Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Wafa Galau
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai linen dari jendela kamar yang tidak tertutup semalaman. Wafa terbangun, melihat jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi.
Dia turun dari ranjang, duduk di kursi rodanya lalu keluar kamar. Ingin melihat Qale, sebelum orang lain melihatnya lebih dulu.
Perlahan dia membuka pintu kamar Qlae. Tidak masuk, hanya berhenti di kusen pintu saja. Wafa memandangi istrinya yang meringkuk di ujung ranjang, kepala bersandar pada tumpukan bantal, tangan masih memeluk buku resep tipis.
Dia menatap lama. Ada damai yang menenangkan hati.
“Dia pulas ... imut banget, sih,” gumamnya pelan.
Wafa perlahan mendekat, menarik selimut yang melorot, lalu menyentuh ujung rambut karena menutupi pipi sang istri.
"Pagi, Sya," bisiknya sambil menowel pipi Qale sebelum keluar kamar.
Cahaya pagi masuk lewat celah tirai ruang tengah, berpendar lembut hingga ke ruang makan. Aroma kopi memenuhi udara, membuat suasananya jadi hangat.
Qale keluar kamar dengan rambut sedikit basah serta sweater yang terlihat kebesaran. Matanya langsung mencari beberapa peralatan masak.
ART Wafa melarang Qale sibuk di dapur, tapi gadis ini mengatakan ingin membuat sesuatu dari bahan yang ada di sana. Namun, si ART malah meminta Qale menemani Wafa yang baru tiba.
Wafa sudah di meja makan, membaca koran. Posisinya tegak, wajahnya tersembunyi di balik lembaran kertas.
"Pagi, Kak," sapa Qale pelan.
"Pagi," jawab Wafa cepat, tanpa menoleh.
Qale menarik kursi perlahan dan duduk di seberangnya. Dia menyajikan kopi dan teh ke hadapan Wafa, dia belum tahu betul kebiasaan suaminya meski beberapa kali sarapan bareng.
Dia menunggu Wafa bicara lagi, tapi yang terdengar hanya suara lembaran koran yang dibalik.
Tak biasanya Wafa sependiam ini. Bahkan kemarin malam mereka masih ngobrol panjang.
"Kak, apakah sakit nanti?" Qale mencoba bertanya soal pengobatannya.
"Nggak kayaknya," jawab Wafa datar. Masih menatap koran, seolah itu lebih menarik daripada dirinya. "Kan periksa dulu."
Qale menggigit bibir bawahnya. Rasa hangat dari semalam perlahan dingin seperti piring tanpa hidangan.
"Oh." Qalesya memilih bangun dari sana, ke dapur membuat sesuatu.
Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar.
“Permisi ... bintang tamu udah datang.” Bakar masuk dengan ransel tripod di satu tangan dan kamera DSLR di tangan lain. Di belakangnya, Elan muncul dengan hoodie hitam dan senyum lebar.
“Pagi, semuanya. Harumnya bikin nggak sabar,” sapa Elan, mengangkat kamera. “Kita bisa mulai?”
Qale mengangguk antusias. Dia menoleh ke Wafa, berharap ada senyum atau tatapan, tapi tak ada. Wafa hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap korannya.
Dia menarik lengan baju Elan ke dapur untuk membahas properti dan angle pengambilan gambar. Wafa hanya meliriknya sekilas dari balik koran.
“Hari ini konsepnya resep warisan Bu Rahayu. Diolah generasi berikutnya,” jelas Elan sambil mengatur pencahayaan.
Qale makin bersemangat saat menyiapkan bahan-bahan. Sesi foto berlangsung di dapur. Elan sigap mengambil sudut terbaik, sesekali mengarahkan pose tangan Qale saat menata topping. Mereka tertawa kecil saat tepung tumpah atau saat hiasan kuenya jatuh.
Dari ruang makan, Wafa memperhatikan diam-diam. Tangan kirinya menopang dagu, sementara jemari kanan mengetuk-ngetuk pinggiran kursi rodanya.
Ada rasa aneh yang muncul. Sesuatu yang tidak ia harapkan. Tapi nyata. Wafa hanya diam, menatap keduanya berinteraksi.
Bakar berdiri di belakangnya, membawa setumpuk gosip. Dia menghampiri, berbisik pelan, “Yang satu bawa kamera, yang satu bawa kesepian. Kira-kira ... siapa yang menang, Tuan Tata?”
Wafa masih diam.
"Bahaya, Tuan. Layangan oleng ... bisa terbang balik ke tempat pedagang baru," gumamnya datar.
Wafa tak menjawab. Matanya tetap tertuju pada dua orang di dapur itu. Bakar masih setia berdiri disampingnya, dengan semua ocehan absurd.
"Kar, mulai besok kamu cuti sampai pemilu berikutnya," ujar Wafa dingin. Dia meletakkan koran di atas meja makan lalu menyeruput kopinya.
"Pffttt!" Wafa menyemburkan kopinya ke wajah Bakar.
Bakar diam mematung, matanya memejam sementara wajahnya tampak kesal. "Niat banget, Bos! Tau aja scrub muka saya habis," ucapnya saat Wafa terkekeh-kekeh.
"Maaf." Wafa menyodorkan tisu pada asprinya itu.
"Aku tim tukang poto kalau gitu," balas Bakar melengos pergi diikuti tawa Wafa.
Wafa tetap terpaku pada sosok yang kini terus tersenyum selama pemotretan. Suaranya ceria. Tatapannya penuh semangat.
Dalam hati, Wafa mulai bertanya, 'Kalau dia bisa tertawa seperti itu bersama orang lain ... masih pantaskah aku berharap dia tetap memilihku?'
Setelah cuci muka, Bakar lantas mendekat lagi pelan-pelan. Wajahnya serius, suaranya lirih kayak lagi ngasih kabar duka.
“Bos…”
“Hmm?” sahut Wafa tanpa menoleh.
“Kalau kucingnya makin nyaman dielus orang, itu salah kucingnya atau yang punya lupa ngelus?”
Wafa mencibir. “Maksudnya?”
Bakar berdiri di sisi Wafa, makin bisik-bisik. “Barusan saya denger suara tawa ehmm ... gimana ya, Bos ... tawa perempuan yang lupa kalau lagi dipantau.”
“Damkar,” geram Wafa.
“Serius, Bos. Tawa barusan tuh ... bukan tawa biasa. Itu tawa martabak manis. Nyes sampai hati.”
Wafa melirik tajam.
Bakar melanjutkan tanpa dosa, “Saya pernah lihat tawa kayak gitu, Bos. Pas Mbak Satpam depan nikah. Eeh seminggu kemudian kabur naik Mio sama mantannya.”
“Kar...” Wafa mulai menggulung koran.
“Cuma bilang, Bos. Cuma bilang…” Bakar langsung berdiri menjauh. “Hati-hati. Senyum yang direbut orang ... manisnya dua kali lipat, lho.”
Wafa melempar serbet ke muka Bakar. “OUT!!”
Bakar sudah kabur ke dapur, sambil teriak, “Saya ke pihak catering aja! Siapa tau masih bisa booking buat resepsi baru!”
Wafa hanya menghela napas. Ingin pergi dari sana tapi rasanya berat.
Menjelang sore, Qale duduk di teras belakang. Raut wajahnya tidak secerah pagi tadi. Tangannya memainkan sendok kecil, mengaduk-aduk teh yang tak juga diteguk.
Wafa menyusul ke belakang. Langkahnya tertahan di ambang pintu saat melihat Qale menatap kosong ke halaman.
"Elan mana?" tanya Wafa, berusaha terdengar netral.
Qale menoleh. "Sudah selesai. Lagi siap-siap balik," jawabnya pelan. "Kayaknya Kakak nggak suka aku kerja sama dia, ya?"
Wafa diam.
"Aku salah, ya?" lanjut Qale, suaranya nyaris seperti bisikan anak kecil yang takut dimarahi.
"Nggak ... Kamu nggak salah," jawab Wafa mendorong kursi rodanya pelan. Lalu menambahkan, "Aku aja yang belum bisa tenang lihat kamu bahagia ... kalau bukan karena aku."
Kalimat itu menggantung di udara. Qale menatapnya. Wafa menunduk. Lalu terdengar ketukan di pintu tengah.
"Misi ... Qale, Pak ... gue pulang dulu, ya!" suara Elan dari kejauhan, sambil melambai.
Wafa mengacungkan jempolnya. Sementara Qale berdiri, hendak mengantar Elan ke depan. Tapi dia lupa membawa ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Wafa yang melihat benda itu tertinggal, refleks mengambilnya. Notifikasi pop up masih terbuka. Ada satu pesan belum terbaca di sana.
Dari Elan. ["Thanks for today. Kalau lo nggak bahagia di situ, kabari gue. Kita balik bareng."]
Wafa mematung. Dia meletakkan kembali gawai Qale di sana. Pesan itu dikirim sebelum Elan pamit barusan.
Dia merasa seperti berdiri sendirian di lapangan luas, memegang payung sobek di tengah hujan.
Tiba-tiba, Bakar nyeletuk lagi dari dalam, “Eh Bos, saya udah siapin koper lho ... kali ada yang mau pulang ke pelaminan yang berbeda.…”
"DAMKAR!"
Angin sore membelai sejuk. Tapi dada Wafa terasa penuh. Tangannya perlahan gemetar. Ada rasa yang tak bisa dinamai. Antara takut kehilangan, atau takut mengakui ... dia telah terlalu dalam menyayangi.
"Sya ... gimana ini? Perjanjian kita?"
.
.