Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Pembalasan Qalesya

Suasana rumah masih menegang setelah amukan Hasan. Napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi, lalu tubuhnya limbung. Untung saja Qale sigap, bersama Mbak Mun menopang lengan lelaki itu sebelum terjerembab di lantai.

“Ayah!” seru Qale panik.

“Tuan! hati-hati, jangan dipaksakan,” Mbak Mun ikut berseru wajahnya tegang.

Dengan terburu, mereka memapah Hasan masuk ke kamar. Wafa ikut menyusul, kursi rodanya meluncur cepat, tatapannya penuh kecemasan. Hasan direbahkan di ranjang, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Qale masih menahan perasaan bercampur, marah, iba, sekaligus takut.

“Ayah, jangan maksain diri lagi. Aku bisa menyelesaikan semua masalahku sendiri,” ucap Qale, suaranya bergetar. “Gugatan Kak Wafa sudah masuk. Aku cuma ingin ayah fokus saja ke kesehatan ayah. Aku butuh ayah mendukungku.”

Hasan menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Namun bibirnya tetap menyusun pesan yang mengiris hati Qale.

“Kalau Wafa membuatmu jadi pilihan kedua … maka kembalilah ke pelukan ayah. Jangan biarkan dirimu terpuruk.”

Hasan menatap putrinya sendu, seolah sama merasakan kesepian.

Kata-kata itu membuat kamar ini terasa makin berat. Qale hanya mengangguk perlahan. Wafa di sampingnya terdiam. Entah karena hormat, atau memang tidak punya jawaban.

"Aku ngerti ... doain aku saja, Yah," ucap Qale pelan, mengusap lembut lengan Hasan yang terkulai.

Saat itu, seorang ART lain mengetuk pintu kamar Hasan, wajahnya cemas. “Non Qale, itu … tamunya masih di depan. Dia nggak mau pulang.”

Qale terdiam sebentar. Lalu berdiri.

“Aku harus hadapi dia. Demi masa depanku,” katanya lugas, melirik Wafa dan ayahnya.

Wafa menahan tangannya. “Nggak usah. Jangan sekarang.”

Tapi Qale menepis lembut. “Aku bisa, Kak.”

Ia melangkah tegap ke teras depan. Danisha masih berdiri di sana, wajahnya kusut, matanya sembab. Begitu melihat Qale, ia langsung memohon.

“Qale … ibuku shock, sekarang opname di rumah sakit. Semua ini gara-gara masalah kita.”

Qale menatapnya tajam, senyum tipis menyeringai di bibirnya. "Kita?" katanya sinis.

Danisha balik menatapnya, ingin mengatakan sesuatu tapi Qale lebih dulu bicara.

“Ibumu di opname? Kamu lihat ayahku? Apa nggak lebih parah dari ibumu itu?" Telunjuk Qale mengarah ke dalam. Ada kemarahan dalam sorot matanya. "Kalau aku nggak bisa hamil, kamu kira keluarga suamiku akan diam saja?”

Danisha tercekat, tatapannya masih sama, dingin meski ada jejak air mata di sana, tapi Qale tau itu tangisan palsu.

Qale maju lebih dekat, suaranya dingin.

“Kalau posisinya dibalik, kamu yang nggak bisa hamil. Lalu aku menawarkan diri pada Kak Wafa. Kamu mau?”

Danisha cepat-cepat menggeleng. Senyum sinisnya muncul. 

Qale menyeringai miring. “Tapi ... Aku nggak akan melakukan itu. Menawarkan diri, memohon, menggadaikan harga diri begitu? Kalau sudah dilepeh ya terima saja. Tapi kalau Kak Wafa mau menjilat lagi, nggak jijik sama ludahnya sendiri, silakan. Aku hibah gratis buatmu.”

Ia melipat tangan di dada. “Lagipula, kamu mikir nggak heh? keuntungan buatku apa? Aku bukan siapa-siapa. Kamu angkat aku dengan sukarela, makasih ya. Tokoku jadi rame terus.”

Danisha terdiam, wajahnya panas oleh malu dan amarah.

Sebelum pergi, Qale menambahkan, suaranya tajam menusuk, “Aku bukan gadis miskin, Danisha. Bukan miskin segalanya. Ingat itu.”

Ia berbalik melenggang masuk. Namun sebelum menutup pintu, Qale sempat menoleh, menancapkan kalimat terakhir seperti pisau.

“Tabur tuai itu nyata. Terima saja, biar jatuhmu nanti nggak terlalu sakit. Semoga ibumu lekas pulih. Ayahku nggak usah kamu doakan, doaku masih manjur sebagai anaknya.”

Pintu tertutup. Bruk!

Danisha mengepalkan tangan, tubuhnya bergetar menahan sakit hati. “Sombong minta ampun. Sok cantik … lihat saja nanti apa yang akan hilang darimu, Qale…” geramnya sebelum pergi.

Qale berdiri sejenak, menyandar di panel pintu. Dia memejam, memegangi dadanya, tak percaya kalau bisa menghadapi Danisha seperti tadi.

"Huf, kekuatan darimana, Lesa," kekehnya lirih sambil membuang napas.

Qale hendak masuk kembali ke kamar Hasan. Namun langkahnya tertahan di depan pintu yang sedikit terbuka. Dari celah itu, ia mendengar suara lirih Wafa dan ayahnya.

“Lepaskan Lesa,” kata Hasan dengan napas berat. “Kalau buat dia tersiksa dan trauma karena hubungan ini, jangan sakiti terlalu dalam kalau nggak cinta.”

Qale membeku. Suara itu menohok dadanya. Ayah… kenapa? Apakah tidak peka, melihat sikapnya, perlakuannya pada Wafa? bahwa putrinya sudah mulai membuka hati untuk Wafa? 

"Ayah, nggak merasakan, kah?" gumam Qale sambil memegangi dadanya.

Ada sesak, sebab Qale tahu ia sudah menyerahkan dirinya pada Wafa, menunaikan peran istri. Namun sekarang, justru ayahnya sendiri yang meminta agar dilepaskan.

Wafa terdiam, tak segera menjawab.

Qale buru-buru masuk, wajahnya kaku menahan emosi. Ia berpura merapikan selimut Hasan, kode agar Wafa keluar kamar bersama tapi suaminya malah betah di kamar Hasan.

Dia akhirnya keluar sendiri, menahan kesal masuk ke kamarnya dan duduk di sisi ranjang.

Beberapa menit berlalu, Wafa menyusul masuk ke kamar, Qale langsung menatapnya, begitu pintu tertutup.

“Aku dengar semua,” suaranya dingin. “Ayah minta Kakak melepaskanku, ya?”

Wafa menatapnya kaget. “Itu … bukan apa-apa.”

“Jangan bohong. Aku dengar jelas.” Qale mulai meninggi.

Wafa menghela napas, berhadapan dengan Qale. Dia meraih jemarinya dan mengaku. “Ya, Ayahmu memang memintaku begitu.”

“Lalu Kakak jawab apa?” tanya Qale cepat, nadanya penuh harap. Manik matanya lurus memandang Wafa.

“Nggak mau,” jawab Wafa tegas.

“Kenapa? Apa alasannya?”

Wafa balik menatapnya lekat, lalu tersenyum tipis. “Sayang.”

Qale tercekat. Degup jantungnya mulai kacau. Jawaban Wafa di luar dugaannya. Namun ia buru-buru mengalihkan dengan sinis.

“Huh, bilang aja butuh pelampiasan.” Telunjuknya menunjuk bagian bawah tubuh Wafa.

Wafa justru tertawa ringan. “Iya, itu juga.”

Wajah Qale memerah, hatinya bergejolak. “Oh pantas. Soalnya kan perjanjiannya nggak boleh jatuh cinta. Masih berlaku, ya? Jadi hubungan kita cuma … seks tanpa cinta?”

Kali ini Wafa tak tertawa. Ekspresinya berubah serius. Matanya menatap Qale dalam, penuh makna—tapi tanpa jawaban kata.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!