Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Qale Hilang

Sunyi. 

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas di kamar mereka. Alih-alih menunggu jawaban Wafa, Qale memilih merebahkan diri, membelakangi Wafa, matanya terpejam tapi pikirannya berisik. Suara ayahnya dan jawaban setengah hati Wafa terus bergema di kepalanya.

Ia menarik napas panjang, menahan sesak di dadanya.

Di belakangnya, Wafa duduk diam dekat tepi ranjang. Tatapannya tertuju pada punggung Qale. Ia ingin bicara, tapi lidahnya terasa kelu. Tangannya terulur, tapi sebelum menyentuh, Qale bergeser menjauh.

“Aku capek.” Suaranya datar, dingin.

Wafa hanya mengangguk kecil, meski dalam hati ada kecewa yang hadir. Malam itu berlalu tanpa percakapan, penuh jarak yang tak terlihat tapi terasa menusuk.

Keesokan harinya, suasana rumah masih dingin. Qale fokus menemani ayahnya sarapan, sementara Wafa sibuk menelpon pengacara dan memeriksa perkembangan kasus.

Qale lalu menyempatkan diri berkirim pesan menanyakan kondisi Ria, memastikan toko kembali beroperasi.

“Karyawan baru akan datang hari ini, kan?" tanya Qale memastikan pada Ria.

"Iya, jam 10. Mbak Dewi kirim pesan ke aku," jawabnya singkat.

Qale mengangguk dan mengatakan akan ke sana sebelum kuliah siang. Dia pun kembali menuangkan teh untuk ayahnya. Ada perasaan aneh—antara kesal tapi ingin berterima kasih pada Wafa.

Saat Hasan kembali beristirahat di kamar, Qale dan Wafa sempat duduk berdua di ruang tengah. Suasana masih kaku.

“Sya …” Wafa membuka suara.

“Apa lagi?” Qale menoleh dengan sorot tajam.

“Aku tahu kamu marah. Tapi aku menolak permintaan Ayahmu itu karena aku … sayang.”

Qale mendengus, tersenyum miring. “Entah mengapa, aku sulit percaya.”

Wafa menghela napas, menatap dalam. “Aku sudah jatuh cinta.”

Qale terdiam. Kata-kata itu seharusnya membuat hatinya meleleh, tapi justru menimbulkan curiga yang lain. Ia takut itu hanya sekadar penghibur.

“Cinta, huh?” Qale berdiri, lalu meninggalkannya masuk ke kamar Hasan.

Siang harinya, kabar buruk datang lagi. Ketika Qale sedang mengobrol dengan gadis rekomendasi Dewi, Ria berbisik bahwa ada beberapa preman mondar-mandir di sekitar toko, membawa botol bir kosong. Mereka sengaja duduk di depan ruko seberang seolah menunggu sesuatu.

Ria panik, Nadia pun langsung masuk ke dapur. Rupanya dia juga merasakan ancaman yang sama.

“Kak … aku takut. Mereka kayak nunggu giliran buat bikin rusuh lagi,” suaranya bergetar saat membisiki Qale.

Qale berdiri cepat, hendak melihat dari dekat, tapi Wafa menghentikan.

“Diem di situ, Sya.”

“Ini urusanku, Kak,” lirih Qale, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak mau ketergantungan padamu yang bisa pergi kapan saja?”

Wafa menatapnya lama. Ada bara dalam matanya, tidak lagi main-main. Ia mendekat, memegang bahu Qale erat.

“Aku nggak akan pergi, Sya!"

Qale tertegun.

Namun belum sempat ia membalas, suara kaca pecah terdengar dari halaman. Brak! Mereka berdua serempak menoleh. Sebuah batu besar masuk menembus jendela ruang depan, terikat secarik kertas berisi tulisan besar:

[“BERHENTI ATAU KAMI BAKAR KALIAN SEKARANG!”]

Qale memungut batu itu lalu membuangnya. Dia sedikit demi sedikit bisa menekan rasa takutnya.

Dia lalu menoleh ke arah Ria. "Kalau takut, mereka kek punya kekuatan lebih buat ngancam kita," ujarnya tegas.

Ria mengangguk cepat. "Iya juga, Kak. Ok lah, kita abaikan. Nggak mungkin Pak Wafa diem aja," kekeh Ria diangguki Wafa yang tak jauh dari mereka.

Qale kembali duduk di hadapan calon karyawan barunya. "Masih minat kerja di sini?"

katanya setelah gadis itu melihat adanya ancaman.

Dia mengangguk, tersenyum tipis. "Tentu, Kak."

Qale menjulurkan tangan, dan disambut gadis itu. "Selamat datang, Rini," ujarnya manis.

Qale menyilakan Rini untuk langsung kerja. Mengenalkan pada Ria dan Dina, anak part-time yang dia rekrut untuk membantu Ria menyiapkan pesanan kampus.

“Mulai sekarang, aku nggak akan biarkan kamu jauh dariku.” Wafa lalu meminta Bakar menjemputnya di toko sebab Qale akan ke kampus.

***

Pesanan untuk kampus bertahap dikirim. Qale sempat was-was takut ada gangguan dari preman, tapi diam-diam Wafa sudah meminta Bakar dan beberapa anak buahnya untuk mengantisipasi setiap jalur pengiriman.

Dan benar saja, beberapa kali ada orang asing yang mondar-mandir, tapi tak satupun berhasil menyentuh pesanan.

Teror justru dialami Nadia. Ancaman pesan singkat, telepon gelap, bahkan bayangan orang yang mengikutinya di jalan. Namun gadis itu pasrah pasang badan. Toh Wafa sudah berjanji melindunginya, dan itu cukup membuatnya bertahan.

Sementara Rini, karyawan baru Qale, menunjukkan ketegasan yang tak disangka-sangka. Ia bahkan menginap di toko bersama Nadia. Adik Nadia sudah diamankan ke kampung halaman, dan Rini sendiri memasang sistem alarm sederhana di sekitaran teras toko.

“Kalau ada yang nekat lagi, kita minimal bisa dengar duluan,” katanya ringan pada Nadia.

Hasilnya, pesanan sampai dengan selamat selama sepekan. Untuk pertama kalinya setelah kekacauan itu, Qale bisa bernapas lebih lega. 

Konten lancar, Nadia juga terlihat lebih tenang, dan semua selamat. 

***

Sidang kasus pun akhirnya digelar.

Qale hadir bersama Wafa, wajahnya tenang meski jelas-jelas gugup. Ia berhadapan langsung dengan Elan dan Danisha di ruang pra sidang.

“Elan,” sapa Wafa dingin, tatapan menusuk.

Laki-laki itu tersenyum miring lalu menoleh pada Qale. “Kamu tambah cantik, Qale. Lebih berisi … dan aku suka itu.”

Qale terdiam, menahan rasa muak. Sebelum ia membalas, Wafa sudah menyela.

“Lucu ya, Elan. Sempat memuji padahal sampai sekarang masih kesulitan cari kerja. Nggak capek jadi … apa istilahnya … parasit? Atau lagi cari sasaran induk baru?” sindirnya dengan senyum menekan.

Danisha langsung menyambar. “Oh, bukannya kamu sendiri yang pelihara parasit, Faa? Mulai dari biaya pengobatan sampai kasus, semua kamu yang urusin. Apa imbalannya buatmu? Cinta? Atau sekadar teman tidur?”

Qale akhirnya angkat bicara, tatapannya dingin namun elegan. “Kalau aku dianggap parasit, maka yang disebut parasit itu hanya bisa hidup bila inangnya sehat."

Masih dengan tatapan tajam, Qale berkata, "Dan tahu apa bedanya parasit dengan inang yang ikhlas? Parasit mungkin menyerap, tapi inang yang memberi dengan sadar justru melengkapi ekosistemnya. Alam butuh keseimbangan, karena tanpa ‘beban’, pohon takkan belajar berdiri lebih kokoh.”

Wafa menoleh, tersenyum manis. Sementara Danisha terdiam, mukanya tambah kesal.

Qale menambahkan, “Aku baru tahu jika julid itu cabang ilmu bela diri. Pertahanan diri dari rasa tidak mampu memiliki sesuatu,” katanya lembut tapi menohok.

Suasana teras ruangan mendadak hening. Elan justru terkekeh kecil. Ia menepuk tangannya perlahan.

“Aku suka. Kamu berani melawan, Qale. Perempuan pemberani itu selalu punya daya tarik.”

Qale menegakkan punggungnya, menatap lurus. Matanya, yang kini sudah sedikit membaik, tak lagi sesipit dulu.

“Kenapa repot-repot terapi, Qale?” Elan kembali menimpali. “Ciri khasmu justru di situ. Tanpa itu, kamu … terlihat biasa saja. Dan aku bisa menerimanya kok,” imbuhnya tak pantang merayu.

Kali ini Qale menjawab dengan tenang, nyaris lembut. “Terapi itu untukku sendiri. Kalau cantikku terlihat, maka itu pahala untuk suamiku—karena ia mempercantik apa yang halal baginya. Aku tidak mencari pengakuan, hanya ingin menjalani hidup dengan sehat. Dan kalau Tuhan memberi jalan untuk sembuh, bukankah itu kuasa-Nya? Ciri khasku akan tetap ada, hanya kini levelnya berbeda.”

Kata-katanya menutup rapat mulut Elan. Wafa menarik lengannya masuk ke ruang sidang.

Pekan berikutnya, Qale tak lagi menanggapi rayuan Elan. Ia ingat peringatan Bakar, bahwa Elan memang menyimpan rasa padanya. Sempat terlintas di pikirannya: mungkinkah semua ini dilakukan Elan hanya karena itu?

Namun Qale memilih diam.

***

Dua pekan berlalu, dan situasi mulai terlihat normal. Hasan perlahan pulih, toko berjalan stabil, kasus di pengadilan pun hampir mencapai titik akhir.

Sampai hari sidang keputusan tiba. Semua data dan keterangan saksi lengkap. Tapi justru di hari itulah, kabar mengejutkan datang, Nadia menghilang.

Wafa masih sibuk di kantor mencari informasi lewat pengacara, sementara Qale menunggu jemputan di kantin kampus.

Ia duduk sendirian, mencoba mengabaikan kecemasan. Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi menghampirinya.

“Permisi, Mbak Qale?”

Qale menoleh curiga.

Pria itu mengeluarkan name tag, lalu menyodorkan sebuah pesan. Ada nama Bakar tercetak di layar ponsel, berisi perintah singkat. 

[“Ikut saja, aman. Saya yang kirim.”]

Qale menimbang. Ragu, tapi akhirnya berdiri.

Pria itu membukakan pintu mobil. Qale baru melangkah ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak keras dari arah belakang.

“Jangan!!”

Qale sontak menoleh.

Tapi terlambat.

Pria rapi itu mendorong tubuhnya

kasar masuk ke kursi belakang. Pintu langsung dibanting rapat, dan mesin mobil meraung kencang.

Dalam hitungan detik, Qale lenyap dari halaman kampus.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!