Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Dipilihkan untukku, Istriku

Pagi itu, langit Jakarta cerah, tapi hiruk-pikuk di ruang konferensi UMKM terasa lebih panas daripada teriknya matahari. Qalesya melangkah masuk, tas kecil di pundak, wajahnya tersenyum ringan namun tegang di baliknya.

Di sampingnya, kursi roda Wafa berjalan tenang, pakaian rapi dan sikap elegan membuat semua mata tak bisa lepas dari sosoknya. Saat mereka memasuki ruangan, beberapa wartawan mulai mengangkat kamera, memotret setiap langkah Qale, tapi sorot mata tetap tertuju pada Wafa.

“Selamat pagi, Pak Wafa, Mbak Qalesya,” sapa seorang panitia. “Kami senang Anda ikut hadir.”

Wafa membalas dengan senyum tipis. “Pagi. Titip istriku selama press conference, ya”

Seketika, beberapa wartawan berbisik, lalu mengangkat kamera lebih tinggi. Telepon genggam mulai merekam. Beberapa reporter menuliskan catatan : “Siapa Qalesya? Ada hubungan apa dengan pewaris keluarga Ambrasta?”

Di sisi lain, seorang wanita elegan muncul, menatap Wafa dengan heran. “Fa?” panggilnya. Wajahnya datar tapi mata mengandung rasa penasaran. “Sudah menikah? Ka-kapan? Kata Danisha kamu janji...” dia melihat Qale dari atas ke bawah.

Wafa menoleh sebentar, senyum tipis. “Halo, Anda sehat?" jawabnya ramah.

Wanita itu masih diam, hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya naik podium. Berbeda sisi dengan Qale. Gosip pun mulai menyebar di luar konferensi.

Hari berikutnya, media online menyorot Qale : usahanya di Anak Lipat, prestasi kue dan kopi yang kini viral, bahkan masa lalunya ikut diangkat, dihubungkan dengan Danisha, sang model yang pernah muncul di berita lifestyle.

Wafa menatap Qale yang masih tampak canggung dengan tajuk berita pagi ini.

"Mau Mama temani ngampus?" ujar Winda, menepuk lengan Qale saat di meja makan.

"Ehm, entah. Aku jadi malas pergi," ucap Qale, menyinggung senyum simpul.

“Kalau harus tetap pergi, baiknya tetap ditemani seseorang,” ucapnya lembut. “Dewi akan membantumu.”

"Dewi?" Qale mengerjap heran.

"Asprinya Mama," sambar Winda, tersenyum lebar.

Qale mengangguk. "Oh." Otaknya menyimpulkan bahwa keluarga suaminya memang berpengaruh. Dia tak bertanya, berharap Wafa menjelaskan satu waktu nanti.

Gadis muda itu sudah bersiap di pintu, siap menuntun Qale melewati hari ini. Wafa menepuk bahu Qale sebentar. “Jangan khawatir, Sayang. Dia bisa menjagamu.” 

"Mari, Nona," kata Dewi, membukakan pintu mobil. 

"Bye, Kak."

"Nggak salim dulu?" 

Qale menjulurkan tangan tapi Wafa malah mengecup dahinya lama lalu mengusap pipinya pelan. Matanya menatap teduh Qale. "Hati-hati, Sayang."

Deg! Deg! 

"He-eem." Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Pipinya terasa hangat, Qale menunduk malu.

Mobil Qale pun meninggalkan rumah. Begitupun dengan Wafa dan Winda, keduanya pergi ke suatu tempat.

Beberapa menit kemudian, saat memasuki parkiran kampus, Qale menelan ludah. Banyak orang di lobby kampus, seolah menunggu seseorang tiba.

Dewi turun membukakan pintu. Beberapa pria langsung mendekat, ingin menanyakan kejelasan hubungannya dengan Wafa, tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Dewi merangkulnya.

“Tanya Pak Wafa saja, ya,” kata Dewi singkat, suaranya tenang namun tegas, kemudian menggiring Qale masuk kampus.

Para wartawan mengejar, tapi dihalangi satpam kampus. Mereka hanya bisa menunggu di luar.

Menjelang makan siang, Qale muncul. Dia kembali dikerubuti pewarta. Tapi Dewi sigap mengawalnya sampai masuk ke mobil dan meninggalkan kampus.

"Kemana?" tanya Qale saat mobil bukan menuju rumah Winda atau tokonya.

"Ke tempat beliau." Dewi menjawab singkat.

Mobil Qale memasuki parkiran bawah tanah sebuah gedung. Qale bingung tapi Dewi terus memaksanya ikut sampai naik ke lantai atas.

Sementara di tempat lain.

Sesampainya di sana. Keduanya menuju salah satu ruangan. Dewi menyerahkan sebuah gaun navy lengan pendek berkerah sabrina, meminta Qale ganti baju. Dewi lalu menata hair piece di rambut Qale dan meriasnya.

Setelah Qale rapi, kemudian diajak menuju sebuah ruangan. Mereka berdiri di depan pintunya.

Sementara dari dalam ruangan terdengar suara gaduh. Rupanya beberapa staf management bertanya langsung tentang status Qale dengan Wafa. Beberapa memberi ucapan selamat, sebagian lainnya menatap curiga.

“Aku pastikan beliau tidak akan mengganggu kinerja,” ucap Wafa lantang, mata menatap tajam deretan pria berdasi.

“Aku tidak memilihnya, tapi dia dipilihkan untukku, dan akan kujaga itu. Namanya Qalesya Namari Hasna.”

Deg!

Qale mendengar namanya disebut seiring dengan pintu yang terbuka. Qale menelan ludah. Glek!

Dewi mendorongnya lembut, membisikkan agar Qale tersenyum dan melihat ke arah Wafa.

Qale menoleh ke arah kanan. Wafa tersenyum lebar sambil menjulurkan tangannya agar Qale menyambut.

Dia melangkah pelan, meraih tangan Wafa yang langsung menariknya sampai menempel di kursi roda Wafa.

"Say Hai, Sayang." 

"Halo, selamat siang. Aku Qalesya." Qale menyentuh dada kirinya, sedikit membungkuk untuk menghormati mereka.

Winda lalu menggamit pinggang Qale. "Dia menantuku, dan memiliki hak di sini," tegasnya menatap petinggi ruangan itu.

Pertemuan misterius itu menjawab semua keraguan Qale. Dia tahu keluarga suaminya adalah petinggi perusahaan meski belum tahu dibidang apa.

Setelah itu, Qale diajak ke ruangan Wafa. Dia membaca papan nama di atas meja.

"Dirut?" Qale menutup mulutnya. 

Wafa hanya terkekeh. Dia menarik pinggang Qale sampai terduduk di pangkuannya. Dia memeluk Qale dan berbisik, "Cantik banget sih, Sayang." 

Qale menoleh, berucap pelan. "Kok baru bilang semua ini, Kak?"

"Maaf. Aku ingin kamu siap dulu, Sya."

"Biar nggak malu, ya, punya istri mata sipit satu. Pernah trauma, dan masa lalu buruk," katanya getir.

Wafa mencium pundak Qale yang terbuka, lalu menggigit pelan.

"Awh, sakit, Kak." 

"Sama, aku juga sakit dituduh gitu, Sya." Wafa memutar posisi duduk Qale jadi menyamping. "Sampai kamu tenang dulu, biar menerimaku utuh."

"Utuh?"

"Iya. Cacat, buta, tapi tampan dan jutawan." Wafa tertawa renyah, sementara Qale memasang wajah datar. 

"Dih, ujungnya gitu." 

"Yang sabar ya, ngadepin aku nanti, Sya."

Qale mengangguk malu-malu.

"Termasuk kalau keterlaluan minta jatah," imbuhnya sambil menaik-turunkan alis.

"Iiihhhh!" cicitnya berusaha bangkit karena Wafa mulai jahil.

Tawa Wafa masih terdengar saat Qale akan membuka pintu. Dia harus ke toko, membantu Ria yang kewalahan. Wafa pun mengantarnya ke sana.

Di toko Anak Lipat, suasana jauh lebih hangat. Remaja dan pengunjung muda berdesak-desakan untuk mendapatkan foto estetik. Aroma kopi segar dan kue manis menyelimuti ruangan.

Qale sibuk bolak-balik dari kasir ke dapur, membantu Ria mengatur pesanan. Nadia, yang duduk di pojok ruangan, matanya terus mengawasi Qale.

“Mbak, minum ini dulu, biar seger,” kata Nadia sambil menyodorkan botol minuman.

Qale menatap sebentar, tersenyum tipis, lalu meneguk. Minuman itu nyaris habis sebelum Wafa menepuk bahunya lembut.

"Puufftttt!" Qale tersedak, tegukannya tumpah ke apron. "Kaaakk!" sungutnya kesal.

Wafa meraih botol minum di tangan Qale. Memeriksanya lalu mencium aromanya. "Jangan minum sembarangan, Sayang." Dia menyerahkan lagi pada Qale.

Qale mengangguk. Dia membawa botol itu ke dapur.

Sememtara Nadia menarik napas lega. Senyumnya mengembang tipis. Pemberian itu diterima dengan baik. “Bagus,” batinnya, senang karena Qale terlihat nyaman dengannya.

Wafa menghampiri Qale, jemarinya menyentuh punggung istrinya sebentar. “Sudah, Sayang. Istirahat.”

Qale mengangguk, hati sedikit lega. Meski dunia luar sibuk dengan gosip, hari ini ia merasa sedikit lebih kuat karena ada Wafa di sampingnya, menjaga, mendukung, dan memberi rasa aman yang selama ini ia rindukan.

Suasana tenang itu terus berjalan sampai pintu toko terbuka dengan suara langkah berat.

Hasan melangkah masuk, matanya tajam menelusuri ruangan. Saat pandangannya jatuh pada sosok Nadia, wajahnya membeku. Mata Hasan melebar, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia berdiri, menyadari sesuatu. 

Nadia menoleh, tersenyum tipis. "Hai, Om."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!