Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Elan dipecat

Qale masih diam, dia canggung.

Wafa lalu menarik jemari Qale hingga dia bangkit. "Jalan, yuk," ajaknya sambil tersenyum.

"Kemana?" cicit Qale saat berjalan di sisinya, tangannya masih digenggam Wafa.

"Ke dokter. Nyobain titik treatment bentar sebelum dapat jadwal rutin," imbuh Wafa kian erat menggenggam jemari istrinya sepanjang jalan hingga ke depan coffee shop.

Qale hanya mengangguk pelan. Senyum Bakar mengembang sempurna saat melihat nyonya kueh dan Wafa tampak romantis.

Dia membuka pintu mobil untuk Qale dan membantu Wafa masuk. Lalu melajukan kendaraannya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, sekitar mata Qale diberikan pijatan ringan. Dokter juga bertanya apakah sakit atau tidak di area tertentu jika ditekan. Qale bilang semua baik saja dan akhirnya jadwal kontrol rutin pun mereka dapatkan. 

Setelah itu, keduanya menuju stand. Bakar sudah mengirim pesan pada Elan. Tapi tampaknya dia masih ingin berulah dengan membiarkan postingan itu.

Qale tidak menyapa Elan saat tiba di stand. Dia langsung bicara pada dua gadis part-time dan mengecek etalase croissant.

Wafa mengajak Elan duduk di belakang tenda. Tak lupa memanggil istrinya. Matanya terpaku pada video yang baru diunggah Elan. Thumbnail-nya jelas : croissant merah putih, dekorasi stand event, dan potongan clip Qale yang sedang berjalan membawa baki disusul jeda wajah Danisha yang muncul di dekat Wafa.

Caption Elan :

“Pemanis ... Dibalik kisah, masa lalu vs terkini. Inilah perjuangan Anak Lipat.”

Jumlah views sudah tembus 12.4K hanya dalam 30 menit. Kolom komentarnya dipenuhi :

[“Kakaknya pemalu banget, tapi tatapannya kok kayak kecewa?”

["Oh, ada dua owner? Yang satunya kayak model.”]

["Yang matanya sipit satu, kok kayak nggak suka sama yang cantik itu, ya."]

Suara Qale gemetar. “Sumpah ... udah ranah pribadi ini,” desisnya, dadanya panas bercampur malu.

Wafa yang melihat ikut emosi. “Gila kamu Elan, kenapa diproses jadi konten?!”

Belum selesai kalimat itu meluncur, suara Danisha terdengar. Dia masuk dengan wajah santai, mencari Wafa. Tapi, Bakar langsung menariknya keluar stand dan memintanya pergi.

"Menurutku masih wajar, kok," elak Elan santai, sambil menopang kaki.

“Sya,” kata Wafa tegas. “Berikan ponselmu ke aku.”

Meski bingung, Qale menyerahkan ponselnya.

Wafa membaca layar beberapa detik. Mata kirinya yang buta seolah ikut menyala. Tanpa banyak bicara, ia membuka akses medsos lalu menghapusnya.

"Lah, sayang itu view-nya." Elan tak terima. Dia langsung login lewat ponsel. Tapi terlambat, aksesnya ditutup oleh Wafa.

“Elan,” kata Wafa datar. “Sekarang ... kalau mau upload, share ke aku dan Sya dulu. Barusan aku buat grup. Kupikir Anda bisa bekerjasama dengan baik dan tidak kelewatan seperti ini."

"Kan saya sesuai dengan kemauan Pak Wafa. Tidak menjual Qale. Itu kan universal," sanggah Elan menunjuk ponsel di tangan Wafa.

Wafa tersenyum sinis. "Sesuai menghujat Sya, maksudnya? Giring opini bahwa Anak Lipat bukan miliknya?" ujarnya menatap tajam Elan. "Atau ada maksud lain agar nama Sya kembali buruk?" cecar Wafa tak berkedip.

Qale melirik suaminya. Lengan Wafa bergetar menahan marah. Keseriusan itu membuat Qale sedikit takut. Ini bukan Wafa yang biasanya tenang—kali ini, dia membelanya.

"Ya udah ya udah, iyaaaa,” jawab Elan seenaknya. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk celananya, lalu berbalik begitu saja.

“Bakar,” panggil Wafa tegas tanpa menoleh. “Pastikan dia nggak berkeliaran ambil gambar di sekitar sini lagi sebelum aku pulang.”

“Siap, Bos,” sahut Bakar langsung mengekori Elan.

Samar-samar Qale mendengar Elan mengumpat saat melewati pagar stand, kemudian menuju parkiran tanpa pamit. Namun baru sepuluh menit, notifikasi ponsel Qale kembali berbunyi bertubi-tubi.

Elan baru saja mengunggah ulang video “Behind the Scene” versi lain—kali ini menampilkan cuplikan Danisha menunggu di stand dan sengaja men-tag lokasi Anak Lipat.

Tangan Qale gemetar. “Ya ampun… dia bikin aku seolah gosip murahan.”

Wafa menarik napas kasar. “Sya, kamu tetap di stand. Layanin pembeli seperti biasa. Aku urus dia habis ini.” Suaranya tajam tak terbantah.

Dan benar saja—sekitar dua jam kemudian stand mereka mendadak membludak. Banyak orang berdatangan bukan untuk membeli croissant … melainkan melihat Qale dari jauh, membisiki temannya sambil menunjuk-nunjuk.

“Itu dia … pemilik Anak Lipat. Gak yakinin banget ya penampilannya…”

“Mana satunya? Katanya cakepan onoh…”

“Katanya update lagi jam tiga…”

Wajah Qale menegang. Tapi jemari hangat menggenggam pergelangan tangannya. Wafa—dengan tatapan tegas—menggeleng pelan.

“Jangan sembunyi. Aku yang urus sisanya.” gumamnya lirih di dekat telinga Qale.

Qale mengangguk. Ia menata udara di dadanya, memaksakan senyum melayani pembeli satu per satu. Senyum itu sempat kaku … namun lama-lama justru mencuri perhatian pembeli betulan.

“Croissant merah putihnya sold out terus ya, Kak?” tanya ibu-ibu.

“Qale? ... dibikin langsung sama kamu, ya?” sela seorang bapak-bapak, terkagum.

Qalesya tersenyum, mengangguk dan menjawab lembut setiap pertanyaan mereka.

Wafa menatap dari kejauhan, rasa bangga merambat perlahan. Istrinya tetap berdiri. Itu lebih dari cukup membuktikan … Qale bukan perempuan rapuh seperti yang Elan giring.

Tak sampai satu jam, Elan tiba di stand lagi. Dia masih sempat senyum-senyum.

“Lho, rame amat,” celotehnya. “Viral kan bagus buat brand awar—” 

Wafa meminta Bakar menggiring Elan ke belakang stand. “Stop berulah sebelum aku kehilangan sabar.”

Elan terdiam. Tatapan Wafa tak bergeser sedikit pun.

“Kamu upload tanpa izin,” Wafa menekan setiap kata. “bukannya tadi sepakat share ke grup dulu? Effective marketing? Ya. Tapi itu … BUKAN nilai Anak Lipat.”

Elan terkesiap. “Pak, jangan kaku lah … ini lagi rame…”

“Hapus semua backup! serahkan semua sisa editan yang belum terunggah. Kontrak kerjamu selesai per hari ini.”

Wafa meminta Bakar mengambil ponselnya. Juga laptop dan semua yang ada di tas Elan. Dia membawanya ke mobil.

Elan berteriak. "Hey, kembalikan!" 

"Nanti, setelah dipastikan semua bersih." Wafa menatap tajam pria muda di depannya. 

Qale membeku. Ia tidak menyangka Wafa bertindak sejauh itu.

“Kak—” ia refleks memanggil, tak tega juga.

"Qale, masa gini, sih?" Elan memandang Qale, memohon padanya.

Wafa menengok padanya, nadanya melembut. “Sya … posisi kamu bukan buat dimanfaatkan. Aku nggak akan biarkan siapa pun, memperlakukanmu kayak gimick murahan.”

Elan mencoba bertahan, tapi Bakar tiba-tiba muncul membawa kotak peralatan medsos milik Elan. “Silakan,” katanya dingin.

Dengan kesal, Elan pergi. Tapi sebelum melewati ambang pintu, ia mendekat ke Qale dan berbisik, “Lo kira dia pecat gue demi lo? Hati-hati … cowok kayak dia cuma jagain lo sementara—sampai Danisha balik.”

Qale refleks menahan napas, tapi Wafa sudah menarik ransel Elan, menahannya. “Jangan sebut nama itu di depannya lagi,” desis Wafa.

Rahang Elan mengetat, dia mengibaskan paksa cekalan Wafa di ranselnya lalu gegas pergi.

Hening. Qale masih terpaku, mencoba mencerna semuanya. Ia menunduk melepas apron, tapi hatinya menghangat.

“Sya…”

Qale mendongak. Wafa menatapnya serius. “Mulai hari ini, fotomu bakal ada di beberapa flyer promo, sampul depan e-katalog dan di toko. Biar publik tahu, kamu pemilik Anak Lipat, bukan figuran.”

Qale tercekat. “Tapi aku—”

“Bukan demi konten,” potong Wafa, lalu mengusap pipinya perlahan. “Demi aku. Aku mau semua orang tahu bahwa kamu … wanita yang aku perjuangkan.”

Pipi Qale bersemu merah. Rasanya mau menangis, tapi malu. Ia menunduk pelan … menahan senyum yang akhirnya terlihat juga.

Wafa tertawa kecil. Tangannya bergerak memegang pinggang Qale sambil membisikkan kata yang membuat lutut istrinya lemas : “Good. Sekarang belajar juga terima kata ‘sayang’, ya … Sayang.”

Deg! Deg!

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!