Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Rencana Lea untuk Istriku

"Damkar," sebut Wafa setelah gadis itu menjauh.

"Ya?" 

Wafa menunjuk ke arah pintu keluar. "Tadi, aku ketemu dimana, ya?" katanya bingung.

Bakar melihat wajah gadis itu di CV, dia meneliti tapi memorinya tidak mengingat apapun. "Entah. Emang mukanya agak pasaran, sih, bos. Mungkin kumpulan Rohingya," jawabnya.

Wafa mendelik, sementara Bakar merapikan file gadis tadi. "Rohingya?"

"Rombongan healing banyak gaya," balas Bakar sambil tertawa. 

Wafa yang biasanya tak terpancing, ikut tertawa kecil dan menepuk Bakar menggunakan map di hadapannya.

Sebelum pergi, Wafa menanyakan soal renovasi toko sang istri. Dia berencana mampir ke sana.

Renovasi kecil di toko Anak Lipat rampung. Bagian depan yang dulunya sederhana kini tampak segar. Dua meja kayu berukuran mungil berjejer di sisi kanan, dilengkapi kursi rotan bercat putih. Pot tanaman hijau ditata di sudut-sudut, memberi kesan teduh. Dinding yang sebelumnya kusam kini dilapisi cat pastel, dengan etalase kaca baru yang memajang produk UMKM Qale.

Qale berdiri di depan toko, menatapnya dengan mata berbinar.

“Beda banget ya, Kak,” gumamnya, jemari menyentuh tepian meja.

Dia menoleh ke arah pria yang baru saja datang dengan senyuman tipis yang memesona.

Wafa yang ada di sampingnya hanya tersenyum tipis, menatap istrinya yang tampak begitu puas. “Aku cuma pengen kamu nyaman di sini. Tempat ini harus jadi rumah kedua untukmu.”

Qale menoleh, hatinya hangat, tapi juga terselip resah. Senyum Wafa terlalu sempurna—seolah menutupi sesuatu yang tak terucap.

***

Hari berikutnya, sepulang kuliah, Wafa mengantar Qale ke peternakan Hasan. Lelaki tua itu sudah menunggu dengan wajah penuh harap, sekaligus diliputi kecemasan.

“Ayah butuh modal lagi,” ujarnya tanpa basa-basi, setelah mereka duduk di bale-bale bambu. “Pinjam dulu, Nak. Jangan takut nggak balik,” katanya melembut berbeda dengan tempo hari.

Qale menatap ayahnya lama, jantungnya berdenyut. Sebelum ia menjawab, Wafa meraih tangan istrinya. “Yang dipinjam itu dana Qale. Hak penuh dia. Jadi kalau diberikan, itu murni dari dirinya, bukan aku. Aku hanya mendampingi.”

Hasan mendengus, matanya menyipit. “Peranmu sebagai suami jadi apa? Jangan pelit sama istri nanti rezekimu seret. Lagian, masa menantu nggak bisa bantu mertua sendiri?”

Qale membeku. Kata-kata itu seperti pisau. Ia menoleh ke arah Wafa, khawatir sang suami tersinggung.

Namun Wafa tetap tenang. “Dua puluh persen dari bagi hasil usaha Sya akan kami serahkan. Tapi jangan harap aku campuradukkan urusan perusahaan dengan dana pribadi Sya. Itu haknya.”

Hasan menerima dengan wajah masam, suaranya penuh cibiran. “Katanya kaya, tapi segini doang. Ya sudahlah.” Ia menyambar amplop berisi uang itu, berdiri dengan wajah getir.

Qale hanya menggeleng, bangkit dari bale lalu mengajak Wafa pergi. Ayahnya hanya bersikap manis bila ada perlu doang, pikirnya.

Setelah dari sana, Wafa mengajak Qale bertemu gadis pengganti Elan. Usianya masih muda. Namun, cara bicaranya tegas dan runtut. Ia menjelaskan rencana pengelolaan akun dengan lancar, membuat Wafa mengangguk puas.

Qale hanya duduk di samping, sesekali melirik, tapi tidak berkata banyak. Ia belum bisa sepenuhnya percaya, tapi diamnya adalah bentuk penerimaan.

"Sayang ... ada yang mau ditanyakan ke dia?" kata Wafa, mengalungkan lengan kirinya di kursi Qale.

"Belum ada, mungkin nanti," jawabnya pelan, menoleh lalu tersenyum lembut, membuat Wafa mengusap kepalanya.

“Dia kompeten,” ujar Wafa ketika gadis itu berpamitan. “Kamu bisa fokus kuliah, Sya. Biar urusan ini aku yang pantau.”

Qale mengangguk kecil. “Iya, Kak.” Dia mengatakan cukup untuk perkenalan hari ini. Gadis itu pun berdiri, membungkuk pelan di hadapan keduanya.

"Semangat ya, Nad! Bantu istriku," pungkas Wafa, saat dia akan pergi.

"Siap, Pak, Mbak," balas Nadia sebelum pergi.

Qale menegur Wafa, apakah tak salah ucap menyebut kata "istri" di depan Nadia.

"Anggap itu kebiasaan baruku, Sayang," ucapnya tersenyum tipis. "Kamu keberatan?" 

Glek! Qale diam tak berkedip, membuat Wafa terkekeh lalu mengecup pipinya. "Gemes!" bisik Wafa sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Qale.

Deg! Deg! Jantung Qale berdentum. Darahnya berdesir meski otaknya masih bertanya soal sosok Wafa yang sebenarnya.

***

Sementara itu, di tempat berbeda, Hasan memasuki ruang tunggu rutan. Ia ingin menjenguk Lea, tapi putrinya itu masih ada yang menjenguk. 

Hasan penasaran, siapa yang menemui Lea. Anak itu hampir tidak pernah keluar rumah. Hanya beberapa teman satu les piano yang Hasan kenal karena pernah ke rumah. 

Lea bertemu dengan Deni pun, Hasan tidak tahu persis kapan. Yang dia dengar, mereka pernah ada di komunitas sosial yang sama. 

Dari balik pintu, terdengar samar percakapan.

“Awasi, lalu berikan ini sedikit-sedikit ke makanannya.”

“Baik, Non.” Suara seorang gadis menjawab.

Hasan menegang, itu suara Lea. Ia menoleh cepat ketika seorang perempuan keluar ruangan. Tatapannya tajam, wajah itu terekam jelas. 

Hasan menahan nafas. Apa hubungan dia dengan Lea?

Tak lama kemudian, Hasan dipersilakan masuk. Lea muncul di balik kaca pembatas, wajahnya sinis. “Ayah! Mana uang yang kuminta?”

Hasan meletakkan amplop coklat di meja. “Lea … siapa tadi itu?”

“Teman,” jawab Lea enteng. Ia menyambar amplop tadi, lalu menatap ayahnya dengan dingin. “Jangan ikut campur.”

Hasan menatap penuh curiga. “Ngapain lagi kamu, Nak?”

Lea terkekeh, nada tawanya miris. “Aku sengsara di sini, Yah. Jadi biar orang lain juga sengsara. Dia nggak pantas bahagia. Uang ini juga buat jahilin dia.”

Hasan tercekat, wajahnya pucat. “Lea! Jangan macam-macam. Biarkan adikmu te—”

“Diam!” potong Lea tajam. “Ingat, Ayah. Peternakan, rumah, aset … semua milikku. Awas kalau Ayah berkhianat. Aku tendang Ayah ke jalan!”

Hasan membeku, keringat dingin membasahi pelipisnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi anaknya yang begitu mengerikan.

Lea mencondongkan badannya. "Bagian dia sudah diserahkan bukan? Ayah mau jadi gembel?!" kekeh Lea setelah berbisik ke Hasan.

Tangan Hasan mengepal di atas lutut. Dia merendahkan dirinya di hadapan Qale. Kini malah masuk ke kandang singa. 

Dalam hati, ia ingin sekali memperingatkan Qale. Tapi ancaman Lea mengekang langkahnya.

Lea meninggalkan Hasan begitu saja, tanpa tanya kabar apalagi sungkem permohonan maaf sudah memecah belah keluarganya. 

"Dia anakku, kah?" gumam Hasan, melangkah keluar dari sana.

Di lorong, dia membuka galeri ponselnya. Memandangi sebuah foto lama, senyumnya getir diikuti tatapan mata yang mengabur karena butir yang menggenang. 

"Lesa. Kalau ayah nggak ada, kamu mau kan doain ayah?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!