Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Fitnah Anak Lipat

"Nggak ada apa-apa. Bawain makan siang ya, Sya." Wafa mengusap lembut pipi Qale sebelum pergi.

Dia mulai menampilkan diri tanpa kursi rodanya hari ini. Mungkin itulah yang ingin direksi ketahui sehingga meminta Wafa ke kantor.

Hari ini, Qale hanya ada satu mata kuliah. jam 10 dia kembali ke toko, bersemangat menyiapkan menu makan siang untuk suaminya. 

Dewi menjemputnya dan dia langsung pergi ke kantor. Menggunakan lajur khusus, akhirnya Qale tiba di ruangan Wafa.

Suaminya belum ada di sana ketika dia masuk. Qale melihat sekeliling, cat putih hitam menjadi penegas kewibawaan suaminya. Foto pernikahan terbaru bertengger cantik di sudut kiri meja. Bahkan miniatur croissant ada di sana.

Qale tersenyum. Aksesoris meja suaminya didominasi warna coklat keemasan croissant. Beberapa alat tulis malah berwarna ungu, kesukaannya. 

"Nggak malu apa ya?" gumam Qale, menahan senyum.

"Bangga dong, Sayang." Wafa membuka pintu, tersenyum ke arahnya. Dia gegas mendekati Qale, menggamit pinggang lalu mengecup pipinya. "Sudah lama?" 

Qale menggeleng. "Baru aja. Makan siangnya terlambat," balasnya merapikan dasi Wafa.

Wafa menarik istrinya duduk di sofa, membuka bekal yang dibawa Qale. 

"Masalah apa, Kak?" 

"Aku mengkonfirmasi kalau sudah bisa jalan sejak kamu diculik," jawab Wafa saat Qale mulai menyuapinya.

"Lalu?" 

"Direksi kaget aja. Kok nggak bilang, kata mereka aku jangan terlalu ikut campur urusanmu," lanjutnya lagi. 

"Ya bener dong," timpal Qale.

"Maksudnya nggak boleh tampil langsung, Sya," jelas Wafa. "Kalau dibalik layar ya tetep lah," sambungnya sambil terus menikmati suapan demi suapan.

Wafa mengatakan agar Qale jangan salah paham. Dia tetap tanggung jawabnya. Hanya saja, perusahaan kuatir jika rumitnya masa lalu Qalesya membuat Wafa terjebak di situasi yang merugikan perusahaan.

Qale paham. Dia pun langsung pamit kembali ke toko sebab jam kursus dimajukan. 

***

Beberapa hari setelah putusan sidang banding.

Sebuah komunitas sosial tentang anak jalanan dan kurang mampu, datang ke Anak lipat. 

Mereka bertemu Qale langsung dan memesan ratusan croissant. Ini adalah pesanan besar kesekian kali sejak Anak Lipat berdiri.

Qale antusias menyiapkan semua pesanan mereka. Keesokan harinya bahkan Qale sukarela memberikan bonus Croissant sebanyak 100 buah.

"Anggap saja sebagai ungkapan rasa terima kasih untuk semangat mereka." 

Momen penyerahan itu direkam jelas oleh Nadia juga sie dokumentasi komunitas itu.

Setelahnya, pesanan pun meluncur ke lokasi. Seharusnya ini jadi kabar baik. Namun, sehari kemudian, media lokal ramai memberitakan.

[“Puluhan anggota komunitas keracunan makanan, croissant basi jadi penyebab.”]

["Anak-anak dilarikan ke klinik, 13 kritis. Keracunan croissant gratis Anak Lipat."]

Kabar miring mulai menyeruak. Media sosial Anak Lipat diserbu fitnah yang disebar rapi. Nama Qale langsung diseret. Bahkan ada komentar anonim menyebut : “Si menantu Ambrasta, tak bisa mengurus toko, malah mencoreng nama perusahaan besar.”

Nadia berusaha mengkonfirmasi bahwa mereka akan menyelidiki kasus ini. Dia juga menghubungi Qale dan meminta mengecek semua sisa bahan yang digunakan untuk membuat pesana komunitas itu.

"Semua masih bagus. Kalau keracunan, semua pembeli kemarin juga harusnya mengalami gejala serupa," kata Qale pada Nadia.

Toko terpaksa tutup. Ria pun ikut sibuk meladeni chat pelanggan yang meminta penjelasan.

"Aku rekam ya, lalu posting. Tapi Mbak Qale harus tegas bahwa akan mengusut kasus ini sampai selesai," pinta Nadia saat akan merekam video Qale.

Qale mengangguk. Ponselnya dia heningkan. Dia harus berpikir jernih tanpa melibatkan Wafa terlalu jauh. Apalagi setelah suaminya ditekan direksi.

"Ujian apalagi ini?" lirih Qale saat Nadia selesai mengunggah video barusan.

Qale lalu berdiri di depan etalase. Tak ada pelanggan. Di tangannya, ponsel bergetar tak henti-henti, notifikasi komentar yang menyudutkan.

“Semua ini palsu … aku tahu kuenya nggak basi,” gumamnya, suara Qale mulai serak.

Beberapa jam setelah diunggah, kolom komentar dipenuhi sanggahan, dukungan, dan tak sedikit cibiran bahwa videonya manipulatif.

Nadia mengecek link yang dibagikan beberapa netizen. Ketika membukanya, mereka terkejut. Itu video berisi sebuah pernyataan pengakuan kelalaian Qalesya.

"Lah, kapan aku bilang gitu?" kata Qale heran. Mereka saling pandang.

Ria ikut bertanya, "Nggak ada kan ya?" 

"Ulah siapa?" sambar Nadia, mulai mencari sumber awal link video palsu berasal.

Para wanita di toko sedang sibuk investigasi sendiri. Tiba-tiba Bakar datang tergesa. Rupanya berita ini sudah sampai ke Wafa.

Qale mengecek ponselnya. Banyak sekali panggilan dari sang suami tapi dia tak menjawabnya sebab ponselnya mode senyap. Pantas saja Bakar muncul, pikir Qale.

“Nyah, saya cek lagi. Croissant yang dikirim itu asli buatan sini, tapi yang dibagiin di acara komunitas bukan punya toko kita. Ada yang sengaja tukar paket!” Bakar langsung bicara.

Qale terbelalak. “Jadi … mereka sengaja?”

Bakar mengangguk. “Iya. Dan lihat ini.” Ia menunjukkan tangkapan layar. Rekaman suara, mirip sekali dengan suara Qale. ‘Aku lalai, mungkin adonan kemarin belum matang sempurna…’

Qale menutup mulutnya dengan tangan. “Itu… bukan aku.”

Bakar mengernyit. “Jika demikian, mungkin ini deepfake audio. Saya bisa buktikan, tapi butuh waktu,” jawab Bakar.

"Kita lagi nyari itu juga, Pak," ucap Nadia yang sedari tadi masih gencar memecahkan teka-teki.

"Saya ke sini buat mastiin itu, sih. Bos bilang, kalau memang buatan Anda, ya kita kena masalah," beber Bakar. Dia pun mencatat beberapa keterangan Qale lalu pergi lagi.

***

Sementara itu.

Wafa dipanggil rapat darurat. Ruangan penuh direksi. Beberapa wajah sepuh menatap dingin.

Nama perusahaan tercemar. Publik bilang istri Wafa penyebabnya. Mereka meminta Wafa mundur sementara.

Suasana kaku. Wafa mengetuk pulpen di atas meja. “Saya tidak akan mundur. Tudingan itu fitnah, dan saya akan buktikan. Tapi jangan ragukan komitmen soal perusahaan ini,” tegasnya berdiri dan melenggang pergi keluar ruangan.

Ada yang mendengus, ada pula yang terdiam. Para direksi mulai gelisah, sebagian bahkan terang-terangan meminta Wafa menegur istrinya sebab investor resah.

Wafa menggenggam tangannya di atas meja. Menanti Bakar. Dia barusan membaca pesan Qale yang berisi permintaan maaf mengabaikan teleponnya. Juga, soal masalah ini.

"Aku akan pastikan ini diselesaikan.”

Namun dalam hati, ia tahu ini ulah pihak luar. Seseorang sengaja menyerang lewat toko Qale.

"Bos!" Bakar masuk ke ruangan.

Wafa langsung meminta Bakar menyelidiki seseorang. "Apakah direksi yang menekan barusan, ada hubungannya dengan Danisha, Elan atau Hasan?" 

Bakar terdiam. Dia mencatat beberapa poin. "Akan saya selidiki juga," ucapnya singkat.

Pernyataan Qale diserahkan ke Wafa. Dan keduanya berdiskusi panjang sampai jam pulang kantor.

***

Qale menyiapkan makan malam sederhana. Sup hangat, roti dan teh manis. Ia ingin Wafa sedikit lega sepulang kerja.

Namun Wafa hanya menatap meja makan sebentar, lalu duduk dengan lesu. “Aku nggak lapar.”

“Wafa…” suara Winda menegur lembut, “mama tahu kamu lelah. Tapi setidaknya makan sedikit.”

Wafa menatapnya, terdiam. Hening sejenak, hanya suara jam dinding terdengar.

Qale menatapnya dalam, lalu menyiapkan makanan ke pinggan suaminya. Suasana makan malam terasa hambar. Mereka sibuk dengan pikiran masingmasing.

Sebelum tidur, Qale memberanikan diri mendekati Wafa yang duduk di sofa kamar.

Malam itu akhirnya mereka bicara lama. Soal strategi melawan fitnah. Wafa kelelahan, dia akhirnya tertidur di kursi dengan laptop masih terbuka.

Qale menatap wajah suaminya yang damai, hatinya terenyuh. Perlahan ia memeluk Wafa, membiarkan dirinya lelap dalam dekapan itu.

"Kak, kenapa ya, kok aku gak bisa berhenti berburuk sangka pada Kak Lea?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!