Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Lea dan Danisha
"Aku ... Kalea." Dia menjabat tangan Danisha mantap.
Senyum Danisha terbit. Dia lalu menyilakan dia duduk. Danisha meminta penjelasan soal Wafa dan Qale darinya.
"Hanya seseorang yang aku kenal baik. Nggak penting tapi aku seneng aja liat dia susah," kekeh Lea.
Waktu besuk habis. Obrolan mereka belum tuntas. Tapi, Danisha bertanya soal sel Lea. Mereka sepakat bertemu lagi saat makan malam nanti.
Lea melenggang keluar lebih dulu. Dengan ekspresi dingin tapi langkahnya tegap.
Ibu Danisha memperingatkan soal wanita itu. Mewanti Danisha agar hati-hati. Dia sedang menunggu putusan banding. Jangan sampai kedekatan mereka membuat rencana bebas lebih awal terhalang.
"Tenang, Maa. Aku cuma mau manfaatin dia sebentar," ujarnya datar sambil berdiri.
Pengacaranya mengatakan mungkin lusa keputusan banding diumumkan. Danisha diminta menjaga sikap selama kurun waktu tersebut.
Beberapa menit setelahnya. Sudah tidak ada lagi penjenguk di ruangan itu.
***
Malam itu, rumah terasa begitu asing bagi Qalesya. Lampu kamar menyala redup, tapi bayangan di kepalanya jauh lebih kelam. Ia duduk di tepi ranjang dengan album foto yang masih terbungkus plastik. Miliknya, berisi momen manis saat ijab ulang di rumah sakit.
"Benarkah Tata menyembunyikan semua ini dariku?" batinnya.
Ia mengingat senyum sinis ibu Danisha, suara lirihnya yang penuh sindiran tajam. Juga tatapan Wafa yang mengatakan akan menjelaskan segalanya nanti.
Qale mencoba berbaring, menarik ujung selimutnya erat. Pandangannya lurus ke atas, mendengarkan isi otak yang berisik. Antara ingin percaya, dan menolak fakta.
Pintu kamar berderit. Wafa masuk, langkahnya pelan.
“Sya…” suaranya berat. “Dah bobok?" bisik Wafa saat duduk di tepi ranjang. "Aku mau jelasin semuanya,” tutur Wafa mencium bahu Qale.
Qale membuka matanya lalu duduk menjauhi Wafa. “Kenapa nggak dari dulu, Kak? Kenapa aku harus tahu dari orang lain? Dari ibu mantanmu?”
Nada suaranya pecah. “Aku kek orang bodoh," pungkas Qale.
Wafa menunduk, kedua tangannya meraih jemari istrinya. “Dulu, aku memang dekat dengan Danisha. Tapi nggak seperti yang disampaikan ibunya tadi," jelas Wafa memandangi wajah muram Qale.
Hening beberapa detik.
"Sayang ... Foto itu bukan asli, aku nggak merasa pernah melakukan itu semua."
"Kenapa nggak bilang gitu tadi?"
"Ya karena aku nggak punya bukti buat sangkal. Lagipula aku pengen dia kepancing sama permainannya sendiri," beber Wafa.
Wafa lalu memberikan contoh pada Qale bagaimana kemajuan teknologi bisa menciptakan foto persis seperti aslinya.
Dia juga memanggil Bakar, untuk meneliti satu foto yang sempat Wafa lihat di album tadi.
"Aku nggak sedang memanipulasimu, Sayang."
Qalesya terdiam, manik matanya menelisik ke dalam iris Wafa.
"Soal keguguran itu?"
Kali ini Wafa menghela napas. Itu akan membuka aib Danisha padahal dia menyimpannya rapat.
"Bukan anakku."
Qale mengernyit. "Kok?"
Wafa menggenggam erat tangan Qale. Dia menatap dalam bola mata istrinya itu.
"Aku mabuk, memang pernah mencumbunya tapi nggak sampe itu ... Sayang," cicit Wafa tertunduk malu.
Qale bingung. "Nggak sampe itu gimana?" tanyanya memiringkan kepalanya.
Wafa mendongak. Tersenyum tipis lalu berbisik, "Nggak sampe masuk dan keluar," jawabnya malu-malu.
Blush!
Qale merona, dia ikut menundukkan kepalanya. Teringat bagaimana malam pertama mereka yang berkesan.
Wafa sangat lembut, membuatnya lupa diri dan begitu rela memberikan miliknya yang dijaga baik-baik. Ada bahagia saat menunaikan kewajiban itu untuk suaminya.
Qale juga ingat bagaimana Wafa melepaskan sesuatu yang pernah menjadi embrio di rahimnya. Dia malu sendiri.
"Dih, omes. Senyum sendiri," kekeh Wafa, mencubit ujung hidung Qalesya.
"Iiihh! Aku masih marah," pungkas Qale beringsut membelakangi Wafa.
"Entah anak siapa, yang jelas Danisha mabuk berat. Aku ingat, karena tiba-tiba perutku mual dan buru-buru ke toilet meninggalkan Danisha."
"Makanya aku menolak, sebab nggak tahu anak siapa. Jika ada foto-foto intim, ya aku dijebak ... Aku sudah meminta Bakar menyelidiki ini dulu, cuma karena kurasa nggak penting ya gitu deh," beber Wafa panjang.
“Tidak penting?” Qale mendengus getir. “Bagimu mungkin tidak. Tapi bagiku… itu menghancurkan.”
Hening.
Wafa akhirnya berlutut di hadapan istrinya, matanya lurus menatap. “Aku memang salah nggak terbuka. Tapi percayalah, aku nggak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Syaaaaaa.”
Qale menoleh, tak sanggup menatap lebih lama. Ia hanya berbisik, “Aku butuh mikir.”
Wafa hanya menarik napas sambil mengangguk. Dia membiarkan Qale tidur menjauh darinya malam ini.
***
Suara besi bergesekan terdengar ketika Lea melangkah keluar dari bloknya, dikawal sipir yang sudah terbiasa dengan segala ulahnya. Tatapan perempuan itu dingin, namun senyumnya masih merasa punya kuasa, meski dunia luar sudah menjauh.
“Cuma sebentar, ya. Nggak boleh lama,” tegur sipir ketika Lea menyerahkan selembar uang sisa, untuk bisa meminjam ponselnya.
Lea mengangguk tanpa banyak cakap, lalu meminta sipir mengetik nomor ayahnya. Namun, tiga kali percobaan, nada sambung berakhir dengan suara mesin, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Alis Lea mengerut, rahangnya mengetat. “Apa-apaan sih ini…” gumamnya. Ia lalu meminta bantuan menekan nomor Mbak Mun.
“Mbak Mun!” suara Lea terdengar sengau menahan amarah. “Ayah mana? Kok nomornya nggak aktif?”
Di ujung telepon, terdengar suara gugup Mbak Mun. “Maaf, Non … Tuan besar pindah. Nomornya ganti. Saya … saya nggak bisa kasih tahu sekarang.”
Lea membeku sejenak, lalu nada suaranya meninggi. “APA?! Kamu pikir bisa sembunyiin Ayah dariku? Bawa uang ke sini, sekarang juga. Atau suruh Ayah besok datang, bawain semua kebutuhanku. Paham?!”
Terdengar helaan napas berat dari Mbak Mun. “Non … Tuan bilang, cuma bisa pulang kalau akhir pekan. Hari kerja nggak bisa diganggu.”
“Mun!!!” bentak Lea hingga sipir melirik kesal. “Kalau kamu nggak datang, dan biarin aku begini, sumpah … pas aku bebas nanti, kamu orang pertama yang ku cari! Jangan sampe nyesel!”
Sambungan terputus, tapi amarah Lea belum surut. Ia masih berdiri, dada naik turun, matanya merah menyala.
Dari sudut ruangan, Danisha menyaksikan semuanya. Ia baru saja selesai makan malam dan kini menatap Lea seperti hewan liar yang sebentar lagi bisa menerkam siapa saja.
“Heboh banget,” sindir Danisha datar, melangkah mendekat. “Ternyata kamu sekeras itu ke pembantu sendiri.”
Lea menoleh cepat, menatapnya dengan sorot yang masih menyala. Namun, senyum dingin kembali muncul di bibirnya. “Kalau aku nggak keras, aku yang diinjak. Dunia ini milik orang yang berani, bukan pengecut.”
Danisha hanya mengangkat alis, duduk di kursi dekat ranjang Lea. “Kalau memang seberani itu, kamu punya ide nggak buat pisahin Wafa sama istrinya?” suaranya rendah, penuh perhitungan.
Lea terdiam sejenak, menimbang. Lalu ia mendekat, menunduk agar ucapannya hanya terdengar oleh Danisha. “Punya. Tapi nggak gratis.”
“Kerja dulu baru bayar," balas Danisha cepat, nadanya tegas, menatap lurus.
Lea mendecak, senyum licik merayapi wajahnya. “Bayar dulu, baru aku kasih resep yang bikin rumah tangga mereka hancur. Jangan meragukan aku.”
Kedua perempuan itu beradu pandang, saling menggertak lewat sorot mata. Sunyi sesaat, hanya terdengar derap sepatu sipir di koridor.
Danisha akhirnya berdiri, merapikan bajunya, lalu melenggang pergi tanpa menoleh lagi. “Besok kita lihat. Kalau kamu memang punya sesuatu yang berharga, buktikan dulu.”
“Heh!” Lea menahan geram, tapi ia tahu meluapkan emosi sekarang hanya membuatnya kalah. Ia mengepalkan tangan, menelan harga diri bersama rasa kesal yang mencekik.
Saat bayangan Danisha hilang di balik pintu, Lea berbisik lirih dengan suara bergetar penuh dendam.
“Mau macam-macam denganku rupanya ."
.
.