Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Anak Lipat Bangkit
Pintu toko berbunyi pelan saat Qale mendorongnya masuk. Bau gula karamel dan sisa adonan yang mengering di loyang menyambutnya seperti sapaan hangat seorang ibu.
Ria sudah berdiri di balik meja kasir, senyumnya canggung seperti seseorang yang menyimpan kejutan tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Tatapan Qale pada Ria menyiratkan kalimat, "Mana dia?"
Ria membalas dengan lirikan mata ke kanan, ruangan staf. Sambil meladeni pembeli yang akan membayar.
Qale memilih merapikan etalase yang sudah kosong, menata pastry itu agar tampak rapi.
"Dia di dalam, Mbak. Lagi ngeliatin dapur kita kayak lagi audit," bisik Ria sambil menunjuk arah belakang.
Qale menaikkan alis, "Kok diizinkan ke dalam?" katanya lalu melangkah pelan masuk ke dalam. Napasnya sempat ditahan ketika melihat sosok pria itu.
Kaos putih polos, jaket jeans robek yang digantung di satu bahu, kamera menggantung di leher, dan celana kargo hitam yang digulung seenaknya. Pria itu membalik badan, menatap Qale sekilas, lalu menunduk lagi memperhatikan kompor yang catnya mulai mengelupas.
"Jelek banget ini," gumamnya, entah pada kompor atau keadaan dapur.
"Anda?" tanya Qale akhirnya.
Pria itu menoleh. "Hai. Kamu Qale, ya?"
"Iya." Qale ragu sejenak. "Kamu ... siapa?" tanyanya ragu.
Elan tersenyum. Giginya rapi, tapi ekspresinya setengah masam. "Kata gadis di depan ... Aku malaikat penyelamat. Tapi kayaknya aku lebih mirip pengamat reruntuhan sih," katanya sambil menunjuk wastafel yang bocor.
Qale tersenyum tipis. Sikapnya aneh, tapi tak menyebalkan.
"Kita mulai dari mana, Malaikat?" tanya Qale, menyindir julukan Ria.
Elan mengangkat kamera. "Dari sini. Foto-foto, dokumentasi. Habis itu, gue ajak lo mikir bareng buat konsep katalog, banner, dan bikin sistem order. Gue lihat lo belum punya itu semua, kan?"
"Belum," aku Qale pelan. "Dulu sempat mau buat, tapi ... ada urusan keluarga yang bikin semuanya terbengkalai."
"Bagus. Trauma itu penting, bahan bakar paling jujur buat bikin karya," sahut Elan santai sambil mulai mengambil gambar dapur. "Eh, jangan tegang gitu. Lo cakep, tapi pas tegang gitu malah kayak bakpao stres," tambahnya enteng.
Qale tersenyum sinis, sudut bibirnya naik ke atas sambil berkata, “Aduh, udah lama nggak ada yang julid gini.”
“Ya syukurlah. Kalau hidup lo penuh pujian, lo pasti bosen dan cepet tua.” Elan lalu berjalan keluar dapur.
"Sebentar." Qale berdiri menghadapnya sambil bersandar di dinding, tangannya bersedekap.
Elan menoleh, menyamping, "Ya?"
"Aku tidak merasa menghubungi siapapun, apalagi Anda yang entah datang dari mana. Ini aksi sosial atau sedang cari panggung buat pamer ego?" tuduh Qale santai. "Apa mungkin, jenis pinjol paylater model baru?" kekehnya memperhatikan Elan.
Elan tertawa renyah. "Bisa ngomel juga ternyata, ya?" ujarnya enteng. "Anggap saja saya Malaikat Amaludin yang sudah di check out," sambungnya sambil lalu.
Qale mengejarnya, memaksa Elan bicara jujur. Tapi pria itu tak menjawab. Hanya menegaskan bahwa Qale tidak usah kuatir soal biaya.
Beberapa jam kemudian, Qale duduk di depan meja adonan di dapur. Tumpukan catatan resep berserakan, sebagian sudah dipindainya ke laptopnya.
"Ini resep onbitjkoek, ya?" tanya Elan sambil menunjuk tulisan tangan Rahayu.
"Bukan. Itu tulisan salah satu anggota keluarga Aditya Jansen, mungkin," jawab Qale.
Elan menoleh cepat. "Belanda?"
Qale mengendikkan bahu. "Sepertinya. Keluarga angkat ibu aku, mungkin keturunan sana. Tapi beliau nggak pernah cerita detail."
Elan mengangguk pelan. "Lo sadar nggak? Ini bisa jadi daya jual kita."
"Maksudnya?"
"Resep otentik, sejarah personal, dan lo—pemiliknya—punya cerita. Ini bukan cuma kue. Ini warisan rasa. Kalau ditulis dengan cara yang jujur, orang bakal nyambung." Elan duduk tak jauh darinya.
Qale terdiam. Kalimat itu menohok. Selama ini, dia hanya berpikir untuk bertahan. Tak terpikir menjadikan luka sebagai narasi, atau kenangan sebagai bahan jualan.
"Kayaknya Anda nggak cuma fotografer, deh," cetus Qale pelan.
Elan tersenyum, "Dulu jurnalis. Sekarang freelancer nggak jelas."
"Kenapa berhenti?"
Elan menatap layar kamera lalu mengedikkan bahu. "Capek ngeliput orang jahat dan nggak bisa ngapa-ngapain. Mending bantu bisnis kecil kayak gini. Setidaknya, bisa liat orang bangkit."
Qale menatap Elan lama. Lalu pelan-pelan, senyum itu muncul. Senyum yang beberapa bulan terakhir, tak pernah sempat tumbuh penuh.
Merasa diperhatikan oleh Qale, Elan sedikit gugup. Dia lalu menyodorkan tangan ke arah Qale. "Elan."
Qale hanya mengangguk, menangkupkan tangannya di depan dada. "Qale ... maaf."
Sore itu, dapur kembali hidup. Qale penasaran dengan resep sang ibu. Dia lantas mencoba membuatnya.
Elan memotret kue onbitjkoek dengan cara yang membuat Qale takjub. Ia mengatur pencahayaan dari jendela, menata remah-remah dengan ketelitian seperti sedang menyusun lukisan.
"Bikin konten itu kayak masak juga, Qale. Nggak bisa ngasal. Tapi juga nggak boleh terlalu dipaksain. Harus ada rasa," ujar Elan sambil melihat layar kameranya.
"Rasa kayak...?"
"Kayak kamu barusan ngusap foto catatan ibumu tadi siang."
Qale terdiam. Kata-kata Elan terlalu akurat. Dia memperhatikan pria itu. Sedikit berantakan di luar tapi lembut juga, pikirnya.
Wangi kayu manis membuatnya merasa hangat, Qale memejam, menghidu aroma onbitjkoek dalam-dalam seolah ibunya turut hadir di sana.
Bel pintu depan toko terdengar berbunyi kasar. Di susul suara gebrakan di meja. BRAK!
Ria masuk ke dapur dengan wajah gelisah. “Mbak…” tunjuknya ke arah luar.
Qale mengangkat wajah. “Ada apa?”
“Di ... di depan,” bisik Ria cepat. “Ngamuk...”
“Ngamuk gimana?” sambar Qale heran. Elan menghentikan kegiatannya.
Ria menarik lengan Qale agar keluar. Dia berbisik, “Dia ... matanya ... merah. Kayak orang siap marah. Mana Qale, katanya."
Qale berjalan, menoleh ke arah Elan. "Silakan lanjut aja."
Belum sempat Elan menjawab, Qale sudah keluar.
Lea berdiri di sana. Tubuhnya tegak, rambutnya terikat rapi, dan senyumnya … dingin. Bukan senyum kekeluargaan. Tapi senyum seseorang yang baru saja kehilangan kendali atas hidupnya.
Di sisinya ada sosok ibu Deni, menemani sang menantu kesayangan.
“Jadi ini, ya? Tempat kamu berpura-pura jadi anak baik sambil ngerebut hak yang bukan milikmu?” celetuk ibu Deni.
Qale membeku di tempatnya. Elan muncul di ambang pintu dapur, kamera masih menggantung di lehernya.
Lea berjalan pelan ke arah Qale, masih berpura-pura buta. Suaranya lembut, tapi ada desis yang tajam di sela-selanya. “Kamu pikir, cuma karena kamu anak Rahayu, istri kesayangan ayah, bisa ambil semuanya dariku?”
"Kak Lea, tolong—" ucap Qale.
"Tutup mulutmu!" potong Lea, kali ini lebih keras.
Semua mata di toko menoleh pada Qale. Elan meminta Ria agar lekas melayani pembeli agar reputasi anak lipat tetep baik.
Tiba-tiba ponsel Qale berbunyi. Panggilan dari kepolisian tapi dia tangguhkan sebab ada Lea dihadapannya.
Dari push notif, Qale bisa melihat pesan si petugas. "Nona Qale, status ...." Mata sipitnya melebar. Inikah alasan Lea datang ke sini?
.
.