Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Wafa diusir Hasan

“Bos, yakin mau vacation sementara beliau?” Bakar nyeletuk sambil melihat Wafa dari spion dalam.

"Nggak lama, numpang nge-charge doang paling," jawab Wafa datar, melirik nakal pada Qale yang langsung menengok ke arahnya.

"Fast charging dong," sambar Bakar, tergelak.

“Mulutmu ckck … untung cuma sopir. Nggak perlu dapat warisan,” balas Wafa, menjulurkan lidahnya persis anak kecil.

“Loh, warisan?” Bakar ngakak. “Hibah dari tuan besar lebih mevvah dari milik Anda, Bos. Lagian saya cuma latihan nyupir, maklum ... majikan yang tertunda," jawabnya sambil menaik-turunkan alisnya.

Qale yang duduk di samping Wafa menahan senyum, menoleh ke arah Bakar. “Tolong spill di episode berapa, launching majikan barunya ya.”

“Siap, Nyah. Senyum aja yang banyak dulu. Itu suplemen buat saya juga,” lanjut Bakar dengan gaya sok serius.

Wafa mendengus. “Heh. Suplemen suplemen. Colok juga nih mata!" 

Qale mencubit lengan Wafa pelan, membuat tawa kecil mengisi kabin mobil itu. Untuk sesaat, perjalanan terasa ringan, penuh gurauan, seolah beban yang menumpuk bisa ditinggalkan di belakang.

Namun kebahagiaan itu sirna begitu saja. Belum sampai setengah jalan, telepon dari Mbak Mun membuat mereka panik. Hasan kembali kolaps.

Mereka buru-buru putar balik ke rumah sakit, meninggalkan segala candaan dan bisikan hangat di mobil.

Qale berlari kecil saat mobil baru terparkir di lobby. Sejak itu, semua energinya tercurah hanya untuk menjaga kesehatan Hasan.

Urusan pesanan croissant 1000 pcs, diserahkan ke Ria juga asisten cook. Qale mengambil keputusan cepat. Dia merekrut anak part time yang dulu pernah dia sewa saat event.

Hari-hari terasa panjang. Wafa membagi waktu antara meeting dan mengurus berkas, sementara Qale bolak-balik memantau pesanan kue yang tetap menumpuk di toko.

Untungnya, Bakar dan pengacara pribadi Wafa bergerak cepat. Berkas gugatan berhasil diserahkan, disertai instruksi agar Nadia dan adiknya tetap dalam pengawasan bodyguard Wafa dari kejauhan. Itu membuat Qale sedikit lebih tenang, meski bayangan ancaman masih mengintai.

Seminggu kemudian, Hasan diperbolehkan pulang. Tubuhnya masih lemah, tapi wajahnya tampak lega bisa kembali ke rumah. Di saat yang sama, proses hukum mulai berjalan. Polisi memanggil satu per satu. Danisha, Elan, Nadia bahkan mengunjungi Lea di lapas, untuk dimintai keterangan.

Awalnya semua berjalan lancar. Hingga giliran Qale dipanggil sebagai saksi. Sesuatu kejanggalan mulai muncul.

Baru keluar dari ruang penyidik, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Qale.

[“Berani terus maju, toko lo gue hangusin.”]

Jantung Qale berdegup kencang. Tangannya bergetar. Dia menoleh pada Wafa, tapi sang suami malah menatap lurus penuh keyakinan.

“Kita tetap maju, Sya. Jangan takut.”

Ucapan itu belum sempat dicerna Qale ketika kabar buruk datang. Tokonya—tempat ia berbulan-bulan menumpahkan keringat—dijarah sekelompok orang.

Ria, karyawannya, menjerit histeris saat kaca depan toko dipecahkan. Uang hasil penjualan lenyap, motor Ria yang diparkir di teras nyaris hangus karena dilempari botol berisi bensin. Api cepat dipadamkan warga, tapi bagian depan toko tetap gosong.

Ria menghubunginya. Ketakutan. "Kaaakk!" suaranya gemetar.

Qale limbung. Wajahnya pucat, tubuhnya merinding tak karuan. "Ria aman nggak?" tanyanya sambil menggigiti bibir.

"Aman, tapi ... tapi--" katanya seolah bingung menjelaskan.

"Dewi?" Qale menoleh ke arah Wafa, saat bertanya apakah ada seseorang yang membantu Ria saat kejadian berlangsung.

Wafa sibuk menghubungi seseorang. Suaranya meninggi, tampak kecewa dengan kinerja mereka. Dia marah.

"Ada mbak-mbak datang. Mereka langsung bubar cuma ...." Ria tak melanjutkan. 

Qale pun menenangkan, Dewi akan di sana hingga semua kembali aman. Dia menyusul kemudian.

Ternyata, Dewi datang terlambat, tapi kemunculannya membuat para preman itu kocar-kacir. Sayang, kerugian sudah cukup besar. 

"Kak, ada apa ini?" Ria menangis, wajahnya masih pucat ketakutan.

Qale dan Wafa gegas ke toko. Dia meminta Bakar mengumpulkan bukti lewat beberapa cctv yang sempat Wafa pasang di beberapa titik.

Karena kejadian ini, Ria meminta partner kerja tapi yang bisa bela diri agar dirinya tenang saat berada di toko.

Permintaan itu Qale sanggupi. Dia akan meminta Dewi mencarikan kriteria yang sesuai.

"Emang sudah saatnya sih, nambah karyawan baru," ujar Qale diangguki Wafa.

Karena insiden ini, Qale memutuskan untuk tutup toko lebih awal. Dia memanggil tukang bersih-bersih yang biasa bersihkan area pasar juga tukang untuk lembur mengganti kaca dan lainnya.

Setelah isya, mereka pulang ke rumah Hasan. Baru juga masuk ke ruang tengah, Mbak Mun memanggil mereka. 

Di halaman, Danisha datang memaksa bertemu Qale dengan amarah yang meluap-luap. Dia ditahan supir Hasan juga ART lainnya agar tidak menerobos masuk ke dalam rumah.

“APA-APAAN KAMU, QALE?!” suaranya melengking di depan teras depan. "KELUAR KAMU!" 

Qale keluar ditemani Wafa. Saat keduanya muncul, Danisha langsung menyerangnya.

“Faaaaa! Kamu tega sama aku?" serunya dengan nada manja. "Gugatan ini bikin kontrak kerja aku nyaris batal! Bisnisku anjlok! Ibuku shock sampai masuk rumah sakit!”

Qale terdiam, berdiri sambil bersedekap. Wafa menoleh istrinya, wajah Qale terlihat serius.

"Cuma segitu, huh?" cibir Qale. "Yang aku alami lebih darimu, tukeran aja gimana?" sambungnya santai.

“Kalau terus begini, aku bisa bangkrut, Fa!" Danisha mengabaikan Qale, dia malah merengek pada Wafa. "Please, demi masa lalu kita."

Wafa menatap Danisha lurus. "Akuuu,” ucapnya ragu sambil melirik Qale dalam-dalam.

Namun Qale menggeleng, napasnya tersengal. Sambil menatap lekat Wafa, dia berkata, “Nggak. Teruskan. Aku mau lihat … apakah Kakak akan iba kalau dia—” Qale menunjuk Danisha yang merengek, “—terus memohon padamu.”

"Sya!" Wafa jengah, Qale belum percaya padanya.

Danisha makin gencar, berharap Wafa mau membujuk Qale. Suaranya pun mulai pecah. “Aku … aku akan ganti semua, Qale. Semua salahku. Tolong … cukup berhenti sampai di sini.”

Saat itu juga, Hasan yang masih lemah tiba-tiba keluar dari kamarnya. Tubuhnya ditopang Mbak Mun, wajahnya merah karena amarah.

“Ganti pakai apa? Uang?” suaranya bergetar, tapi lantang terdengar dari dalam. “Aku punya! Anakku bukan orang miskin!”

Semua menoleh kaget. Qale buru-buru menyongsong, ikut memapah ayahnya. Hasan menatap tajam ke arah Danisha.

Setelah itu, dia berganti melihat menantunya. “Kalau kamu suka sama perempuan ini, lalu berani abaikan putriku—PERGI SANA! KEMBALIKAN ANAKKU!” bentaknya, suara seraknya menembus dinding rumah.

Qale tercekat. Tubuhnya kaku di tempat, jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia tak pernah melihat ayahnya semarah itu, apalagi di depan Wafa dan orang-orang.

Suasana hening mencekam. Hanya suara napas Hasan yang terengah-engah, tapi matanya menyala, menuntut jawaban.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!