Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Gagal Move on

Danisha terpaksa meneguk sedikit jamu itu, sekadar membasahi lidahnya. Wajahnya langsung menegang, bibir meringis menahan getir. Segera setelahnya ia meraih gelas air putih di meja, meneguknya cepat-cepat.

“Del!” panggilnya terburu-buru.

Seorang wanita yang menjadi asisten pribadinya mendekat. “Iya, Mbak?”

“Tolong ambilkan susu. Cepat.” Nada suara Danisha bergetar, penuh alasan. “Aku nggak suka bau jamu yang menusuk ini.”

Aspri itu mengangguk dan bergegas keluar.

Sementara itu, Winda menunduk, tersenyum tipis, seolah puas dengan apa yang barusan terjadi. Ia tak menekan lebih jauh. “Ya sudah. Mama pamit dulu.”

“Terima kasih, Ma,” balas Danisha singkat, masih berusaha menyembunyikan kegusarannya.

Begitu Winda pergi, Danisha menarik napas panjang, menunduk, lalu buru-buru meraih ponselnya. Tangannya sedikit gemetar ketika menekan nomor Elan.

“Elan,” suaranya rendah. “Ada kabar aneh nggak? Wafa curiga nggak? Soalnya dia datang ke sini tempo hari … dan Mamanya barusan pergi."

Suara Elan di seberang terdengar santai. “Tenang. Nadia masih aman kerja di sana. Belum ada tanda-tanda Wafa tahu apa pun. Gue juga nggak dengar kabar aneh dari Lea. Semua terkendali.”

Danisha menutup matanya lega. “Syukurlah. Aku nggak mau terseret masalah, El. Aku lagi ikut seleksi pergelaran di luar negeri. Kalau sampai ketahuan, semua bisa hancur.”

Elan terkekeh ringan. “Santai.”

Senyum tipis melintas di wajah Danisha. “Bagus. Jangan bikin aku kecewa, El. Aku sudah ngasih kamu duit,” balas Danisha.

Ia menutup telepon. Dadanya berdegup cepat, tapi setidaknya untuk sementara ia merasa selamat.

***

Selama perjalanan pulang dari Penjara, Wafa diam tapi wajahnya terlihat dingin dan kaku. Seperti muka para anggota DPR yang rumahnya dijarah masa.

Sesampainya di rumah, Wafa masih menampilkan wajah geram. Dia tidak masuk ke kamar menemui Qale, melainkan langsung menuju ruang kerja bersama Bakar.

Brak!

Pintu tertutup rapat. Di dalam, Wafa duduk tegak, tangannya mengetuk-ngetuk meja. “Nadia, Lea … jelas mereka terhubung. Tapi yang bikin aku penasaran, kenapa harus Elan? Ketemu di penjara, lalu tiba-tiba muncul di lingkaran ini. Apa maksudnya?”

Bakar mengangkat alis. “Menurut saya sih jelas, Bos. Motif Danisha gampang ditebak—dia pengin balikan. Tapi Elan …” ia menyipitkan mata, menimbang kata-katanya, “… sakit hati. Dan saya rasa dia pengin ngerebut nyonya kueh dari Anda.”

Wafa menoleh cepat. “Nggak mungkin.”

“Terserah percaya atau nggak,” sahut Bakar santai. “Tapi saya punya bukti. Interaksi mereka waktu event UMKM dulu. Tatapan, sikap … jelas banget. Elan punya maksud.”

Wafa terdiam. Kedua tangannya mengepal. "Kebetulan sekali, kekonyolan macam apa ini?"

Bakar mencondongkan tubuh. “Bos, kalau Anda terus ragu … nyonya kueh bisa direbut siapa aja. Anda nggak niat megang erat. Satu-satunya cara ngiket dia cuma satu," beber Bakar sambil bersedekap.

"Apa?"

Bakar menepuk perutnya sambil cengengesan. "Bikin anak.”

Wafa menunduk, mengusap wajahnya kasar. “Tapi … apa Qale bener-bener mau? Dia masih trauma pasca pendarahan. Matanya pun belum terapi lagi. Terlalu banyak yang disiapkan,” jawab Wafa, menyandar di kursinya.

“Cuma alasan,” dengus Bakar. “Atau jangan-jangan Anda malu, Bos? Malu punya istri kayak beliau?”

Kalimat itu bagai pisau. Wafa terdiam. 

"Anda malu sama Danisha bahwa pilihanmu tidak secantik dia, kan?" 

Wafa masih diam.

"Anda hanya pura-pura menyayangi si nyonya kueh Qalesya," cecar Bakar ikut kesal jika benar Wafa hanya berpura. "Jangan bohongi dia, Bos!" 

Wafa menghela napas. "Aku nggak yakin apa bisa mencintai Qalesya, Kar ... Nisha terlalu dominan," ujarnya pelan. 

Bakar tidak tahu : tepat di balik pintu yang setengah terbuka, Qale berdiri mematung. Wajahnya pucat, matanya bergetar mendengar ucapan itu. Kata-kata “malu punya istri macam Qale” menusuk dadanya.

Ia menunduk, menahan kecewa yang langsung menumpuk. Perlahan, langkahnya berbalik.

"Kukira, tulus." Dia berkata lirih. "Aku pulang saja … ke rumah Ayah."

Namun, pintu tiba-tiba berderit. Wafa menoleh cepat. Sorot matanya langsung menangkap sosok Qale yang hendak pergi.

“Syaaaa!” serunya, buru-buru menekan tombol di kursi roda dan mengejarnya.

Qale lari ke kamar lalu mengunci diri di kamar mandi. Bukan menangis' tapi dia bersiap pulang.

Wafa mengetuk pelan dan berdiri di depan pintu toilet. Tak lama, tubuh mungil itu berdiri kaku di ambang pintu. 

"Mau kemana?" tanya Wafa.

"Pulang ke ayah," jawab Qale singkat. Dia membawa satu koper, berisi semua bajunya. Lalu menuju meja, merapikan buku-buku dan memasukkannya ke ransel.

Wafa melihat itu tanpa mencegahnya. Dia hanya diam menunggu. 

"Di antar Bakar, ya." Wafa keluar kamar, memanggil Bakar, sementara dia masuk ke ruang kerjanya lagi.

Qalesya diam, menarik napas panjang lalu menyeret koper keluar kamar. Bakar sudah menunggunya di teras samping. Sorot matanya menyimpan kecewa.

"Jangan pergi, Nyah. Beri dia kesempatan," katanya sambil meraih koper Qale.

"Entah, aku takkan menunggu apalagi jadi penghapus bagi hati yang penuh warna, Pak Bakar'."

"Dia galau."

"Beliau hanya kasihan padaku. Aku nggak apa-apa," ujar Qale tersenyum tipis meski sorot matanya menyiratkan kesedihan.

"Lekas kembali," pungkas Bakar ketika membuka pintu mobil untuk Qale.

Sementara itu, di sisi lain kota, Nadia terduduk di kamar kecilnya. Air matanya belum kering, wajahnya pucat. Ia memandangi layar ponselnya dengan ragu, sebelum akhirnya menekan nama Elan.

“Elan … aku butuh ngomong sama lo. Malam ini.”

Ada hening sejenak di seberang, lalu suara Elan terdengar datar. “Datang aja ke tempat biasa.”

Klik. Sambungan terputus.

Nadia menggertakkan giginya. Tak menduga dirinya dimanfaatkan berbagai pihak. 

"BODOH, NADDD!" umpatnya sambil melempar ponsel ke atas dipan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!