Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Bimbang

Malam itu, suara roda koper beradu dengan lantai semen rumah Ayah Qale. Sesaat setelah mobil Bakar pergi, pintu besar rumah itu terbuka. Ayah Qale berdiri di sana, terkejut melihat putrinya berdiri dengan wajah pucat, mata berkaca-kaca.

“Lesa?” suaranya lirih, campuran lega dan cemas. “Sendirian? Mana Wafa?” sambung Hasan celingukan tak melihat menantunya.

Qale berusaha tersenyum, tapi bibirnya bergetar. “Aku … kangen kamarku, Yah. Boleh?”

Ayahnya tak bertanya panjang. Hasan mengangguk, lengannya terangkat tapi menggantung kaku di udara. Dia ingin memeluk, tapi takut Qale menolaknya.

Qalesya menghambur ke pelukan Hasan. Lengan kokoh itu langsung meraih bahu putrinya, memeluknya. Hangat, erat, seolah seluruh resah yang ia pendam seketika pecah. Air mata Qale tumpah tanpa bisa ditahan.

“Sudah, sudah. Rumah ini selalu terbuka untukmu.”

Kalimat itu sederhana, tapi jadi oase bagi hati Qale yang kering. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia merasa kembali punya tempat pulang.

Masih ada kecewa karena Hasan, tapi dia juga rindu dekapan sang ayah. Yang tak pernah lagi dia rasa sejak 10 tahun lalu, setelah ibunya tiada.

Qale masuk ke kamarnya, melihat sekeliling lalu mulai menata barang-barangnya di sana. Pintu kamar diketuk, suara Mbak Mun terdengar.

Dia membuka pintu dan melihat wanita sepuh itu tersenyum tipis, membawa baki berisi minum dan cemilan.

"Lama banget nggak pulang ke sini, Non," katanya sambil meletakkan nampan di meja.

"Ini pulang," jawab Qale singkat.

"Temani Bapak, kasian sendirian," lanjut Mbak Mun, sambil keluar kamar.

Qalesya hanya mengangguk, dia lelah. Bukan secara fisik, tapi ada rasa yang tidak memiliki tempat untuk dikeluarkan. Dia akhirnya tidur, meringkuk di atas kasur lamanya. Berharap, bertemu ibu untuk mengobati rindu.

***

Setelah kepergian Qale, rumah besar itu kini terasa kosong, Wafa duduk sendirian di ruang kerja. Lampu temaram hanya menyorot wajahnya yang muram. Asbak penuh, kopi dingin, dan buku catatan kosong tergeletak di meja.

Bakar masuk tanpa permisi, langkahnya berat. “Bos.”

Wafa tak menoleh.

“Saya sudah antar beliau. Dia diam sepanjang jalan, sorot matanya kecewa,” ujar Bakar tajam, suaranya penuh tekanan.

Wafa mendengus pelan, menutup mata. “Dia butuh waktu, Kar.”

“Waktu?” Bakar mendekat, menatap lurus ke wajah Wafa. “Bos pikir nyonya kueh punya hati sebesar itu buat di pehapein? Dia terluka, Bos! Terluka bukan karena orang lain … tapi karena ucapan Bos sendiri.”

Tangan Wafa mengepal di atas meja. “Aku … nggak bermaksud begitu.”

“Kalau tidak bermaksud, kenapa diucapkan?” Bakar membentak, nadanya berbeda dari biasanya. “Lelaki yang baik bukan cuma bisa jaga bisnis, Bos. Tapi juga jaga hati perempuan yang dipilihnya.”

Wafa terdiam. Kata-kata itu seperti palu menghantam dadanya. Untuk pertama kali, ia merasa benar-benar kehilangan kendali atas segalanya.

Bakar keluar ruangan dengan raut wajah kesel. Selang beberapa menit kemudian, Winda masuk. 

"Faa," katanya lembut sambil berdiri, menyandar ke sisi meja.

"Hem." 

"Kalau masih berat buat nerima Qale, jangan beri dia harapan. Lepasin," tutur Winda, memandang putranya.

"Bukan gitu, Ma," balas Wafa melihat Winda. "Dia tanggung jawabku."

"Kalau jadi beban buatmu, biarkan dia bebas. Toh dia nggak minta kamu nikahi, kan?" Winda menyeret kursi, lalu duduk menghadap Wafa. "Kamu memperlakukan Qale dengan baik, bakal tumbuh rasa nyaman sementara kamu belum selesai dengan masa lalu. Kalian halal, kamu punya kewajiban padanya," lanjutnya.

Wafa menengadah, memejam sambil menarik napas panjang. Dia lantas bangkit, berjalan ke arah jendela.

"Jangan bohongi dia terlalu lama, Faa." Winda menggeleng, bangkit keluar dari sana. 

Pikiran Wafa berkecamuk, logikanya menolak tapi hati masih condong pada Danisha. Namun, dia merasa ada yang kosong setelah Qale pergi.

Di jam yang sama. Di sudut kota, Nadia melangkah ke sebuah gudang kosong yang sudah lama jadi “tempat biasa” Elan. Bau lembab menusuk hidung, lampu neon berkedip.

Elan sudah menunggu, duduk di kursi besi, rokok menyala di tangannya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam.

“Nad,” sapa Elan, “duduk.”

Nadia menatapnya penuh emosi. “El, gue capek. Gue nggak mau lagi main di permainan kalian. Dah cukup jadi umpan.”

Elan terkekeh dingin, lalu meletakkan sebuah ponsel di meja. Ia memutar sebuah rekaman suara—suara Nadia sendiri, berbicara dengan Lea, jelas menyebut nama Wafa.

“Lihat? Lo kira bisa cabut seenaknya? Semua ada buktinya. Sekali gue serahkan ini ke Wafa … lo habis.”

Nadia pucat. “Kenapa lo lakuin ini ke gue?”

“Karena lo BU,” jawab Elan datar, sambil mengusap telunjuk dan jempolnya, simbol uang. “Lo gampang diatur.”

Tiba-tiba, pintu gudang berderit. Suara langkah sepatu bergema. Nadia menoleh cepat—Danisha masuk, tampil rapi dengan coat hitamnya. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Sudah, El,” ucapnya lembut. “Jangan terlalu keras. Kasihan Nadia, dia juga manusia.”

Danisha mendekat, menyentuh bahu Nadia seperti seorang kakak. “Tenang, Nad. Aku nggak akan biarin kamu hancur … asal kamu tetap nurut. Ingat, semua ini demi masa depan kita. Demi kebaikan bersama.”

Nadia menepis tangannya, suaranya meninggi. “Kalian cuma manfaatin aku!”

Danisha tertawa kecil, tapi matanya dingin. “Pakailah istilah apa pun yang kamu mau. Fakta tetap sama, kamu ada di pihak kami. Dan sekali kamu coba berkhianat …” ia mendekatkan wajahnya ke telinga Nadia, “… kamu nggak akan bertahan lama.”

Nadia membeku. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu dirinya sudah terjerat. Tak ada lagi jalan keluar.

Tapi, Nadia sudah memilih keputusan. Dia hanya ingin adiknya selamat. Dan satu-satunya penjamin itu adalah Wafa.

Keduanya makin menekan Nadia, dan tak lama, mereka membubarkan diri. 

Malam semakin larut. Hujan turun deras, Nadia membiarkan dirinya basah, seolah bisa meredam gersangnya kasih sayang diri.

Hujan yang sama mengetuk genting rumah besar yang sunyi.

Wafa masih terjaga di kamar. Pandangannya kosong menatap kursi di seberang dipan—kursi yang biasanya diisi Qale saat belajar atau berhias.

Tangannya meraih gelas kopi dingin, tapi tak diminumnya. Dadanya terasa sesak.

“Sya …” bisiknya lirih. "aku nyakitin kamu, ya."

Untuk pertama kalinya, Wafa benar-benar merasakan makna kehilangan.

.

.

 

(Clue-nya sudah makin banyak tuh soal Wafa)

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!