas terlihat galau yang menjeratnya.
Winda menatapnya sekali lagi, lalu berdiri.
“Pikirkan baik-baik. Ini kesempatan terakhir.”
Winda menepuk punggung tangan Danisha. Lalu bangkit melangkah keluar lapas dengan hati lega. Sementara Danisha diam memandangi ruangan kosong dengan rasa hampa.
.
.