Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Sidang 2

Langit mendung saat Qale melangkah keluar dari ruang sidang. Langkahnya tertatih, bukan karena luka di pelipis atau lengannya, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam : kepercayaan pada keluarga yang runtuh.

Wafa menyusulnya dari belakang. Roda kursi dorongnya menyentuh lantai marmer gedung pengadilan dengan bunyi lembut yang anehnya lebih terasa menusuk daripada langkah kaki siapapun di sekeliling mereka.

"Kamu nggak harus percaya sekarang," ucap Wafa pelan. "Tapi kamu harus bersiap jika kenyataannya memang dia," kata Wafa pelan.

Qale duduk di bangku taman kecil di belakang gedung pengadilan. Kepalanya menunduk. Tangannya menggenggam ujung jaketnya erat-erat.

"Dia ... dia kakakku, Tata" bisiknya. "Sejak kecil, kami selalu sama-sama. Yang nemenin aku main meski Lea hanya diam saja ... kami juga sering berbagi makanan," tutur Qale dengan nada lesu.

Wafa menunduk. Suaranya berat. "Mungkin kamu harus ingat juga hal-hal yang waktu itu kamu pikir 'aneh', tapi kamu abaikan."

Qale menatapnya. Tatapan itu penuh luka, tapi ada sedikit ruang kosong di sana. Ruang ragu.

Dia menghela napas. Menyandarkan tubuhnya lesu di bangku taman.

~Bertahun-tahun Lalu

Qale kecil menangis saat menemukan boneka kelincinya tercabik. Lea duduk di sudut kamar, menatap dengan wajah datar.

"Kelinci kamu jatuh di taman. Tadi ada anjing," katanya datar.

Tapi Qale ingat, dia meletakkan boneka itu di rak. Di dalam kamar.

Juga soal makanan, Qale suka lupa bilang tata letak cemilan yang ibunya suguhkan. Kadang kala, masih panas atau berbentuk cairan seperti es buah.

Namun, Lea selalu peka. Dia jarang menumpahkan makanan, kontras dengannya yang seringkali berceceran.

Lea terlalu hati-hati. Jarang terjatuh, lupa atau keliru terhadap sesuatu yang ada di depannya. Kadang, Qale justru minder. Dirinya bisa melihat tapi sembrono.

Dulu, dia merasa Lea tetap sempurna meskipun buta. Tapi, kini, kesempurnaan itu terasa bagai cacat fakta. Seharusnya, meskipun Lea peka dengan kondisi seperti itu, tapi pasti ada celah salah, bukan? 

"Benar, dia terlalu sempurna untuk orang seperti itu," lirih Qale, enggan menyebut Lea buta.

Dia lalu menoleh ke arah Wafa. "Apakah ayahku tidak memberikan hak bagi hasil untuk keluarga ibu?" tanyanya penasaran.

Wafa diam, menggeleng pelan. "Entah, Bu Rahayu bilang nggak tahu. Katanya tolong tanyakan saja, dan jika ada sangkut paut itu bakal jadi hakmu," beber Wafa. 

"Kenapa nggak bilang langsung ke ayah?" balas Qale, wajahnya keheranan.

"Mungkin segan, atau takut ... bisa jadi, ada hal lainnya. Beliau cuma ngasih berkas hitam di atas putih aja ke aku, selembar," pungkas Wafa.

Qale lantas menatap lurus ke depan. Lagi-lagi menghempas napas panjangnya ke udara. Tak lama, keduanya beranjak dari sana, pulang.

***

Hasan duduk di ruang tunggu pengacara. Wajahnya pucat. Lembar-lembar bukti berserakan di meja.

"Pak Hasan," ujar pengacaranya, "bila semua mengarah ke Nona Lea, maka kita harus pertimbangkan kemungkinan beliau mengalami gangguan psikologis. Semacam delusi martir, atau gangguan narsistik yang dibentuk dari trauma bertahun-tahun."

Hasan menggeleng. Matanya sembab. "Dia... dia anak saya. Saya cuma ingin melindungi Lea. Tapi kalau dia yang selama ini menyakiti Lesa, saya ... saya nggak tahu harus mulai dari mana."

Deni terpisah ruang, kemungkinan statusnya diganti dari saksi menjadi tersangka terbuka lebar. Lea menemani di sana. 

"Kalau tidak mengelak, hukuman akan jauh lebih ringan," sambungnya.

"Mereka baru saja menikah, bagaimana ini?" sambar Hasan cemas. Dia mengusap rambutnya kasar seolah frustasi.

"Kemungkinan besar lolos dari hukuman sangat kecil. Bukti kuat dimiliki oleh penggugat. Ditambah kasus tabrak lari juga," beber sang pengacara, ikut duduk di hadapan Hasan.

Hening.

Ruangan itu mendadak sepi dan dingin. Keduanya berkutat dengan kemungkinan terburuk. Hasan berniat menyelamatkan putri dan menantunya, sementara pengacara berpikir bagaimana hukuman bisa diringankan.

Sementara itu, di ruangan para saksi. Lea duduk berdampingan dengan Deni. Mereka dijaga dua petugas. Tatapan keduanya kosong.

"Gimana ini," gumam Deni.

Lea menoleh. Senyum kecil melintas. "Dari awal kamu sudah menduga ini endingnya?"

Deni mendesis, kesal. Tapi dia tahu, dalam permainan ini, dia berperan sebagai pion. "Nggak sedramatis ini, sih," bisiknya sambil bersandar. "Kenapa juga pas momen bulan madu," sambungnya lesu.

"Harusnya?" 

Deni menoleh. "Tidak sama sekali," ucapnya getir. "Gara-gara si lumpuh itu." 

"Gara-gara masih bodoh," kekeh Lea sambil bersedekap.

"Kau benar!" Timpal Deni ikut tertawa kecil. 

"Jadi, diulangi?" balas Lea, sambil mengikuti lengan Deni.

Deni melirik ke arah Lea, tatapannya datar tapi senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. 

"Kalah dulu, baru chapter baru, ya gak sih."

Keduanya lantas tertawa renyah, sambil saling menepuk lengan. 

***

Malam itu, di rumah putih, Wafa mengajak Qale pulang. Tapi kini, dia duduk sendirian di ruang tamu. Asistennya datang membawa lembaran map.

"Ini profil yang Anda minta, Tuan muda. Untuk apa?"

Wafa tersenyum. "Kejutan buat istriku," jawabnya singkat. "Kan aku mau siapin sesuatu buat dia, setelah semua ini selesai," lanjut Wafa.

Dia sedang melihat biodata seorang pria, yang kemungkinan akan membantu Qale selama dirinya pergi ke suatu tempat.

Wafa lalu meminta janji temu dengan orang tersebut. Setelah keputusan sidang nanti.

Di kamar lainnya.

Qale akhirnya tertidur di kamar lamanya di rumah putih. Hujan turun pelan, menyentuh jendela dengan irama yang menenangkan. Namun tidurnya tak benar-benar damai.

Dalam mimpinya, ia melihat ibunya. Sorot matanya hangat, tapi juga penuh kekhawatiran.

“Sayang ... hati-hati,” bisik wanita itu lembut. “Dia menyayangimu, tapi caranya ... tidak seperti yang kamu pikir.”

Seketika, bayangan di belakang Rahayu berubah menjadi sosok Lea yang mengenakan gaun putih, tersenyum manis.

Tapi senyum itu perlahan memudar menjadi ejekan. “Dasar bodoh.”

Qale terbangun dengan napas memburu. Tangan kirinya menggenggam selimut erat-erat. Peluh membasahi pelipisnya yang belum pulih benar.

Ia menatap langit-langit kamar, lalu duduk perlahan. Layar ponselnya tampak mengedip beberapa kali.

Qale meraihnya dan membaca satu nama di sana. 

“Aku akan tanya besok...”

Di luar, hujan masih turun pelan. Tapi di dalam dada Qale, badai perlahan reda — berganti dengan tekad.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!