Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Mencari Jejak
Pagi itu, Qale masuk ke dalam sambil membawa kertas tadi. Gambar-gambar gelap itu, juga suara anak kecil dalam CD — tak hilang dari pikirannya. Bahkan saat mandi pun, isi kepala gencar berkelana.
Selama membuat adonan croissant, pikirannya melayang. Dia beberapa kali menjatuhkan spatula, salah menakar isian varian, hingga membuat adonan original nyaris tercampur dengan rasa baru.
Karyawan barunya yang sedang menyusun croissant di rak proofing hanya menggeleng pelan. Melihat si pemilik toko kebingungan, ia berseru ringan, “Seberisik apa di dalam sana, Kak?”
Qale menoleh, ketika si karyawan menunjuk kepalanya dari jauh. Dia tertawa kecil. “Lagi ada pasar malam,” kekehnya. “Lengkap sama bianglala dan wahana putar otak.”
Dia mencoba menertawakan dirinya, lalu memaksa diri untuk kembali fokus pada pekerjaan dan pelanggan yang mulai berdatangan.
Saat toko mulai sepi, Qale duduk di balik meja kasir, membuka laptop. Tangannya menopang dagu, membaca kembali artikel-artikel tentang penyebab hilang ingatan, hypnotherapy, hingga berita misterius.
Iris matanya bergerak cepat, lalu berhenti di satu kalimat :
["Kadang memori dihapus bukan karena kita lemah. Tapi karena ada sesuatu yang sangat kita cintai ... justru yang menyakiti."]
Qale menutup laptop perlahan, memijat pelipisnya.
“Apa iya?” gumamnya. “Kalau ingatanku dihapus, berarti aku pernah menyakiti orang lain... atau justru ... disakiti?"
Hening.
Karyawan barunya tiba-tiba nyeletuk, masih dengan nada santai.
“Kadang lupa itu ... juga obat, Kak.”
Qale mendongak, menatapnya dengan senyum getir. Dia mengangguk, lalu beranjak masuk karena mendadak merasa lelah.
Setelah salat, Qale menatap layar laptopnya lagi. Kali ini, ia membuka Maps dan mulai mengetik alamat rumah lamanya. Ada keraguan di sana sebelum dia menekan enter. Tapi niatnya lebih kuat.
Lokasinya muncul. Qale lalu memperbesar tampilan peta, dia mencari tempat terapi di sekitar sana. Qale menduga ingatannya dinetralisir. Dia mendapatkan dua alamat dan menyimpan peta di gawainya.
“Petang nanti ... aku harus cari tahu.”
***
Sementara itu, di kediaman Hasan.
Sebuah paket datang. Tidak ada nama pengirim, hanya tertulis : Untuk Rumah Hasan Sasmita–Juragan Sapi.
Hasan membuka sendiri paket itu. Isinya kecil — seperti gantungan. Saat ia mengangkat benda itu, alisnya mengernyit.
“Mirip aksesoris boneka...” gumamnya.
Seperti biasa, dia membuang kotaknya. Tapi setelah beberapa langkah, dia terhenti. Hasan kembali, memungutnya, lalu meneliti lebih seksama. Tiba-tiba iris matanya melebar. Wajahnya pucat.
Dia celingukan.
Kemudian dengan tergesa ia membungkus ulang benda kecil itu dengan koran, dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, Hasan masuk ke kamar dan menguncinya rapat.
“Siapa yang ngirim? Siapa lagi yang tahu soal ini?” desisnya. Jari-jarinya menggenggam, bergetar.
Di luar rumah, si ART hendak membuang sampah. Dia melihat tutup tong sampah berantakan, sehingga kotak kecil itu tampak mencolok. Dia pun memeriksanya.
Si ART terkejut, dia menoleh kiri kanan ... dan mengambilnya. Mulutnya bergumam lirih, “Masih ada aja yang nyimpen benda ini...”
Lalu dia selipkan ke dalam saku celemeknya. "Benda terkutuk!" sorot matanya menyimpan amarah.
Petang menjelang, setelah toko anak lipat tutup.
Qale mengendarai motor pinjaman tukang parkir yang biasa mangkal di dekat terminal dekat tokonya. Dia menuju alamat pertama — bangunan tua dengan papan luntur bertuliskan "Pusat Tumbuh Kembang Keluarga Bahagia."
Dia mengetuk pelan dan tersenyum manis. Dengan langkah malu-malu, Qale masuk lalu bertanya ke admin di sana.
Penjelasannya membingungkan tapi sang admin paham. Namun, usaha Qale nihil. Penghuni sebelumnya sudah pindah beberapa tahun lalu. Tak ada catatan pasien lama.
Tubuh Qale lesu. Langkahnya berat, pikirannya penuh pertanyaan baru. Dia duduk sebentar di teras tempat itu. Matanya menatap jalanan yang mulai sepi, suara bising kendaraan seakan tak terdengar.
“Kalau semua petunjuk masih ditutupi … aku harus buka dari mana?” bisiknya.
Dia menunduk, menggenggam helm. Kali ini bukan karena takut … tapi lelah mencari.
Qale menghela napas, menaiki lagi motornya hingga tak sadar, dia sudah sampai di depan toko Anak Lipat. Dan seseorang sedang menunggu dengan kursi rodanya.
Dia buru-buru membuka toko, menyilakan suaminya masuk dan membuatkan kopi lengkap dengan croissant original.
Tak ada percakapan. Hanya bunyi sendok dan gelas yang bersentuhan.
“Maaf lama,” ujar Qale, berdiri di sampingnya.
Wafa tak menjawab. Dia hanya menatap croissant di hadapannya, juga secangkir kopi Americano.
“Nggak mau pulang?” tanyanya pelan.
Qale menunduk. “Rumah ... itu rumah Kak Wafa ... di sana?” pertanyaannya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Dia bingung menyebut panggilan untuk suaminya.
Wafa menyeruput kopinya.
“Kapanpun mau pulang, aku ada di sana.”
Qale mengangguk. Lalu, pertanyaan itu datang. Datar, tapi menusuk.
“Apa yang kamu lakukan bila ingatanmu kembali utuh?”
Deg.
Dunia Qale seperti berhenti.
Tangannya refleks meremas celemek. Ia melihat lantai, lalu menatap Wafa. Namun, suaminya memandang ke luar jendela. Tidak menuntut, tidak menekan. Seolah jawaban itu ... hanya boleh lahir dari keberanian Qale sendiri.
Mata Qale berkabut. Lalu, pelan-pelan dia berbisik, "A-aku takut ... takut...” suaranya masih tercekat. "... kalau aku..."
.
.