Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Moment Haru

Pandangannya jatuh pada Qale yang meringkuk di lantai. Wajahnya pucat, tubuhnya bergetar halus, dan celana di bagian bawah sudah ternodai cairan merah pekat.

“Sya…” suara Wafa tercekat. Ia berjongkok, meraih tubuh istrinya yang dingin dan lemas. “Ya Tuhan…” Dia menepuk pipi istrinya beberapa kali. Qale mulai hilang kesadaran.

“Sa—sakiiitt…” rintih Qale pelan, masih memejam, tangannya refleks menutupi perut. “Aku … ada yang keluar…”

Wafa membeku sesaat. Dunia seolah berhenti berputar ketika ia melihat noda darah itu semakin deras. Ia tahu betul apa artinya.

“Tidak … tidak … jangan bilang…” gumamnya parau. Dengan sekali gerakan, ia mengangkat Qale ke dalam gendongan. Tanpa tongkat, tanpa kursi roda. Semua kepura-puraan yang ia bangun selama ini runtuh.

Langkahnya mantap, cepat, meski dadanya seperti dirobek dari dalam.

Di luar, beberapa anak buah Bakar sudah menunggu. Mereka terbelalak melihat Wafa berlari sambil menggendong istrinya.

“Bawa mobil!! SEKARANG!!!” bentak Wafa, matanya merah berkilat.

Deru mobil meraung, melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Qale semakin lemah, matanya terpejam.

“Kuat sedikit lagi, Sayang … tahan… aku ada di sini,” bisik Wafa, suaranya pecah.

Wajah Wafa pucat pasi, Bakar yang menemani di jok depan pun ikut gugup. Dia menepuk lengan anak buah yang menyetir sambil berteriak. 

Tak lama. Mereka tiba. Mobil belum berhenti tapi Bakar sudah membuka pintu. Dia memanggil suster jaga. 

Semua serba cepat. Qale didorong ke bangsal dan langsung ditangani. Noda darah mengotori celana Wafa tapi sedikit pun dia tak risih.

Wafa diminta menunggu di luar, agar nakes leluasa memeriksa Qale. Meski berat, dia pun menurut. Beberapa menit berlalu, Wafa berjalan mondar mandir, sesekali meraup wajahnya gugup.

Dokter keluar dengan wajah serius. “Pak, maaf … janinnya tidak bisa diselamatkan. Ini keguguran dini. Pendarahan terlalu banyak, dan kondisi pasien juga drop karena trauma fisik.”

Wafa terdiam. Tangannya meremas rambutnya sendiri, nafasnya berat. Sebutir air mata muncul disudut netranya, tanpa bisa ia tahan.

“Kami sudah hentikan pendarahan. Beliau butuh istirahat penuh. Mohon jangan biarkan pasien mengalami tekanan emosional berlebih,” tambah dokter sebelum pergi.

Wafa terduduk lemas, Bakar berdiri kaku, mengepal tangan di sisi tubuh. Tidak ada kalimat bagus yang bisa menenangkan Wafa saat ini.

"Bos?"

Tangan Wafa terangkat, "Siapkan saja, Kar. Aku pindah ke sini sementara," katanya lemah.

Bakar mengerti. Dia gegas pergi ke bagian administrasi. Menghubungi Winda juga meminta perlengkapan pasutri ini. Setelah itu, dia keluar dari rumah sakit. Menyelesaikan tugas lain yang belum selesai.

Jelang tengah malam. Di ruang rawat, Qale membuka mata. Tubuhnya masih lemah, selang infus menempel di tangannya. Ia meraba perutnya yang kini terasa aneh.

Dia menatap ceiling, tanpa suara.

“Sayang?” suara Wafa bergetar, cemas. Dia duduk di samping ranjang langsung meraih tangannya. Ia menunduk, menempelkan dahi ke punggung tangan Qale.

“Aku ... kenapa lagi?” Suaranya pecah, bergetar menahan tangis. “Nyusahin mulu ya.” Qale menutup mata. Wafa bangkit, menarik tubuhnya hati-hati, mendekapnya erat.

“Maaf ... nggak akan ada lagi yang berani sentuh kamu. Aku nggak akan tinggal diam lagi, Sya. Sumpah.”

Pelukan itu jadi satu-satunya kekuatan di tengah kehilangan besar yang baru saja mereka alami.

"Aku kenapa?" tanyanya lagi setelah pelukan mereka terurai.

Dengan berat hati, Wafa berkata, "Kita kehilangan adek, meskipun masih embrio." Wafa menatap dalam manik mata Qale.

"Adek?" ucapnya serak. "Aku?"

Wafa mengangguk. "Masih dini, tapi udah jadi, cuma sikon rahimmu baru pulih dan langsung dapat trauma jadi dia pergi," tutur Wafa pelan, nyaris tak terdengar.

Air mata Qale luruh. Tak menduga jika dirinya hamil. Pantas rasa sakitnya persis saat pendarahan dulu.

Qale terdiam lama. Dia tak menyalahkan siapapun. Hanya menyesal tidak peka sejak awal. Malam itu, ternyata Tuhan menitipkan sesuatu padanya. Apakah ini bagian dari petunjuknya agar mereka tetap bersama dan memperbaiki semua? 

"Bobok lagi, biar lekas pulih," sambung Wafa, mengusap pucuk kepala Qale lembut.

"Iya." 

Rasa lelah masih menyelimuti tubuhnya, tapi pikirannya dipenuhi tanya. Ia menoleh, mendapati Wafa duduk di kursi, menatapnya tanpa berkedip.

“Kak…” suara Qale parau. “Bisa jalan?”

Wafa terdiam. Tatapannya dalam, seolah menimbang waktu yang tepat. Akhirnya ia menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri. Langkahnya mantap, mendekati Qale.

“Iya. Sudah bisa jalan,” jawabnya pelan.

Mata Qale membesar. Ingatannya melayang pada saat kecelakaan—saat tubuhnya terkulai di aspal, dan samar-samar terasa hangat di gendongan seseorang. “Jadi… waktu itu… yang gendong aku ke mobil, ituuu?”

Wafa mengangguk sekali. “Iya. Itu aku. Aku nggak lumpuh total, Sya. Semua ini … pura-pura.”

Qale membuang napas, memejam, antara lega dan kecewa. “Kenapa? Kenapa kamu bohongi aku?”

Wafa duduk di tepi ranjang, menatap Qale serius.

“Karena aku harus melindungi kamu. Orang yang mensponsori Elan itu … teman Papa. Aku sudah bilang ke Mama, dan Mama yang akan bereskan. Tapi selama mereka masih mengintai, aku nggak bisa kasih tahu siapa pun soal kita. Bahkan soal pernikahan kita.”

Suara Wafa bergetar, namun tatapannya mantap.

“Aku takut … kalau jujur, justru kamu yang jadi sasaran. Dan lihat? Kekhawatiranku terbukti.”

"Harusnya bilang," cicit Qale. "Jadi aku ngerti," imbuhnya melirik kesal.

Wafa terkekeh. "Masa nggak peka? Malam itu kan harusnya jelas, kalau aku lumpuh mana bisa dahsyat kan?" ucapnya sambil mengerlingkan matanya genit.

"Isshh, mana sadar," balasnya membuang muka karena malu.

Wafa tertawa. "Bagus lah, menikmati banget keknya ya," sambarnya membuat Qale mencubit paha suaminya ini.

Qale menunduk, menahan gejolak di dadanya. Rasa sakit kehilangan bayinya bercampur perasaan lain yang sulit dijelaskan. Dia pernah menaruh curiga tapi diabaikannya.

Saat itu, pintu terbuka. Winda masuk, langkahnya masih pelan tapi sorot matanya hangat.

“Mama temani kamu, ya. Biar Wafa tidur dulu,” katanya lembut.

Qale tersenyum tipis. Kehadiran Winda membuat ruang itu terasa lebih teduh. Wafa pun beranjak ke sofa bed, mencoba tidur.

Keesokan pagi, setelah sarapan.

Wafa duduk di samping ranjang Qale. Ia menggenggam tangan istrinya erat. Winda ada di sisi lain, ikut mendengar. Hasan juga hadir, meski wajahnya masih terlihat lelah.

“Sayang…” suara Wafa lirih, tapi penuh tekad. “Aku ingin kita mulai lagi. Menikah ulang. Bukan karena keadaan … tapi karena aku sadar, aku butuh kamu.”

Qale menoleh, matanya menatap ragu.

“Aku akan belajar mencintai, menerimamu utuh. Bukan soal masa lalu, bukan lagi soal janji bodoh itu. Kamu sudah beri aku terlalu banyak, Sya.”

Qale masih diam.

Wafa menatap Qale lekat, kemudian melanjutkan dengan suara yang pecah.

“Perkara fisik … aku juga buta sebelah, dan kamu nggak pernah mempermasalahkannya. Aku sudah menemukan orang yang mencintaiku dengan tulus.”

Tangannya masih menggenggam tangan Qale, menempelkannya ke dadanya. Degup jantungnya berlari kencang.

“Qalesya Namari Hasna,” ucapnya pelan tapi jelas. “Maukah kamu menikah ulang denganku?”

Winda menutup mulutnya, sorot matanya berkaca-kaca. Hasan pun menunduk, tersentuh mendengar pengakuan Wafa yang tulus.

Qale mengatup bibir, ragu. Suaranya gemetar saat ia berkata, “Tapi … kita dulu pernah janji. Jangan jatuh cinta.”

Wafa tersenyum tipis, menatapnya tanpa keraguan. “Janji itu cuma alasan bodoh. Karena kenyataannya … aku jatuh cinta lebih dulu.”

Ia mendekat, suaranya hampir berbisik.

“Dan sekarang … aku nggak mau lagi menutupinya.”

Mata mereka bertemu, jujur dan tak lagi ada sekat.

"Gimana, mau, kan?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!