Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Rayuan Danisha

Wafa diam saat Danisha mencecarnya dengan pertanyaan pribadi. Winda lantas mengalihkan perhatian wanita cantik di sampingnya.

"Gimana standmu? Ramai?" tanya Winda mengusap lengannya.

Senyum Danisha muncul, "Lumayan untuk hari pertama," ujarnya. Dia ikut serta dalam pameran di bidang clean eating—makanan sehat organik.

"Enak gak, Mam, Faa?" tanyanya pada Winda dan Wafa soal kiriman makan siangnya tadi. 

Winda belum mencicipinya sehingga dia hanya memberi jempol sambil tersenyum. Sementara Wafa mengangguk pelan. Dia lalu pamit masuk ke tenda, meninggalkan keduanya.

"Kamu kenapa, sih, Faa?" ucapnya pada Wafa yang fokus dengan ponsel. Wajahnya seperti mencemaskan sesuatu.

"Nggak apa. Makasih banyak, ya. Aku duluan," balasnya buru-buru menekan tombol otomatis di dudukan lengan kanan, agar kursi rodanya melaju.

Lorong belakang area pameran agak sepi. Danisha yang berdiri beberapa langkah di sampingnya, menatap Wafa heran. Senyum tipis itu sama seperti yang dulu—hangat, dan seakan masih menyimpan sesuatu

“Kamu kok tiba-tiba berubah,” ucap Danisha pelan, matanya seperti mencoba membaca hati Wafa.

Wafa berhenti, menarik napas dalam. “Kamu tiba-tiba muncul ... kenapa?”

Danisha menunduk, jemari meremas ponsel di genggaman. “Karena aku dengar kamu sudah mulai bangkit. Aku ... cuma mau lihat kamu. Pastikan kamu baik-baik aja.”

Wafa ingin menjawab sinis, tapi kata-kata itu tertahan. Ada terlalu banyak cerita di antara mereka—cerita yang tidak pernah selesai.

“Kamu pergi waktu itu tanpa penjelasan,” kata Danisha akhirnya. “Aku ... nggak pernah buang kamu, Faa. Aku cuma—”

“—ngerasa nggak cukup, karena kondisi aku,” potong Wafa, nada suaranya getir. “Aku tahu, Nis. Aku tahu kamu bakal insecure. Tapi waktu itu, aku nunggu kamu ngomong. Sayangnya ... kamu cuma diam.”

Danisha menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau aku minta kita perbaiki ini semua ... apa kamu bakal mau?”

Wafa tersenyum miris. “Pertanyaan itu datangnya terlambat, Nis.”

Suasana menegang. 

"Aku nggak layak untukmu, meski ingin," beber Wafa, mencengkeram erat ujung lengan kursi rodanya.

Danisha mendongak, dia lalu berjongkok di sisi Wafa. "Mulai dari awal lagi. Aku masih milikmu," sambungnya lirih. Dia meraih jemari Wafa dan menggenggamnya.

Wafa hanya menghela napas berat. Rasa sayang itu masih ada dalam hatinya. Namun, kondisinya berbeda ... kini, di hidupnya ada Qalesya. Meski belum hadir cinta, tapi dia merasa nyaman di sisi gadis itu.

"Fa ... ya?" pinta Danisha, memandang sayu pada pemilik wajah tampan ini.

Dari ujung lorong, langkah berat Bakar mendekat. “Bos,” sapanya singkat, lalu berdiri di antara mereka seperti satpam memergoki pelaku pencurian.

Danisha buru-buru bangun, merapikan roknya dan berdiri menyandari lengan Wafa. Tangan kanannya melingkari bahu Wafa seolah simbol bahwa dia adalah pemilik hatinya.

Bakar menatap tuannya tajam. “Maaf, ganggu. Anda jadi menggambar di kanvas baru atau berteduh dan mengulang baca buku lama?" sindirnya pada Wafa soal kehadiran Danisha.

Wafa paham makna Bakar. Dia mengibaratkan Qale adalah masa depannya sementara Danisha hanyalah masa lalu, yang sudah diketahui baik buruknya.

Wafa mengernyit. “Aku cuma...”

“Cuma apa, Bos?” Bakar sengaja menurunkan nada suaranya. "Kualitas kanvas barunya mumpuni meski terlihat vintage, tapi tinta dan cat yang disediakan warna-warni ... Anda mampu membuat lukisan indah di sana," beber Bakar.

Danisha tersenyum masam. "Ngomong apa sih, kamu? Sok puitis. Wafa masih sayang sama aku. Kamu orang baru, kan? Ngerti apa?" cecarnya sinis melihat Bakar dari atas sampai bawah.

"Orang baru kadang lebih peka dari orang lama, Nona."

"Pemenangnya tetap orang lama!" balas Danisha sambil bersedekap.

Bakar berpikir sedetik, lalu nyengir tipis, menatap Danisha tanpa gentar. “Yang Anda sebut orang lama, kadang cuma menang waktu—bukan hati.” 

Danisha terlihat kesal. Bibirnya mengatup rapat. Sementara Bakar, mengalihkan perhatian pada Wafa.

Sejak tadi Wafa terdiam. Kata-kata Bakar berputar di kepalanya.

"Gimana, Bos?"

"Titip dia," katanya sambil memutar kursi roda kembali ke stand. 

Senyum Danisha mengembang, sedangkan Bakar melihat lesu kepergian Wafa.

Di saat itu, Winda muncul dari arah berlawanan, hendak pulang. “Fa,” panggilnya ramah, lalu melirik Danisha. “Wah, Mama senang lho lihat kalian bisa akrab lagi.”

Wafa menghela napas berat. “Ma...”

“Apa? Mama cuma bilang senang. Itu wajar, kan?” Winda tersenyum, lalu menepuk lengan Danisha. “Nak, jangan sungkan kalau mau main.”

Wafa menatap ibunya tajam. “Maaa!”

“Kita bicara di rumah,” jawab Winda datar. “Mama cuma mau lihat kamu sendiri sadar ... siapa yang ada di hati kamu, dan siapa yang kamu jaga sekarang.”

Ucapan itu membuat Wafa tak bisa membalas. Sementara Danisha masih mengulas senyum lebar di wajahnya. Dia mendapatkan angin segar dari Winda.

Sementara itu, di toko...

Qale menumpahkan seluruh fokusnya pada oven. Croissant mengembang cantik, aroma mentega memenuhi udara. Ria menawarkan untuk membantu, tapi Qale menolak, memilih bekerja sendiri.

Tangannya sibuk, tapi pikirannya terus melayang. Sesekali ia menoleh ke jam dinding. Sudah nyaris jam tiga sore. Apa Wafa masih di event? Apa dia sedang bersama wanita tadi?

Dia menunduk, menata roti di rak. Tapi jantungnya berdebar tanpa alasan jelas.

“Kak, ngelamun lagi,” komentar Ria sambil menumpuk kotak kemasan kosong dari event.

“Enggak,” jawab Qale cepat.

Ria mengangkat alis. “Masa? ... kalau nggak ngelamun, mukanya tuh gak kek lagi pake sheet-mask, kaku," kekehnya renyah.

Qale mendengus, lalu pura-pura sibuk mencatat stok. Tapi setiap detik terasa lambat, seperti menunggu sesuatu yang nggak pasti.

Di event, Wafa masih duduk di pojok stand, tapi pikirannya melayang ke wajah Qale. Kata-kata Bakar tadi menusuk—“Nyonya merasa diabaikan.”

Dia melirik ke arah ponselnya, ingin menghubungi Qale, tapi jarinya ragu menyentuh layar. Lebih baik menunggunya di sini, mengajaknya bicara setelah tutup stand nanti. Pikir Wafa.

“Pak Wafa ... galau mulu, are you ok?” suara Elan tiba-tiba terdengar di sampingnya.

Wafa mendesah. “Bukan urusan kamu.”

Elan tersenyum samar. “Saya cuma mau bilang, kalau orang yang Bapak pikirin itu mungkin lagi mikir ... Anda nggak mikirin dia.”

Wafa menoleh, menatap Elan dalam-dalam. “Kerjakan saja tugasmu, aku bayar buat itu. Bukan berkomentar.”

Elan hanya mengangkat bahu, lalu berjalan pergi sambil menyeruput minumannya. Otaknya mulai menyusun rencana.

Sore mulai turun.

Qale sedang bersiap akan menuju stand ketika ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul dari nomor tak dikenal.

["Halo, Qale. Kita belum sempat kenalan. Boleh kita ketemu sebentar? Aku mau bicara..."

Jantung Qale berdetak keras. Jemarinya berhenti di atas layar, tatapannya terpaku pada pesan itu.

Di kejauhan, oven berbunyi—roti matang. Tapi Qale tidak beranjak. Ria yang gegas membereskannya.

"Siapa?" gumam Qale.

Ria menoleh. "Siapa apanya?" 

"Aku yakin, ini pasti dia ... tapi, darimana dia tahu nomerku?" ucapnya pelan, dahinya sampai mengerut.

"Dia siapa?" sambung Ria sambil menata croissant ke loyang saji untuk didinginkan. 

Qale melihat ke arah Ria, lalu mengendikkan bahu dan menyambar tasnya. Dia menepuk pundak Ria untuk berterima kasih lalu pamit keluar toko sebab ojol sudah menunggunya.

Di event, Bakar berdiri di samping Wafa, menatapnya lama sebelum berkata lirih, “Kalau Anda masih kayak tadi, saya nggak yakin Nyonya bakal bertahan.”

Kalimat Bakar, bersamaan dengan pesan masuk dari Qale ke ponsel Wafa. ["Ngapain ngasih nomer aku ke dia?"]

Deg! 

Wafa heran. "Dia, siapa?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!