Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Penyekapan
“Jangan!!” suara Bakar pecah di udara, terlambat satu detik. Mobil hitam itu sudah melesat meninggalkan Bakar yang berlari dengan napas tercekik.
“Nyaaahh!!” Bakar berteriak histeris, sekujur tubuhnya bergetar menahan marah.
Bakar kembali ke mobil, langsung mengejar sendiri. Ia berusaha meminta bantuan, tapi kendaraan penculik sudah menghilang ke jalan raya.
“Kenapa lengah?!” Dia menoleh dengan mata penuh api, suaranya pecah. Terngiang suara Wafa di telinganya, jika bosnya tahu hal ini. [“Aku titip Qale padamu, Bakar! Kenapa bisa kecolongan begini?!”]
Bakar terdiam, mobilnya melaju pelan, wajahnya pucat. “Saya salah. Saya terlambat … Saya salah…” tangannya mengepal, rahangnya mengeras. “Tapi saya janji, saya bakal temukan Anda, hidup-hidup.”
Bakar lalu berkoordinasi dengan beberapa anak buahnya. Setelah itu, dia menghubungi Wafa.
Seperti dugaannya, suara Wafa menggema di ponsel. Dia sampai menjauhkan benda itu dari telinganya.
"Kamu dimana?" ucap Wafa setelah meluapkan amarah sesaat tadi.
"Satu kilo ke Utara kampus, Bos. Aku liat terakhir belok ke sini. Tapi ini pertigaan," jelasnya pelan, masih merasa bersalah.
Terdengar, Wafa menggebrak meja, tarikan napasnya berat. Tangannya meremat erat ponselnya. "Cari sampai ketemu!" suaranya pelan tapi terdengar dingin menusuk.
Bakar mengangguk. "Pasti, Bos!" jawabnya lalu menutup telepon.
Wafa lantas menggulir ponselnya ingin memberitahu Hasan dan Winda, tapi dia ragu.
"Nggak usah, aku cari dulu," katanya memanggil asprinya yang lain.
***
Di tempat lain, Qale berusaha mengatur napas. Kepalanya dipaksa menunduk, kedua tangannya diikat ke belakang. Bau karat dan bensin menusuk hidung. Suara pintu besi berat digeser, langkah kaki kasar menyeretnya masuk ke sebuah ruangan.
“Anak kecil sok berani,” suara seorang pria terdengar berat dan dingin. “Kamu pikir bisa sembunyi di balik nama Ambrasta? Semua ada harganya.”
Qale tersenyum tipis meski bibirnya kering. “Kalau kalian cuma mau uang, minta aja. Jangan banyak omong.”
Tamparan keras mendarat di pipinya. Kursi yang ia duduki hampir terguling.
“Bocah lancang! Ini bukan soal uang. Ini soal pesan. Kalau dia berani maju di sidang, kamu… nggak akan pulang.”
Qale mengatupkan mata, menahan sakit. Dalam hati ia berbisik, Kak … jangan takut. Aku kuat.
Di kantor, Wafa geram. “Dia sudah kehilangan banyak hal … sekarang mereka berani sentuh istriku?!” wajahnya merah padam.
Wafa lalu keluar kantor. Mengirim pesan pada Bakar agar mengumpulkan semua orang-orangnya.
"Kita kejar jejak mobil itu!”
Asprinya yang lain berkata, “Saya sudah minta CCTV kampus dicek, ada plat nomor yang terekam. Dari situ kita bisa lacak.”
Wafa mengangguk mantap. Dia ikut mencari istrinya dengan yang lain.
***
Di sisi lain, Qale berusaha mendengar di balik topeng kain yang menutup matanya. Suara dua orang berbisik tak jauh darinya.
“Bos bilang, jangan buru-buru. Anak ini kartu mati. Kalau Wafa melawan, kita eksekusi. Kalau dia nurut, kita pulangkan.”
“Tapi… bukannya rencana besarnya bukan cuma soal Wafa? Katanya ada yang lebih tinggi, yang mau hancurin keluarga itu sekalian?”
Qale menelan ludah. Hatinya berdegup kencang. Jadi ini bukan sekadar penculikan—ada bayangan yang jauh lebih gelap menunggu keluarganya.
Suara bentakan kasar menggema, lalu tubuh seseorang dilempar ke dalam ruangan.
Brug!
Qale terhuyung ke lantai, dan sesuatu menimpa tubuhnya. Ia terkejut saat menyadari itu suara perempuan ini mirip seseorang.
“Nadia?” bisiknya kaget.
Nadia meringis, napasnya memburu. Meski lemah, tangannya buru-buru meraih wajah Qale dan melepas penutup matanya. Ia juga membuka ikatan di tangan Qale.
“Cepat… bangun…” desisnya lirih.
Qale meraba, menahan sakit di pipinya yang masih perih bekas tamparan.
“Kamu kenapa? Apa yang mereka lakukan padamu?”
Nadia menunduk, suaranya serak dan getir.
“Aku… mereka bilang aku bakal dibunuh. Kalau Pak Wafa nggak mau cabut kasus, nggak mau minta maaf sama Danisha … maka kamu…” ia terhenti, air matanya jatuh. “…kamu bakal dipaksa melayani Elan.”
Qale terdiam. Kata-kata itu menohok jantungnya lebih keras dari tamparan apapun.
Nadia menatapnya, matanya penuh iba bercampur penyesalan.
“Elan… suka padamu, Qale. Itu alasan kenapa semua ini jadi begini. Aku dengar mereka bicara… semua ancaman ini, pancingan… tujuannya akhirnya kamu.”
Qale memejamkan mata, menahan gejolak di perut bagian bawah yang semakin nyeri. Tubuhnya meringis bukan karena luka di wajah, tapi karena rasa perih aneh yang menjalar dari dalam.
“Dia pasti datang…” gumamnya pelan, seolah menenangkan dirinya sendiri.
Nadia menggeleng cepat. “Jangan sok tau! Mereka bisa lakukan apa saja. Aku takut … aku benar-benar takut nggak akan balik hidup-hidup.”
Qale menelan ludah, mencoba menahan gemetar. Ia menggenggam tangan Nadia erat.
“Kita harus bertahan. Kak Wafa pasti datang. Aku yakin.”
Beberapa jam kemudian…
Pintu kembali berderit. Suara langkah sepatu berirama masuk.
Elan muncul, wajahnya tenang, senyum samar tersungging.
“Qale…” suaranya lembut, namun terasa menjijikkan di telinga Qale. “Ikut aku.”
Tangannya menarik paksa lengan Qale, membawanya ke sebuah kamar berbeda. Qalesya berontak, tapi kalah tenaga. Ruangan itu rapi, harum, bahkan indah—sama sekali berbeda dengan pengap ruang sebelumnya.
Namun keindahan itu justru membuat Qale merinding.
Elan mendorongnya ke ranjang.
“Aku sudah lama ingin begini,” bisiknya.
Qale melawan, menendang sekuat tenaga. Ia sempat kabur beberapa langkah, namun Elan lebih cepat menariknya kembali, menghantamkan tubuhnya ke lemari.
“Arghh!!” Qale berdesis keras. Sakit di perutnya makin tajam, hingga ia merasakan sesuatu yang hangat merembes dari area sensitifnya. “Sakit!!” teriaknya, tubuh pun ikut melemah.
Elan melihat itu, tapi justru tersenyum bengis. Ia menunduk, mencoba mencumbu Qale yang terkulai.
Namun tiba-tiba—
Brak!!
Pintu kamar ditendang keras hingga hampir copot.
“Bangsat!!” suara garang menggema.
Bug!!
Tinju mendarat telak di rahang Elan, membuatnya terlempar ke sisi ranjang.
Elan terperanjat. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi. Belum sempat ia berdiri tegak, kepalan tangan menghantam rahangnya dengan keras.
Bug!!
Elan terlempar ke sisi ranjang, menabrak meja kecil hingga vas bunga pecah berantakan. Darah segar langsung merembes dari sudut bibirnya.
Qale terisak, tubuhnya gemetar. Tangannya refleks menutupi perut yang masih perih, napasnya memburu. Ia menoleh samar, matanya buram oleh air mata dan sakit, mencoba melihat siapa yang menerobos masuk.
"Tata kan? Tata?" ejanya sudah tak kuat menahan sakit.
Elan berusaha bangkit, wajahnya memerah, namun sekali lagi kaki sosok itu menghantam dadanya.
Bug!!
Elan terbatuk keras, terkapar, kali ini tak berani melawan.
“Kalau berani sentuh dia lagi…” suara sosok itu rendah, serak, tapi penuh ancaman mematikan. “Kamu nggak akan bisa bangun besok pagi.”
Dia lalu menghampiri Qale yang terkulai lemas di lantai. Sesuatu terlihat membasahi celananya.
"Nggak ... Jangan, ya Tuhan."
.
.