Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Wafa Cemburu lagi

Qale masuk ke toko dengan wajah muram. Dia masih tidak mengerti mengapa sikap Wafa berubah padanya.

Ria datang lebih awal, langsung memekik senang melihat dekorasi toko pagi ini. Pita emas dan coklat mendominasi. Ada yang menjuntai, diikat dengan balon senada di salah satu dinding. Juga sebagian kecil menggantung di tengah ruangan.

Hiasan rempah di etalase menjadi ciri khas bahan tambahan onbitjkoek, menguatkan vibes kue ini. Parcel dengan wadah kaca, di meja kasir menjadi contoh bahwa onbitjkoek mereka cocok dan elegan untuk hantaran.

"Keren!" kata Ria kagum. "Siapa yang dekor, Kak?" tanyanya pada Qale.

Qalesya tersenyum tipis, "Kak Wafa. Sudut meja itu, menurutmu apa yang kurang?" ujar Qale menunjuk ke bagian sudut kasir.

Ria menoleh. "Eeh, semua dah lengkap. Ehm, sisa kartu nama aja," ucapnya. "Ada tester, kue utuh di tray, vas bunga lucu. Kak Wafa emang cool," sambungnya.

"Katanya itu ide Elan?" 

Gadis itu mendongak. "Elan cuma minta ada meja center poin aja kok. Yang siapin alatnya aku ... makanya aku heran, ini sudah lengkap dan cantik. Pas dengan dekorasinya," beber Ria sambil berjalan ke belakang.

Deg! 

Qale mematung. Dia sempat mengagumi ini, padahal mungkin Wafa hanya memancing reaksinya saja.

"Pantesan, ngambek kayaknya," gumam Qale, mengulum senyum.

Matanya jatuh ke pojok kasir. Meja kecil dengan alas anyaman dan vas dari botol kaca itu masih berdiri cantik.

Perlahan, ia bangkit. Tangannya meraih satu tangkai lavender dari vas, lalu memindahkannya ke toples tester di meja kasir. Tak banyak. Hanya satu tangkai. Tapi setelah itu ia tak melakukan apa pun. Hanya duduk. Menatap ruang kosong. Lama

Tak lama, toko mulai dibuka. Qale dan Ria ke trotoar menawarkan tester juga brosur mereka. Elan siap dengan kameranya, mengambil gambar dan video.

Hari ini hanya membuat 10 loyang onbitjkoek dengan 2 ukuran. Tujuan Qale agar pelanggan tidak merasa berat untuk membeli kuenya. 

Usahanya berbuah manis. Onbitjkoek ukuran mini lebih disukai pembeli. Menjelang siang, mereka kembali masuk ke toko sebab pelanggan croissant dan kopi mulai berdatangan.

Sementara itu, di rumah, Wafa menyalakan laptop. Tangan kirinya mengetik pelan, membuka folder yang hanya ia tahu.

Folder rekaman CCTV toko.

Wafa tak berniat mengintip, tapi penasaran lebih kuat. Ada rasa yang belum selesai. Dan begitu file terbuka, Wafa menatap layar tanpa suara.

Di sana, Qale berdiri lama di depan meja pojok. Tak melakukan apa-apa. Hanya menatap. Seakan sedang bicara pada sesuatu yang tak terlihat.

Dia melihat Elan duduk di meja paling pojok, berkutat dengan laptopnya. Secangkir kopi dan slice kue tersaji di sana.

Wafa menahan napas. Hatinya remuk.

“Harusnya aku marah. Tapi kenapa yang terasa justru sepi?”

Ia tutup laptopnya cepat, lalu menyalakan rokok.

"Bos, salah sendiri main kode, ini tahun 2025 ... Bukan tahun gajah," kata Bakar yang ikut nimbrung membakar linting tembakau milik Wafa.

"Harusnya nanya dulu nggak, sih?" 

Bakar mengepulkan asap ke udara. "Nggak mesti, tau sendiri kan, dia pendiam," lanjutnya. 

Wafa diam. Melanjutkan menghisap rokok sambil membuka lagi laptopnya.

Toko ramai, Qale tak henti tersenyum. Elan masuk ke dapur, memberi ruang bagi pelanggan yang ingin makan di tempat.

***

Pagi berikutnya, toko buka seperti biasa. Tapi Qale tidak nampak. Ponselnya mati. Bakar datang ke toko, lalu balik lagi.

Ria mulai panik. Pembeli berdatangan. Promo Onbitjkoek berhasil. Tapi pemilik tokonya menghilang.

“Bos, nggak bisa gini terus,” Bakar berkata sambil membuka pintu kamar. “Dia nggak di toko, juga kampus. Saya harus cari kemana.”

Wafa duduk di sisi ranjangnya. Dia berkata, "Cari ke makam Bu Rahayu." 

Bakar mengangguk, dia gegas pergi ke sana. Sementara Wafa, bersiap memberi kejutan siang nanti. 

Dia mengecek feed Instagram toko. Reels dari Elan viral. Komentar membludak. Ada potongan wajah Qale tersenyum samar.

Wafa menggigit bibir, "Sudah saatnya kembali, Fa!" 

Butuh dua jam sampai akhirnya Qale kembali ke toko. Wajahnya tanpa ekspresi. Tapi dia langsung ke dapur, memakai apron cokelat Anak Lipat.

Qale bekerja dalam diam. Ia melayani pembeli, memotong kue, menerima pembayaran. Senyumnya tipis, tak semringah seperti biasanya.

Wafa tak muncul. Qale sesekali melihat HP, cemas. Tapi tidak ada kabar, dia sudah mencoba berkirim pesan, bahkan menelponnya.

Hingga datang satu pelanggan—perempuan muda yang baru pertama kali ke toko.

“Ini kuenya enak banget. Pas,” katanya sambil tersenyum ke Qale. “Maaf ... aku keknya kudu bilang ini ... matamu yang sipit sebelah, itu ciri khas. Aku inget toko ini karena wajahmu," jelasnya sembari menunjukkan postingan di IG Anak Lipat.

Qale membeku. Ia menatap pelanggan itu. Terlalu lama. Lalu tersenyum—kecil, sangat kecil. “Terima kasih,” katanya pelan.

Dia lalu memberi semangat bahwa dirinya terhibur dengan kondisi Qale. Bagai motivasi berjalan.

Ucapan si pelanggan tidak menyakitinya. Tapi sebaliknya. Karena baru kali ini, seseorang melihat hal yang membuatnya merasa keren padahal dirinya tidak cantik.

Dan ia sadar.

Wafa selalu begitu.

Sejak awal.

Tapi justru dia sendiri yang belum benar-benar menerima dirinya. "Tiba-tiba kangen dia," gumam Qale. 

Ria menyenggol lengannya, alis matanya berjengit ke atas. "Kangen Elan?" 

Qale tersenyum, menggeleng pelan. Dia menoleh saat bel pintu berbunyi. Senyumnya mengembang saat melihat sosok itu.

"Kaaaaakkk!" 

Wafa masuk membawa seikat bunga berwarna ungu, warna kesukaan Qale, ada boneka chef di bagian tengahnya.

"Lancar?" katanya saat menyerahkan buket bunga.

"Mayan ... postingan Elan bantu banget, reelnya ramai," jelas Qale tersenyum lebar.

Wafa langsung berubah datar. Dia mendorong kursi rodanya ke sudut kasir, dimana meja kecil itu berada. 

Qale mengikutinya, mengambil tester lalu menyodorkan ke hadapan Wafa. 

"Tata suka ngetes gitu emang ya ... tapi, makasih banyak. Maaf, aku nggak peka," ucapnya pelan, memandangi pria di depannya.

"Seleramu?" kata Wafa.

"Bukan selera Nusantara ... and you got it," balas Qale, sorot matanya berbinar cerah ketika Wafa menerima suapannya. "Enak? Konsisten nggak, rasanya?" 

Wafa tersenyum manis, membuatnya terlihat cool.

"Konsisten kayak undang-undang 45, Nyah," sambar Bakar ikut mengambil tester lalu duduk di bangku kosong.

"Nyamber aja, Damkar!" Wafa menyenggol ujung sepatunya. Ada Ria dan Elan yang tidak tahu status hubungan Wafa dan Qale.

Bakar langsung paham. Dia mengedipkan matanya sebelah, membuat Ria yang memperhatikan jadi curiga, Bakar kok genit ke Wafa.

"Eeh, Pak Kayu, suka batangan?" celetuk Ria.

Bakar menoleh. "Coklat batang lebih disukai," jawabnya asal, tanpa mencerna kalimat Ria. Bakar pikir, Ria menawarkan kue dengan banyak toping coklat.

Ria melongo, Wafa melihat itu tapi dia enggan klarifikasi. Biarkan Bakar menanggung akibatnya.

Menjelang tutup toko, Wafa meminta Elan memberikan laporan terkait konten selama beberapa hari ini. 

Lelaki itu bersemangat menjelaskan secara rinci, apalagi bila membahas soal video yang ada Qale nya.

"Qalesya jangan terlalu di ekspose. Anak Lipat jualan kue, bukan pemiliknya," tegas Wafa, mencoret konsep konten pekan depan. 

Elan berucap, "Kan behind the scene, Pak." 

"Aku nggak setuju, ambil konsep lain untuk konten itu. Dia harus tetap tersimpan rapi," lanjutnya sambil menoleh ke arah Qale. 

Qalesya hanya diam, sibuk menyeruput coklat hangat yang sebenarnya dia sajikan untuk Wafa. 

Elan manggut-manggut, mencoret konsep yang ditolak Wafa. Tiba-tiba ponsel Wafa di atas meja, berdering. 

Satu nama terpampang di sana. Mama.

Qale melirik Wafa, gelasnya menggantung di udara. Apalagi saat Wafa menjawab panggilan itu. "Ya, Ma?" Senyumnya muncul, sambil menatap ke arah Qale. "Lagi sama dia...." 

Glek.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!