Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Qalesya vs Danisha

"Soal?" tanya Bakar melihat kaca spion.

"Nisha. Sya kemarin mengirim pesan padaku berisi tuduhan. 'ngapain ngasih nomer aku ke dia?'," jeda Wafa. "Aku nggak pernah bagikan nomer Sya kecuali padamu dan Elan. Mama saja belum aku beri," beber Wafa.

Bakar manggut-manggut. "Dia itu ... Danisha." 

Wafa mengangguk. "Mungkin. Tapi, darimana dia tahu nomer Sya?" gumamnya menyandarkan punggung ke kursi.

Hening. Dan suara mereka berbarengan ketika menyebut satu nama.

"Elan!" Bakar melihat Wafa dari spion dalam. Sementara Wafa, teringat bahwa mereka adalah teman lama.

"Selain itu?" sambung Bakar, "masa gitu doang, Bos?" Senyum tipis Bakar muncul, dia menduga sesuatu dibalik pesan Danisha untuk Qale.

Wafa diam, lalu manik mata kanannya membulat. "Mungkinkah?" 

"Hmm, kemungkinannya gitu," lanjut Bakar fokus melihat ke depan tapi telinganya mendengar Wafa.

"Cari tahu dimana, kapan, dan temani Sya dari jauh sebelum aku datang," ujar Wafa, tepat ketika mobil mulai menepi di trotoar. 

Wafa turun, ditemani Bakar hingga di depan pintu toko. Kondisi lingkungan dekat pasar dan terminal memang tak pernah sepi meski nyaris tengah malam. 

Namun, justru inilah yang menjadi kekuatiran Wafa. Toko Qale tidak pakai teralis besi. Dia cemas dengan keselamatan Qale karena tinggal di toko, apabila dibobol preman atau didobrak paksa.

"Kar, nanti ini semua ditambah pengaman, ya. Apa kek gitu, yang estetik," katanya sambil menunjuk sekeliling bangunan. 

Bakar mengeluarkan ponselnya, mencatat di note. "Apalagi?" 

"Pagar. Kanopi semi permanen dulu, aksen tanaman rambat ... biar bisa nikmatin ngopi dan ngemil di teras toko. Jangan lupa minta izin dari pemiliknya dulu, Sya masih sewa soalnya," jelas Wafa sambil mengetuk pintu toko pelan.

Bakar mengangguk, jarinya lincah mengetik di ponsel.

"Sya." Wafa memanggil, dia juga menelpon ponsel istrinya.

Sunyi. Keduanya menunggu beberapa menit. 

"Sya." 

Bakar lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu memasukkan ke lubang kunci.

Klik. Pintu terbuka.

Dia cengengesan. "Silakan, Bos." 

Wafa memandangnya datar, lalu masuk ke toko. Di dalam, dia melihat Qale tidur meringkuk di sofa pojok, tempat terakhir mereka berbincang. 

Bakar pamit pulang sementara Wafa mendekati istrinya. Dia memandangi wajah mungil itu sebelum kakinya menapak lantai. (Sstt)

Wafa memastikan lagi, Qale masih pulas. Perlahan, dia mengangkat tubuh istrinya masuk ke kamar belakang. Menata bantal agar nyaman, menyisakan ruang baginya agar bisa berbaring disamping Qale.

Dia kembali ke depan, menarik kursi rodanya masuk ke sisi sofa bed.

"Malam, Sya." Wafa berbaring miring, memeluk tubuh istrinya dan langsung pulas.

*

Alarm ponsel berbunyi pukul 05.00 pagi. Qale terbangun dengan mata sembab. Ia merasakan dadanya berat. Dan ketika melihat ke samping, wajah Wafa menempel di bahunya.

Ada gelenyar aneh ketika tangan pria ini memegang area dadanya. Meski tidak panik, Qale masih risih. Dia beringsut pelan agar Wafa tidak terbangun.

Setelah salat subuh. Dia membangunkan Wafa lalu menyiapkan adonan, mengalihkan gelisah dalam kesibukan. 

Ria datang lebih cepat pagi ini. Dia sedikit terkejut melihat Wafa berpenampilan rapi, duduk di sudut ruangan sepagi ini.

“Tumben udah mandi jam segini?” goda Ria sambil memakai apron. "Diapelin pagi buta, ya?" kekehnya menaik-turunkan alis.

“Stres. Mikirin beban idup.” Qale tersenyum kecil, enggan menjelaskan lebih jauh. Keduanya lantas berjibaku di dapur.

Setelah semuanya siap, pukul 09.15, Qale berdiri di depan cermin kecil di gudang. Ia menggulung anak rambut dan memberi sapuan bedak tipis di pipi. Kenapa aku dandan seperti mau ketemu seseorang penting … padahal mungkin akan diremehkan? batinnya getir.

Qale lalu pamit pada Wafa yang sibuk dengan laptopnya. 

Tepat Jam 10.00, Qale sudah berada di coffee corner seperti pesan di chat semalam. Tangannya menggenggam erat ponsel.

Dari jauh, sosok Danisha muncul—anggun dengan blus biru muda dan celana putih. Senyumnya ramah. Qale menggenggam gawainya kian erat.

“Hai …” Danisha menyapa lebih dulu. “Makasih udah mau ketemu.”

“Langsung saja,” potong Qale tanpa basa-basi.

Danisha duduk dan memandangnya lama sebelum berkata, “Aku nggak mau kamu salah paham. Memang benar … aku dan Wafa punya masa lalu. Tapi kamu harus tahu, yang memutuskan menjauh waktu itu, Wafa sendiri. Bukan aku.”

Qale tersenyum miring. “Lantas, apa kaitannya denganku,” tegas Qale. “Itu ... Bukan urusanku.”

Danisha tersenyum samar. “Justru kamu harus tahu posisi. Wafa keras kepala. Kalau masih sayang, dia pasti balik lagi. Yang jadi pertanyaan : kamu siap kalau dia kembali padaku?”

Jantung Qale berdebar sakit. “Kenapa tanya aku? Harusnya tanya dia.”

“Aku mau dengar dari kamu—apakah kamu… akan bertahan?” desak Danisha.

Qale menghela napas, berusaha tenang. “Aku nggak minat saingan. Kalau dia meresponmu, ambil saja.”

Danisha menatapnya, seakan ingin memastikan sejauh mana gadis mungil dihadapannya siap menyerah.

“Baiklah,” gumamnya. “Aku akan mengambilnya darimu. Meski aku nggak tahu, hubungan kalian itu apa.”

Qale ingin membalas, namun langkah seseorang dari arah belakang membuatnya menoleh cepat.

“Stop.”

Suara Wafa terdengar berat. Kursi rodanya melaju cepat.

Wafa menatap tajam Danisha. “Ngapain, sih! Pulang sana …”—matanya lalu bergerak pada Qale—“stay dan dengerin aku dulu.”

Qale terdiam, shock karena Wafa sampai datang ke sini. Danisha melipat tangan, menatap Wafa tajam.

“Aku cuma mau jawaban, Fa. Kau masih cinta kan?” tanya Danisha langsung.

Wafa memejam, membiarkan pertanyaan itu menggantung. Lalu, perlahan ia mendesah. “Mungkin rasa itu belum hilang. Tapi aku sudah memilih.”

“Memilih dia, tanpa cinta? Dipaksa?” desak Danisha lagi.

Wafa menoleh ke arah Qale. Pandangnya jujur. “Mungkin … tidak memilih ataupun dipaksa. Dia tanggung jawabku.” Suaranya nyaris bergetar.

Qale tercekat. Ponselnya nyaris jatuh.

Danisha mengepalkan jemarinya. “Ngapain nyakitin diri sendiri, sih ... Kita bakal hepi lagi kek dulu, Faaa.”

Wafa diam. Danisha pun kesal sendiri. Dia bangkit. Namun sebelum pergi, ia berbisik ke Qale, “Hati-hati. Dia bisa menipumu lalu meninggalkanmu kapan saja.”

Danisha melangkah pergi—anggun, tanpa menoleh.

Wafa memutar kursi rodanya mendekat ke Qale. Dia meraih jemarinya yang terasa dingin. "Syaa ... jangan pergi. Dia bukan siapa-siapaku lagi.”

Dada Qale sesak. Matanya berkaca, wajahnya kaku menahan haru. Di saat itu, ponselnya bergetar—pesan dari Elan :

[“Stand by ya, hari ini gue posting behind-the-scene saat hias stand. Bakal viral!”]

Qale melihat postingan itu, beberapa detik setelah di upload. Dahinya mengerut sebab Danisha ada di sana. “Ngapain kek ginian, sih. Hapus aja lah,” bisiknya.

Wafa mendecak. “Sial … aku urus dia. Kamu diam saja.”

Wafa mengeluarkan ponselnya, menghubungi Bakar. Wajahnya berubah dingin. Pertama Danisha, sekarang Elan… batinnya marah.

Qale hanya menatap suaminya. Tapi dalam hati, ia bergumam … Kalau ini baru permulaan, aku harus kuat.

Setelah membeli titah pada Bakar. Wafa kembali melihat istrinya. 

Dia menarik jemari Qale dan meletakkannya tepat di dadanya.

“Mau, kan? Beri aku kesempatan, Sya.”

Deg! Deg!

Qale menunduk, tidak berani menatap Wafa. Ada desir hangat yang pelan-pelan mengikis kecewa di hatinya. Dia belum siap menjawab … tapi menolak Wafa rasanya jauh lebih menyakitkan.

“Apa harus manggil ‘sayang’ dulu?” bisik Wafa, suaranya pelan tapi tulus. “Aku nggak biasa bilang begitu … tapi kalau itu bisa bikin kamu tetap di sisiku. Aku bakal belajar mulai sekarang.”

Qale menggigit bibir. Hatinya menghangat. Ia diam, tidak menarik tangannya yang masih berada di dada Wafa.

Wafa tersenyum kecil, menunduk … lalu mengecup perlahan dahi istrinya yang tertutup poni.

.

.

Clue lagi, nih.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!