Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Terbongkar semua
Nadia menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Wafa duduk tegak di kursi roda, tatapannya tajam menusuk tanpa sedikit pun getar ragu.
“Lea.” Suaranya dalam, tegas. “Apa hubunganmu dengan dia?”
Nadia menggigit bibir. Diam.
“Deni?” kali ini suara Wafa lebih dingin.
Tubuh Nadia kaku, matanya membelalak sejenak—reaksi sekecil itu sudah cukup jadi petunjuk bagi Wafa. Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Wafa memberi isyarat pada Bakar. Pria itu langsung menyeret Nadia ke pintu.
“Bawa dia. Kalau mulutnya tetap terkunci, serahkan ke polisi.”
Nadia panik. “Jangan! Jangan bawa aku ke sana!” Tangannya meronta, matanya membelalak ketakutan.
Wafa mencondongkan tubuh, suaranya pelan tapi menusuk.
“Kamu punya pilihan. Bicara jujur di depanku. Seret Danisha dan Elan ke polisi, atau adikmu akan dihantui preman mesum setiap hari. Kantor polisi mungkin lebih aman buatmu, tapi tidak untuk adikmu.”
Nadia terdiam. Air matanya jatuh deras, hatinya ditarik ke dua sisi yang sama-sama menyesakkan.
Wafa menambahkan, “Aku ingin kamu bicara juga pada mertuaku. Kalau benar Lea terlibat, kau jadi saksi. Elan, Danisha, dan Lea … semua harus dapat ganjarannya.”
Nadia menatap Wafa dengan mata berair. “Aku … aku dijebak. Mereka tekan aku, sama seperti sekarang Anda ke aku…”
Wafa menahan rahangnya yang mengeras. “Bedanya, aku jamin keselamatan adikmu. Selama kamu di penjara nanti, dia aman. Tapi kalau kamu kabur, atau macam-macam … aku biarkan adikmu jadi santapan pria-pria itu.”
Nadia mematung, lalu menangis tersedu. Ia akhirnya mengangguk lemah. “Aku setuju … tapi jamin kehidupan adikku.”
“Tidak,” potong Wafa dingin. “Aku hanya menjamin keselamatannya sampai kamu bebas. Kelaparan atau tidak saat itu, bukan urusanku.”
Bakar menoyor kepala Nadia.
"Heh! Kan dah dapat duit dari Mak Jambrong. Maruk amat lu!" sungut Bakar, kesal dengan drama Nadia.
Nadia membeku, lalu menunduk pasrah. Air matanya terus mengalir.
Di atas meja kecil, Bakar meletakkan selembar kertas kosong dan pulpen. Wafa mendikte kalimat perjanjian singkat, ditulis tangan. Dengan tangan bergetar, Nadia menandatanganinya.
Sementara di kamar Qale.
Winda duduk di sofa, gelisah. Tangannya menggenggam botol jamu erat, matanya tak lepas dari wajah pucat menantunya.
“Kenapa nggak langsung datangi Danisha? Habis perkara,” ucapnya keras, meski suaranya terdengar pecah.
Ia ingin sekali bergerak, ingin melabrak Danisha, tapi setiap kali tatapannya kembali pada Qale yang lemah, hatinya menciut. Ia tak tega meninggalkan menantunya sendirian.
“Maa…” Qale memanggil lirih, membuat Winda sontak bangkit. Ia takut Qale kesakitan lagi.
Tak lama kemudian, Wafa masuk kembali ke kamar. Ia menggenggam jemari istrinya, menatapnya dalam.
“Aku pergi sebentar. Sama Nadia.”
Qale menatapnya cemas. “Kak … hati-hati.”
Wafa tersenyum tipis, lalu mengecup punggung tangan istrinya. “Iya. Nanti siang kita pulang.”
Qalesya mengangguk, senyumnya muncul sampai gigi gingsulnya terlihat. Wafa dan Winda sempat tertegun melihatnya.
“Ya ampun, Mama baru tahu senyumnya Qale secantik ini,” ujar Winda, tersenyum lega.
Qale menunduk malu, sementara Winda mengusap pucuk kepalanya dengan penuh sayang. Bersamaan dengan itu, Wafa pamit.
***
Di mobil menuju lapas, Wafa memberi instruksi dingin pada Nadia.
“Kau harus memancing Elan keluar. Suruh dia bicara, rekam pengakuannya, dan pastikan nama Danisha ikut disebut. Itu bukti. Tanpa itu, kamu nggak ada artinya.”
“Perjanjian batal kalau gagal. Adikmu bisa makin fatal,” sambung Bakar dengan tatapan mengancam.
Nadia hanya terdiam. Kedua tangannya gemetar di pangkuan. Bayangan tentang nasib adiknya terus menghantui. Apakah Wafa benar-benar akan menepati janji melindungi? Tapi di sisi lain, ia tak punya pilihan.
Setibanya di penjara, Wafa meminta izin pada sipir. Mereka dipersilakan masuk ke ruang kunjungan.
Lea sudah duduk di sana, wajahnya terlihat lelah. Ketika melihat Nadia masuk, matanya sempat berbinar, namun cepat meredup kembali.
“Kenapa kau di sini?” tanya Lea dingin. “Jangan tolol.”
Nadia menggigit bibir, lalu duduk. Ia mulai menceritakan tentang Qale, tentang jamu, tentang tekanan yang ia alami. Setiap kata direkam oleh alat kecil di saku Wafa.
“Dia di rumah sakit. Pendarahan,” kata Nadia lirih. “Upahku mana?”
Lea tertawa pendek. “Upah? Bukannya kamu juga sudah dapat bayaran dari Elan? Sekarang mau meres aku?”
“Loh, kan kebetulan aja aku ketemu Elan di sini. Dia otaknya. Kamu yang nyuruh aku cari cara bikin mandul,” balas Nadia sengit.
“Kan kamu sendiri yang menawarkan diri,” sanggah Lea dengan senyum tipis.
“Edan kamu, Lea! Aku nawarin diri karena kamu janji bayar lima puluh juta sampai mandul. Lo pikir gue nggak modal? Gue bahkan sampai taruhan nyawa minta ke dukun juga!”
Lea terbahak. “Itu bukan urusanku. Sekarang kutanya, dia mandul nggak?”
Nadia terdiam. Tangannya mengepal, matanya penuh geram.
“Nggak kan? Ya nggak berlaku dong bayarannya. Sana! Tugasmu selesai. Bodoh!” Lea bangkit, melangkah pergi.
“LEA! BANGSAT!”
Langkah Lea terhenti. Ia menoleh lagi, sorot matanya dingin menusuk. Lalu terkekeh.
“Kau pikir kau korban? Kau cuma bidak kecil, Nad.”
“Arrggghhhhhhh!” Nadia hampir menyerang, tapi dua sipir langsung menghadangnya. Gadis itu dipaksa keluar dengan amarah yang belum padam.
Kata-kata Lea membuat darah Wafa mendidih. Tangannya mengepal kuat di atas pangkuan.
“Fuck, Lea…” umpatnya dalam hati.
Di parkiran, Bakar menatap Nadia tajam.
“Kembali kerja seperti biasa. Toko anak lipat. Jangan kabur, jangan main-main. Kalau kamu macam-macam … adikmu gue lempar ke pria-pria itu.”
Nadia pucat, matanya masih basah. Sisa amarah dan putus asa bercampur. Namun akhirnya ia hanya bisa mengangguk cepat.
***
Sementara itu, Winda tidak bisa lagi menahan diri. Ia pamit sebentar pada Qale, lalu keluar bersama sopir, membawa dua botol jamu.
Tujuannya: kantor Danisha.
Danisha menyambutnya dengan ramah. “Tumben, Ma?” sapanya sambil memeluk Winda.
Winda mengeluarkan botol jamu dari tas. Ia mengajak Danisha duduk di sofa, lalu bercerita soal sakitnya Qale, tentang pendarahan, tentang ketakutannya.
“Siklusku normal kok, Ma,” jawab Danisha ringan.
“Tapi Mama kuatir. Minum dikit biar kamu makin subur,” ucap Winda, mendorong botol itu ke arahnya.
Danisha menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis. “Nggak deh, Ma. Aku subur kok, lagian nggak suka jamu.”
“Qale hampir nggak ada harapan hamil. Dia dikasih ini sama Nadia. Katanya bagus. Kamu juga harus ikut minum,” bujuk Winda. “Kalau dia nggak bisa hamil, kan kamu calon mama buat cucuku.”
Senyum Danisha langsung menghilang. Wajah aslinya yang sinis muncul sekejap.
Winda berpura-pura kaget, tapi dalam hati ia semakin yakin: Danisha memang punya niat busuk.
“MAMA!” seru Danisha tiba-tiba berdiri. “Aku bisa buktikan kalau aku subur. Asal Wafa mau tinggal bersamaku.”
Winda terkekeh pelan. “Kamu bikin kaget. Kenapa sih nggak mau ngicipin? Takut mama racunin kamu?”
Danisha terdiam.
Winda langsung menunjukkan raut kecewa. Ia menunduk sedih. “Maksud Mama baik, Nisha. Tapi malah dicurigai. Kalau Wafa tahu…”
“M-Ma…” Danisha gelagapan, buru-buru duduk lagi di samping Winda.
“Minum ya. Mau kan?”
Glek! Danisha tercenung.
Winda menatapnya penuh harap, seolah seorang ibu yang hanya ingin memastikan masa depan anak-anaknya.
Danisha menelan ludah. Tangannya gemetar ketika meraih botol jamu itu. Tutupnya sudah terbuka, aroma rempah samar menguar.
Sekilas, tatapan Danisha berubah—antara ragu, curiga, sekaligus takut. Tapi Winda terus menatapnya, kali ini dengan senyum lembut yang justru membuat hati Danisha makin gusar.
Glek. Tenggorokannya bergerak menelan ludah kosong.
Danisha mengangkat botol itu perlahan, mendekat ke bibirnya. Winda menahan napas, matanya tak lepas dari setiap gerakan calon menantunya itu.
Satu detik. Dua detik.
Ujung botol hampir menyentuh bibir Danisha.