Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Suara itu

Pagi itu, Qale duduk di dapur toko sendirian, hanya ditemani suara kipas angin yang menderu pelan. Uap kopi naik dari cangkir mungil di hadapannya, tapi dibiarkan dingin begitu saja. Matanya kosong menatap sisa croissant kemarin yang belum di kreasi ulang.

Semalam, Wafa sempat menatapnya lekat dan bertanya, [“Apa yang kamu lakukan kalau ingatanmu kembali utuh?”]

Dan Qale tak langsung menjawab ... karena takut. Takut kalau dia menemukan kenyataan bahwa semua luka, justru karena dirinya sendiri.

["Kalau aku ... sumber semuanya? Kalau aku pernah nyakitin orang yang paling aku sayang ... lalu lupa ini sebagai hukumannya?"]

Pikirannya masih berkelana.

Di depan toko, langit sudah mulai cerah, tapi dadanya tetap mendung.

Dia mengepalkan adonan terlalu keras—croissantnya gagal mengembang. Bentuknya keriput, seperti hatinya pagi ini.”

Karyawan barunya datang sambil membawa loyang kosong. “Kak, ini batch pertama habis....”

Dia berhenti melihat bentuk croissant Qale, yang baru keluar dari oven.

“Hmm ... bentuknya kek ... ketakutan gitu.”

Qale yang sedang kecewa dengan pekerjaannya, tertawa hambar. “Takut kenapa?”

"Takut sama kenyataan. Makanya bantet," kekehnya halus.

Deg. Qale tertegun, seperti dirinya.

Karyawan itu mendelik heran, merasa bersalah. “Eh, maaf, Kak ... biar berani ngembang, pake rasa saja.” Dia menunjuk hatinya.

Qalesya mengangguk, tersenyum tipis. Karyawan barunya seakan paham dengan apa yang dia rasakan.

Setelah toko dibuka dan pelanggan mulai datang, Qale memaksakan diri bekerja seperti biasa. Namun saat toko kembali sepi menjelang siang, ia melangkah ke kamar belakang. Menatap tumpukan buku, file, dokumen ... juga CD dari Wafa.

Tangannya berhenti saat menyentuh kembali CD yang semalam ia putar.

Dia mengambilnya, duduk bersila di lantai. Tangannya membalik kepingan itu pelan, ingin memastikan apakah ada petunjuk lebih.

Di bagian depan tertulis "Boleh lupa, asal jangan hilang rasa." (Bab 7)

Qale membalik pembungkus CD, tepat di bagian kanan bawah, matanya menangkap sesuatu. Dua kalimat kecil.

Satu :

["Pulanglah, bukan ke rumah, tapi dirimu."]

Qale tercenung. Bibirnya menggigil pelan. “Lho ... ini...”

Dia gegas membuka laci mejanya. Menarik kertas kecil yang dilipat rapi — yang diberikan kurir ojol beberapa waktu lalu.

Kalimatnya sama. Persis. [Pulanglah, bukan ke rumah, tapi dirimu."]

“...Wafa tahu dari mana kalimat ini?” bisik Qale, suaranya tercekat. “Apa ... dia tahu isi CD ini sebelum aku?”

Tangannya gemetar memegang dua benda dari waktu berbeda — tapi saling terhubung. Rasa di dadanya merambat. Ganjal. Nyeri samar. Tapi belum jelas.

Matanya lalu turun ke kalimat kedua : 

["Maafin aku."]

Tenggorokannya tercekat.

“Siapa yang minta maaf?”

“Aku ... atau... aku yang dimintai maaf?”

Dadanya sesak.

Malam ini, Qale memutuskan akan mendengarkan CD itu lagi. Tapi kali ini dari awal. Sampai akhir. Bahkan suara anak kecil yang kemarin ia matikan.

Petang pun akhirnya menjelang. Setelah salat Maghrib, Qale duduk bersandar di dinding, lampu toko telah dipadamkan, hanya satu lilin aroma terapi menyala di sudut ruangan.

Dia memasukkan CD itu ke pemutar. Bunyi mesin tua, seakan menggeram pelan.

Nada piano kembali terdengar. Lalu suara Wafa menyanyikan lagu "Bunda", kembali mengalun — sama seperti semalam. Tapi kali ini, Qale menutup mata, mencoba menerima setiap nada, kegetiran liriknya.

Setelah jeda panjang, suara anak kecil itu kembali.

Pelan. Gugup. Penuh tangis tertahan.

[“Ibu, jangan marah ya...”]

[“Aku cuma disuruh.”]

Deg.

Nafas Qale tercekat. Dia membuka matanya. 

“Disuruh?”

Dinding kamar seperti runtuh. Pemutar CD ini terasa dingin di tangan. Suara anak kecil itu bukan hanya nyanyian. Tapi ... sebuah permohonan.

Tangan Qale gemetar. Ingin mematikan CD itu lagi, tapi tidak jadi. Dia biarkan suara itu menembus masuk, mengaduk-aduk rasa yang selama ini membeku.

[“Maafin aku, Ibu....”] Suara anak kecil itu kian berat, seolah menyesal.

Qale menunduk. “Maafin aku juga, ya," bisiknya lirih.

Lalu, dari balik ingatannya yang masih buram, dia menggumam, "Kamu nyakitin siapa, Qalesya ... atau kamu yang disakitin?."

"Tuhan ... kalau aku emang lupa ... tolong kembalikan rasa itu.”

Air matanya jatuh satu. Selain karena takut. Perlahan-lahan ... dia mulai mengingat.

Qale menekuk lutut dan memeluknya. Dia seolah semakin dekat dengan semua yang membuatnya bingung. 

***

Keesokan harinya, toko tutup lebih cepat.

Qale mencari alamat terapi kedua. Kali ini, tempatnya lebih rapi — bangunan putih, halaman bersih, dan plang bertuliskan "Sumber Waras."

Saat masuk, dia disambut perempuan muda di resepsionis. “Selamat siang, mau bikin janji, Kak?”

Qale ragu. Jari-jarinya menggenggam map cokelat berisi salinan KTP dan secarik kertas kecil bertuliskan nama lengkapnya. Tulisan tangan sang ibu, yang diberikan Wafa sebelum menikah. 

Qalesya Namari Hasna.

“Apa saya pernah datang ke sini?” tanyanya pelan. “Saya nggak yakin, tapi ... rasanya seperti ... deja vu.”

Di dinding ruangan itu, masih menempel stiker bergambar pelangi. Catnya terasa sama. Separuh dari diri Qale membatin, seolah pernah duduk di sini. Lama. 

Petugas tadi mengatakan bahwa pernah ada nama yang mirip, tapi data pasien lama tidak dapat dibuka kecuali oleh konselornya. Admin pun berjanji akan menghubungi Qale. 

Qale setuju. Tubuhnya letih, lalu memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Saat baru saja masuk lewat belakang. Dia mendengar ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seseorang. 

"Dia ke sana? Ketemu, nggak?" ujar Hasan dengan nada pelan. "Kalau sampai ingat, entahlah harus bagaimana lagi." 

Qale mengernyit, seperti membicarakan dirinya. Dia penasaran, ingin mengucap salam, tapi malah melihat ART mereka sedang berdiri di balik tembok, menguping.

"Kasian Non Qale, andai dia ngerti, nggak bakal begini," gumamnya sambil berbalik. 

"Allahu Akbar!" Pekik si ART, terlonjak melihat Qale yang berdiri di belakangnya.

Qale menatap tajam wanita paruh baya itu. "Mbak tahu sesuatu, kan?" cecar Qale. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!