Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kebohongan Hasan

Perjalanan pulang malam itu terasa berbeda. Sudah berhari-hari Qale tak menyentuh jalanan ini. Kali ini, ia memandangi setiap kilometer yang mereka lewati seakan itu serpihan masa lalu yang perlu ditandai ulang.

Suasana temaram. Lampu jalan sesekali redup. Supir Wafa memperlambat laju kendaraan saat mulai memasuki jalanan berliku. Tikungan tajam menuntut konsentrasi penuh, namun justru di sana Qale melirik ke arah Wafa.

Pria itu tampak tenang. Tapi saat roda mobil melintasi lengkung akhir tikungan, Qale sempat menangkap sesuatu.

Wafa menutup mata.

Tangannya mengepal di atas paha. Menahan napas. Seolah ... ada ingatan yang ingin dia tahan agar tidak keluar dari gerbang bawah sadar.

Qale tak bicara. Dia hanya memperbaiki duduknya, memiringkan tubuhnya pelan. Marka jalan yang penyok di ujung sana sejenak menarik perhatiannya. Itu marka yang sama saat melihat dari atas bukit ketika lari pagi beberapa waktu lalu.

Dia tahu. Tempat itu pernah jadi saksi.

“Kak?” lirihnya sambil menyandarkan kepala ke bahu Wafa, mencari kehangatan. Atau ketenangan.

Wafa tak menjawab. Tapi tangannya terangkat dan merangkul bahu istrinya. Dekapan yang bukan jawaban—melainkan bentuk perlindungan. Atau dia juga mencari ketenangan.

Saat gerbang desa terlihat di depan mata, napas Wafa perlahan teratur. Qale hanya mengintip dari sudut mata. Wajah suaminya kembali tenang. Meski tak sedamai biasanya.

Sesampainya di rumah, nyaris tengah malam. Mereka turun, tak banyak kata. Wafa menyentuh pundak Qale sebentar.

“Langsung istirahat, ya. Besok kita bicara,” ucapnya lirih sebelum masuk kamar.

Qale mengangguk. Tak ingin mendesak meski hatinya sedikit cemas. 

***

Pagi harinya.

Mereka sarapan di teras belakang. Menu sederhana. Nasi goreng, telur ceplok dengan pinggiran garing dan secangkir teh hangat. Seperti dulu.

Wafa membuka percakapan. "Kamu harus bicara sama Ayah. Tanya langsung ... soal Ibu Rahayu.”

Qale menatap sendoknya. “Kalau Ayah nolak, gimana?”

“Dia dilema,” kata Wafa sambil mengunyah perlahan. “Satu sisi anak. Satu sisi ... Istri.”

“Jadi aku harus apa?”

Wafa tersenyum miring. Mencondongkan tubuh, lalu menyuapkan sendok dari tangan Qale ke mulutnya. “Ikuti kata hatimu.”

Qale memandang wajah suaminya dengan teduh. Ada bahagia yang menyelinap di matanya, tapi otaknya mengingatkan : jangan terlalu berharap. Karena perjanjian mereka masih ada.

***

Menjelang siang, Qale kembali ke toko Anak Lipat hanya sebentar untuk memastikan semua beres. Sorenya, setelah toko tutup, ia menuju ke peternakan. Tempat ayahnya biasa menghabiskan waktu di sore hari.

Azan maghrib berkumandang saat ia tiba. Qale meminta izin untuk bicara setelah salat. Hasan hanya mengangguk, wajahnya dingin seperti biasanya.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di ruang kerja. Hanya berdua. Ditemani dengung kipas angin tua, seperti suara gemetar dari masa lalu.

“Mau apa ke sini?” tanya Hasan tanpa basa-basi. Sikapnya sempat hangat kemarin, tapi kini kembali dingin. Dia hanya rindu Rahayu saat melihat Qale.

“Kalau bilang kangen, Ayah nggak percaya.” Qale tersenyum tipis. “Jadi aku langsung aja, ada yang ingin kutanyakan,” ucapnya getir.

Hasan diam.

“Soal Kak Lea,” lanjutnya. “Soal ... mata Kakak.” Qale menatap manik senja ayahnya. Ada lelah di sana, kehampaan juga kerinduan. Sayangnya bukan untuknya. 

Hasan menelan ludah. Ritme napasnya sedikit berubah.

“Kak Lea ... nggak sepenuhnya buta, kan?” suara Qale pelan. Tapi nadanya menyelidik, masih mengamati ekspresi ayahnya.

“Sikapnya terlalu halus buat orang yang nggak bisa lihat, Yah. Dan Deni ... dia terlalu peka," sambung Qale.

Hasan masih diam. Wajahnya kaku. Tapi tangannya perlahan mengepal di sandaran kursi.

“Biarkan Lea bahagia, Qale...” ucap Hasan akhirnya. Suaranya berat. “Kalau mau nyalahin orang, salahkan Ayah.”

Qale menahan napas. “Lalu aku?”

"Kamu lebih tegar dibandingkan dia, ayah tahu itu." Hasan menatap putrinya, matanya sayu. "Jangan ganggu sampai hari pernikahan, oke?" pinta Hasan seolah tahu bila Qale akan membuka sesuatu.

Qale menggeleng pelan. "Lalu gunanya penyidikan ulang untuk apa? Apa Ayah masih menuduhku?"

Hasan diam, menunduk.

Qale menggeleng pelan. “Aku tahu Lea nggak buta.” Suara Qale bergetar. “Dan aku ingat malam itu.”

Hasan masih bungkam. Namun, dia menutup matanya sebentar, lalu membuka. Ada getar gelisah, begitu kentara.

"Kalau Ayah nggak mau jujur sama aku, terpaksa aku limpahkan bukti yang aku punya ke polisi," tegas Qale lalu bangkit, melangkah menuju pintu.

Hasan bergeming, tapi dia mengejar putrinya setelah Qale keluar ruangan.

"Qale!"

“Qale!”

Hasan berdiri, menarik lengan putrinya.

Qale menepis. Matanya memerah. “Kak Lea nggak buta, kan?”

Hasan terdiam. Matanya gelisah.

“Iya, kan?!”

Hasan menatap putrinya dalam-dalam. Lalu perlahan, telunjuknya naik ... menempel di bibirnya.

Isyarat diam.

Qale membeku.

Tubuhnya lemas seketika. Kepalanya seolah penuh dengan dentuman tak kasat mata.

Dan dia tahu, semua dugaannya benar.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!